Uniregular Sport School

Uniregular Sport School
Chapter 18: Rasa Takut


__ADS_3

Saat semuanya sudah tiba, Smith mendadak datang sebelum bel berbunyi dan membuat seisi kelas panik karena beberapa dari mereka masih berada di luar dan belum duduk di meja mereka. Lalu dengan cepat mereka langsung masuk ke dalam dan duduk setelahnya.


"Tenang saja.. kalian tidak akan mengalami pengurangan poin karena aku sendiri yang berniat untuk datang lebih awal!"


Smith menenangkan siswa yang panik ketika melihat dirinya sambil membawa sebuah kardus besar, itu adalah kardus yang sama saat aku sedang membantunya tadi. Sepertinya seragam beladiri akan dibagikan hari ini.


Smith lalu mengeluarkan tiga lembar baju di meja guru, semua baju itu hampir sama kalau dilihat dari kejauhan.


Walaupun semuanya terlihat sama, tapi ada beberapa motif yang berbeda ketika aku mengamatinya lebih dalam, seperti bagian kerah dan kancing.


"Ini adalah tiga seragam beladiri, dari karate, taekwondo, dan juga kungfu.. kalian harus memilih salah satu dari ini! Jika tidak maka akan ada pengurangan 100 poin.."


Smith menjelaskan kalau para siswa harus memilih seragam beladiri dan bagi yang tidak memilih, hukuman pengurangan 100 poin akan terjadi.


Memang terdengar mudah jika hanya memilih salah satunya, tapi setiap beladiri yang dipilih pastinya akan memiliki resikonya sendiri, jadi hal ini juga harus dipikirkan dengan baik.


"Sama seperti sebelumnya, tidak ada pelajaran hari ini.. untuk penjelasan lengkapnya kalian bisa lihat di ponsel kalian sendiri!"


Selesai mengatakan itu, Smith kembali memasukkan tiga lembar seragam beladiri ke dalam kardus besar lalu keluar setelahnya.


Sepertinya hari ini jauh lebih berbahaya dari yang kukira, apalagi sekarang aku sangat khawatir dengan orang di hadapanku ini.


"Jadi Satomi.. kau akan memilih yang mana?"


Fisa bangkit dari kursinya dan mendekat padaku.


"Aku masih tidak tahu, tapi.. apa kau tidak suka beladiri?"


Aku bertanya seperti itu karena dia terlihat tidak senang.


"Aku sangat membencinya! Latihannya akan sangat keras dan tentu saja mereka tidak mengenal ampun pada siapa saja, itu sangat mengerikan.."


Wajar saja jika Fisa yang selalu dimanjakan akan merasa tidak nyaman ketika ditindak tegas, tapi kurasa menghilangkan sifat manjanya itu juga penting untuk dilakukan.


Sekarang aku masih belum memahami Fisa sepenuhnya, jadi aku akan menunggu dan merubahnya menjadi lebih baik secara perlahan.

__ADS_1


"Hei Fisa.. bisakah aku meminjam ponselmu?"


"Kau punya sendiri bukan?"


"Aku lupa membawanya, lagipula aku hanya ingin melihat penjelasan tentang seragam beladiri ini"


"Nih.. silahkan!"


Fisa mengulurkan tangannya sambil menyerahkan ponsel miliknya kepadaku.


Aku lalu membuka aplikasi bernama "Today & News". Ini adalah aplikasi khusus yang pasti dibuka oleh para siswa setiap harinya, karena semua berita dan informasi terbaru tentang sekolah ini akan terus diperbarui setiap harinya, jadi mereka akan mengetahui beberapa hal terbaru dengan sangat mudah.


Selesai membukanya aku mencari informasi tentang seragam beladiri dan melihat beberapa penjelasan yang mungkin agak sulit untuk dimengerti oleh kebanyakan siswa. Namun aku sendiri masih dapat menyimpulkan beberapa hal.


Setiap pasangan bisa memilih seragam yang berbeda walaupun mereka sedang berpasangan, itu artinya sistem pasangan tidak berguna dalam pemilihan ini. Tapi sesuai perkataan Smith, pengurangan 100 poin tetap terjadi jika salah satunya tidak memilih apapun.


Singkatnya, semua siswa hanya diharuskan untuk memilih salah satu dari ketiga beladiri yang ada, terdengar mudah walaupun sebenarnya ada resiko di setiap pilihan itu.


Satu ponsel hanya bisa memilih satu seragam, jadi saat sudah memilih aku harus mendatangi wali kelasku di ruang guru untuk mengambil seragamnya.


Ternyata aku memang harus mengambil kembali ponselku yang berada di kamar. Walaupun aku belum memilih mengikuti yang mana, tapi ponselnya tetap akan berguna untuk banyak hal.


