
Fera kini berada di kantor suaminya tengah duduk sambil bermain poker solitaire di laptop suaminya. Sedangkan Chandra sedang ada meeting membahas produksi percetakan tas dan designer kotak di inginkan oleh konsumen lainnya.
Fera menggeliat merasa bosan ia pun menutup laptop itu kemudian keluar kantor suaminya mencari sesuatu yang bisa ia kerjakan mungkin mandor anggotanya sedang bekerja atau jalan-jalan lihat-lihat gedung milik suaminya.
Satu jam telah dilalui oleh Chandra membuat ia gerah dengan ruangan yang panas ini. Ternyata tempat ini suhu udara dalam keadaan mati hidup. Pantas saja mereka tidak nyaman dengan meeting hari ini.
Chandra pun keluar untuk kembali ke tempat kerjanya, ketika ia melewati kantor divisi marketing terdengar suara tidak asing baginya sedang berbincang-bincang di dalam ruangan itu. Ia pun mundur untuk mengecek dengan siapa ia mengobrol di jam kerja.
"Jadi, mbak Fera dulu kuliah di UTI (universitas teknik informatika)?" kaget divisi marketing tak lain adalah Tomi lelaki duda beranak dua.
"Terus kau kenapa tidak mau menikah lagi? Kalau sama aku bagaimana?" Fera bertanya dalam keadaan tanpa sadar bahwa suaminya tengah menguping pembicaraannya.
"Ah? Mbak bisa bercanda saja dari tadi. Mau di kemanakan Pak Chandra. Saya ini tidak pantas jadi suami mbak apalagi istri saya pergi juga karena saya," ucap Tomi tidak percaya dengan omongan Fera.
"Suami jelek seperti itu? Tukang pembohong buat apa di sayang percuma suka sakiti perasaan wanita bodoh sepertiku. Mending menikah seperti dirimu duda anak dua terus sabar menjaga daripada suami jelek jahanam masih menyimpan kisah kasih mantan terindahnya, ini masih aku tahan kalau sampai berjumpa dengan mantan terindahnya itu bakal habis di buatku mungkin muka jeleknya tinggal nama," kata Fera panjang lebar ceritakan kepada Tomi.
Sementara Tomi sudah dari tadi diam karena Pak bos nya ada di depan pintu mendengar pembicaraan mereka. Chandra sendiri juga terdiam tidak bersuara karena istrinya masih belum melupakan kejadian minggu lalu.
"Ehm... Mbak, saya ke tempat HRD dulu, seperti ada tertinggal di sana. Lain kali kita bincang-bincang lagi, ya?" ujar Tomi beranjak pergi meninggalkan kantornya itu.
"Kok cepat? Yakin kau tidak ingin menikah dengan---ku---" Fera terputus di akhir kata menemukan sosok pria jelek tengah berdiri di ambang pintu menatapnya tajam.
"Sudah selesai meetingnya? Apa masih ada jadwal rapat lagi?" Fera bertanya malah tidak terjadi hal aneh-aneh.
"Kau masih marah soal kejadian minggu lalu?" Chandra langsung mengalihkan topik masalah.
Fera yang melewati suaminya di pintu tersebut berhenti dan menatap wajah penuh bulu tebal di sekitar wajahnya semakin lama wanita ini ingin sekali mencukur bulu itu dari pandangannya.
"Tidak? memang aku terlihat marah? Kalau kau tidak ada jadwal meeting lagi, aku mau ke Kafe Madura merindukan anak-anakku di sana," jawab Fera berlalu pergi untuk mengambil tas jinjingnya.
Chandra yakin istrinya masih belum melupakan soal foto figur itu. Meskipun istrinya menutupi semua karena kandungan tetap saja Chandra sangat bersalah sekali kepada istri tercintanya.
****
Dalam perjalanan menuju kafe Madura Fera sedang mengetik sesuatu di ponselnya sambil senyum-senyum. Chandra semakin curiga dengan sikap istrinya ini.
"Ada apa? Kok senyum-senyum sama ponsel?" kepo Chandra
"Mau tahu saja! Sudah nyetir lihat ke depan urusan cewek kok di kepoin! Nanti simpang tiga kita belok kanan ya! Aku mau ketemuan sama teman!" pinta Fera
"Ketemu sama siapa? Bukannya kau ingin ke Kafe Madura rindu sama anak-anakmu?" Chandra mengingatkan kepada istrinya
"Kenapa? Kok kau curigai aku seperti itu? Aku ini hamil tidak mungkin selingkuh. Kalau pun aku selingkuh itu pun terang-terangan di depan matamu tidak kayak kau sembunyi di balik selimut! Paham!" sindir Fera tanpa ampun untuk suaminya itu.
