
Dua hari telah berlalu semenjak aku mengatakan diriku akan serius dalam menghadapi Mr.X, sekarang waktu yang tersisa hanya satu hari dan aku harus bisa membuat Fisa berduel dengan Ling besok hari.
Aku sudah menduga kalau Ling adalah anak dari Mr.X sejak awal bertemu di pusat perbelanjaan, semuanya menjadi sangat jelas ketika aku tidak sengaja melihat ponsel Ling.
Saat aku bersantai di taman seperti biasa, aku mendapati sebuah ponsel tergeletak dan secara kebetulan ponsel itu dalam keadaan layar yang menyala. Karena penasaran, aku pun membuka aplikasi "Point List" dan agak terkejut ketika melihat nama dan jumlah poinnya.
Linq Zhao
36.040 Point
Lalu aku membuka bagian riwayat poin dan ternyata memang benar kalau dia terus mendapatkan tambahan poin tanpa menyelesaikan tugas apapun. Hanya ada penambahan poin disana, tapi keterangan dan alasan kenapa poin bisa bertambah tidak tertulis.
Sudah puas melihat ponsel dengan isi poin yang diluar perkiraan, aku langsung kembali ke kelas dan meminta Fisa untuk menyerahkannya kepada guru yang berada di ruangan barang hilang.
Akan sangat beresiko jika aku sendiri yang langsung menyerahkannya pada Ling, itu bisa menimbulkan kecurigaan yang berlebih. Jadi pilihan yang tepat adalah meminta Fisa untuk menyerahkan ponselnya ke ruangan barang hilang.
Terlebih lagi aku sudah sangat yakin kalau Ling berhubungan dengan Mr.X, lalu dengan sedikit teori liar aku beranggapan kalau Ling adalah anak dari Mr.X, aku memang tidak tahu orang tuanya tapi aku yakin kalau kenyataannya memang seperti itu. Aku serius memikirkannya, kurasa apa yang kupikirkan ini sudah tepat.
Untuk motif dari Mr.X mengincar Fisa aku masih belum mengetahuinya, namun aku berpikir kalau aku akan segera tahu dalam waktu singkat ini.
Sekarang aku hanya bisa percaya pada Smith agar bisa mengubah sedikit peraturan duel dengan cara menyamar menjadi salah satu petinggi. Smith memang sulit untuk meniru karena tinggi badannya, tapi dia sendiri yang berkata kalau ada seorang bawahan Mr.X yang memiliki tinggi badan yang hampir sama dengannya.
Dengan begitu aku akan langsung bisa menjalankan rencana ku, aku juga akan berduel dengan salah satu siswa di kelas B, dia adalah teman SMP yang sudah mengkhianati diriku yaitu Niko.
Dia berkata ingin menang dariku setidaknya satu kali, jadi aku akan meladeninya kali ini dengan melakukan duel. Ini juga akan menjadi hal yang menguntungkan bagiku karena jika aku menang, maka aku akan bisa naik ke kelas D lalu mengikuti festival olahraga hingga memenangkannya agar bisa naik ke kelas C bersama dengan Elaina.
Kali ini hanya bersantai di taman seperti biasa, yaitu berbaring di rerumputan sambil menikmati pemandangan taman yang indah serta dengan udara yang sejuk. Tapi ada yang berbeda kali ini, Fisa dan Elaina juga berada di taman ini, mereka juga ikut berbaring di sebelahku.
"Anu.. kalian berdua, apakah kalian ada perlu denganku? Aku hanya ingin menikmati waktu santai ku"
"Tidak ada, tapi apa salahnya jika aku ikut bersantai disini! Hmph!"
"Huh.. kau itu sudah putus dengannya, jadi tolong jaga jarak darinya!"
"Apa kau bilang? Hanya bermodalkan rambut pirang mu itu dan kau langsung bisa memikat hatinya, sungguh tidak adil!"
"Terserah kau saja, lagipula cinta pertama kami itu sama! Dibandingkan dirimu.. tidak ada yang menarik!"
"Hentikan, kalian berdua! Aku akan pergi jika kalian terus bertengkar!"
Aku cukup terganggu mendengar mereka berdua yang saling berdebat hanya karena masalah kecil, jadi aku menegurnya agar mereka berhenti sambil mengancam mereka berdua.
__ADS_1
"Maafkan aku.. Satomi!"
"Maaf!"
"Hmm.. tidak masalah, sekarang Fisa.. kau harus siap berduel dengan Ling! Tapi kau tidak perlu serius melakukannya, karena tidak ada gunanya jika kau serius"
Lalu aku berbicara pada Fisa agar mempersiapkan diri sebelum duel dilakukan. Smith memang belum mengubah peraturannya, tapi aku yakin kalau dia bisa melakukannya dalam beberapa jam lagi.
"Aku tidak yakin kalau Ling adalah Mr.X, bukankah itu aneh? Kau tiba-tiba mengatakan kalau dia itu Mr.X"
"Tidak, gadis keras kepala.. aku sendiri malah sangat yakin kalau dia orangnya, apa kau tidak tahu kalau poin sebesar 36.000 itu mencurigakan?"
Elaina langsung angkat bicara dan membantuku meyakinkan Fisa.
"Kau ada benarnya juga.. tapi siapa yang panggil keras kepala?!"
"Tentu saja itu adalah dirimu, memangnya siapa lagi?!"
"Apa katamu?!"
