Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 28


__ADS_3

Sesuai dengan kata Chandra semalam hari ini dia lembur dan Fera akan pulang sendiri menggunakan mobil pribadi milik suaminya itu. Ini adalah pertama kali Vivi bekerja di kantor Chandra.


Chandra tengah sibuk menelepon bagian pembeli barang produk tas yang akan di ekspor nanti, tidak hanya itu saja beberapa percetakan sarung tangan di tempat yang sama.


Vivi sementara waktu di tempatkan bagian adminstrasi ekspor impor. Karena dengan hasil psikotes dia memiliki nilai lumayan bagus untuk menggunakan bahasa asing lainnya. Percakapan pun boleh di katakan fasih.


Vivi sedang menginput data dan pengiriman invoice pembelian kepada email tersebut, dengan cekatan dia melakukan dengan cermat. Chandra bisa memperhatikan kinerjanya dengan mudah.


Hari semakin sore tidak terasa bagi Chandra melakukan pekerjaan begitu lama. Masih belum kelar ponsel miliknya berdering tidak sempat ia mengangkat karena masih beberapa berkas dia cek dan koreksi lagi.


Yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sementara Vivi tengah duduk scan data untuk kirim ke pembelian luar negeri. Chandra sangat pusing sehingga memijat pangkal hidungnya. Ponselnya masih berdering seseorang meneleponnya tidak lain adalah  istrinya sendiri.


Fera tengah menelepon hanya ingin mengetahui jam berapa suaminya pulang karena langit telah gelap dan pukul delapan malam tidak kunjung juga kabar dari suaminya.


Dia kembali menelepon masih belum di angkatnya. Dia ingin menyusul tidak mungkin karena akan berdampak buruk jika dia benar curiga bahwa suaminya berhubungan dengan sahabatnya. Tanpa pikir panjang Fera pun menelepon sahabatnya hanya ingin tahu apakah suaminya masih berada di kantor.


"Halo, Vi... kau masih di kantor?" Fera bertanya langsung


"Iya, sebentar lagi selesai, kenapa, Fer?" tersambung dari seberang


"Oh... tidak aku hanya pastikan Chandra masih di sana? soalnya aku dari tadi telepon tidak di angkatnya, apa masih sibuk Chandra?"


"Tadi dia sedang telepon dengan mr. Jay, karena muatan barang akan ditunda sampai besok pagi. Mungkin panggilan mu tidak di dengarnya. Ini sudah selesai kau ingin bicara dengannya?"


"Oh tidak usah, aku cuma khawatir saja. Ya sudah, hati-hati kerjanya,"


"Oke Terima kasih."


Sambungan telepon pun terputus, Fera lega tidak mungkin dia prasangka buruk tentang sahabatnya menghancurkan hubungan rumah tangga nya.


Kembali ke kantor Chandra, dia baru saja keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit merasa tidak enak badan.


"Kau sudah selesai mengerjakannya?" Chandra bertanya


"Sudah, Pak. Ini tinggal beberapa. invoice tanda tangan dari Bapak. Untuk data email persetujuan dari mereka besok di konfirmasi." jawab Vivi menyerahkan kertas kepada Chandra.


Chandra merasa kepalanya sangat pusing, perasaan tadi dia hanya makan roti pemberian dari Vivi. Mungkin saja dia kecapean atau merasa lelah.


"Ya sudah, letakkan saja di sana. Nanti aku cek kembali," ucap Chandra pelan. Masih memijat pelipisnya.


"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu. Bapak tidak apa-apa sendirian?" Vivi merasa cemas dengan keadaan suami sahabatnya


"Tidak apa-apa. Kau pulang naik apa?"


"Saya naik angkot pulang. Dekat saja kok, Pak." jawabnya


Chandra melihat jam arloji di tangannya sudah menuju pukul 21.00 malam. Pantasan dia merasa kedua matanya semakin berat, pasti istrinya sudah menunggu di rumah.

__ADS_1


"Ya sudah, biar aku antar saja. Tidak baik wanita sepertimu pulang sendirian apalagi sudah malam begini," ucap Chandra bangkit dari duduknya dan memakai jas kantornya setelah itu ambil kunci mobil.


