Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 33


__ADS_3

Plak!


"Ya ampun, Chan! Ini nyamuk kenapa banyak banget sih tempel di kulit ku? Genit lagi!" tutur Fera sibuk memukul nyamuk dari tadi berkunjung di tangan, kaki, telinga.


Giiihhh... Giiihhh... Giiihhh...


Suara nyamuk di telinga Fera terasa bising, di kipas-kipas mengusir dari telinga itu. Membuat dirinya berpindah tempat.


"Kok kau tenang banget sih? Tidak merasakan ada nyamuk mendekati mu?" cicit Fera mengomeli suaminya yang duduk tenang sambil membaca surat kabar di tangannya.


"Semakin bergerak dirimu, semakin bahagia nyamuk mendekati mu. Maka dari itu diam dan biarkan mereka berkenalan sebagai tanda penyambutan agar mereka bisa merasakan darah segar dari orang kota sepertimu," lanjut Chandra mencubit hidung mungil istrinya.


"Sakit, Chan!" Di tepis tangannya gatal itu, merasa tusukan sadis di tangannya melihat seekor mamalia kecil menikmati isapan darah di sana.


PLAK!


"Mampus! Mati kau! Rasain memang enak isap darahku tapi meregang nyawa!" celetuk Fera menyingkirkan nyamuk sudah kempes itu namun darah bertebaran di tangannya.


Merasa geli dan gatal akhirnya ia menggaruk, "ya ampun sudah mati nyamuk itu kok malah gatal sih! Chan, bisa-bisa aku DBD ini?!" merepet lagi si Fera


Membuat para tetangga yang diam di dalam rumah mengintip suara melengking itu. Fera masih sibuk memukul nyamuk sedang bermain dengannya, apalagi pakaian yang ia pakai pun mengundang pasangan mata terus melirik tanpa mengedip.


Chandra menyadari kemudian masuk ke dalam rumah tak berapa kemudian kembali dan menutupi jenjang putih mulus terbuka terang di sana.


"Lain kali kalau pakai celana itu lihat tempat ya! Disini mata pada jelalatan kalau nampak paha mulus mu. Apalagi nyamuk genit, suka banget sama lobak putih mulus apalagi kalau di buat sup," tegur nya sambil menggombali lagi.


"Apaan sih, kau ini! Tidak di rumah, kampung makin genit saja!" Fera memukul bahu suaminya, membuat Chandra cengegesan.


Duduk di cuaca malam hari membuat Fera jadi mengantuk di sandarkan ke bahu kiri suaminya biarkan orang-orang ada di rumah mengintip kemesraan suami istri ini. Chandra mengusap pipi istrinya.


"Mengantuk? Tidur di kamar, atau mau tidur di temani sama para nyamuk jantan?"  bisik Chandra lagi menggodai nya.


"Di sini saja, tidak apa-apa nyamuk jantan genit sama aku berarti darahku manis. Di kamar panas, tidak ada AC, bisa nanti aku mandi keringat," tuturnya bermanja-manja.


"Ya tidak apa-apa ber keringatan biar makin panas. Berarti cuacanya mendukung hubu---"


Plak!


"Ada nyamuk di pipimu, Chan. Tuh, kan bukan jantan saja yang genit betina juga bisa genit, ya sudah masuk yuk! Banyak mata-mata mulai berkeliaran." Fera mengalihkan topik pembicaraan. Buat Chandra terkejut dengan tamparan pipinya itu.


"Ayo! Ngapain lagi di situ? Mau tunggu penanti kuntilanak di sana? Soalnya sudah di depan matamu tanpa kasatmata..." tutur Fera membisikan telinga suaminya.


Beberapa detik kemudian seluruh bulu guduk merinding Chandra bangun dari duduknya dan mengapit tubuh istrinya untuk masuk. Fera cengengesan lihat sikap suaminya takut horor.


Saat masuk ke kamar, walau ranjang tidurnya tidak seempuk milik kamar di rumah sendiri. Tetap tidak menghalangi pasangan suami istri ini bermesraan untuk tidur nyenyak.. Walau pun kondisi dikamar benar panas dan menguji emosional.


Dua jam telah berlalu Fera masih belum bisa tidur, karena kulit - kulit di tubuhnya terus mengeluarkan keringat serasa gerah. Lirik suaminya begitu pulas tanpa rasa panas atau bagaimana kah itu.


Fera turun dari tempat tidur di lapis dengan papan kayu itu memulai mengobrak-abrik kipas angin kuno. Terlalu sok bisa perbaiki, Tiba-tiba membuatnya terkejut lampu padam seketika.


"Kyaa..."


Chandra bangun teriakan dari dekat dan mencari ponsel nya sebagai cadangan lampu.


