
Hari sudah siang di rumah bertingkat dua itu sangat sepi-sunyi-senyap. Bagai tak berpenghuni sama sekali, Chandra tengah berada di ruang tamu sedang bercengkrama dengan ibu dan ayah mertua. Melisa membahas persoalan tentang putrinya yang emosional. Chandra menceritakan semua kejadian awal hingga akhir.
"Lalu kamu masih simpan foto itu hingga sekarang? Kenapa bisa kamu menyimpan foto itu sementara kamu tahu putriku itu beda dari wanita lain. Sifat dia keras kepala, mudah emosi, tersinggung sedikit masalah bisa di besar-besarkan. Sekarang sudah terjadi begini, kamu bisa menghiburnya dengan apa?" Melisa bertanya-tanya semua kepada menantunya.
"Aku akui ini kesalahan yang fatal mau bagaimana pun aku cari cara agar dia bisa maafi aku. Walau sekarang kondisi nya masih belum stabil asal tidak terlalu banyak pikiran semua akan baik-baik saja, mungkin dia belum bisa maafi aku resiko sebagai suami tetap tanggung jawabku. Aku tidak akan buat kecewakan putri Mama dan Papa." jawab Chandra menyakinkan mertuanya.
"Mama mengerti, kamu tidak akan mengecewakan kami. Tapi permasalahan nya itu kenapa kamu masih menyimpan foto sahabatmu apalagi cinta pertama. Dari awal perjodohan Mama sama Papa tidak menanyakan secara detail tentang masa lalumu. Kami hanya ingin putriku berubah dan mengerti kehidupan nya setelah menikah dengan mu. Agar bisa saling terbuka satu sama lain, Mama sering memojokkan putri sendiri. Tapi kamu sudah tahu sifat Fera bagaimana seharusnya tidak kamu ulangi lagi. Mama tidak menyalahkanmu, kamu sudah dewasa sudah berkeluarga sendiri sebentar lagi menjadi orang tua. Jadi semua masa lalu di jauh-jauhkan jangan mengungkit kembali. Yang lebih di pentingkan hubungan pernikahan kalian berdua. Kami hanya ingin kalian baik-baik saja dan rukun, usia kami tidak akan lama berikan nasehat untuk kalian berdua, seharusnya kamu sudah mengerti maksud perkataan mama, kan?" Panjang lebar Melisa menceramahi menantu. Chandra mendengar begitu baik.
"Mengerti, Ma. Aku pasti selalu mengingat kata-kata dari Mama. Tentu aku akan belajar lagi dan lebih bersabar menghadapi Fera. Aku janji tidak akan mengungkit masa laluku dan juga masa lalunya," ucap Chandra tertegun dan haru.
"Bagus kalau kamu mengerti, Mama cerewet begini demi kebaikan mu dan juga Fera - putriku. Fera dari kecil sudah salah Mama didik dari segala yang dia punya selalu di dapatkan semoga di masa yang akan datang jangan ada lagi pertengkaran seperti ini. Saling terbuka, jangan buat dia marah dan buat cemburu. Sifat egoisnya belum terkontrol sempurna. Hhh... sudah banyak Mama berbicara sampai Papa mertuamu pun tertidur karena ocehan dongeng Mama. Kamu kembali lihat keadaan Fera. Mama mau bubur dulu untuk istri manjamu." ucap Melisa mengakhiri percakapan nya.
Chandra pun melangkah ke kamar istrinya. Fera baru saja sadar dari pingsannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia turun untuk mengambil isi minuman tenggorokan nya sakit setengah hati berteriak.
"Kau mau kemana?" sapa Chandra menghampiri istrinya.
Fera tidak menanggapi malah memilih melewatinya tapi gelas yang ia pegang telah berpindah ke tangan suaminya.
"Biar aku yang ambil, kau duduk di sini saja. Kau masih belum sehat total, Mama lagi buat bubur untukmu." lanjut Chandra senyum,
"Apa pedulimu! Sudah aku katakan jangan sentuh---"
"Iya, iya, aku tidak sentuh. Jangan marah-marah lagi tidak kasihan sama perutnya, kalau calon mama asyik ngambek mulu." sambung Chandra mencubit hidung merah itu.
"Maksudmu?" Fera tidak mengerti perkataan suaminya.
"Sejak kejadian pertengkaran aneh membuat bingung semua orang. Anugerah yang di tunggu telah berikan keajaiban terduga. Selama sembilan bulan nanti aku harus sabar dengan ujian dan menghadapi istriku yang labil penuh emosional serta manja sampai melahirkan nantinya," jawab Chandra panjang lebar seperti kereta api.
"Aku hamil?" Chandra mengangguk kepala naik turun beberapa kali tidak lupa dengan senyuman.