__ADS_1
"Bukan begitu, aku tidak curiga cuma bukannya kau itu mau ke kafe Madura tapi sekarang---"
"Bisa antar atau tidak? Kalau tidak bisa antar bilang saja, aku bisa turun terus naik gojek online tidak masalah bagiku! Percuma punya suami jelek makin posesif saja!" celetuk Fera mulai membuka pintu untuk turun dari mobil itu.
"Oke, Oke, aku antar tapi tidak turun, ya, sayang. Maaf buat kau marah jangan marah. Kasihan bayinya, hm..." luruskan oleh Chandra kemudian.
"Begitu, jadi suami itu penurut sama istri jangan asyik buat aku marah karena kebohonganmu itu. Coba kau jujur sama aku, aku tidak akan kayak begini asyik marah - marah kau. Aku juga lelah mengomeli mu tidak penting itu! Jadi lelaki itu harus terbuka sama istri bukan dengan cara mendiami. Ujungnya apa? Hubungan pernikahan retak hanya masalah sepele. Kau pernah bilang, kau cinta sama aku terus mantan terindah masih kau kenang juga? bagaimana nasib anak ku nanti kalau masalah ini tidak selesai - selesai?" Fera mengomel panjang lebar, Chandra hanya bisa menyimak dan mendengar ocehan dari istri hamil..
Sampai di sebuah rumah makan foodcourt, Fera turun dan senyum melebar melentangkan kedua tangan nya lebar-lebar memeluk seseorang. Chandra yang di belakang istrinya mulai memasang muka masam.
"Apa kabar? Bagaimana keadaanmu?" Fera mulai bertanya - tanya dengan seorang pria tinggi putih dan mancung boleh di katakan ganteng.
"Dia itu cinta pertama ku waktu masih kuliah, sampai sekarang aku masih ada hati sama dia. Dia masih bujang, nanti anakku lahir tak jodohin ke dia, ehmm..." bisik Fera beritahukan kepada suaminya.
Chandra mulai waswas dengan sikap istrinya mulai aneh-aneh. Jangan sampai ia termakan cemburu ia yakin istrinya hanya pancing imamnya.
****
Percakapan antara wanita dan pria tidak akan ada habis atau pun bosan. Karena jika telah lama tidak bertemu selama bertahun-tahun pasti banyak perbincangan membahas hal tanpa sadar.
Sebab perubahan iklim dan alam sehingga para manusia pasti sudah melalui beberapa rintangan tersendiri dari susah hingga sukses seperti Pria berwajah campuran - putih - tinggi - tampan juga. Namanya Arnold Gavinando, 26 tahun masih muda namun sudah memiliki usaha tersendiri yaitu Asuransi kesehatan.
Fera mengabaikan suaminya yang duduk di samping terus mengawasi dan memperhatikan setiap sikap menyentuh pria di depannya. Atau Fera memang sengaja apa sudah dilakukan kebiasaannya.
"Benarkah? Terus kau terima apa tidak? Kenapa sih kau kan tampan, mapan, sudah pernah alami dari dasar hingga menempuh rintangan yang berat. Jangan terlalu banyak memilih nanti kau sama kayak aku, sudah banyak milih, banyak mantan tukang pengkhianat sekarang aku menikah sama suami jelek juga pembohong," ucap Fera kembali menyinggung perasaan Chandra.
"Jelek begitu tapi kau cinta banget kan sama dia? Jangan salah menilai seseorang dari luar. Walau dia pernah membohongimu tetap saja dia itu sayang dan cinta cuma satu, tentu dirimu. Tidak mungkin dia setia menemanimu ke mana-mana. Seharusnya suami itu lebih penting pada pekerjaan bukan di waktu menemani terus istri menemui seseorang," kata Arnold lebih bijak lagi berikan pencerahan kepada Fera.
Fera menciut bibir sebal ikut melirik suaminya masih dalam keadaan sibuk dengan ponselnya. Senang pasti kalau di bela sama temannya Fera. Telinga Chandra sudah panas dan besar kepala nantinya.
"Kau itu jangan terlalu memuji dirinya, dia bakal besar kepala dan kau tahu semakin kau memujanya semakin susah aku atasinya, jadi kapan kau kembali ke negara tetangga?" ucap Fera dan mengalih topik pembicaraan.
"Mungkin seminggu lagi, aku cuti hanya liburan sekalian pulang kota kelahiran mana tahu bisa berkumpul reunian. Oh ya, kemarin aku ketemu sama Rega lelaki bertato itu, kalau tidak mantan pertama kali di kuliah. Dia kejar cinta demi dapatkan hatimu. Masih ingat?" Arnold malah mengungkit masa lalu Fera.
Chandra memasang telinga secara hati-hati. Tentu ini akan seru sambil menguping.
"Rega? siapa? Aku sudah lupa, tuh?" Fera mencoba mengingat yang di sebut temannya ini Arnold.
