Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 21


__ADS_3

Pukul 13.00 siang tepat di jam makan siang Chandra mengantar istrinya ke Kafe Madura tempat di mana sekarang tekun bekerja. Hardi dan Lisa senantiasa membimbing Fera dengan baik.


Setelah makan siang Fera kini melanjutkan pekerjaan dengan melayani para pelanggan dengan sopan dan baik tentunya. Chandra kembali ke kantor perusahaannya.


Fera yang sedang duduk santai menikmati secangkir minuman teh hangat karena kehausan dari tadi setelah beberapa Jam melayani pelanggan yang terus berkunjung di Kafe ini.


Di depan pintu masuk Fera tidak sengaja bertemu dengan teman-temannya datang ke kafe ini. Tentu dengan senang hati ia akan melayani mereka dengan caranya sendiri.


"Hei, kalian ke sini juga, mau pesan apa?" Fera menyapa teman-temannya yang duduk di meja dua puluh.


Salah satu temannya yang bernama Mega pernah sekali berkumpul dengannya di salah satu Kafe lain. Dia memperhatikan setiap inci dari atas sampai bawah kakinya penampilan Fera jauh beda dari biasanya.


"Fera?" sebutnya takut salah menyebutkan namanya.


"Iya, aku Fera. Masa kalian lupa sih sama diriku. Mau pesan apa?" ulangnya dan bertanya kepada temannya.


"Kau ngapain  di sini? Bukannya katamu kau sudah menikah dengan suami konglomerat? Kok penampilanmu..." Mega menggantungkan kata-katanya.


Fera malah senyum bangga bisa memakai baju pelayan Kafe apalagi suaminya sudah menyerahkan padanya.


"Aku kerja dong, cuma ingin tau cari uang itu susah apa nggak! Masa kau tidak pernah merasakan kerja sama orang lain?" respon Fera senyum ramah


"Yang benar saja? Kerja? Ya ampun Fera mulai sejak kapan kau jadi wanita biasa? Bukannya kau itu paling anti dengan namanya pekerjaan haram tersebut!" sambung Luna lebih menyakitkan kata-kata sampai menyudutkan hatinya.


Fera terdiam memang salah dirinya bekerja di Kafe milik suaminya. Walau pun dulu ia memang tidak suka berkerja, tapi tak ada salah merasakan jadi karyawan biasa. Ia teringat dengan kata-kata dari suaminya. Ternyata ada benarnya kalau temannya hanya melihat sisi buruk luar tidak dengan sisi baik di dalam. Menyakitkan memang kata-kata mereka jadi ini di sebut pertemanan.


"Kalau begitu kalian mau pesan apa? Di sini kami mempunyai beberapa menu baru mungkin bisa kalian lihat, aku yakin menu spesial ini bisa membuat cita rasa kalian semakin ketagihan," lanjut Fera tidak menanggapi kata-kata sindiran dari mereka. Ia memberikan beberapa buku menu makanan kepada mereka


Mega dan kawan-kawannya melihat-lihat kemudian di antara mereka memesan menu spesial yang di sebut oleh Fera tadi. Sebaliknya Mega dan juga lainnya. Setelah Fera menyalin pesanan mereka ia pun segera meninggalkan meja mereka.


"Eh tunggu dulu, Fer. Pakai acara pergi segala. Kau tidak mau traktir kami makan menu spesial mu? Bukannya kau itu baru dapat gaji pertama? Masa kau tidak traktir kami sih, anggap tamu spesial." ucap Luna melirik kawan-kawannya beri kode.


"Iya nih, Fer..." sambung teman lainnya.


Fera bukan tidak ingin mentraktir mereka ia sudah berjanji tidak akan berfoya-foya karena itu tidak penting baginya.


"Sorry, aku baru saja bekerja jadi belum dapat gaji pertama," ucap Fera pelan senyum ciut.


"Begitu ya, ternyata teman kita sudah berubah, tentu mana mungkin dia bisa traktir kita makan tempat seperti ini. Gajinya saja pasti kecil apalagi makanan di sini sangat mahal untuk gaji pertama pastinya tidak akan cukup untuk empat orang, iya, nggak sih teman-teman?" Sindiran kedua dari Mega menyudutkan banget untuk Fera.


Ia masih menahan amarahnya rasanya ingin menangis. Baru kali ini ia merasakan sindiran sangat menyakitkan, ternyata berteman itu hanya memiliki segalanya setelah semua berubah mereka menganggap itu hanya sampah.


"Tidak ada lagi tambahan kalau begitu aku permisi dulu." Fera pamit meninggalkan tempat meja mereka.

