
POV (Fisa Campbell)
Jadi dia meninggalkanku, tega sekali kau Satomi. Kau juga sengaja berlari dengan sangat kencang hingga aku tidak bisa mengejar mu. Aku takut.. aku takut.. beberapa kali aku memikirkan tentang ini ketika dia tidak ada.
Tapi walaupun begitu, aku harus percaya padanya dan menunggu disini sambil bersiap menghadapi beberapa ancaman.
Kejadian di gedung olahraga kemarin membuatku sangat takut, aku tidak sengaja menabrak seseorang dan ternyata orang ku tabrak adalah teman SMP ku dulu.
Saat barisan dibubarkan, aku berjalan menuju barisan laki-laki lalu mencari Satomi, namun karena terlalu fokus dan tidak memperhatikan sekitar, ditengah jalan aku malah menabraknya.
"Anu.. Maaf! Aku tidak sengaja.."
"Pakai matamu ketika berjalan!"
"Maaf!"
"Eh.. bukankah kau Campbell? Kenapa kau ada disini?"
"Siapa kau?"
"Kau bahkan melupakanku.. sialan!"
Saat kuingat-ingat ternyata dia adalah Meade Balric, orang yang melakukan bullying terhadapku karena ajakannya untuk berpacaran denganku ku tolak, dia melakukannya bersama beberapa orang.
Aku cukup tersiksa pada saat itu, namun aku berpikir akan lebih baik seperti ini daripada berpacaran dengannya.
"Aku hanya lupa sebentar, jadi kau Balric.. orang yang tidak pernah jujur dan penuh kebohongan!"
Alasanku sendiri menolaknya adalah karena wajahnya benar-benar penuh dengan kebohongan, aku sangat yakin jika berpacaran dengannya hanya akan membuatku menjadi tidak nyaman.
"Setelah beberapa kali ku tindas, kau masih bisa berdiri tegak ya.. Putri?"
"Jangan panggil aku seperti itu!"
Aku sangat kesal ketika dipanggil "Putri" oleh seseorang, bahkan jika itu Satomi sekalipun. Jadi aku sedikit membentaknya.
"Oh iya.. kau berada di kelas E kan? Itu sangat pantas untuk putri manja sepertimu! Hahaha!"
Balric tertawa namun aku tidak kesal sama sekali walaupun dia kembali menyebutku putri dengan tambahan kata yang manja, tidak ada alasan untuk itu, hanya saja aku terpikir ide bagus untuk membuatnya kesal.
"Hoi.. Balric! Kau disini ya.. kukira kau sedang mencari Jade.."
Disaat dia tertawa, seseorang datang menegurnya dan aku kembali terpikir untuk membuat mereka berdua kesal sekaligus.
"Aku memang ingin mencarinya, namun orang ini menabrak ku dan aku ingin memberinya sedikit pelajaran!"
"Kau harus menahan diri pada gadis, kawanku!"
"Tenang saja.. aku tidak akan bermain fisik seperti dulu"
Aku hanya menyimak pembicaraan mereka berdua dan mundur perlahan, tujuannya agar memecah topik mereka berdua.
Balric pasti akan tetap memperhatikanku sambil berbicara pada temannya dan setelah aku bergerak mundur sedikit, dia pasti akan menegurku.
"Seperti dulu? Maksudmu?"
"Dia itu dulu..-, oi kau! Jangan pergi seenaknya!"
Disaat aku mundur, sesuai perkiraan, dia memanggilku dan topik pembicaraan mereka akhirnya pecah.
"Jadi gadis ini yang menabrak mu?"
"Itu benar.. lihatlah siapa disini! Putri keluarga Campbell.. dia bersekolah disini loh, sangat lucu bukan? Dia bahkan berada di kelas E!"
"Kalau tidak salah itu adalah perusahaan terbesar di New York bukan? Kenapa dia disini?"
__ADS_1
"Ya.. perusahaan "Campbell Soft", dia tidak cocok berada di sini.. hahaha!"
"Hahaha.. lawakan yang bagus kawan!"
Mereka mengejek diriku, tapi aku sudah terpikir beberapa cara membuat mereka kesal, jadi aku akan segera membalas mereka.
"Kalian tidak atletis!"
"Hah?!"
Aku mendadak menyela mereka berdua yang sedang asyik mengejekku. Aku juga hanya mengatakan kalau mereka tidak atletis, tapi mereka berdua sudah terlihat marah.
"Haha.. kau memang lucu.. Campbell!"
"Kau sangat pandai membual ya.. hahaha!"
Namun ekspresi kemarahan itu mereka tutupi dengan mengembalikan ekspresinya seperti semula. Mungkin mereka bisa mengelabui orang lain, tapi tidak denganku, aku sendiri dapat mengetahui perasaan mereka berdua yang masih marah hanya dengan melihat ekspresinya.
