
Seperti dengan ucapan Fera tadi siang, jam tujuh malam akan ada acara pertemuan dengan seorang teman yang katanya, katanya itu buat Chandra posesif sama istrinya mengawasi dan menguntit setiap. gerak - gerik tingkah makin gila olehnya itu.
Pakaian Fera sangat seksi dan benar buat kedua mata Chandra sakit mata. Bahkan Fera sampai jengkel dengan sikap posesif suaminya tidak di bolehkan untuk berpakaian terbuka jika bertemu dengan seorang pria tampan lebih tampan darinya.
"Apa- apaan sih, kau ini! Semua tidak boleh! Aku mau bertamu bukan kau yang bertamu. Ini acara ku, jadi aku minta duduk di rumah jadi suami yang baik!" tegas Fera kesabarannya sudah dua puluh persen terkuras oleh sikap posesif suaminya.
"Kenapa aku harus duduk diam? Acara tamu itu tentu aku hadir, kalau kau tidak izinkan aku ikut bersamamu. Kau juga tidak boleh pergi duduk diam di rumah dan nonton televisi berdua denganku!" balas Chandra tidak akan kalah dari ancaman istrinya.
"Terserah! Kau pikir dengan ancamanmu itu bakal luluh! Jangan pikir kau berkuasa aku tidak bisa? Ingat baik-baik uang, harta, martabat milik istri! Pertahankan rumah tangga ini juga karena istri, jadi kau itu cukup duduk diam di rumah. Ini bisnisku, jangan kau ikut camp--mmpphhffttt--Chan lhepaass--"
Chandra membungkam mulut istrinya dan mengunci tubuhnya di tembok yang kokoh tidak beri dia ampunan. Mulutnya tidak pernah di didik lagi semakin bergurau akan bertambah panjang.
Fera terus meronta-ronta dan memukul dada bidang suaminya, masih belum selesai ciuman panas itu. Tidak dapat pungkiri lagi, Fera menyerah sulit bernapas karena oralan dari suaminya membuat dia sesak dan terdiam lemas.
"Sudah aku katakan, tanggung jawab pernikahan itu adalah aku. Jadi, kemana pun kau pergi aku juga akan ikut. Seberapa pun kau keras ingin pergi, tidak aku izinkan kau kemana pun, ingat jangan bersifat egois tidak selama melakukan sendiri itu bisa membuahkan hasil." ucap Chandra kembali beri nasihat kepada istrinya.
Fera mengatur napasnya dan diam seribu bahasa jantungnya kembali berdegup kencang. Paling benci kalau sudah di cium oleh suami jelek nya.
****
Restoran Tiara Garden untuk acara pernikahan, pertunangan, ulang tahun. Kini Fera dan Chandra bergabung satu tempat dengan beberapa teman - teman rekan bisnis berbeda kota. Karena Fera di undang oleh salah satu teman tidak terlalu dekat hanya bisnis biasa sering beri beberapa produk darinya.
Dia adalah Jimmy Tandiono Putrajaya, pria berusia tiga puluh tahunan paras boleh di bilang tampan, tinggi, cool dan mapan sayangnya dia sudah menikah dengan wanita yang jauh lebih cantik dari Fera pastinya.
Kedatangan Fera bukan untuk lirik pria tampan itu. Sebenarnya dia pun malas. hadir kalau tidak di paksa terus oleh istrinya cantik ini. Tidak hanya itu, tenyata sahabat karibnya yaitu Felda juga hadir.
"Apakah dia suamimu, Fera?" Felda bertanya kepada Fera
"Iya, dia suamiku yang paling jelek!" jawabnya sebal merusak acara makan malam berdua dengan seorang pria yang masih jomblo.
"Benarkah? Tapi menurutku dia tampan, dimananya jelek?" Felda malah memuji suaminya Fera.
"Heh? tampan kau bilang! Jelek begini, brewok, buat mata wanita geli lihatnya!" tunjuk Fera tidak merasa malu jika yang lain melirik nya.
Chandra masih diam sibuk dengan ponselnya biar terlihat cool dan sok sibuk. Dia memang orang sibuk cari uang untuk kesenangan istrinya yang lagi marahan belum kelar-kelar.
"Ya ampun Fera, Fera. Jelek atau pun tidak tetap suamimu. Kalau sudah menikah tidak ada lagi sebutkan suami jelek! Karena mata wanita itu buta, kalau sudah cinta tidak ada lagi sebutan jelek. Itu hanya mulut iblis mengatakan seperti itu," sambung Jimmy membela sesama pria.