"Tidak perlu, Pak. Nanti Fera mengira saya..."


"Dia tidak akan marah, kau adalah sahabat baiknya tentu aku akan baik juga kepadamu. Kau wanita, akan lebih buruk jika terjadi kepadamu. Aku yang akan di salahkan oleh istriku lebih dulu." potong Chandra ramah keluar dari kantor menuju parkir mobil tersebut.


Vivi tidak berkata apa pun hanya menuruti dan masuk ke dalam mobil dengan kemauan Chandra.


Di rumah sederhana Fera masih menunggu suaminya pulang sudah pukul 21.45 malam sebentar lagi pukul sepuluh. Fera duduk di ruang tengah sambil menonton televisi laga action Jacky Chan. Sayur yang dia masak pun sudah dingin. Dia pun menuju dapur untuk memasukkan ke kulkas.


Ceklek.


Tidak lama kemudian suara pintu depan terbuka Chandra sudah pulang. Fera meletakkan kembali sayurnya di meja dan menghampiri suaminya.


"Kau sakit? Kenapa wajahmu pucat begini?" Fera memegang wajah suaminya. Memang hangat, Chandra menatap sayup istrinya begitu mencemaskan dirinya.


"Aku tidak apa-apa. Hanya kecapean dan mungkin terlambat makan." ucap Chandra terlihat biasa saja agar istrinya tidak terlalu mengkhawatirkan nya.


"Kenapa tidak makan? Jadi tadi kau tidak beli makanan gofood?" Fera mulai bertanya dan semakin cemas.


"Aku sudah makan roti pemberian dari sahabatmu. Mungkin maag ku kumat," jawab Chandra duduk di badan sofa menyandarkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya.


"Ya sudah, kau istirahat saja. Jangan mandi lagi. Aku takut nanti makin parah, sini buka bajunya." ujar Fera meletakkan baju kotor suaminya kedalam ranjang untuk besok di cuci.


Chandra melepaskan dan memamerkan dada dan perut kotak-kotaknya. Untung Fera sudah terbiasa dengan tubuh perfect itu. Fera memasukkan ke mesin cuci satu persatu tidak sengaja noda merah lipstik di baju kemeja putih milik suaminya tercetak di kerak nya.


Fera memperhatikan sekali lagi sejak kapan ada lipstik di bajunya. Dia tidak pernah memiliki lipstik seperti ini warna yang norak banget.


"Tidak ada, mungkin tadi waktu antar Vivi pulang. Terus pas dia mau turun katanya dia letakkan kunci rumah ketinggian. Jadi aku  bantu ambil, bisa saja itu lipstiknya tertempel di sana." jawab Chandra jujur.


Fera diam dan meremas baju kemeja putih suaminya hingga kusut. Rasa panas di dalam hatinya memulai membakar tapi masih di tahan bisa saja suaminya hanya memancing emosi. Akan dia cari tahu kalau memang Vivi mencoba menghancurkan hubungan rumah tangga nya..


****


Hari seling berganti tak terasa seminggu Vivi bekerja di perusahaan Chandra. Tidak ada gosip aneh tentang sikap Vivi di kantor tersebut melakukan pekerjaannya. Fera masih sibuk dengan kegiatan pekerjaan di Kafe Madura semakin ramai pelanggan yang datang.


Ponsel Fera terus bergetar karena dirinya benar sangat sibuk melayani pengunjung terus datang sehingga kekurangan tempat meja untuk mereka makan.


"Mawar, tolong bantu aku antarkan makanan ini di meja empat puluh." pinta Fera kepada pekerjanya.


Fera mencuri kesempatan melihat ponselnya. Seseorang mengirim foto kepadanya tidak di ketahui siapa pemilik nomor itu. Fera menggeser kekanan setiap foto yang dia terima berupa foto mirip seseorang. Karena foto itu jauh maka sulit mengetahui wajah di gambar itu.


