Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 29


__ADS_3

Pukul 21.00 waktu Indonesia Barat Chandra pulang dengan kondisi sangat lelah. Ketika dia masuk ke dalam rumah di depan ruang tamu sudah tersedia beberapa pakaiannya, bantal, guling, selimut.


Fera sedang mengeluarkan semua barang milik suami dari kamarnya. Sementara Chandra menghampirinya, Fera masih muka sangar.


"Kenapa semua di keluarkan?" Chandra bertanya - tanya.


Fera melempar begitu saja milik suaminya tanpa lembut sedikit pun. Dia pun menatap suaminya dengan rasa marah banget.


"Malam ini dan seterusnya tidur di sini! mau mandi, gosok gigi di sana! Ini hukuman mu sudah berani membohongku!" jawabnya datar dan garang.


"Loh, kok begitu... Terus..."


"Terus apa? Tidak ada terus - terus - terus! Ah satu lagi, keluarkan semua kartu debit, kredit dan kunci mobil mu. Mulai besok kau pergi menggunakn gojek online. Untuk sarapan, makan siang bawa dari rumah tidak ada alasan enak tak enak. Jam pulang kerja tepat waktu sudah ada di Kafe Madura! Tidak ada alasan meeting ini itu! Semua jadwal mu sudah aku lihat. Ingat itu, kalau kau masih berulang lagi, aku yang pergi dari rumah ini kalau kau masih sayang sama aku!" Ceramah Fera panjang lebar membuat Chandra tidak bisa berkutik dan membantah.


Dia mengeluarkan semua kartu dari dompet nya, malah di rampas oleh istrinya. Ternyata istri manjanya diam - diam makan dalam. Kalau sudah singa betina sudah bangun apa pun tidak bisa di luluhkan.


"Masa kau tega sama aku, tidur di luar? Kalau mama dan Papa datang bagaimana?" Chandra mulai merayu dengan menyebut orang tuanya.


"Tidak perlu kau ancam aku dengan sebutan mama dan Papa di depanku," ucapnya ketus.


Malam semakin dingin suara petir tiba-tiba mengeremuk keras di luar rumah. Chandra sedang tidur sambil merenung cari cara untuk bisa tidur lagi berdua dengan istrinya.


Sementara Fera tidur di atas ranjang empuk dan lebar itu. Chandra melirik pintu kamar di depannya untuk otaknya sedang menuju kamar. Dia pun bangun dari posisinya, kemudian mendekati pintu kamar tersebut.


Perlahan agar tidak membangunkan istrinya ketika tidur. Posisi tidur Fera membelakangi pintu keluar, Chandra bagaikan maling mengendap-endap masuk. Kembali dia menutup pintu dan pelan-pelan lalu naik atas ranjang.


***


Esok paginya Fera merasa badannya berat sebelah di liriknya sebuah tangan berotot, lebar dan pekerja keras itu tengah melingkar di perutnya rata tersebut.

__ADS_1


Dihempaskan kasar kesamping membuat Chandra terbangun. "Ehm... kenapa, tidur lagi, hem." Berkicau si Chandra kembali memeluk istrinya.


"Siapa suruh kau tidur di sini?" Fera bertanya ketus.


"Hem, bukannya kau suruh aku menemanimu? Semalam mati lampu lalu kau berteriak seperti kesetanan. Minta aku menemanimu, padahal aku menolak tapi kau mengeyel terus," jawab Chandra asal mengarang.


Fera mengernyit kedua alisnya dia pun mengingat kembali perasaan semalam tidak terjadi mati lampu.


"Benarkah? Jangan bohong! Semalam tidak mati--"


"Semalam mati lampu sayang! Diluar masih hujan, sudah tidur lagi." Potong Chandra bersih keras agar istrinya percaya begitu saja.


Chandra menarik tubuhnya untuk kembali tidur, padahal dalam diri ketawa bahagia dan menang berhasil menjaili istrinya. Fera masih tidak yakin kalau semalam benar mati lampu. Kalau pun mati lampu dia sudah menyediakan lampu Charge.


****


Hari sudah siang Fera masuk setengah hari karena suaminya dari tadi tidak bangun-bangun alasan sakit perut lah, mual lah, banyak kali alasannya. Dia pun keluar dan melihat tanah dan pantai kering. Katanya semalam hujan Fera terbengong - bengong.


"Katamu semalam hujan? Kenapa tanah tetap kering?" Pertanyaan dari Fera mulai curiga dirinya sudah di tipu oleh suaminya sendiri.