"Itu menurutmu, menurutku dia itu memang jelek banget! Jangan menghujatku! Kalian ini sebenarnya mau bahas bisnis atau bahas pernikahanku sih?" Fera semakin jengkel. dengan sikap teman-temannya.
"Dua-dua nya Fera. Soalnya kau tidak cemburu kalau misalkan suamimu jelek di rebut sama orang?" pancingan pertama dari mulut Jimmy
__ADS_1
"Coba saja kalau sampai rebut suamiku, itu muka pasti tidak berbentuk lagi olehku. Memang suamiku barang pakai di rebut!" Emosi tingkat dewa Fera memuncak.
"Yaelah kok emosi sih Fer, aku cuma tanya. Berarti cinta kan sama suami jelek," ejek Jimmy berhasil bikin Fera malu banget.
Apalagi Chandra diam tapi senyum senyum. Bahagia lihat muka istrinya malu tak tertolong.
"Cintalah, kalau tidak enggak mungkin dia mau datang bareng aku!" jawab Fera pelan.
Acara pertemuan telah di bubar tidak terasa sudah menuju pukul sepuluh malam. Fera mulai mengantuk sementara Chandra mengemudi perlahan sambil mengelus rambut kepalanya.
"Terima kasih ya!" Chandra bersuara membuyarkan keheningan.
"Terima kasih untuk apa?" tanyanya ketus
"Cinta sama aku," jawabnya. "Memang selama ini aku tidak cinta?" tanyanya lagi makin ketus.
"Ada sih, cuma ya beberapa hari ini kau asyik marah-marah persoalan sahabatmu. Aku jadi kangen untuk mendengar suara bayi di rumah," jawabnya dan tiba mengalihkan topik pembicaraan.
Fera tidak menanggapi kata dari suaminya anggap tuli saja. Sampai di rumah, Chandra masih minta soal dimobil tadi.
"Aku capek! Tidur!" ketusnya.
Setelah berganti baju menjadi pakaian tidur, Fera naik atas ranjang untuk tidur. Chandra malah mencium pipinya sehingga bulu kecil mengenainya.
"Mau ya!" rayunya, "Apaan?" tanyanya menoleh.
"Pura-pura tidak tau pula," jawabnya jail itu tangannya sudah menyusup masuk.
"Aku capek, bes--ahh--" Fera mendesah.
Chandra mencium pundak kepadanya, hidung, kedua matanya dan bibir. "Kau tidak lelah?" tanya Fera menatap sayup dua bola manik hitam milik suaminya.
"Kalau lelah setelah melakukan ini. Aku sudah tidak sabar mendengar suara penghuni di rumah ini. Ingin tau seperti apa ketika kau mengidam." Jawab Chandra.
"Memang kau ingin anak perempuan atau laki-laki?" Fera masih bertanya
"Sama saja asal kau dan anak kita sehat, kau sudah siap? Kau cepat basah," gombalnya.
"Iih apaan sih!" Fera menutup mukanya dengan selimut. Chandra menyusup masuk.
Hubungan intim kemesraan di rumah sederhana kembali harmonis lagi, semoga dengan keinginan mereka terwujud dan berikan kebahagiaan seutuhnya.
__ADS_1
****
Tidak terasa pernikahan Fera dan Chandra telah menuju bulan ketiga. Sejak kejadian menimpa rumah tangga dua bulan yang lalu membuat Fera sedikit posesif terhadap suaminya. Setiap berangkat kerja Fera selalu menemani suaminya di kantor sampai jam makan siang. Sebab yang di takutkan zaman sekarang banyak mata-mata ular tidak memandang tipe tampan pria yang sudah bersuami atau pun bujang.
Chandra tidak permasalahkan apabila istrinya sering menempel dan mengikuti kemana pun dia pergi. Tentu Chandra sangat enjoy bahkan santai melihat istrinya selalu menempel. Bulan kemarin Chandra mengajak istrinya check up kondisi kesehatan untuk memastikan apakah dalam waktu dekat ini memberikan kebahagiaan.
Positif Thinking untuk Chandra mungkin Tuhan belum mengabulkan permintaan mereka untuk karuniai seorang bayi mungil di rumah ini. Kesehatan istrinya baik-baik saja fisiknya juga kuat dan sehat.