"Ada lah yang tato di lengan terus dia sok cool banget di kampus, sekaligus cemen anak preman, masa tidak ingat sih? Kalau tidak kita pernah jalan bareng ke kantin pas mau membahas mata kuliah kimia." Arnold coba mengingatkan kembali pada Fera.
Fera akhir-akhir ini sering lupa segala hal sehingga sulit untuk mengingat kembali. Ia coba memaksa mengingat dan ujungnya menyerah.
"Aku benar tidak ingat, maaf ya, mungkin efek kehamilanku jadi susah mengingat siapa Rega, apa aku amnesia? Terus kenapa dengannya? Sudah mati kah? Jadi tukang parkir atau bagaimana?" Mulut Fera tidak pernah di didik selalu menyindir perasaan orang.
__ADS_1
"Tidak, dia sekarang sudah sukses. Dulu preman kelas ikan teri di kampus biar di takuti sama anak lain. Eh tak tahunya dia malah buka usaha kuliner di sekitar di sini," jawab Arnold beritahu.
"Masa? Kuliner apa? Mana tahu aku mampir terus cicipi lumayan gratis," cengiran Fera sambil mengelus perut nya yang belum besar itu.
"Bisa kok, kalau tidak salah itu dekat perjuangan simpang dua belok kiri dua ruko rumah toko perabot ada toko kue berbagai macam aneka unik jarang ada, buka dua puluh empat jam terus selalu habis tanpa tersisa," kata Arnold
"Ya sudah nanti aku kesana, mana tahu ada yang bisa di lihat dan di minati. Kau sudah mau balik? Atau kita makan dulu, dari tadi kita berbincang-bincang jadi tidak ingat waktu makan," seru Fera mulai memanggil pelayan di sana.
"Oh tidak perlu, sepertinya aku ada janji sama kru bisnisku. Mereka pasti sudah lebih dulu sampai dilokasi. Lain waktu kita kumpul seperti ini ya, jangan abaikan suami nanti kabur loh." bisik terakhir untuk Fera mengingatkan kepadanya.
"Ya sudah hati-hati," Fera melambaikan tangan kepadanya kemudian kembali duduk manis.
"Sudah selesai obrolannya? Ada pertemuan lagi?" Chandra bertanya sambil mengelus rambut istrinya bukan karena dia cemburu.
"Kau tidak cemburu aku dekat sama Arnold?" jawab Fera lirik
Chandra senyum, "untuk apa cemburu, istrinya tidak mungkin selingkuh sama yang lain dia tahu diri sedang hamil."
"Begitu ya, kita ke tempat perjuangan yang di katakan temanku tadi. Kuliner paling enak dan beraneka macam kue aku mau coba cicipi gimana kelezatannya antara kaki lima dengan toko kue," ucap Fera mulai meremehkan keadaan.
"Jangan selalu meremehkan orang lain, nanti kualat loh. Kita itu sudah harus bersyukur mempunyai segalanya yang ada. Kalau di lihat begini istriku makin tembam ya." Chandra mulai menggombal karena efek sesuatu buatnya ingin mencium.
Fera tahu diri sekarang bukan waktunya mesum-mesum di depan umum. Ia mencubit pinggang kanannya tidak peduli sakit atau tidaknya.
"Aaakkghh!" Chandra memekik hebat cubitan pedas dari istrinya.
"Kau?"
"Apa? Kau mau coba marah padaku? Coba saja kalau kau tidak ingin anakmu benci padamu!" ancam Fera bangkit dari duduknya kemudian keluar dari Foodcourt itu.
Chandra masih mengelus pinggang yang berdenyut-denyut itu. Benar gila cubitan istrinya itu, terbuat dari apa tenaganya. Menuju kuliner yang di sebut Arnold tidak butuh waktu yang lama mereka pun sampai tujuan.
Chandra terdiam mencondongkan badannya ke depan setir mobil menatap papan di depan ruko itu.
Bukannya ini aku beli kue cubit ya? Terus....
"Ayo! Ngapain bengong di situ? Mau tunggu di luar? Tidak takut aku selingkuh nanti?" cicit Fera mengancam lagi.
"Iya, tidak akan aku izinkan kau selingkuh!" seru Chandra turun dan merangkul bagu istrinya.
Ketika masuk ke toko kue itu seseorang yang berdiri di depan pintu utama memberi salam kepada mereka berdua. Ternyata benar banyak aneka macam kue, terus ramai antri panjang.
"Selamat siang, Pak, Bu, ada yang bisa saya di bantu?" Seseorang menghampiri mereka berdua yang kebingungan duduk di tempat mana. Karena semua full di duduk oleh pelanggan.
__ADS_1
Fera menoleh dan terkejut sendiri sebaliknya wanita yang menyambut hangat ikut terkejut. Sedangkan Chandra malah biasa saja tidak merasa kaget sama sekali.
****