
"Sa-satomi?! Ada apa denganmu? Kenapa kau terus membawaku seperti ini? Aku berat kan? Maaf karena aku selalu membebanimu!"
Padahal Elaina hanya sedikit menunjukkan reaksi saat awal aku menggendongnya, tapi setelah beberapa saat aku berjalan dia mulai heboh sendiri dan bereaksi secara berlebihan.
Apa yang kulakukan mungkin memang mengejutkannya. Masalahnya bukan itu, aku hanya terpikir apakah karena situasinya begitu buruk hingga dia belum menyadari apa yang sebenarnya kulakukan.
Lupakan dulu tentang itu, sekarang aku harus menurunkannya jika dia memang tidak menyukainya.
"Seharusnya aku yang meminta maaf. Elaina, maaf karena telah melibatkan mu!"
"Eh?! Apanya?"
Sudah kuduga pikirannya masih belum sepenuhnya tenang, karena itulah dia masih memerlukan waktu untuk meresponnya.
"Kau hampir dipukul oleh Smith dan sekarang aku malah menggendong mu secara tiba-tiba."
"Umm.. ya, tidak apa."
"Kau sudah tenang?"
"Ya, kurasa."
"Kalau begitu, apa kau ingin aku menurunkan mu?"
Sebenarnya aku merasa sangat tenang ketika memeluk Elaina yang memiliki berat lumayan ringan, untuk itu aku terus mengulur waktu dengan membicarakan beberapa hal agar dia masih dalam pelukanku.
Ditambah lagi aku menyukai bau tubuhnya yang berbau harum. Dari rambut hingga pakaiannya, semuanya tidak ada yang memiliki bau tidak sedap. Intinya, aku ingin terus mengendus bau tubuhnya yang berbau harum ini.
Aku bukan orang mesum atau semacamnya, tapi semua laki-laki pasti akan melakukan hal yang sama denganku.
Namun sekarang tidak ada waktu lagi, aku juga berpikir kalau cepat atau lambat aku pasti akan melepaskannya.
"Emm.."
"Elaina? Ada apa?"
Aku agak terkejut karena Elaina semakin menguatkan kedua tangannya yang sedang melingkar di bagian pinggangku, dia juga membenamkan wajahnya di dadaku.
"Anu, Satomi. Aku menyukai suara detak jantungmu, kau sangat berdebar-debar hingga membuatku merasa tenang. Rasanya aku ingin terus seperti ini."
"Begitu ya?"
Apa yang dikatakannya memang benar karena saat ini jantungku berdetak sangat kencang entah karena apa. Tapi yang jelas, aku sangat senang ketika melihatnya seperti ini.
"Satomi, tolong jangan menjauh dariku lagi! Rasanya sangat melelahkan jika aku berada jauh darimu. Jadi, biarkan aku seperti ini lebih lama lagi."
"Ya, aku tidak keberatan. Dan juga, terima kasih karena telah membela ku. Dari sekian banyak orang, hanya kaulah orang pertama yang membela diriku."
Sayangnya aku tidak bisa melihat wajah Elaina karena dia menyembunyikannya di dadaku, padahal aku sangat yakin kalau wajahnya yang sekarang sangatlah imut.
"Satomi, biarkan aku meminta maaf atas banyak hal padamu. Aku terus membebanimu, maafkan aku! Aku tidak bisa membantu apapun saat kau dalam masalah, maafkan aku! Bahkan untuk masalah Smith dan Fisa, aku sangat payah dalam memberikan solusi. Tolong maafkan aku atas semuanya!"
__ADS_1
Elaina, dia benar-benar mengeluarkan semua rasa bersalahnya dan meminta maaf padaku dengan sangat tulus.
Sangat disayangkan, dalam sudut pandang ku aku hanya bisa melihat rambutnya yang berwarna pirang.
Padahal aku ingin sekali melihat wajahnya tapi apa boleh buat, dia menginginkan posisi seperti ini.
Tidak banyak yang perlu kulakukan untuk saat ini, aku hanya perlu menggendongnya lebih lama lagi sesuai permintaannya.
"Satomi."
"Ya?"
"Kau tahu? Aku selalu mencarimu selama beberapa tahun ini dan sekarang aku sangat bersyukur karena bisa menemukanmu disini."
"Begitu ya?"
Kurasa Elaina yang sekarang terlihat lebih lembut ketimbang sebelumnya, hal itu semakin diperkuat dengan sikap manjanya padaku.
"Sudah cukup, Satomi. Kau bisa melepaskan ku."
"Emm.. ya."
Aku sedikit menyayangkannya karena pada akhirnya aku harus menurunkan Elaina dari pelukanku.