"Jadi jangan marah-marah lagi tidak baik untuk janinnya." ucap Chandra mengusap-usap pipi istrinya yang pucat itu.
Fera menatap suaminya sangat lama, bukan karena ia bahagia kalau benar hamil tetap saja lukanya belum sembuh.
"Jangan kau pikir aku hamil, aku sudah memaafkanmu? Jangan harap!" ketus Fera akan membawa kehamilan sebagai penyiksaan suaminya.
"Iya, tidak masalah kau maafkan aku atau tidaknya, tetap kau akan aku awasi terus sampai sembilan bulan. Ya sudah aku ambil minum dulu sekalian bubur buatan mama." Chandra mengacak rambut istrinya. Fera sedikit hangat sekian beberapa hari suaminya tidak pernah mempelakukan seperti ini.
Setelah Chandra keluar dari kamarnya, Fera menunduk tetesan air mata jatuh di punggung tangannya menyentuh perutnya sendiri. Ia bahagia dong apa yang di inginkan terwujud hamil dari suami jeleknya.
****
__ADS_1
Chandra membawa bubur dan juga minuman hangat untuk istrinya. Antusias Chandra senyum sementara Fera menghapus air matanya.
"Kenapa?" Chandra bertanya.
Fera tidak menjawab mengambil bubur buatan mamanya. Chandra memperhatikan istrinya. Tetapi Fera malah menatapnya horor.
"Kenapa kau di sini lagi? Keluar, aku tidak mau lihat mukamu yang jelek itu!" ketuanya mengusir Chandra padahal ia rindu istrinya yang manja.
"Kau tidak merindukanku?" Chandra bertanya kepada Fera mengharapkan jawaban "iya"
"Tidak, untuk apa merindukan suami pembohong seperti mu. Aku tidak ingin anakku tertular pembohong sepertimu!" jawabnya masih nada ketus.
Wajah berseri-seri dari Chandra meredup istrinya masih belum maafkan nya. Tetapi Chandra tidak kan menyerah masih ada hari esok dan bukan berikutnya.
"Ya sudah, makan yang pelan - pelan. Akan harap jangan terlalu lelah, banyak pikiran," ucap Chandra berdiri dari jongkok nya tidak lupa mengacak rambut Fera.
Keluar dari kamar itu, Fera menatap punggung lebar yang tegap itu. Ia juga tidak tega mendiamkan atau mengatakan seperti itu. Martabatnya juga perlu di hargai jika ia luluh terus karena suaminya sayang kepadanya kapan sadarnya si suami jelek.
****
Chandra duduk di ruangan tengah sambil melihat televisi bisnis usaha dan politik. Melisa sedang sibuk dengan dapur nya membuat beberapa makanan sehat untuk putrinya.
"Sepertinya kamu sangat suntuk, apa Fera masih belum maafkan mu?" Tepuk paha menantunya.
"Sabar-sabar saja, dulu Mama mertua mu saat hamil Fera juga seperti itu. Papa sabar menemaninya, kadang bisa berbulan-bulan tidak boleh dekati atau berkenalan sama calon Papanya. Wanita kalau sudah membara susah. Cara nya itu harus sabar, menahan emosi sendiri. Mudah-mudahan Fera tidak seperti sifat Mamanya, Papa tahu banget Fera tidak akan lama mendiami mu. Kalau dia tidak ingin lihat mukamu, bisa tidur di kamar sebelahnya. Pintu otomatis tembus kamar miliknya." kata Roy panjang lebar ssama-sama cerewet tidak beda jauh dengan orang tuanya.
Mungkin kelak dia menjadi orang tua untuk anaknya juga bakal seperti mereka cerewet dan bawel. Roy menceritakan kisah masa kecil Fera memiliki dua kamar sekaligus tanpa ada yang boleh menempatinya. Tentu kamar sebelah miliknya, memiliki pintu rahasia. Mereka berdua sengaja membuat designer interior seperti itu karena keinginan Fera sendiri.
Fera memang memiliki sifat sangat berbeda, dia mudah emosional apalagi tidak suka di atur oleh siapa pun. Roy dan Melisa sangat menyayangi Fera, tetapi setelah tumbuh remaja sifat nya berubah ketika bertemu teman-teman yang tidak beres, suka berfoya-foya.
Tetap Roy memberikannya tanpa kecuali sehingga tumbuh dewasa semakin semena-mena gonta - ganti pacar tidak jelas alasan tidak cocok, terlalu pelit, agresif, posesif. Mereka pusing dengan sikap Fera itu pada akhirnya tanpa sengaja Ibu Fera pun bertemu dengan sahabat baiknya yang sudah lama tidak bertemu.