"Kalian tidak atletis!"
Sedikit menambah bahan bakar pada api memang bukan ide yang bagus, tapi kurasa hal ini akan berguna untuk situasi ku sekarang.
"Kami dari kelas A jauh lebih atletis darimu! Lihatlah para kelas E, mereka hanyalah sampah yang akan dibuang suatu saat nanti.. hahaha!"
"Hahaha!"
Lagi-lagi mereka menyembunyikannya dengan mengejek kelas E. Mereka memang berada di kelas A, tapi aku meragukannya karena perasaan gugupnya.
Entah kenapa aku merasa kalau mereka berdua terlalu takut dan gugup secara berlebih hanya karena pemeriksaan fisik, padahal tidak ada penilaian disini.
Aku jadi bertanya-tanya bagaimana orang seperti mereka berdua memasuki kelas A, karena mereka memang tidak atletis dan itu sudah terlihat dari awal. Bukti itu diperkuat saat mereka marah ketika aku menyebut mereka tidak atletis.
Mungkin sekarang saat yang tepat untuk menggunakan ide ku karena mereka berada di kelas A. Dari yang kudengar tadi Kelas A akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, jadi aku akan menahan mereka disini dan membuat mereka terlambat melakukan pemeriksaan.
"Sudah cukup! Kalian berdua!"
Mungkin aku akan memeluknya secara mendadak dan membuat Balric cemburu. Dari yang kulihat saat ini, dia masih menyukaiku dan ingin mendapat perhatianku dengan cara yang salah.
Sejak awal aku tidak memiliki perasaan terhadapnya, jadi kurasa aku akan menambah lebih banyak bahan bakar terhadap api untuk membuatnya kesal.
Lalu dengan cepat aku berlari menabrak mereka berdua dan memeluk Satomi dengan erat setelahnya, hal ini membuat suasana gedung menjadi heboh.
Namun kehebohan itu hanya terjadi dalam beberapa detik, karena setelahnya guru Smith datang ke arah kami dan menenangkan semua siswa disini.
Dia memberitahukan pengurangan poin kepada kami dan pergi setelahnya, aku jadi merasa bersalah karena membuat kehilangan 10 poin.
Tapi aku juga merasa senang karena mereka berdua mendapatkan pengurangan 25 poin, penyebabnya sudah jelas karena mereka terlambat melakukan pemeriksaan fisik. Sepertinya rencana ku untuk membuatnya kesal mendapatkan hasil sukses besar.
Aku sudah membuatnya kesal ketika menyebutnya tidak atletis, lalu ketika aku memeluk Satomi dan menabraknya tanpa peduli, dan yang terakhir membuatnya kehilangan poin karena terlambat.
Walaupun begitu, perasaan bersalah masih menyelimuti ku, menghilangkan 10 poin bisa saja membuat Satomi marah, jadi aku akan meminta maaf beberapa kali padanya.
Tapi ternyata dia tidak marah, dia hanya menyuruhku untuk menahan diri lain kali, ekspresinya juga tidak menunjukkan kemarahan dan aku hanya merasakan perasaan datar darinya dan mungkin, dia terlihat penasaran.
Kami lalu membicarakan banyak sesuatu sambil bersantai di gedung olahraga ini.
Akhirnya giliran kelas E tiba, namaku dan Satomi dipanggil untuk maju ke depan, sepertinya pasangan yang memiliki poin tertinggi akan menjadi yang pertama dipanggil. Aku tidak tidak tahu apakah sistem ini akan menguntungkan ataupun merugikan kami kedepannya.
Lalu setelahnya aku dan Satomi harus berpisah memasuki ruangan yang berbeda sesuai jenis kelamin.
Disinilah hal yang membuatku takut, guru perempuan ini mengajakku berbicara hal yang menyeramkan sambil melakukan pemeriksaan.
Dia mengatakan kalau menjadi yang pertama itu terkadang menyeramkan. Karena poin adalah nyawa bagi para siswa, jadi bisa saja mereka akan memaksaku melakukan transfer poin untuk mempertahankan nyawa mereka.
Aku memang sudah tahu kalau transfer poin bisa dilakukan dengan kesepakatan salah satu pihak, namun aku tidak tahu kalau itu bisa dilakukan secara paksa tanpa diketahui oleh pihak sekolah.
__ADS_1
Aku akan merasa aman jika berada disampingnya, tapi bagaimana jika dia tidak ada.. itu menakutkan.
Ditambah lagi semua siswa kelas E akan terus mengincar ku, bukan hanya kelasku saja, tapi bisa saja semua kelas dari kelas satu sampai tiga.. kemungkinan itu membuatku semakin takut.