__ADS_1


Seluruh jiwanya sangat membara ia ingin banget merobek mulut temannya yang bernama Mega dan Luna. Tidak tahan dengan sindiran tidak di didik itu. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuang perlahan-lahan.


Sabar ini hanya ujian, anggap saja mereka menyindir diri sendiri. Batin Fera memberi semangat diri sendiri.


****


Masih sibuk dengan aktivitas bekerja di Kafe Madura. Fera duduk memijatkan kedua kakinya karena merasa pegal baru juga pertama kerja sudah harus bermanja-manja.


Di dapur memasak terdengar keributan bahan mereka kurang karena masak untuk sajian makanan spesial belum pada datang semua. Apalagi para pelanggan setempat sudah menunggu dari tadi. Hardi sibuk meminta waktu untuk yang menunggu lebih bersabar lagi. Sementara Lisa juga sama hal membuat minuman dan kasir juga.


Karyawan di Kafe Madura memang tidak banyak di pekerjakan. Fera mulai kepo memasuki dapur tersebut. Walau ia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Daripada para pelanggan pada lari karena Kafe tidak profesional. Ia rela menjadi jasa membeli bahan makanan.


"Ada apa?" Fera bertanya, juru masak yang ricuh terdiam setelah mendengar suara dari istri atasannya.


"Begini, Mbak, kami kekurangan bahan untuk makanan spesial. Sudah kami hubungi bagian grosir nya untuk segera datang. Katanya sesuai antrian, jadi kami harus cari di mana?" jawab si koki dengan nama tag di bajunya, Aldo.


"Memang bahan apa yang kurang? Mungkin aku bisa bantu carikan." Fera kembali bertanya.


"Banyak sih, Mbak. Tapi tidak perlu aku sudah minta Tito untuk pergi membeli di minimarket terdekat dulu," jawabnya dan tidak enak hati masa menyuruh istri atasan pergi beri bahan bumbu masakan.


"Tidak apa-apa, daripada aku nganggur tidak ada pekerjaan lain. Sekalian belajar mengenal bahan bumbu masakan dapur. Sudah mana bahan yang kurang? Kasihan para pelanggan sudah menunggu terlalu lama," ujar Fera mengulurkan tangannya meminta bahan bumbu di perlukan.


Aldo pun mencatat dan serahkan kepada istri atasannya, Fera dengan senyum bahagia melihat semua tulisan bahan bumbu tertera di kertas tersebut.


"Oh, baiklah. Kalian lanjutkan saja dulu. Aku pergi dulu," ucapnya berlalu meninggalkan tempat Kafe mencari Tito.


Di belakang gudang tersimpan beberapa sayuran dan buah-buahan yang segar dengan pendingin dan tertata rapi. Tito sedang mengecek beberapa sayuran yang tersisa. Fera pun mendekati lelaki muda usianya mungkin masih belum dua puluh tahun.


"Tito?" Fera menyebutkan namanya takut salah panggil..


"Iya, kak?" responnya kemudian.


"Kau tidak sibukkan? Bisa temani aku ke pasar sebentar? Ada beberapa bahan yang mau aku beli." ucap Fera meminta bantuan kepada lelaki itu.


"Bisa, Kak.. Memang mau beli bahan apa?" tanyanya berjalan menuju parkiran. Sepeda motor beroda dua.


Fera duduk di jok belakang sedangkan Tito akan membonceng wanita dua puluh lima tahun ini. Sebelum berangkat ke lokasi tujuan, mereka harus memakai segala kelengkapan yaitu helm karena di kota metropolitan ini para polisi suka bersembunyi membuat pengendara sulit berkutik.


Dua puluh menit kemudian mereka sampai lokasi di tuju yaitu pasar tradisional. Fera mengeluarkan lembaran kertas yang di berikan oleh Aldo tadi. Bumbu yang akan mereka cari adalah masakan untuk menu makanan spesialnya. Tito menemaninya sebagai bodyguard terhandal.


Keringat bercucuran namun tetap beri semangat baginya. Sampai di sebuah kelontong tempat akong-akong yang berjualan beraneka bumbu masakan. Ia pun menunjukan kertas kepada Akong-akong itu.


Dengan ringgatnya, Fera mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan sendiri. Panas itu tidak tertahan. Tidak perlu banyak waktu akhirnya selesai, ia menenteng belanjaannya sedangkan Tito juga menenteng belanjaan karena banyak berkilo-kilogram.

__ADS_1


Ketika berada di parkiran sepeda motor, tidak sengaja Fera menyenggol sebuah mobil mewah berwarna hitam itu tepat memarkir di samping kereta tersebut.


Seseorang turun Fera malah memilih sibuk dengan barang belanjaan.


