
"Kalau begitu Satomi, terimakasih sudah membantuku.. aku akan segera menyerahkan dokumen ini ke pihak kepolisian"
"Tidak masalah, bagaimana jika kita sedikit melihat isi dokumen berwarna kuning ini? Menurutku ini agak mencurigakan"
Beberapa langkah setelah keluar ruangan serba mewah, aku dan Smith hendak langsung berpisah tapi aku menahannya karena penasaran dengan salah satu dokumen yang berwarna kuning.
"Boleh saja.. aku akan membukanya"
Smith langsung menumpuk dokumen kuning menjadi bagian paling atas lalu membukanya.
"Apa isinya?"
"Seperti riwayat catatan keuangan, ya.. memang mencurigakan tapi kurasa ini tidak ada bedanya dengan yang lain"
"Begitu ya? Kalau begitu kau harus cepat dan serahkan semua dokumennya!"
"Baiklah, aku akan pergi.. kau tunggu saja kabar baiknya!"
"Aku mengerti, sekarang aku akan memastikan keadaan duel yang berlangsung"
"Ya"
Selesai dengan urusan masing-masing, aku dan Smith berpisah. Aku sendiri berniat untuk mendatangi Fisa dan mengapresiasi waktu yang telah dia ulur karena saat duel dijalankan, aku dapat dengan mudah menjalankan rencana ku hingga berhasil menyusup ke gudang.
Memang sesuai tebakan yang kupikirkan, tempat rahasia yang dimaksud oleh Smith berada di gudang. Dan saat telah berhasil menyusup, aku langsung ketahuan hingga dihadang oleh beberapa penjaga. Kelihatannya mereka sangat meremehkan ku dan langsung menyerang tanpa pembicaraan sedikitpun.
Aku hanya bisa terpikir untuk membuat mereka semua pingsan tanpa cedera yang serius dan setelah itu, aku yakin Smith akan mengurus beberapa penjaga ini saat menuju kesini.
Mereka meremehkan ku walaupun sebenarnya mereka sangat lemah bagiku. Bagaimana tidak, serangan yang mereka luncurkan padaku hanyalah serangan biasa dan monoton, bahkan aku yakin kalau anak SMP kebawah pun bisa menghindari serangan itu.
Tidak perlu membuang waktu, aku langsung menyerang balik mereka semua dan hanya perlu waktu dibawah satu menit untuk menumbangkan kelima penjaga ini.
Lalu aku membuka pintu mencurigakan di gudang, aku agak terkejut ketika ruangannya sangat berbeda dengan suasana kumuh gudang. Rasanya semua yang ada disini terlihat canggih dan penuh dengan teknologi, bahkan pengharum ruangan juga tercium disini.
Saat sedang mengamati ruangannya, terdapat seorang wanita yang terlihat panik dan tentu saja dia adalah wanita yang licik. Dia mengaku sebagai ibuku, memang terdengar aneh, tapi itulah kenyataannya. Bagaimanapun dia adalah ibu terburuk yang pernah aku temui, aku tidak akan mengakuinya sebagai ibuku, sampai kapanpun itu.
Sudah sekitar puluhan menit aku berjalan dan mencari Fisa, pada akhirnya aku menemukannya di sebuah cafe tempat aku mengajak Elaina sebelumnya. Dia bersama dengan laki-laki, walaupun aku tidak tahu namanya, aku yakin kalau dia adalah teman sekelas ku.
Bagus Fisa, kau terlihat cocok dengan lelaki itu. Kurasa aku tidak akan mengganggu mereka dan mempercayakan Fisa pada teman sekelas ku.
Fisa akan baik-baik saja, itulah yang kupikirkan. Jadi aku akan menghubungi Elaina dan menceritakan semua yang terjadi setelah bertemu, semua kejadiannya sudah berakhir dan Mr.X akan segera tertangkap, kurasa tidak akan jadi masalah lagi jika aku menceritakannya pada Elaina.
Aku langsung membuka ponselku dan melakukan chat dengan Elaina.
Elaina, maaf menganggu mu.. tapi bisakah kita bertemu sekarang?
Memangnya ada apa?
Aku tidak bisa menjelaskannya sebelum kita bertemu
Yayaya, aku sedang malas untuk keluar.. apa-apaan dengan duel yang Fisa lakukan?! Dia telah membuatku bosan karena tidak ada latihan festival olahraga!
Tenanglah Elaina.. sekarang bagaimana? Apa kau tidak bisa menemui ku?
