Uniregular Sport School

Uniregular Sport School
Chapter 16: Ada Yang Salah


__ADS_3

Ini saatnya untuk kelas E melakukan pemeriksaan, semuanya sudah menunggu selama lebih dari setengah jam disini.


"Yang pertama melakukan pemeriksaan adalah siswa dengan poin tertinggi di kelas, jadi Satomi Adney dan Fisa Campbell.. silahkan!"


"Ya.."


Smith memanggilku dan Fisa untuk melakukan pemeriksaan fisik pertama kali karena poin kami berdua yang paling tinggi di kelas, bahkan sistem poin pun juga terpakai untuk menentukan giliran.


Disini aku dan Fisa memasuki ruangan yang berbeda, itu sudah jelas karena perbedaan jenis kelamin.


"Selamat datang! Harap untuk tenang dan tidak gugup, ini hanya pemeriksaan biasa!"


"Baik.."


Di dalam ruang pemeriksaan aku melihat seorang guru laki-laki dengan tatapan yang santai, dia juga tersenyum padaku sambil mengatakan hal seperti itu.


"Silahkan berbaring! Sebagai permulaan aku akan memeriksa bagian luar seperti mata, hidung, telinga, dan juga mulut!"


Dia menyuruhku untuk berbaring dan melakukan pemeriksaan bagian luar. Untuk sekarang tidak ada alat yang digunakan untuk memeriksa, dia hanya melihatnya dengan mata telanjang.


"Dari luar kau terlihat baik, sekarang saatnya melakukan pemeriksaan lebih dalam! Mungkin ini terdengar tidak sopan.. tapi bisakah kau membuka bajumu?"


"Tidak masalah.."


Lalu beliau menyuruhku untuk membuka baju, aku tidak keberatan tapi luka cakaran yang mencolok akan terlihat olehnya, tapi kurasa aku akan baik-baik saja. Dengan pelan aku melepas bajuku lalu menggantungnya.


"Oke.. sekarang aku akan memeriksanya!"


Dia tetap memeriksanya tanpa peduli dengan bekas luka yang ada di perutku. Namun ditengah pemeriksaan, dia berbicara tentang luka yang kualami.


"Tenang saja, luka di perutmu itu tidak akan membahayakan selama kau bersekolah disini!"


Beliau hanya mengatakan kalau bekas luka itu tidak akan berpengaruh dengan kehidupan sekolahku dan terus memeriksa bagian tubuhku lalu mencatat semua hasilnya.


Aku benar-benar tidak mengingat kapan aku mendapatkan luka yang terlihat menyeramkan ini, tapi menurutku itu terjadi ketika aku masih sangat kecil jadi wajar saja jika aku tidak mengingatnya.


Sepertinya aku tidak perlu khawatir lagi tentang ini, dan memang lebih baik untuk melupakannya.


"Sudah selesai.. kau boleh keluar sekarang!"


"Baik.. terima kasih banyak!"


Pemeriksaan fisik selesai, beliau mengatakan dan menyuruh kalau aku sudah bisa keluar dari ruangan ini. Dengan cepat aku memasang bajuku lagi lalu aku keluar dan berniat untuk menunggu Fisa tanpa memperdulikan teman sekelas ku, sepertinya pemeriksaan yang dilakukan oleh perempuan memang lebih lama dibandingkan laki-laki.


Dari yang aku tahu, ada beberapa tahapan untuk pemeriksaan fisik. Salah satunya adalah Inspeksi, ini dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Untuk secara langsung hanya akan memeriksa bagian luarnya saja tanpa alat bantu, sedangkan tidak langsung akan memeriksanya menggunakan alat bantu.


Namun sangat disayangkan aku tidak tahu semua tahapannya, aku hanya tahu bagian Inspeksi saja. Karena menurutku hal itu tidak terlalu penting untuk diketahui.


Sekitar lima menit aku menunggu, akhirnya Fisa keluar dari ruangan namun ekspresinya terlihat murung. Dia juga terlihat tidak senang dan sepertinya suasana hatinya sedang buruk sekarang.