"Auw!" suara kesakitan mengarahkan lampu posisi istrinya tengah duduk di samping kipas angin.


"Kenapa di sini?" Chandra bertanya, "panas! hiks!" Langsung di peluknya.


Chandra dapat merasakan baju yang di pakai oleh istrinya basah penuh keringatan. Fera tidak mau lepas dari posisi pelukan itu, Chandra kesulitan mencari lampu LED untuk menyalakan.


Sementara waktu mereka menggunakan lampu itu, sedangkan orang tua Chandra sudah molor tidak sadar kan diri lagi. Fera mencoba buka jendela kamar itu mencari udara dingin.

__ADS_1


"Ganti baju dulu, nanti masuk angin," pinta Chandra.


"Nanti saja, enak nih anginnya. Kenapa tidak pindah ke kota saja?" tanya Fera basa-basi


"Mereka lebih suka di tempat ini, kalau kota lebih tentu nyaman realita nya. Walau disini banyak gosip aneh-aneh tetap saja mereka ramah dan alami lagi kalau pagi hari." jawab Chandra.


"Terus, besok kita ke pasar ya! Aku ingin belanja beberapa sayuran." ucap Fera


"Baiklah, ayo tidur lagi."


"Tapi pelukan ya!"


Chandra senyum kembali menutup jendelanya. Lampu tidak diketahui jam berapa menyala.


****


Suara ayam berkokok terdengar dengan jelas dua telinga kamar pasangan suami istri ini. Letak kamar mereka dekat dengan belakang dapur. Fera masih belum untuk bangun karena suhu udara pagi membuatnya tak ingin membuka mata..


Chandra baru saja selesai mandi melirik istrinya masih posisi tidur sambil menutup seluruh badan dengan selimut tebal itu. Masih jam 06.30 pagi, langit masih gelap matahari belum memunculkan batang hidungnya.


Kukuruyuuukk...!


Suara ayam berkokok kembali terdengar bukan satu saja namun beberapa ayam jago ikut memberi alarm untuk membangunkan para manusia yang malas itu.


"Eum... berisik!" gerutu Fera menarik selimutnya kemudian menutupi kepalanya dengan guling sebagai penutup telinga.


Chandra membuka jendela kamar membiarkan udara pagi hari menyusup masuk. Fera merasakan suhu sesuatu memasuki selimutnya.


"Chan, tutup kipas anginnya dingin!" pinta Fera dengan suara parau yang manja.


Padahal kipas anginnya sudah Chandra matikan dari tadi sebelum menjelang pukul enam.


"Hem... nanti saja, masih ngantuk!" lenguhnya menutup wajahnya dengan guling.


"Ayo, bangun! Jadi wanita tidak boleh malas-malasan!" Chandra mengangkat tubuh istrinya posisi duduk tetapi kedua matanya tertutup rapat.


Para Arwah Fera belum pulang ke jiwanya. Chandra pun tidak memaksa istrinya bangun membiarkan dia tidur dengan puasnya.


Di dapur Ibu Chandra sudah sibuk dengan kegiatannya yaitu membuat sarapan pagi. Chandra menuangkan teh hangat telah di buatkan oleh bibi Inem.


"Fera belum bangun?" Hana bertanya kepada putranya


"Belum, biarkan dia tidur dulu, semalam mati lampu dia sulit tidur karena kepanasan," jawab Chandra menyeruput teh nya.


"Loh? Semalam mati lampu? Kok Mama tidak tau? Jam berapa?" Hana malah bertanya


"Sekitar jam sebelasan, Mama sama Papa sudah tidur mana tau lagi mati lampu," jawab Chandra menyindir.


****


Suara burung berkicau di cela lubang jendela dan cahaya sinar matahari pun telah menyusup masuk setiap lubang pada tembok batu batako yang kokoh itu. Fera merasa hangat di tubuhnya, ia pun menggerakan kedua tangan melebar sementara selimut di tendang entah di mana.


Dia pun membuka kedua matanya lebar -lebar melirik jam dinding lekat-lekat jarum jam pendek menuju angka sembilan sedangkan jarum jam panjang menuju angka lima. Berarti sudah menuju pukul setengah sepuluh pagi.


"CHAAAANNDRAAA...!!!!" teriak kan Fera mengagetkan seluruh rumah serta ternak ayam, angsa, ****, bebek terbangun dan retak telur tersebut.


Hana berada di depan rumah sedang memilih sayur yang lewat terperanjat kaget. Bukan wanita paruh baya itu saja yang lain juga terkejut lengkingan suara dari dalam rumah keluarga Libra.


Chandra masuk terbirit-birit ke kamar tatapan tajam Fera membuat Chandra mengernyit, "ada apa, Fera sayang?" tanya Chandra mendekati nya.