Getar kembali ponselnya masih ada beberapa gambar foto lebih jelas lagi. Karena dia penasaran siapa yang mengirim foto itu di sentuh layar ponsel sentuh dan perbesar agar lebih jelas lagi. Fera membungkam mulutnya dengan  satu tangannya tidak dapat ia percaya dengan  penglihatan foto seseorang mengirimnya.


Satu butir bening jatuh di layar ponselnya masih menyala. Foto yang seorang wanita dan seorang pria berciuman tak lain adalah suaminya sendiri. Bagai langit mengeremuk keras suara.


Fera tidak pernah percaya dengan kiriman foto misterius itu. Demi rumah tangga daripada hancur lebih baik dia pergi menuju kantor suaminya. Dia hanya ingin pastikan apa benar Chandra berselingkuh dengan wanita yang sudah anggap saudara sendiri tak lain sahabatnya yaitu Vivi.

__ADS_1


Fera percaya tidak mungkin Vivi setega itu menghancurkan kebahagiaan jelas-jelas ia baik kepadanya berikan untuk dirinya tapi kenapa harus rumah tangga harmonis nya perebutkan. Memang dulu salahnya tapi tidak sampai sekeji itu perlakukan hidupnya seperti ini.


Sementara Chandra sedang berdiskusi dengan  beberapa karyawan dengan pekerjaan mereka masing-masing. Apalagi Vivi semakin hari penampilan berbeda dari biasanya membuat Chandra sedikit menelan ludah bukan karena maksud pikiran kotor.


Setelah selesai brifing mereka semua bubar, Vivi pun membawa beberapa berkasnya untuk kembali ke tempat pekerjaan. Chandra pun akan beranjak meninggalkan ruang meetingnya.


"Maaf, Pak. Ada sesuatu di pakaian bapak," ucap Vivi pelan mendekati Chandra. Sementara Chandra diam membiarkan wanita pendek ini melakukannya.


Vivi mendekati posisi jarak mereka benar dekat tinggal beberapa senti saja. Vivi membenarkan dasinya dan merapikan jas karena tadi ada benang di bagian kerak bajunya.


"Sudah--" Chandra terpaku kaku dengan apa di lakukan oleh wanita rambut pendek ini. Ciuman tidak sengaja olehnya.


"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja, biar saya bersihkan." Vivi mengambil tisu basah ada di dekat meja meeting itu.


Fera baru saja sampai di kantor suaminya. Ia pun masuk tanpa peduli lagi orang yang menyapa itu. Masuk ke dalam lift tidak lama kemudian terbuka dan menuju di meja sekretarisnya.


"Pak Chandra ada di ruangannya?" suara ketus dari Fera membuat sekretarisnya terkejut.


"Pak Chandra ada di ruangan meeting," jawabnya takut-takut.


Bukan apa-apa, wajah Fera menyeramkan saat ini. Tanpa menunggu lama dia langsung ke ruangan meetingnya. Meskipun baru sekali berada di kantor dan ini kedua kalinya. Dia pun menuju dimana letak meeting berada.


Semua menyambut Fera dengan ramah, Fera tentu membalas dengan senyuman ciut tak memiliki wajah ramah untuk saat ini. Sampai di mana meeting berada, Fera membuka pintu dan membatu seketika sekarang terbukti jelas dengan semua yang dia lihat. Foto, selingkuh, ciuman, pelukan.


"Oh jadi ini yang sering kau katakan lembur setiap hari pekerjaan selalu tertunda dari luar negeri, kerja sama dengan klien, muatan barang. Terlambat makan, sakit kepala, segalanya. Ini caramu beri alasan kepadaku!" Fera bersuara menantang dan tegas serta sinis segala ucapannya.


Terkejut antara mereka berdua Chandra dan Vivi. Vivi menjauh posisi dekat dengan atasannya.


"Fera, kau salah paham. Ini tidak yang kau lihat. Dia hanya --"


"Hanya apa? Hanya untuk membuatku lebih cemburu? Hanya mencoba memberikan kesabaran ku habis. Hanya apa? Sekarang tidak ada hanya - hanya - hanya lagi. Aku bukan Fera manja yang selalu kau nasehati terus menerus! Aku cukup sabar dan belajar perlahan-lahan agar kau tahu perubahaan yang aku dapatkan ternyata kebohonganmu!" potong Fera memojokan Chandra.