Mungkin aku akan menghibur dan menanyakan alasannya, dengan agak khawatir aku berjalan mendekat ke arahnya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Satomi.. aku ingin pelukan.. aku ingin dimanjakan olehmu!"

__ADS_1


"Kenapa mendadak? Apa ada masalah saat pemeriksaan tadi?"


Tentu saja aku bingung dengan perkataannya, dia meminta pelukan dan ingin dimanja olehku. Sepertinya dia memang dalam suasana hati yang buruk.


Tapi melihatnya seperti ini, aku sangat yakin kalau Fisa sudah terbiasa diperlakukan seperti itu saat masih bersama keluarganya. Namun kini dia tinggal sendirian dan harus bisa mengurus semuanya sendiri.


Untuk sekarang aku tidak bisa melakukan apa yang dia suruh, karena itu sangat beresiko. Jika keributan kecil terjadi lagi, mungkin saja pengurangan poin jauh lebih besar dari sebelumnya.


"Tidak ada masalah.. tapi, mendadak aku sangat takut untuk bersekolah disini.. aku ingin keluar tapi tidak bisa, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?"


Fisa hampir menangis setelah mengatakan itu, wajahnya memerah dan mata berkaca-kaca seperti hendak mengeluarkan air mata.


Menurutku dia hanya bingung, mengingat sifatnya yang labil. Dia masih bingung dengan apa yang harus dilakukan kedepannya, seperti pilihannya memasuki sekolah ini, Fisa terus berpikir apakah itu adalah pilihan yang tepat.


"Tenanglah Fisa.. aku akan selalu ada di sisimu.. kemampuanmu sudah sangat bagus, buktinya kau bisa memasuki sekolah ini.. dan juga.. jangan pikirkan hal yang belum terjadi!"


Karena tidak bisa memeluknya, aku hanya memegang kedua tangan Fisa dan menenangkannya.


"Ta-tapi.. aku hanya berada di kelas E, aku sangat takut.."


"Tidak apa kau berada di kelas E, lagipula jika kau lulus dari sekolah ini.. keluargamu pasti akan sangat bangga, Fisa.. kau hanya perlu bertahan disini!"


Aku kembali menenangkannya dan kini dia sudah terlihat lebih baik.


"Kau memang menarik, aku tidak salah dalam memilih seseorang.. hehe..!"


"..."


Fisa sudah tenang, tapi dia malah mengatakan hal yang tidak ku pahami sama sekali sambil tersenyum, dia juga sudah mengatakan hal yang sama saat di kedai kopi.


"Katanya kita hanya melakukan pemeriksaan fisik hari ini, mungkin tidak ada pelajaran lagi hari ini.. jadi apa kau mau jalan-jalan denganku?"


Aku mengajak Fisa yang sudah terlihat lebih baik untuk jalan-jalan dan dia menerimanya dengan senang hati. Lalu kami pun keluar dari gedung olahraga dan berjalan santai di lingkungan sekolah. Kami membicarakan banyak hal saat jalan-jalan, salah satunya adalah tentang pemakaian poin untuk kedepannya.


Lalu saat aku melihat mesin minuman, aku mengajak Fisa untuk membeli minuman kalengan di sana.


"Mau beli minuman kaleng sebentar?"


"Aku tidak tahu cara membelinya.."


"Tenang saja, kita akan mencari caranya bersama-sama!"


"Ya!"


Kami memang tidak tahu cara membeli minumannya, tapi aku sangat yakin kalau ada aplikasi yang digunakan untuk melakukan scan pada QR Code di ponsel ini.


Sesampainya di dekat mesin minuman, aku membuka ponselku lalu mencarinya, dan benar saja.. terdapat aplikasi bernama Scan disini.


Aku membukanya dan menemukan tulisan QR Code lalu menekannya, dan ponsel langsung berganti ke kamera menyuruhku untuk memotret bagian QR Code. Selesai mengarahkannya, tampilan ponsel berganti ke beberapa minuman yang terdapat di dalam mesin.


"Wah.. jadi kau tahu caranya!"


"Aku hanya menebaknya"


"Hebat sekali.. kalau begitu aku ingin rasa jeruk!"