"Itu kenyataan, sifatmu yang keras kepala itu adalah kenyataan.. tolong jangan menyangkalnya lebih keras!"
"Hmphh!"
Mereka berdua kembali bertengkar hanya karena persoalan kecil, sepertinya mereka tidak akan bisa akur kecuali saat ada situasi darurat.
Ditengah perdebatan mereka berdua, ponselku bergetar dan aku membaca pesan dari Smith yang menyuruhku untuk datang ke ruangannya, dia berkata kalau itu sangat penting dan aku harus segera datang.
"Aku pergi! Jangan ikut!"
"Eh?!"
Mereka berdua yang asyik berdebat langsung terdiam setelah melihatku berdiri dan berjalan meninggalkan mereka, mereka juga tidak terlihat berniat untuk mengikutiku, kurasa aku akan berjalan dengan santai menuju ke ruangan Smith.
Aku agak khawatir dengan Elaina, tapi aku yakin dia akan baik-baik saja.
Hanya memerlukan waktu kurang dari lima menit, aku sudah sampai di depan pintu tempat ruangan Smith berada, lalu aku mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"TOK! TOK! TOK!"
"Langsung masuk saja, Satomi! Ada hal penting yang ingin ku bicarakan sekarang!"
__ADS_1
"Ya.."
Aku tanpa pikir panjang membuka pintu lalu duduk di sofa seperti biasanya, Smith juga sudah menghidangkan teh hijau di meja.
"Aku sangat beruntung karena tidak ketahuan dan berhasil mengubah peraturan sesuai dengan apa yang kau minta, sekarang kau harus mengikuti permintaan ku!"
"Aku mengerti, katakan saja!"
"Baiklah.. seperti kataku sebelumnya, kau harus bisa mendapatkan beberapa bukti dokumen lalu menyerahkannya padaku!"
"Ya, aku sudah terpikir rencana yang bagus untuk itu"
"Apa aku boleh mengetahuinya?"
"Tentu saja! Sebenarnya ini agak sederhana tapi bisa lumayan fatal jika aku lengah, saat Fisa dan Ling berduel.. aku tahu kalau beberapa dari mereka akan bertaruh, tapi masalahnya bukan di taruhan.. mereka akan mencatat beberapa hal tentang taruhan yang akan dilakukan agar tidak terjadi kecurangan, saat itulah aku akan menyelinap dan mencari tahu tentang dokumen yang kau cari"
"Memang benar setiap duel pasti akan ada judi ilegal, tapi bukankah catatan itu tidak diperlukan dan juga tidak berhubungan?"
"Kau terlalu dangkal Smith! Seperti yang sudah kukatakan tadi, Ling adalah anak dari pemimpin petinggi atau yang kusebut Mr.X.. jadi kurasa pertaruhan yang terjadi kali ini akan berbeda dari biasanya"
"Maksudmu itu akan menjadi judi legal? Mereka akan mencatatnya dan mungkin beberapa dokumen penting akan keluar pada saat itu, lalu kau akan berusaha mengambil catatan dan dokumen itu untuk mencari informasi tambahan"
"Baguslah jika kau cepat mengerti, kerja bagus karena telah berhasil mengubah peraturannya! Mereka mungkin akan curiga tapi aku sudah membuat agar peraturan ini semakin meyakinkan"
Rencana ku menjadi sangat mudah sekarang, karena beberapa dari mereka telah tertipu oleh Smith dan sesuai perkiraanku dia memang bisa melakukannya. Agar semakin meyakinkan, aku akan melakukan sesuatu pada lembaran kertas yang telah diajukan oleh Smith.
Dari yang aku tahu, membuat peraturan baru harus masuk akal dan tidak membebani para siswa, hal ini juga memerlukan lembaran kertas yang berisi tentang pengajuan peraturan baru dan jika lembaran ini ditandatangani oleh kepala sekolah, maka itu akan menjadi peraturan baru yang sah dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
Aku hanya perlu membuat kepala sekolah menandatangani lembaran yang sudah dibuat oleh Smith, dengan begitu peraturan duel juga bisa dilakukan melawan kelas B akan benar-benar terjadi.
"Aku hanya bisa mempercayaimu, Satomi Adney! Kuharap kau tidak mengecewakanku, pokoknya.. aku mengandalkan mu untuk membantuku balas dendam!"
"Serahkan padaku, Smith Afton! Besok semuanya akan selesai, masa jaya Mr.X juga akan kuakhiri besok!"
"Terdengar meyakinkan sekali, aku jadi berharap lebih padamu!"
Aku dapat melihat ekspresi Smith yang penuh harapan dan dia juga memasang ekspektasi tinggi padaku.
Urusanku sudah selesai disini, Smith sudah memberikan kabar baik dan aku juga harus segera bergerak untuk mengurus lembarannya, jadi aku langsung keluar dari ruangannya dan menjalankan rencana ku.
Aku bahkan tidak menyentuh teh hijau yang dihidangkan olehnya, tapi bagaimanapun topik yang dibicarakan terlalu serius hingga membuatku melupakan sekitarnya dan hanya terfokus pada Smith.
__ADS_1
"Kau memang sekutu yang sangat berguna, Satomi Adney!"
Sebelum aku meraih pintu keluar, Smith bergumam pelan. Aku juga dapat dengan jelas mendengarkan perkataannya itu, namun aku memutuskan untuk tidak menghiraukannya dan lanjut keluar ruangan.