"Pasti sudah kering dong, semalam hujan dan cuaca bisa saja berubah - ubah seperti istriku kalau lagi marah makin cantik dan cinta, kalau sudah ada maunya manja lengket mulu sama suaminya," jawab Chandra santai sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Kau pasti kerjai aku, kan? siapa suruh kau pakai mobil ini? Kau mengira setelah semalaman tidur di kamar aku bakal maafkan mu? Kau pakai gojek online, pinggir!" Di rampas kunci mobilnya dan Fera pun masuk. Chandra terbengong-bengong.


"Kau tidak takut kalau aku pergi pakai gojek terus ketemu lagi sama Vivi, jangan cemburu ya! Asyik boleh nih, bebas tanpa ada hambatan macet dijalan." Chandra mulai lagi memancing Fera.


Fera terdiam sesaat apa yang di katakan suaminya benar kalau biarkan dia menggunakan gojek Online bisa jadi ketemu sama wanita tidak tau di untung.


"Wait!" Teriak Fera keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Chandra baru saja melangkah kaki keluar dari pagar rumah. Senyuman panjang di balik wajahnya berhasil kemudian dia kembali dengan ekspresi datar dan lugu itu.


"Apalagi? Katanya suruh aku naik gojek online?" ucap Chandra menunjukkan ekspresi polos dan bersalahnya.


"Batalkan saja ini pakai, eit, setelah sampai kunci berikan padaku." ujarnya nada ketus.


"Siap, Ibu negara! Aku tau kau tidak akan tega biarkan suamimu pergi sendirian. Karena istriku lagi pe-em-es. Kau mau makan apa hari ini? Kita makan dulu." Chandra memeluk istrinya dan mencium bibirnya berulang kali.


****


Dalam perjalanan ke kantor Chandra, dia melirik istrinya yang masih membisu melihat ponselnya sangat serius. Fera sedang melihat album foto lama dengan seorang wanita tidak lain adalah Vivi. Sahabat kecilnya, tidak menyangka saja sahabatnya bisa lakukan kepadanya.


Entah apa yang buat dia seperti ini sampai lakukan kejahatan menusuknya dari belakang, apalagi foto yang di kirim dari seseorang tidak dia ketahui.


"Ada apa? Kau terlihat tidak semangat?" Chandra bertanya sambil fokus ke depan pengemudi.


"Tidak apa-apa, aku mau makan KFC sudah lama tidak makan ayam," jawabnya kembali fokus ke depan sementara ponselnya dia masukkan ke dalam tas jinjingnya.


Chandra tidak bertanya lagi memilih menuruti kemauan istrinya. Dua puluh lima menit kemudian mereka pun sampai. Mereka pun turun bersamaan dan masuk ke dalam KFC tersebut.


Fera duduk tidak jauh dari pengunjung lain. Sementara Chandra memesan, sambil menunggu Fera memainkan ponselnya. Chandra pun kembali membawa pesanannya letakkan meja ukuran segi empat.


Fera memasukan ponselnya dan membagikan ayam kepada suaminya. Chandra cuci tangan dulu baru lah Fera bergiliran. Mereka pun makan berdua di KFC. Akan tetapi yang buat herannya kenapa ayam dan nasinya di berikan kepadanya.


"Kenapa kau makan secuil begini? Kau sakit?" Chandra bertanya.


"Tidak, aku lagi diet. Sudah makan saja jangan banyak protes! Nanti ada temanku mau datang ke sini, jadi nanti kau kembali ke kantor sendiri bisa kan? Ah tidak perlu, biar Hardi nanti antar kau ke kantor," jawab Fera santai dan mengunyah makanannya.


"Memang kau mau kemana? Teman? Siapa? pria atau wanita?" Chandra mulai posesif aneh saja jawaban istrinya ini.

__ADS_1


"Kenapa kalau pria? Kau kemarin boleh sama Vivi ke mana-mana berdua, meeting berdua, ketemu Klein berdua. Aku tentu boleh dong pergi sama siapa saja!" ucap Fera ketus nadanya benar sangat menjengkelkan bagi Chandra saat ini.


"Kau masih marah soal semalam? Kau masih belum bisa maafi aku? Kau mau balas dendam kejadian kemarin?" Pertanyaan demi pertanyaan membuat Chandra frustasi kalau berdebat di sini tidak akan menguntungkan baginya karena dia sedang berada di tempat umum. Bukan tempat miliknya sendiri.


__ADS_2