Chandra terdiam tidak bisa melawan atau membantah karena suasana saat ini sedang panas. Ia tentu bersalah bukan maksud buat istrinya cemburu hanya karena Vivi membenarkan baju nya tadi.


"Kau! Vivi Susanti! Aku menyesal punya sahabat sepertimu! Menusukku dari belakang, setega kau lakukan ini kepadaku! Aku salah apa? Aku berikan semua yang tidak kau punya. Aku berikan kau pekerjaan yang layak agar kau tidak merasa terpuruk. Tapi, kau datang dengan pakaian seksi untuk merayu suamiku! Suamiku yang jelek masih juga kau rebut kan...."


".... Aku percaya kau bukan dengan cara membalas budi seperti ini! Aku memang dulu bodoh kau pintar, polos, lugu. Otak kau tidak pernah di gunakan dengan benar! Aku sombong, punya segala nya yang aku miliki, tapi aku punya hati nurani, aku baik kepadamu bukan karena kasihan! Aku sudah anggap kau saudaraku. Ternyata tidak aku sangka kau begitu kejam, keji, munafik!"


"Aku tidak butuh wajah polos, lugu mu yang palsu itu! Tunjukin kalau kau memang ingin memiliki harga diri yang murni, suci! Sebenarnya apa yang kau inginkan? Kau ingin suamiku? Jangan harap kau bisa mendapatkannya! Kau pikir aku tidak boleh egois sepertimu? Kau salah, Vivi, aku? Ferawati Christian Sugiono seorang wanita penuh segalanya tidak lebih dari apa pun, egois, tidak beri ampunan jika ada orang ketiga mencoba merebut dan menghancurkanku! Ingat, Tuhan tidak tidur, Tuhan mempunyai mata setiap sisi mana pun yang baik selalu berikan ujian, tapi kejahatan tetaplah kejahatan. Di atas langit masih ada langit. Rambut kita memang sama tapi hatiku dan hatimu tidak sama!"


Fera panjang lebar menegur dan memberi peringatan kepada Vivi. Semua ada di kantor ini mendengar ceramah panjang dari istri atasannya. Chandra sendiri tidak bisa bertindak kalau sudah masalah wanita akan sulit di hentikan. Biarkan istrinya meluapkan semua rasa amarah, kesal, dan jengkelannya.


"Aku ingat sekali lagi! Jangan pernah aku lihat mukamu dan jejakmu ada di tempat ini! Kalau kau masih di sini, jangan sampai aku permalukan dirimu di depan umum! Kau, Chandra Hermawan Libra pecat dia atau aku yang keluar rumah mu!" Lanjut Fera kata terakhir membuat Chandra menelan ludah, ancaman sangat berbahaya.


Fera keluar begitu saja meninggalkan mereka berdua. Ekspresi Fera masih sangar kalau sudah begini akan sulit untuk membujuknya tidak marah lagi. Chandra yang berada di ruangan melirik Vivi masih diam dan gemetar.


"Pak, saya mohon, jangan pecat saya. Saya mau makan Pak, kalau sampai saya di keluarkan." Vivi menangis memohon

__ADS_1


"Maaf, saya tidak bisa. Ini diluar batas kemampuanku. Jika istri sudah bertindak saya tidak bisa membantah. Apa yang dia katakan itu, lebih baik kau tidak perlu munculkan wajah polos, lugu mu di sini. Jika kau tidak ingin  di permalukan depan umum oleh istriku, bukan? Jadi segera keluar dari sini kemas semua barangmu." tegas Chandra kali ini dia harus lebih bijak dan sedikit tega.


Ketimbang istrinya keluar dari rumah mending pecat sahabatnya lebih baik. Apabila sampai ketahuan sama orang tua masing-masing bisa-bisa Chandra mendapat ceramah panjang lebar dari Ibunya sebaliknya Fera juga akan di omelin oleh ibunya sendiri.


__ADS_2