
Fera masih sibuk dengan pikirannya soal jawaban dari Lisa. Soalnya Lisa mengatakan bahwa suaminya memang dulu memiliki seorang kekasih, malahan sangat di cintai oleh Chandra. Kisah mereka berakhir ketika orang tua wanita itu malah menghina Chandra tidak memiliki apa pun dan tidak akan bisa membahagiakan putrinya kelak. Padahal Chandra memiliki segalanya karena penghinaan orang tua wanita itu membuat Chandra menutup diri dan memilih jalan serta menunggu terjadi sebuah perjodohan antara orang tuanya bertemu dengan sahabat lamanya yaitu orang tua Fera.
"Hei! Kau itu bisa kerja apa tidak sih! Melamun saja!" teguran membuat Fera terkejut dan kembali sadar di dunia nyata.
"Ah, Maaf. Mau pesan apa?" Fera bertanya kembali.
"Tidak perlu lagi, sudah aku minta pesan sama orang lain! Kalau mau melamun itu bukan di sini tempatnya, tapi di sana! Jaman sekarang kerja pun bisa melamun bagaimana sudah berumah tangga nanti," jawab wanita rambut pendek itu sedang memainkan ponsel miliknya.
Fera kembali ke tempat kerjanya namun beberapa langkah ia tidak sengaja mendengar pembicaraan telepon dari wanita itu.
"Aku sudah ada di Kafe mu, oke, aku tunggu. Jangan lama-lama," ucapnya kembali menutup telepon tersebut.
Fera meletakkan nampan di atas kasir dan kemudian masih memperhatikan wanita itu sedang mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya.
"Itu wanita siapa sih? Kok songong banget?" tanya Fera makin hari kepo mulu.
"Oh itu rekan bisnis atasan kita yang pernah kerja sama dengan beberapa kontrak produk makanan," jawab Lisa
"Oh..."
Fera kembali melanjutkan pekerjaannya, tidak berapa lama pesanan dari wanita songong itu siap di antar. Fera membawanya ke tempat meja wanita itu.
Akan tetapi yang bikin kesal itu adalah suami Fera ada di sana sedang menyaksikan kecentilan wanita songong mencoba merayu suaminya. Matanya panas banget sekali ia memang kabur sekarang ia tidak akan kabur.
"Itu punya siapa?" tanya Fera kepada Hardi.
"Meja nomor enam," jawab Hardi
"Biar aku yang antar, kau kerja lain saja." ujar Fera berlalu, Hardi mau mencegah malah di hadang oleh Lisa.
"Biarkan saja, Mbak Fera lagi cemburu. Macam kau tidak tau kalau suami tercyduk sama istri," sergah Lisa memberitahukan kepada Hardi.
"Ya tapi ..."
Trak!
__ADS_1
"Maaf, pesanan sate Madura sama minum penyegar tenggorokan," ucap Fera datar masih menatap suaminya dengan tatapan tajam.
Chandra paham kalau istrinya sedang dalam keadaan cemburu sementara wanita di sampingnya sedang menerangkan beberapa produk untuk di pasarkan.
Merasa ada dingin bagian rok mini wanita itu terkejutlah dia berdiri, Fera membungkam mulutnya tidak sengaja telah menjatuhkan minuman es itu di rok wanita ini.
Heboh seketika kafenya membuat para pengunjung ada di tempat menoleh menyaksikan perbuatan pelayan itu.
"Aduh maaf, mbak. Aku benar tidak sengaja!" Fera malah berakting pula padahal dalam hati Mampus rasain memang enak centil sama suami orang!
Chandra mengambil tisu membantu bersihkan minuman milik wanita itu. Rasanya dia ingin memaki Fera. Fera malah mendeling tidak percaya kenapa suaminya malah membersihkan rok wanita centil ini.
"Bagaimana sih kau pekerjakan karyawanmu! Kau tau rok ini mahal aku pesan dari luar negeri," omel wanita itu mengadu kepada Chandra. Fera malah santai tidak merasa bersalah.
"Fera minta maaf, kau sudah mengacaukan semuanya! Aku pekerjakan dirimu untuk mematuhi peraturan bukan di jadi bahan lelucon!" Chandra menegur istrinya bukan membela atau apa pun.