Perbincangan pun berlangsung lama sampai membahas anak masing-masing. Ibu Chandra juga menceritakan nasib pengalaman tentang dirinya. Di saat pertemuan itulah mereka sepakat untuk menjodohkan Fera dan Chandra. Pernikahan itu pun mendadak tanpa perencanaan bertemu saling mengenal dulu atau bagaimana. Karena Roy dan Melisa yakin jika melakukan seperti itu sifat Fera akan mudah di tebak oleh Chandra nantinya.
Chandra menyimak terus cerita dari ayah mertua. Ia pun mengerti ternyata begitu rencana perjodohan mereka. Pantas saja ia kadang terkejut dengan sifat istrinya yang kadang manja dan bisa marah tidak jelas. Tapi ia bersyukur bisa di pertemukan tanpa rencana atau Tuhan sudah merencanakannya.
Cukup lama berbincang-bincang Chandra menoleh memperhatikan penampilan istrinya telah rapi dan dandan cantik.
"Kau mau kemana?" Chandra menghampirinya, Roy cuma menonton menantu dan putrinya.
"Kau lihat sendiri, aku mau kemana?" Di tanya balik oleh Fera.
__ADS_1
"Jalan-jalan?" tebak nya "sudah tau tanya lagi, minggir sana!" ketus Fera lagi.
Di depan parkir mobil Chandra membuntutinya. Fera menoleh tatap tajam, "Mana kuncinya?"
"Untuk apa?" Chandra balik bertanya.
"MANA!" Kali ini Fera membentak nya, tak berapa detik keluar kan kunci mobil di ambil kasar sama Fera.
Fera masuk ke mobil di nyalakan Chandra mencoba buka pintu untuk ikut tapi malah di kunci sama Fera di dalam. Mobil mundur dari halaman rumah orang tuanya.
"Nih, kamu pakai saja mobil Papa, awasi dia Papa takut nanti ada apa-apa sama dirinya." ucap Roy serahkan kunci kepada Chandra
"Terima kasih, pasti!" ujarnya ikut mengejar mobil istrinya itu mudahan belum jauh dari jalan tersebut.
Fera mengemudi santai sambil mendengar musik melow, ponsel miliknya berdering dan di angkat tanpa kabel.
"Ini aku sudah di jalan, sebentar lagi aku sampai! Kau di sana? Okay lima menit lagi sampai!" langsung Fera menjawab.
"Okay, sayang... Aku tunggu!" Suara lelaki dari seberang mematikan panggilan tersebut.
Chandra masih mengikuti mobil dari belakang. Mobil hitam fortuner istrinya berbelok tepat di sebuah rumah makan lembur kuri. Ia pun ikut masuk mencari parkir pada saat ia akan turun. Kedua mata Chandra melebar melihat istrinya di datangi seorang lelaki. Bukan itu saja, lelaki itu merangkul pinggang istrinya.
"Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita bertemu. Mungkin sudah sepuluh tahun?" percakapan lelaki itu merasa akrab dengan Fera.
"Tepat sekali, dan bagaimana hubungan mu? Apa sudah tahap level berapa?" balas Fera tidak merasa risih dengan sikap lelaki itu merangkul pinggangnya.
"Kau benar tidak berubah, dasar cewek sombong!" ejek lelaki itu.
Fera tertawa dan masuk ke rumah makan itu, tapi sebelum itu sesuatu menariknya secara kasar.
"Kau ini kenapa sih! Kau sedang hamil maksud kau ini apa?" tegur Chandra
"Hei! Jadi lelaki jangan kasar sama wanita dong!" lelaki itu melabrak Chandra.
"Kau ini yang apa-apa. Aku mau kumpul dengan teman-teman ku!" sengit Fera melepas paksa genggam dari suaminya.
"Tapi tidak harus peluk-pelukan juga! Kau itu sudah menikah, apa tidak malu di lihat sama teman-teman mu?" Chandra memperingatkan pada istrinya.
"Dia siapa, Fera, kok ada lelaki kasar seperti dia?" lelaki itu tidak Terima kalau Fera di perlakukan kasar sama Chandra.
"Maaf sebelumnya, dia ini suami jelek, biasa lagi stress dia. Kita lanjut saja di dalam kasihan yang lain sudah menunggu," jawab Fera mengakui Chandra itu suaminya. Tapi masih di cuekin.
__ADS_1
Ketika masuk ke dalam rumah makan itu semua sudah berkumpul tidak sampai di situ saja. Ternyata Chandra salah paham lelaki merangkul Fera itu istri suami sahabatnya. Cuma Chandra heran kenapa berpeluk seperti kalau sudah beristri. Lalu Chandra ternyata bertemu kembali dengan Jimmy dan istrinya serta sahabat baik Fera yaitu Felda.