
"Bangunlah! Satomi Adney!"
Seseorang memanggil dan menyuruhku untuk bangun, dia adalah seorang pria bertinggi badan sekitar 185 cm dengan wajah yang menyeramkan. Aku sangat yakin kalau tidak segera bangun, maka hukuman yang berat menantiku.
Dengan terpaksa aku segera menggerakkan dan membangunkan tubuhku dari kasur.
"Waktumu 10 menit, segera bersiap-siap dan pergi!"
Pria ini menyuruhku dengan tegas.
__ADS_1
"Siap laksanakan!"
Aku menjawab lantang dengan postur tubuh tegap walaupun agak goyah.
"Bagus!"
Selesai mengatakan itu, dia pergi keluar kamar.
Hanya ada tiga seragam di sekolah ini, pertama seragam olahraga wajib, kedua seragam khusus beladiri, dan ketiga seragam klub.
__ADS_1
Saat ini aku hanya mempunyai seragam olahraga wajib, itu dikarenakan aku belum memilih untuk mengikuti beladiri yang mana dan klub apa yang harus diikuti.
Selesai bersiap-siap, aku tidak sarapan dan langsung pergi ke sekolah karena makanan disediakan oleh pihak sekolah.
Sesampainya di sekolah aku langsung memasuki kelas. Aku sendiri berada di kelas 1-E, ini adalah kelas dengan kemampuan terendah berdasarkan hasil tes ujian masuk sebelumnya.
Disinilah aku harus menguji seberapa kuat diriku dibandingkan siswa lainnya, tapi bagiku lebih sulit untuk menahan diri daripada mengeluarkan seluruh kekuatan.
Ayahku berkata padaku, kalau bakat dikembangkan maka hasilnya akan menjadi baik. Dia juga mengatakan kalau kemampuan bukan untuk dipamerkan tapi lebih baik digunakan disaat yang tepat. Untuk itu dia menyuruhku untuk selalu menahan diri dan hanya akan serius saat mempunyai saingan ataupun orang yang kemampuannya setara.
__ADS_1
Jika mereka bisa membuatku serius dan mengeluarkan seluruh kemampuanku, itu sangat bagus untuk dinantikan.