__ADS_1


Fisa terlihat heboh dan langsung menekan bagian minuman kaleng rasa jeruk di ponselku lalu disusul olehku yang memilih rasa green tea. Harga untuk keduanya adalah 2 poin, kurasa ini masih cukup murah.


Aku pun membayarnya dan tidak lama mesin minuman berbunyi. Padahal bunyinya tidak terlalu keras, tapi Fisa malah terkejut setelah mendengarnya dan melompat ke arahku.


"Ada apa?"


"Tidak.. aku hanya melamun dan terkejut saat mendengarnya"


"Kau harus fokus lain kali.. sekarang bisakah kau lepaskan tanganmu? Aku ingin mengambil minumannya.."


"Ahh.. maaf..!"


Dengan cepat Fisa melepaskan tangannya sendiri, dan akhirnya aku bisa mengambil minumannya sekarang.


Minuman berhasil terbeli, cara kerjanya ternyata sama persis dengan apa yang kupikirkan saat di kelas.


Lalu aku menyerahkan minuman rasa jeruk kepada Fisa dan dia hendak menerimanya dengan tangan kirinya. Tapi aku tidak boleh menyerahkannya sekarang, dia harus menerima dengan tangan kanan untuk mendapatkannya.


Ini sudah menjadi ajaran ayahku sendiri, dia berkata kalau aku harus menerima dan memberi sesuatu dengan tangan kanan, begitupun dengan orang lain. Jika mereka menerima atau memberi sesuatu menggunakan tangan kiri, lebih baik tolak terlebih dahulu dan suruh mereka untuk menggunakan tangan kanannya.


"Gunakan tangan kananmu!"


Aku menyuruh Fisa dengan lembut dan untung saja dia langsung menggantinya dengan tangan kanan, lalu aku menyerahkan minumannya.


"Kukira kau selalu tidak peduli dengan segala hal, tapi ternyata kau mempermasalahkan tangan kiriku.."


"Itu adalah nasihat dari orang yang sangat kusayangi, jadi aku terus mengikuti perkataannya"


"Siapa dia?"


"Ayo lanjut jalan!"


Saat Fisa bertanya siapa orang itu, aku langsung mengabaikannya dan lanjut berjalan. Aku meninggalkannya karena aku sangat yakin dia bisa menyusulku nanti, jalanku juga sengaja kuperlambat.


"Tunggu!"


Kemudian aku mendengar suaranya yang lumayan keras lalu berlari ke arahku setelahnya.


"Bukakan untukku Satomi! Aku tidak bisa melakukannya.."


Dia berhasil menyusulku dan meminta tolong untuk membuka minuman miliknya, kukira dia bisa membukanya sendiri.


"Ya.."


Fisa menyerahkan minumannya padaku dan tak perlu memakan banyak waktu, minuman ini sudah terbuka. Aku lalu menyerahkannya lagi pada Fisa.


"Terima kasih! Hehe.."


Dia tersenyum lebar setelah aku menolongnya, entah kenapa disini jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Kuharap aku tidak mati sekarang, karena lulus dari sekolah ini adalah keinginan ayahku sebelum dia meninggal.


Setelahnya aku dan Fisa menghabiskan hari ketiga ini dengan berjalan-jalan santai, kami hanya menghabiskan sebesar 12 poin hari ini. Seharusnya hanya 2 poin, tapi karena tindakan Fisa di gedung olahraga tadi, kami mendapatkan pengurangan sebesar 10 poin.


Menurutku tidak jadi masalah jika hanya 10 poin, karena kami sudah mendapatkan bonus sebesar 500 poin saat sistem pasangan terselesaikan.


Mulai sekarang aku harus hidup disini dengan menanggung dua beban, pertama aku harus menuruti keinginan ayahku, yaitu lulus dari sekolah ini. Dan yang kedua, aku harus menjaga dan memahami Fisa dengan baik.

__ADS_1


Namun aku merasa ada yang aneh selama tiga hari ini, itu karena hariku cukup lancar dan tidak ada masalah serius yang menimpaku.


Tapi firasat ku buruk tentang hari keempat nanti, aku sangat yakin kalau besok hari masalah serius itu akan datang.


__ADS_2