
Masih berkumpul di rumah makan lembur kuri. Percakapan mereka tidak ada yang di mengerti oleh Chandra sekarang. Apalagi ia sedang memantau istrinya sekaligus mengawasi.
Lelaki yang tidak di sebut siapa namanya itu menuangkan minuman bersoda untuk Fera. Tapi langsung di minum oleh Chandra tanpa meminta. Yang lain terdiam memperhatikan sikap suami Fera. Fera merasa malu di buatnya.
"Ah ciyeee... di perhatian nih sama suami tercinta," goda Jimmy mulai bereaksi.
"Oh ya, kenalin teman baik sekaligus rekan bisnis baru-baru ini. Namanya Chandra Hermawan Libra - suami dari Fera Christian Sugiono. Mereka baru menikah eh bukan sudah memasuki lima bulan, mereka awalnya tidak saling kenal. Kalian pikir sendiri saja bagaimana mereka bisa menikah? Tentu jawaban nya itu mereka dijodohkan, terus kisah cinta mereka awal bermula masih musuhan seperti tikus dan kucing. Kemudian lama kelamaan Chandra memberi simpati kepada istrinya terjadi bumbu cinta mereka mulai tumbuh di dalam diri masing-masing dan sekarang terjadi kisah mereka yang bahagia ini..."
"... eit, jangan lihat wajah suaminya Fera. Memang terlihat jelek karena berewok nya itu. Itu rejeki darinya, kalau di cukur kalian akan kaget melihatnya. Jadi kalian juga yang sudah punya suami atau istri harus mencontohkan seperti dia. Dani yang menuangkan minuman bersoda untuk Fera, dia yang mewakilinya. Pasti kalian bertanya-tanya bukan kenapa bukan Fera meminum bersoda? Chandra silahkan beri jawabanmu." Jimmy menjelaskan panjang lebar dari A - Z.
Chandra akan memulai menjawab pertanyaan dari Jimmy sementara nyang lain menunggu jawaban tersebut. Lelaki yang di sebut Jimmy tadi adalah Dani Wahyudi Purnomo - sahabat baik dari Fera semasa sekolah dulu. Dia memang sangat akrab dengan Fera walau pertemuan itu mendadak.
Sudah jelas teman-teman atau sahabat - sahabat Fera itu sebenarnya banyak mereka datang berjumpa dari kalangan atas hingga menengah. Berkelas kakap jadi tidak perlu pusing melihat sikap arogan Fera terhadap yang lain.
"Karena Fera sedang hamil masa usia kandungannya baru memasuki dua minggu. Karena itu dia belum diperbolehkan untuk minum bersoda, berkafean atau yang membahayakan kandungannya. Saat ini istriku sedang terbawa emosi jadi aku imbau untuk kalian mengerti keadaannya yang tidak stabil. Dia datang ke sini juga terpaksa kalau tidak, aku juga tidak akan memaksa dia untuk hadir disini. Jadi maaf jika kata-kata ku membuat kalian tidak nyaman saat ini." jawab Chandra menegaskan.
Semua hening setelah mendengar jawaban dari Chandra. Mereka bukan karena kesal, jengkel, atau membuat suasana jadi runyam begini. Tepukan tangan dari seseorang dan di ikuti oleh semuanya memberi pujian untuk Chandra.
Fera menggenggam baju panjangnya hingga kusut itu. Ia menahan amarah sangat malu. Dani apalagi lebih malu di buat oleh Jimmy tapi ia tau diri tidak maksud untuk membuat suaminya cemburu.
"Bravo, ini baru suami yang penuh pengertian," salut Felda memberi suara pertama untuk Chandra.
__ADS_1
Chandra hanya senyum namun di bawah meja Tangan kanan memegang tangan istrinya. Fera menyingkirkan tangan suaminya tetap nihil.
Acara pertemuan pun berakhir dengan suasana berbeda. Mereka semua berpamitan untuk pulang sementara Dani berdiri di depan Chandra dan Fera.