Fera yang tadi mengharap kalau suaminya akan membela dan meminta maaf kepada wanita ini atas tidak sengaja, sebaliknya beda suaminya malah menegur dan meminta dirinya meminta maaf kepada wanita tidak ia kenal sama sekali.
"Kenapa aku harus minta maaf! Aku sudah bilang tidak senga--" Fera menggantungkan kata-katanya ia memperhatikan sebentar wajah wanita di depannya.
"Jadi ini wanita yang ada di foto galerimu yang sulit kau lupain! Terus aku apa? Pembohong!" teriakan Fera semakin ricuh membuat pelanggan ada di Kafe berbisik-bisik.
PRAK!
Nampan yang ia pegang di buang begitu saja. Sementara wanita yang masih membersihkan rok itu terbengong heran atas ucapan wanita yang kabur dari tempat kafe ini.
"Nanti kita bicarakan lagi, untuk kerja sama akan aku hubungi kembali. Lisa tolong bawakan dia ke ruang ganti!" Pinta Chandra meminta kepada Lisa.
Chandra merasa malu bukan main telah membuat para Kafe ini semakin heboh. Untung ia sabar dan bisa menangani situasi. Sekarang yang ia urus itu istrinya, pekerjaan terbengkalai lagi.
****
Pukul 18.45 malam sudah hampir menuju tujuh. Fera tidak kunjung juga keluar dari kamar sejak kejadian di kafe. Galau kembali menangis lagi begitu cengeng dirinya hanya karena foto galeri ponsel suaminya saja sudah bikin cemburu.
Suara pintu terdengar Fera segera menutup matanya tidak ingin melihat wajah suami menyebalkan. Chandra berjongkok perhatikan wajah istrinya lagi yang lagi cemburu dan mewek.
__ADS_1
"Hei, bangun makan malam." Chandra mencoba membangunkan istrinya.
"Aku tidak lapar," respon Fera dengan suara serak karena habis menangis berjam-jam
"Benar tidak mau makan? Padahal aku beli makanan kesukaanmu, Pizza."
Fera membuka kedua matanya kalau soal makanan Pizza tentu tidak boleh di lewatkan.
"Yuk!"
"Aku bilang tidak lapar!" tuturnya memutar tubuh arah lain.
"Ya sudah, kalau tidak mau. Aku makan berdua sama mantan kekasihku dulu," Chandra sengaja mengatakan seperti itu agar ia tau kalau istrinya benar sangat cemburu.
"Pergi sana! Kalau bisa jangan kembali lagi aku tidak sudi punya suami jelek seper--"
Dua bola mata Fera terbuka lebar - lebar. Kali ini Chandra tidak akan pernah lepas lagi. Sudah cukup ia menahan semuanya, ia lakukan juga ingin tau istrinya telah jatuh cinta kepadanya.
"Kalau aku jelek kenapa kau cemburu?" Chandra bertanya kepada istrinya.
Fera tidak bisa menjawab ia merasa malu bukan itu saja debaran jantungnya semakin tidak menentu. Pertanyaan itu kalau suaminya jelek kenapa dia bisa cemburu.
"Itu--itu-- Ah tidak tau aku mau makan laaapa--arrrgghh!"
Chandra menarik tubuh istrinya memeluk erat dari belakang. "Maaf," hanya satu kata yang bisa buat Chandra ucap.
Fera diam tidak menjawab embusan napas dari suaminya sangat terasa di telinganya apalagi bulu kecil di rahangnya tersentuh oleh daun telinganya.
Debaran semakin menjadi-jadi Fera sulit menghentikan detak jantungnya itu. Kedua tangan yang melingkar di perut ratanya mulai melonggar. Chandra memutarkan tubuh istrinya perlahan. Kedua mata mereka bertemu secara membisikkan sesuatu yang tidak di pahami oleh pasangan ini.
Ciuman hangat di antara dua mereka pun bersatu, Fera akan berikan seutuhnya untuk suami tercinta. Rasa cemburu mengalahkan cinta abadi mereka. Suara desahan dari bibir Fera terkeluar kan.
"Aku siap, sudah waktunya hakku milikmu," ucap Fera pelan menyerahkan semua kepada suami.
"Terima kasih."
__ADS_1
Ciuman panas berada di rumah sederhana terirama satu sama lain raung, desahan dan gejolak cinta api membara telah di persatukan oleh mereka.