"Hei! Buta!" tegur suara wanita tidak asing bagi Fera menoleh belakang.


Wanita itu dengan songong terkejut dan terdiam menatap dari ujung kepala hingga kaki.


"Loh, Fera. Kau benar Ferawati Christian Sugiono? Apa kabar? Kemana saja sih kau selama ini? Apa yang kau lakukan di tempat ini?" wanita itu menyapa dan menanyakan kabarnya.


"Baik, aku lagi belanja untuk stok bahan bumbu di tempat kerjaku. Kau sendiri? Makin cantik saja, aku dengar kau sudah menikah dan mobil ini..." Fera membalas dengan sambutan ramah bisa bertemu dengan sahabat lamanya.


"Baik dong! Masa kau tidak lihat bagaimana penampilanku, of course aku ini sudah menikah dan suamiku sangat baik kepadaku segalanya dia berikan untukku. Lalu bagaimana dengan mu? Ah ya tadi kau bilang kerja di Kafe? Kafe mana? Karena aku baru pulang dari Swiss jadi aku lupa segala makanan di kota ini. Mungkin kau bisa mencari makanan mana yang enak untuk lidahku?" ucapnya dengan nada sok sombong dan songong itu.


"Aku bekerja di Kafe Madura tidak jauh dari tempat ini mungkin menggunakan sepeda motor sekitar dua puluh menit sampai. Jika keberatan aku bisa mengantarmu ke sana." Fera menawarkan tempat Kafe milik suaminya bisa saja sahabatnya ini suka dengan menu makanan itu.


"Oh my god, Fera! Kau menyuruhku menggunakan sepeda motor buntutmu itu? Kau tau betapa mahal perawatan kulitku ini. Menghirup polusi berasap di kota Metropolitan ini, bisa-bisa aku membutuh waktu beberapa minggu untuk perawatan kulitku ini. Begini saja, kau tunjukan jalan Kafe mu. Aku membuntuti dari belakang menggunakan mobilku. Bagaimana?" celoteh nya si wanita ini panjang lebar.


"Boleh saja," dengan senang hati Fera memandu tempat Kafe paling enak itu.


Tidak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai, para karyawan lain mengangkat bahan stok bumbu makanan dan juga beberapa sayuran tersebut masuk ke dalam dapur. Fera masuk dan memandu sahabatnya untuk persilakan duduk di tempat layak tersebut.


"Duduk dulu, Fera. Kita makan bersama sekaligus reunian." tawar wanita itu bernama Susan.


Teman-teman Fera sangat banyak tidak terhingga. Sejak masa hidupnya masih jomlo dan bergonta-ganti pacar sifat sombongnya itu tidak membuat yang melirik dari luar. Padahal sebagian benci sifat angkuhnya.


Kini ia melakukan dengan cara dari sifat suaminya merasakan sebagai karyawan biasa dan mengetahui seprihal bagaimana teman-teman dan sahabat-sahabatnya memandang dirinya yang sekarang.


"Hai, San! Sorry ya sudah lama menunggu?" sapa suara cempreng tak jauh dari meja di mana Fera duduk berbarengan dengan sahabat lamanya.


"Hei! Aduh makin cantik saja, aku baru saja sampai," Susan membisikkan pelan beritahukan kepada wanita yang baru datang itu melirik Fera tengah duduk diam.


"Hai, Fera, ya! Masih kenal siapa aku?" sapanya biasa saja menganggap sudah lama tidak bertemu.


"Kenal dong, Rika, kan? Satu angkatan kuliah dulu tapi beda kelas." balas Fera senyum dan ramah.


"Aku kira kau tidak ingat lagi. Loh, kau kerja di sini?" tanya Rika memunculkan sikap kagetnya. Padahal ia sudah tau kalau Fera memang bekerja di sini dari seragam bisa terlihat jelas sama dengan pelayan di Kafe ini.


"Iya, kalau kau kerja di mana? Berlianmu cantik sekali, beli di mana sih?" Fera mulai basa-basi memegang kalung berlian di pakai oleh Rika itu.


"Oh ini, tentu belinya di tempat lain dong masa ekspor! btw, ada menu spesial apa sih di sini? Kasih tau dong mana tau ada diskon untuk kita-kita," seru Rika melihat -lihat menu makanan di depannya.


Fera menjelaskan dan menawarkan beberapa makanan baru yang mungkin sebagian belum terbiasa dengan  masakan aneh tersebut. Perbincangan antara dua sahabatnya membuat Fera tidak di anggap di meja makan ini prinsip orang biasa dan orang mampu benar jauh berbeda.

__ADS_1


__ADS_2