Aku mengusulkan Fisa untuk memilih seragam yang sama.


"Kenapa bersamaku? Apa kau masih khawatir denganku?"


"Itu benar, memang sulit untuk dipercaya.. tapi.. kau menjadi incaran banyak orang di kelas ini!"


Fisa memiliki jumlah poin tertinggi di kelas bersamaku, namun mereka tidak bisa melawanku mengingat beberapa kejadian sebelumnya, jadi mereka hanya akan mengincar Fisa dan memaksanya untuk melakukan transfer poin.


Inilah yang ku maksud terlambat untuk menyadarinya, aku baru tahu kalau transfer poin bisa dilakukan jika hanya salah satu dari pasangan menyetujuinya, yang berarti hal ini bisa dilakukan secara paksa.


Aku hanya mengira itu bisa dilakukan ketika kedua pasangan setuju untuk melakukan transfer poin, misalnya jika Charles memaksa Fisa untuk mentransfer poin kepadanya serta Lina juga menyetujuinya, maka itu tidak bisa dilakukan walaupun mereka bertiga sudah setuju, ini karena aku tidak menyetujuinya dan transfer poin pun gagal dilakukan.


Namun ternyata tidak seperti itu, transfer poin tetap bisa dilakukan hanya dengan persetujuan salah satu pihak.

__ADS_1


Tindakan yang melanggar peraturan pasti akan mendapat hukuman seperti pengurangan poin, tapi jika tidak ketahuan atau tidak ada yang melaporkan kejadiannya, hukuman seperti itu tidak akan terjadi. Dan jika mereka melaporkannya sekalipun, bukti yang diberikan harus cukup kuat agar bisa meyakinkan pihak sekolah.


"Kau membuatku takut lagi.. padahal aku ingin melupakannya!"


"Maaf.. aku tidak bermaksud menakuti mu, tapi kenyataannya memang seperti itu.. kau harus menerimanya!"


"..."


Aku sudah menduga hal ini, Fisa akan selalu menghindari masalah yang tidak mungkin diselesaikannya dan lari dari masalah itu setelahnya.


Mungkin kata-kata saja tidak cukup untuk membuatnya menerima masalah yang sulit seperti ini, tapi kurasa tidak ada salahnya jika aku bersikap sedikit tegas padanya.


"Fisa.. terima kasih sudah meminjamkan ponselmu! Sekarang aku harus kembali ke kamarku untuk mengambil ponselku sendiri, jadi tunggu aku disini dan jangan pergi kemanapun!"


Meninggalkannya sendirian di tempat yang agak berbahaya mungkin terdengar kejam, tapi aku harus melakukannya. Jika dia memaksa untuk mengikutiku, aku akan tetap menolak dan menyuruhnya kembali dengan tegas.


Semuanya bertujuan untuk menghilangkan rasa takutnya, Fisa menjadi tidak berdaya hanya karena rasa takut, padahal melawan rasa takut itu sangat penting untuk dilakukan.


"Tidak.. aku akan ikut denganmu!"


Sesuai perkiraan, dia menolak perintahku dan dengan keras kepala ingin ikut bersamaku.


"Maaf Fisa.. kau harus berada di sini!"


Dengan cepat aku berlari keluar kelas setelah mengatakan itu, aku berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi agar dia tidak bisa mengejarku.


Saat menghadap kebelakang aku tidak melihatnya sama sekali, mungkin dia juga tahu kalau mengejarku hanya akan membuatnya semakin terpuruk.


Aku sangat khawatir padanya, aku juga merasa kosong, rasanya seperti ada yang kurang, itulah yang kurasakan ketika aku tidak melihat Fisa dalam pandanganku. Namun aku tetap harus melakukan ini demi kebaikannya sendiri.


Sekarang dia harus menghadapi semuanya sendirian, ancaman yang dihadapinya bukanlah hal kecil, Fisa harus melawan banyak orang mengerikan di kelas E.


Kuharap dia bisa mengendalikan rasa takutnya, menurutku Fisa akan menjadi orang yang sangat menyeramkan jika dia selalu serius dalam semua hal dan juga tidak memiliki rasa takut.


Tapi semua manusia pasti memiliki rasa takut, bahkan dari hal kecil. Jadi kurasa aku harus mengetahui penyebab rasa takutnya dari dalam agar bisa menghilangkannya. Aku hanya tidak ingin ketakutannya berubah menjadi phobia jika dia berlebihan menakutinya.

__ADS_1


Fisa pasti akan membenciku karena hal ini, jadi aku hanya bisa meminta maaf sebanyak mungkin, tidak ada hal lain lagi yang bisa kulakukan selain itu.


Sekali lagi.. Maaf, Fisa!


__ADS_2