Tunggu! Datang saja ke kamarku, ngomong-ngomong nomor kamarku adalah 1-E23
Kau ada di kelas E sekarang?
Berhenti bercanda dan datang saja!
__ADS_1
Tunggu sekitar 5 menit, aku akan segera datang!
Selesai dengan beberapa pertukaran pesan, aku menutup ponsel dan kembali memasukkannya kedalam kantong.
Diperjalanan aku masih terpikir tentang ibuku, dan aku kembali terpikir apakah perbuatan yang kulakukan ini sudah tepat atau belum.
Hingga akhirnya aku sampai di asrama perempuan dan langsung mencari kamar nomor 1-E23, aku mendapatkannya di bagian tengah lalu mengetuk pintu kamar Elaina.
"KNOCK! KNOCK!"
Tak lama kemudian pintu terbuka dan aku terkejut ketika melihat Fisa. Ya, dia melunturkan warna rambutnya dan sekarang rambutnya sedang dalam keadaan tanpa warna yaitu warna alami.
Rambut peraknya sangat indah dan membuatku terpukau, aku ingin membelai rambut perak Elaina itu. Tidak, aku harus menahan diri karena Elaina berbeda dengan Fisa.
"Satomi? Masuklah! Apa yang membuatmu terkejut?"
"Ah maaf.. aku hanya sedang banyak pikiran"
Aku masuk ke dalam kamar Elaina dan menutup pintunya dengan rapat.
"Apa kau ingin minum sesuatu? Aku bisa membuatkan apapun untukmu!"
"Tidak perlu repot-repot, aku bisa duduk disini bukan?"
"Ya.. kau boleh duduk disana, sekarang katakan saja kau ingin minum apa!"
Berbeda dengan kamar Fisa, kamar Elaina lebih terlihat berantakan dan hampir tidak terawat. Walaupun begitu tetap saja aku melihat bagian penting seperti bagian dapur dan kasur masih dalam keadaan bersih.
Aku duduk di bagian pojok tembok agar mudah untuk bersandar. Sekarang aku terpikir bukankah aku harus melawan apa yang ku benci? Mungkin aku akan mencoba untuk meminta Elaina membuatkan ku secangkir kopi.
Memang merepotkan, tapi aku melakukannya demi kepentingan ku di masa depan.
"Eh?! Aku tidak salah dengar kan? Kau meminta kopi?!"
Sudah kuduga dia akan kaget dengan permintaan yang kuberikan, aku harus meyakinkannya untuk membuatkan ku kopi sekarang.
"Apa itu terlalu aneh?"
"Tidak, hanya saja.. kau membenci kopi bukan? Aku tidak ingin kau membanting cangkir karena isinya adalah minuman berbahan kafein"
"Kau berlebihan Elaina, buatkan saja untukku.. aku akan menjelaskan alasannya juga ketika kau sudah selesai"
"Aku mengerti, tunggu disana Satomi!"
Aku memang seseorang yang naif, aku membenci sebuah air yang dicampur dengan bahan kafein karena dia telah kuanggap membunuh ayahku sendiri, padahal kopi tidak hubungannya sama sekali.
Aku hanya bisa menyalahkan dan ingin lepas dari rasa bersalah yang telah membiarkan ayahku begadang seharian. Sekarang aku harus bisa melawan rasa benci yang sudah kutanamkan semenjak kejadian itu.
"Elaina, rambut pirang mu agak luntur sekarang.. kenapa tidak menghilangkannya sekaligus?"
"Aku akan melakukannya disaat yang tepat"
"Aku tidak mengerti"
"Kalau begitu biarkan saja dan tunggu sampai kau mengerti!"
Kami berdua saling berbicara dan aku sambil melihat Elaina membuat kopi.
"Yayaya.. aku akan mencoba untuk memahami dirimu dari sekarang!"
__ADS_1
"Kenapa kau meniru gaya bicaraku?"
"Tidak masalah bukan? Itu hanya gaya bicara"
"Sudah.. sekarang kau harus meminumnya, tolong jangan dibanting!"
Elaina langsung menghidangkan kopi hitam yang sudah dibuatnya padaku, lalu dia ikut duduk di sebelahku.
"Kau meniru gaya bicaraku sekarang"
"Lupakan saja, apa yang ingin kau bicarakan?"