Lalu selesai melakukan pemeriksaan, aku keluar dari ruangan dengan penuh rasa takut dan aku menatap Satomi dengan ekspresi yang tidak ingin ku perlihatkan padanya.
****************
Beberapa menit setelah ditinggal oleh Satomi, aku merasa situasi masih aman dan tidak berbahaya.
Namun semuanya berubah ketika Beny datang padaku dan menawarkan hal yang aneh.
"Campbell.. bantu aku dropout Satomi, akan kuberikan 500 poin jika kau berhasil dan jadilah pasanganku!"
"Tawaranmu sangat bagus, tapi orang sepertimu tidak bisa menggunakan poin.. jadi bagaimana kau bisa melakukannya?"
"Tentu saja bukan.. aku mengambil poin Charles dan Lina secara diam-diam"
"Diam-diam? Apa maksudmu?"
"Kau tidak perlu tahu, sekarang bantu aku mengeluarkannya!"
Dia terlalu mencurigakan, lagipula 500 poin yang seharga 500 Dollar terasa biasa saja bagiku, mungkin aku akan menolaknya mentah-mentah sama seperti ketika aku menolak Balric.
"Tidak.. tidak akan! Pergilah sekarang!"
"Hah?! Jangan melawanku.. kalau kau tidak ingin dia dalam masalah!"
"Siapa yang kau maksud?"
"Saat ini.. orang yang kau cintai sedang dalam masalah besar, sekarang dia dihadang oleh puluhan orang.. dia mungkin tidak akan selamat tanpa adanya luka. Dia memang kuat.. tapi dia pasti tidak berdaya melawan banyak orang yang besar dan kuat"
"Tidak mungkin.. kau! Apa yang kau lakukan?!"
"Entahlah.. tapi aku sudah merencanakan semuanya dengan matang, jadi dia akan dikeluarkan dan menderita.. begitupun denganmu. Kalau begitu, sampai nanti.. Fisa Campbell!"
Beny mengancam ku dan mengatakan kalau Satomi sedang dalam bahaya. Aku sangat khawatir sekarang, bahkan aku hampir menangis. Dia juga mengetahui kalau aku mencintai Satomi, siapa dia sebenarnya.. aku harus berpikir dan balik melawannya sebelum dia keluar kelas.
"Tunggu! Heiko.. apa kau mengenal Balric?"
"Apa..!?"
Jadi begitu, dia memang terkejut ketika aku menyebutkan namanya dan kembali berbalik menghadap ku.
"Beny Heiko.. Meade Balric.. kalian bertukar posisi dan membiarkan Balric memasuki kelas A"
"..."
"Balric terlihat tidak atletis dan aku dapat mengetahuinya dengan jelas, tapi berbeda denganmu.. kau sangat atletis dan agak mustahil orang sepertimu memasuki kelas E, bagaimana caramu melakukannya?"
"Analisis yang bagus, Campbell! Tapi itu sudah terlambat, tidak ada bukti yang kuat untuk membuktikannya!"
"Bukan itu yang ku maksud.. hanya saja waktu akan terus berjalan dan jika rencana buatan mu gagal maka hidupmu akan berakhir, itu seperti pertaruhan bukan?"
"Berisik!!! Diam lah..!! Kau tidak tahu apapun!"
Beny sangat marah ketika aku berkata seperti itu, aku sendiri masih tidak tahu rencananya dan masih banyak hal yang tidak jelas untuk sekarang.
Dia berteriak dengan sangat keras dan membuat seisi kelas menatap ke arah kami. Ekspresi kemarahannya dapat kurasakan dengan jelas, namun dia tidak bisa mencelakai ku karena banyak orang yang melihat kejadian ini di kelas.
"Sial..! Kau pasti akan menyesal karena berbicara seperti itu!"
Beny lalu keluar kelas dengan cepat setelah mengancam ku lagi dan dia berkata akan membuatku menyesal.
Sepertinya aku mengetahui hal yang aneh disini, seperti Beny dan Balric yang bisa bertukar posisi kelas. Aku hanya asal menebak dan berbasa-basi dengan Beny, namun ternyata tebakanku itu benar dan membuatnya marah.
__ADS_1
Jadi semuanya kembali lagi ke pertanyaan awal, siapa mereka berdua sebenarnya.. aku sangat yakin orang biasa tidak akan bisa melakukan hal seperti itu.
Mungkin untuk sekarang aku harus mempercayakan semua kejadian yang berlangsung pada Satomi, lalu aku akan menceritakan semua yang ku ketahui padanya saat dia kembali nanti, karena aku sangat yakin dia bisa memahaminya dengan baik.