
Makan malam keluarga, Fera duduk di samping suaminya sedangkan ibu mertua duduk berhadapan menantunya kalau ayah mertua tetap di posisi tengah sebagai kepala keluarga terhormat.
Sunyi tak ada suara satu pun yang keluar dari mulut masing-masing, hanya suara sendok garpu berirama lagu tidak ketinggalan juga dengan nyanyian jangkrik pada malam hari.
"Bagaimana pekerjaan cabang sajian makanan di kafe apakah semua lancar?" tanya Herman - ayah Chandra.
"Untuk saat ini semua lancar tidak ada kendala sama sekali, dua hari kemarin aku menangani kontrak kerja sama dengan Perusahaan makanan snack," jawab Chandra
Fera cukup menyimak perbincangan antara anak dan ayah. Ia memang tidak memahami dengan perusahaan apalagi pekerjaan suaminya. Yang ia tau dari ibunya kalau Chandra - orang yang mapan dan memiliki segala bisnis di berbagai kota Metropolitan ini. Cuma ya... ia tidak terlalu kepo soal apa saja ia memiliki. Semalam saja ia sempat melihat berkas laporan penjualan berbagai restoran.
"Begitu, bagus kalau semua aman terkendali. Terus Fera setiap hari temani Chandra ke kantor melihat rutinitas pekerjaanya? Bagaimana apa kau merasa tertarik dengan pekerjaan suamimu?" Herman tiba bertanya kepada Fera.
Fera mendongak kaget, "Eh... itu--" sayur yang dia kunyah tertahan di rongga mulutnya.
Harus bagaimana menjawabnya, ke kantornya saja belum pernah apalagi...
"Masih tahap belajar belum semua di pelajari. Kadang dia sedikit manja kalau soal perhitungan angka," sambung Chandra mewakili suara menjawab pertanyaan dari ayahnya.
"Oh begitu, bagus kalau begitu memang laporan keuangan itu harus lebih teliti dan cekatan jangan sampai salah menghitung bisa fatal penjualannya, pelan - pelan asal ada niat untuk maju," kata Herman cara bicaranya tenang dan tegas. Fera tidak bisa berkata-kata lagi.
Setelah selesai makan malam Fera membantu cuci piring bersama suaminya. Ini untuk kedua kali walau pun Chandra melarang untuk tidak melakukannya. Fera tentu membantah karena ada mertua di sini masa ia santai saja, bisa-bisa di cap menantu tidak tau diri.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian selesai mencuci piring semua letakkan tempat ranjang untuk mengeringkan sendiri. Fera pun masuk ke kamar sementara Mama dan Papa mertua di ruang tamu duduk sambil nonton televisi.
Chandra menemani orang tuanya ikut bergabung nontn televisi juga, kalau Fera tidak terbiasa nonton televisi bareng keluarga ia lebih memilih main gadgetnya sendiri.
"Bagaimana perkenalanmu dengan istrimu apa dia sopan?" Hana bertanya kepada putranya soal tentang Fera.
"Sopan, dan sedikit keras kepala," jawabnya jujur.
"Apa dia masih suka keluyuran dirumah? Mama tau kalau dia tidak pernah ke kantormu, dari cara untuk menjawab pertanyaan dari aku dan Papamu selalu kau mewakilinya, kau jangan terlalu memanjakan dirinya, mama menyetujui perjodohan ini juga karena Melisa sahabat baik mama. Seharusnya kau tau bagaimana sifat dia yang tidak mendengar perkataan orang tua." Hana kembali mengomel panjang lebar Chandra mengerti feeling seorang ibu tidak pernah bisa di bohongi.
"Aku akan berusaha mendidiknya, aku lihat sekarang dia sudah mulai berubah walau masih keras kepala dengan sifat borosnya. Dia juga butuh kebebasan juga kalau di paksa untuk mengubah hidupnya. Aku lebih suka dia seperti itu daripada di buat-buat kenyataan hanya palsu," ucap Chandra tenang dan percaya kalau istrinya bisa berubah.
"Mama tenang saja, aku yang akan mengajari dia mencintaiku. Mama cukup santai di rumah dan menunggu hasil dari kami berdua. Aku yakin dia akan berubah walau tidak secepat itu, ya sudah aku ke kamar dulu, jangan terlalu malam tidur." Chandra bangun dari duduknya meninggalkan ruang tamu.
Hana mendecik kesal terlalu mulia putranya. Ia takut kalau menantunya tidak akan bisa berubah, kasihan itu putranya.
Chandra masuk ke kamar dan Fera keasyikan main game di ponsel sampai tertidur.
Chandra mengambil ponselnya lalu mematikan di masukan tangannya ke dalam selimut. Fera mengernyit kedua alis dan membuka matanya.
"Sudah selesai?" Ia mengerang lebar-lebar kedua tangannya.
__ADS_1
"Sudah," sahutnya. Meletakkan selimut sebagai alas tidurnya. Chandra akan tidur di bawah pisah ranjang sudah wajar baginya.
"Kembali tidur lagi, besok cepat bangun. Jangan sampai Mama lihat sikap malasmu," ucapnya mengecup keningnya sebagai tanda ucapan tidur.
Fera senyum dan kembali menutup kedua matanya, lampu di samping ranjang Chandra matikan ia juga akan tidur. Sunyi senyap di kamar Fera tidak bisa tidur ia kembali membuka kedua matanya. Kemudian menatap bawah posisi dimana suaminya tidur tanpa alas selimut apa pun.
Ia pun bangun dari tidurnya lalu mengambil bantal dan guling serta selimut tebal turun dari ranjang meletakkan bantal di samping suaminya membelakangi. Ia hanya ingin merasakan tidur berdua dengan suaminya bukan maksud apa-apa. Ia sudah berjanji akan mencoba mencintai suaminya yang penyabar ini.
Chandra merasa seseorang berada di sampingnya ia pun memutar badannya dan benar istrinya ada di sebelahnya dengan keadaan terpenjam.
"Kenapa tidur di sini? Nanti sakit kalau tidur di bawah." Chandra bertanya kepada istrinya
"Masa aku tidur di ranjang empuk sedangkan suamiku tidur di alas tipis, cuma ingin tau rasanya tidur seperti ini bagaimana," jawabnya menatap tanpa kedip sedikitpun. Jaraknya dekat banget deh.
"Dasar keras kepala, kenapa aku harus ketemu wanita seperti dirimu tidak bisa di bilangi, Hem?"
"Karena itu sudah jodoh, aku malah bersyukur bisa ketemu suami jelek sepertimu hati membuat jantungku berdebar-debar terus. Aku akan coba mencintaimu dari cara penyabarmu."
"Terima kasih."
Ciuman hangat seorang suami kepada istri. Fera mendapat cara hangat darinya lagi. Semoga perkataan dari ibu beranak satu ini benar nyata, ia akan memulai mencintai suami jelek tapi jiwa yang tampan.
__ADS_1