"Sorry, Bro. Kalau tadi aku sampai kasar sama kau. Coba saja kau katakan lebih awal mungkin tidak akan seperti tadi. Kau juga Fer, baik-baik sama suamimu. Lain kali kita ketemu lagi tapi berempat, see you..." Dani berlalu meninggalkan tempat rumah makan lembur kuri itu.
Semua telah bubar kini tinggal mereka berdua yaitu Chandra dan Fera. Fera menarik kasar dari genggaman suaminya. Chandra menoleh menatapnya heran.
"Jangan kau kira mereka memujimu, kau sudah sok hebat dan pintar. Untuk aku tetap sama kau itu tetap pembohong!" ucap Fera sinis melangkah kesal masuk ke mobilnya.
"Kau pulang denganku!" Chandra menutup pintu mobil fortuner itu dan menarik istrinya masuk ke dalam mobil ayah mertuanya.
Awal Fera menolak dan bersih keras tidak ingin ikut dengan suaminya karena di jalan banyak orang gengsi berlebihan mau tak mau ia menuruti daripada di buat malu sama penduduk setempat.
Berhenti di simpang tiga lampu merah tepat depan ada lampu kelap kelip membuat Fera menatap terus tanpa kedip.
"Berhenti di situ!" tiba Fera bersuara padahal mobilnya berbelok lawan arah.
Chandra mendadak rem sehingga buat yang di belakang mobil membunyikan klakson memekakkan telinga Chandra.
Fera mendiami tidak memedulikan suaminya panik. Melanjutkan dan membelokkan arah berlawanan. Malah nasibnya itu sebuah mobil belakang melewatinya berhenti tepat di depan mobil mereka.
__ADS_1
Mobil itu turun dan meminta Chandra ikut keluar dari mobil itu. Percakapan mereka tidak terdengar oleh Fera yang di mobil. Dapat Fera lihat cara perbincangan suaminya dengan orang itu. Kasihan sih sebenarnya kalau berdebatan dengan orang lain. Tapi Fera tetap tidak peduli memilih membuang muka. Diluar percakapan antar pria sesama pria. Mobil itu kesal saja membuat Chandra bersalah kepada pria tua itu.
"Saya minta maaf, ini juga bukan keinginan saya. Istrinya saya mendadak ingin ke Pizza hut. Kalau bukan karena dia mengindam saya pun tidak akan mendadak berhenti seperti tadi." ucap Chandra menjelaskan kepada pria tua itu.
Pria tua itu melirik kaca transparan depan mobil Chandra menatap Fera tengah bersanding jok duduknya merenung.
"Ya sudah, lain kali lebih berhati-hati lagi. Ini bisa merengut nyawa tidak berdosa. Kalau istrimu tidak hamil mungkin kau berurusan dengan kantor polisi!" kata Pria tua itu menegaskan kepada Chandra.
"Iya, maaf sekali lagi, Pak. Hati-hati di jalan Pak." ujar Chandra mendahului pria tua itu pergi kemudian Chandra kembali masuk ke mobilnya.
"Kau tidak apa-apa, kan?" Chandra bertanya keadaannya.
Fera tidak menjawab malah mendiami, Chandra pun menyalakan mobil dan berputar arah ke tempat di inginkan istrinya beberapa menit yang lalu.
Tidak berapa lama kemudian Fera mengangkat kepalanya dan bertanya, "Kau mau bawa aku ke mana?"
"Tapi mau ke Pizza hut kan? Bukannya kau ingin makan?" jawab Chandra kali ini ia mendadak rem entah apa lagi nasibnya sekarang.
"Aku mau pulang memang ada meminta mu ke sana?" Fera bertanya nada yang datar
"Ehm... itu... ya sudah kita pulang, pulang kerumah mama atau rumah kita?" Masih juga di tanyakan tatapan mata Fera ingin memakan suaminya hidup-hidup.
__ADS_1
"Pulang kerumah mama, oke pulang kerumah mama." Chandra menjawab sendiri.
Sabar, Chan... demi cinta, Fera hanya emosi saja. sabar ujian ini...