Aku lalu menurunkannya perlahan dan membiarkan kakinya menginjak tanah lebih dulu.
Jujur saja, bau tubuhnya sangat menenangkan diriku apalagi disaat dia sedang hendak berdiri.
"Tidak, kurasa bukan seperti itu."
"Eh?! Apa maksudmu?"
Elaina bertanya padaku dengan ekspresi terkejut setelah aku mengatakan hal yang ambigu.
Sepertinya aku telah salah mengucapkan kata-kata dan membuatnya salah paham.
Aku tidak ingin membuatnya bersedih lagi, jadi aku harus menjelaskannya dengan jelas agar perasaan sedihnya hilang.
"Maaf Elaina, biarkan aku meluruskannya. Kurasa kau lah seseorang yang menjadi penyelamat hidupku."
"Ba-bagaimana bisa?"
"Frans Adney, kau mengingatnya?"
"Ibumu, kan?"
"Benar. Saat aku selalu dikekang olehnya, aku sangat kesepian dan aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk diajak bermain bersama. Aku sudah muak terus diatur olehnya, jadi aku mencoba untuk melarikan diri dan terus berlari tanpa tahu arah."
"Dan kau, bertemu denganku?"
"Awalnya aku tidak berniat untuk mendatangimu sama sekali, tapi karena warna rambutmu yang terasa asing bagiku jadinya aku tanpa sadar sudah berjalan ke arahmu. EUHHG!"
__ADS_1
"Jangan memaksakan diri, Satomi! Bagaimana keadaan kepalamu?"
Jika aku mengingat masa lalu ku, maka kepalaku akan terasa sangat sakit dan sekarang lagi-lagi aku mengalaminya.
Sambil memegangi bagian tubuhku yang hampir tumbang, Elaina terus menanyakan kondisi ku dengan penuh kekhawatiran.
Padahal aku ingin menjelaskan hal ini sejelas-jelasnya agar dia mengerti.
Benar juga, kurasa aku tidak boleh menyerah begitu saja hanya karena sakit kepala yang begitu menyakitkan.
"Tidak masalah. Aku baik-baik saja."
"Seriusan?"
"Ya. Bisakah aku menjelaskannya lebih lanjut?"
"Umm.. ya, tapi tolong jangan paksakan dirimu! Jika terasa sakit maka sudahi saja!"
"Aku mengerti."
Walaupun masih terasa sakit, aku berpura-pura menjadi normal kembali agar bisa menjelaskan semuanya pada Elaina.
"Jadi Elaina, rambut perak mu itu bagaikan cahaya yang menuntunku untuk mendatangimu. Lalu setelah aku sudah di dekatmu, kau memberiku minum karena melihatku yang sedang kelelahan. Kurasa kejadian selanjutnya kita saling bermain bersama hingga saat aku menyadari ada seekor beruang hendak menyerangmu, tubuhku langsung bergerak dengan sendirinya untuk melindungimu."
"Kau mengingatnya dengan baik."
"Begitulah. Walaupun pada akhirnya aku kembali dikekang oleh ibuku sendiri setelah perawatanku, tapi aku tetap senang karena bisa menghabiskan waktu dan bermain bersamamu. Dan aku selalu mengingatmu setiap saat karena kejadian itu. Jadi maksudku, kau adalah penyelamat yang sudah membantuku disaat aku terdesak saat itu."
"Aku senang sekali. Sa-satomi, menurutmu apa yang akan terjadi sekarang? Kita akan dalam kesulitan bukan? Padahal aku bisa menjauhimu dan hidup tenang disini, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku ingin terus bersamamu karena rasanya sangat menyenangkan."
"Tenang saja, aku pasti akan mengatasinya. Dan juga, aku merasakan hal yang sama karena kau adalah cinta pertamaku."
"Kenapa bisa seyakin itu?"
"Tidak ada alasan khusus. Yang pasti, aku akan serius menghancurkan semua orang yang berusaha untuk mengganggu mu."
Kurasa waktu ku untuk menahan diri akan segera berakhir.
Jika ada orang yang berani menganggu dan membuat Elaina merasa tidak nyaman, maka aku pasti akan menghancurkannya dengan serius.
"Aku percaya padamu, Satomi."
"Ya, serahkan padaku. Sekarang kita harus kembali karena waktu sudah hampir malam."
"Kalau begitu, jumpa besok lagi! Satomi."
"Aku akan menunggumu di taman."
"Baiklah."
Karena waktu sudah hampir menunjukkan malam hari, jadinya aku dan Elaina harus berpisah dan pulang ke asrama kami masing-masing.
__ADS_1
Sungguh, besok hari dan seterusnya akan menjadi hal yang merepotkan.