"Kenapa kau tidak bangunkan aku!" Fera mencekik suaminya, Chandra merasa sesak kemasukan setan mana nih di pagi hari.

__ADS_1


"Aku... sudah bangunkan dirimu, Fera---sayang!" sahut Chandra menghirup udara ini pasti efek semalam kepanasan jadi istrinya kerasukan jiwa mana lagi.


"Masa? terus pasarnya sudah tutup ddon, yaaaa..." kecewa Fera menunduk


"Belum kok, makanya cepat mandi sebelum itu sarapan dulu, Mama sudah buat sarapan. Baru nanti kita pergi ke pasar minggu, naik sepeda atau jalan kaki?" Chandra gemas rasanya sikap istrinya ini.


"Pasar minggu? Memang ada?" Fera baru mendengar semacam itu. "Ada dong, makanya cepat mandi sana!" suruhnya


"Mandiin!" manjanya, Chandra mendelik gemas ini pancingan atau apa sih - batinnya.


"Kau mencoba pancing hasrat ku, ya?" bisik Chandra.


Fera kembali menunduk malu, "ya sudah kalau tidak mau, tidak usah pergi deh aku balik tidur lagi!"


"Eit! Baiklah!"


Chandra tidak bisa menolak anggap saja ini honeymoon di kampung, manja istriku tidak boleh di lewatkan. Permintaannya juga tidak boleh di tolak bisa stress kalau istrinya ngambek, kalau singa betina sudah mengamuk akan susah di jinakkan.


****


Dua jam berada di kamar mandi, Fera merasa segar bugar. Chandra terpaksa mandi lagi karena hubungan badan, ganasnya minta ampun istrinya. Seluruh kulit di badannya penuh cakar.


Fera duduk di meja makan menikmati sarapan hari ini adalah lontong sayur. Tidak pernah namanya kurang selera, bagi Fera selera buatan Ibu mertua itu nomor satu karena lezat selalu sesuai di lidahnya.


"Ini, Neng, tehnya." Bibi Inem berikan segelas teh hangat untuk Fera.


"Terima kasih, Bi." senyum ramah si Fera


Tak berapa lama kemudian, Fera selesai sarapan. Sedangkan Chandra duduk sambil berbincang-bincang dengan para tetangga membahas soal penangkapan musang.


"Chan, yuk! Aku sudah--siap, selamat pagi, Pak, Bu!" Fera menyapa tetangga yang tidak ia kenal.


"Selamat pagi juga," balas senyuman mereka menyambut ramah kepada Fera.


"Istrimu cantik benar, Chan! Asli mana, ya, Neng?" puji Ibu - ibu tetangga kemudian bertanya kepada Fera.


"Ah? Aku? Asli dari kota Sumatera," jawab Fera ramah


"Oh! Kota beruntung ya dapat suami kayak Chandra, jarang loh ada yang mau menerima suami kayak Chandra, tapi aku salut sama kamu, dulu disini pengin nikah sama Chandra sayangnya Chandra tipe orang yang sok sibuk gitu," mulai gosip bumbu tidak sedap di telinga Fera.


"Oh ya? Masa sih? Wahh... berarti suamiku orangnya tampan dong! Terus laris di kejar sama cewek-cewek?" Fera mulai penasaran dan kepo nih.


"Bukan itu saja, dulu sebelum bujang banyak yang naksir Nak Chandra coba saja itu berewok nya di cukur, Eneng pasti kaget dan tidak akan mau pisah sama Nak Chandra!" sambung ibu yang entah gigit daun apa itu sampai berwarna gincu.


"Oh ya?" Fera melirik suaminya dari tadi diam..


"Iya, loh, Neng! Jadi hati - hati, soalnya ada satu wanita cinta banget sama Nak Chandra, pokoknya Eneng sabar saja deh! Dia itu akrab banget sama Nak Chandra." tambah lagi entah bumbu apa yang di dapat itu.


"Oh ya udah, Terima kasih ya, informasinya. Aku sama suamiku mau jalan-jalan dulu. Mari, Bu, Pak!" Fera memilih untuk menghindari dari gosip aneh itu.


Chandra masih diam sibuk dengan ponsel nya, Fera merasa penasaran dengan perkataan ibu - ibu tadi.


"Chan, aku mau tanya nih!" Sambil jalan menuju pasar minggu lebih nyaman itu sambil ngobrol.


"Tanya apa?" Chandra masih sibuk sama ponsel nya.


"Kayaknya yang foto figuran itu bukan aku deh! Sepertinya wanita yang di katakan pada ibu-ibu tadi warga sini ya? Itu siapa sih?" Pertanyaan Fera membuat Chandra berhenti.


"Kenapa? Berarti benar ya?" Fera bertanya lagi.


"Hmm... itu..."

__ADS_1


__ADS_2