"Chan, bengong saja!" tegur Fera
Chandra melirik wajah cantik dan imut namun judes minta ampun. Istri yang pertama bertemu hanya mengenal sifat keras kepala, egois, mudah emosi dan tersinggung, mudah cemburu. Tapi kadang Chandra bangga memiliki istri seperti Fera ingin belajar sabar, mengontrol rasa emosional, membuang sifat egois, dan belajar menjadi wanita yang lembut dan sopan.
Perasaan apa membuat dia kurang hingga saat ini. Sudah sering melakukan hubungan tapi belum juga membuahkan hasil apa pun. Dia merasa tidak becus menjadi suami untuknya. Awal mula dia benci kepadanya sebuah pernikahan mendadak dari perjodohan kedua orang tuanya dan juga orang tua istrinya. Menunggu mencintainya, entah salah nya di mana.
"Chan, kok melamun mulu!" Fera kembali menegur suaminya dari tadi menatapnya tak bergeming.
Kedua mata nya berkedip beberapa kali. Fera masih tidak berubah lahap dengan makanan di depannya. Chandra menghembuskan napasnya pendek.
"Ada apa? Sepertinya kau banyak masalah sampai menghembuskan napasmu begitu pendek?" Pertanyaan dari Fera datar tanpa menoleh masih sibuk dengan makan siangnya.
"Maafkan aku tidak bisa berikan kebahagiaan untukmu," jawab Chandra pelan
Fera mendongak lalu menatap wajah suaminya, memang tidak ada berubah di wajahnya. Selalu di penuhi bulu kecil sisi rahang lebarnya itu.
"Ya ampun Chandra, Chandra, kau ini kenapa sih? Masih memikirkan soal kondisi aku bisa hamil atau tidaknya? Jangan terlalu di cemaskan, mungkin Tuhan belum waktu berikan untukku, kita bisa jalankan seperti biasa. Aku tidak permasalahkan tidak bisa beri cucu untuk Mama dan Papa. Aku yakin mereka mengerti, asal aku bisa di dekatmu saling mendukung dan terus berpikiran positif mendengar nasehat darimu itu sudah cukup bagiku, ada juga sepasang suami istri telah menikah selama berpuluh tahunan tidak memiliki seorang anak namun mereka saling membahu satu sama lain, mendukung, saling percaya, mendukung, dan saling menjaga agar tetap erat hubungan mereka. Walau tidak bahagia tetap harus di syukuri." lanjut Fera ceramah panjang lebar beri semangat dan nasehat untuk suaminya.
Chandra masih bergeming tidak percaya istrinya bisa mengatakan dengan keadaan tenang. Ia tahu bahwa istrinya mengatakan itu agar tidak sedih dengan hubungan rumah tangga yang lengang ini.
"Kita cari cara agar bisa--"
"Jangan di teruskan lagi, makan saja siangmu. Aku ke toilet dulu," potong Fera bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan ruangan kantor suaminya seorang diri.
Fera yang berada di toilet wanita bisa melinang air mata, bukan karena ia sedih tidak bisa berikan anak untuk suaminya. Yang ia takutkan benar tidak bisa hamil apalagi ketika ia mencoba memeriksa di rumah sakit ternama. Kemungkinan kecil ia akan sulit hamil. Padahal ia sudah menghindari minuman keras dan obat yang tidak pernah di konsumsi itu. Rokok tentu Chandra tidak pernah merokok lantas... Fera menghapus air matanya dengan tisu ia sudah janji tidak akan bersedih. Ia tahu Tuhan berencana lain mungkin suatu hari nanti Tuhan berikan lebih baik lagi untuknya. Ia harus percaya Tuhan tidak pernah pilih kasih.
Keluar dari toilet Chandra duduk di meja kerjanya seperti biasa. Fera masuk dan mengambil tas untuk kembali ke Kafe Madura.
"Kau mau kembali ke Kafe?" Chandra tiba bersuara
"Iya, nanti jangan lupa--"
"Biar aku antar dirimu," potong nya sudah berdiri di samping istrinya menghapus sisa air mata ada di ujung mata kirinya.
__ADS_1
Fera terkejut, segera menepis dan menghapus sendiri. "Maaf, buat kau sedih karena pertanyaanku tadi. Kita bisa cari cara lain, ayo... kalau kau menangis begini make up mu luntur jelek jadinya," Cup!
Kecupan minta maaf untuk istrinya, Fera senyum tipis tidak menyesal memiliki suami yang jelek seperti dirinya.