Aku tidak menyentuh kopinya dan memutuskan untuk menceritakan semua kejadian yang telah kusembunyikan darinya. Tentu saja aku hanya menceritakan tentang Mr.X secara detail, aku juga sedikit meminta pendapatnya apa yang harus kulakukan sekarang karena aku masih tidak tahu perasaan Smith dan Fisa ketika mengetahui kalau Mr.X adalah ibuku sendiri.
Kami terus berbicara selama puluhan menit walaupun sebenarnya hanya aku yang banyak bicara, tidak kusangka juga kalau Elaina adalah pendengar yang sangat baik. Dia berusaha untuk mendengarkan semua perkataanku dan memberikan tanggapan setelahnya.
"Jadi begitu, ibumu diam-diam adalah orang yang paling berkuasa di sekolah ini.. tapi kau tidak dianggapnya sebagai anak dan dia hanya menganggap Ling yang diadopsi olehnya sebagai anak. Begini Satomi.. sebenarnya alasanku menyebutmu monster adalah karena sesuai kata ibumu tadi, organ dalam mu banyak yang rusak saat terkena cakaran beruang dan aku juga tidak mengerti kenapa kau menjadi sangat kuat"
"Apa kau pernah bertemu dengan ibuku?"
"Tentu saja.. dia terlihat lebih mengkhawatirkan biaya operasi dan perawatanmu ketimbang keadaanmu sendiri, aku mengingatnya saat itu dan kebetulan orang tuaku juga ikut membayar setengah harga perawatan pada ibumu"
"Aku benar-benar penasaran kenapa aku bisa hilang ingatan, apakah karena aku sengaja menghapusnya sendiri? Ataukah memang benar kalau ibuku yang menghapus ingatanku?"
"Kau tidak perlu memikirkan itu, aku akan berusaha untuk membuat dirimu mengingat semua masa lalu yang telah kau jalani. Wah!! Kau meminum kopinya!"
Aku langsung meminum kopi yang disajikan Elaina setelah bercerita panjang lebar dan dia terkejut setelah melihatku meminumnya tanpa ragu.
"Tidak perlu terkejut, Elaina.. aku harus bisa melawan apa yang kubenci, hanya itu.. tapi terimakasih sudah ingin membantuku mengingat masa lalu yang abu-abu ini"
"Satomi, beban yang kau tanggung itu sangat berat.. biarkan aku menanggungnya juga! Aku memang berbeda sepertimu, tapi tidak ada salahnya bukan jika aku ikut merasakan apa yang kau rasakan?"
"Elaina, aku benar-benar jujur sekarang.. sepertinya cinta pertama itu memang yang terbaik. Sekarang bisakah aku membelai rambut panjangmu itu? Aku sudah jujur padamu"
"Huh.. apa kau hanya menyukai rambutku ini?"
"Tentu saja tidak"
"Maaf Satomi, aku tidak akan mengijinkannya.. untuk sekarang, kau harus bisa menghadapi masalah itu dan jujur pada mereka berdua. Kau tidak perlu memikirkan kejadian setelahnya karena aku cukup yakin kalau mereka berdua akan memaafkan mu karena kau tidak ada hubungannya dengan ibumu sendiri"
Sudah kuduga dia akan menolak, namun aku sendiri tidak mempermasalahkannya karena dia menyarankan dan mengatakan sesuatu yang berguna.
"Elaina.."
"Huh, eh.. ada apa?!"
Tanpa sadar aku hampir memeluk ataupun mencium Elaina, diantara dua pilihan itu aku yakin kalau aku akan memeluknya. Karena jika aku mencium Elaina sekarang maka situasinya akan berlanjut dan menjadi lebih gawat.
Beruntung aku masih bisa menahan diri dan hanya memegang bahu Elaina dengan kedua tanganku.
"Maaf Elaina, aku akan pergi sekarang. Sekali lagi terimakasih atas saran yang kau berikan!"
"Emm.. ya, aku akan mengantarmu keluar"
Aku bangkit dari tempat aku duduk lalu berjalan ke arah pintu disusul dengan Elaina.
"Semoga beruntung, Satomi!"
"Ya.."
__ADS_1
Setelah pintu terbuka aku langsung keluar dari kamarnya lalu berpamitan singkat dengan Elaina. Dan aku berniat untuk pergi menemui Fisa dan Smith, kurasa Smith sudah kembali dari menyerahkan dokumen ke pihak berwajib dan untuk Fisa aku yakin kalau dia hanya akan berada di salah satu antara dua tempat sekarang, pertama kelas dan yang kedua adalah kamarnya sendiri.