
Saat selesai bersiap-siap dan hendak pergi ke kelas, ditengah jalan aku melihat Smith yang sepertinya sedang dalam kesulitan, wajahnya terlihat bingung dan mungkin sedikit panik.
Dia memasang ekspresi tidak biasa sambil melihat banyak baju yang berserakan di tanah, dari yang kulihat sepertinya itu adalah seragam bela diri.
Namun sangat disayangkan saat aku hendak mengabaikannya dan lanjut berjalan, dia malah memanggilku.
"Satomi Adney.. kemarilah, aku memerlukan bantuanmu!"
"Hmm.. ya!"
Smith menyuruhku untuk mendatanginya dan mengatakan kalau dia memerlukan bantuan. Tidak memiliki pilihan lain, aku memang harus membantunya, ini juga bertujuan agar poinku tidak dikurangi.
Dengan segera aku mendekat ke arahnya lalu menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa?"
"Seperti yang kau lihat.. aku menjatuhkan banyak baju ini dan membuatnya kotor, tapi aku sangat beruntung kalau hanya dirimu yang berada disini sepagi ini.."
Aku sedikit tidak menyangka kalau Smith bisa seceroboh ini, padahal selama ini dia selalu bersikap tegas dan terlihat sempurna saat menjadi guru.
"Begitu.. jadi apa yang harus kulakukan?"
"Tolong bantu aku memasukkan kembali baju ini ke dalam kardus, waktumu lima menit!"
"Ya.."
Dia menyuruhku untuk segera membantunya dengan memasukkan semua baju yang berserakan ke dalam kardus besar, dan anehnya dia juga memberiku batasan waktu.
"Oh iya.. Satomi, ini masih pukul setengah enam.. kenapa kau sudah bersiap-siap?"
Ditengah aku membantunya, dia membicarakan sesuatu padaku dan bertanya apa yang kulakukan di pagi buta seperti ini.
"Aku hanya ingin merasakan udara segar, dan kebetulan aku juga bangun lebih pagi karena mimpi buruk.."
Aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Smith. Saat itu aku terlalu banyak memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi saat hari keempat, akibatnya aku malah bermimpi buruk setelahnya, mimpi yang terasa cukup mengerikan.
"Jika kau mimpi buruk, tenangkan dirimu dan katakanlah ding.. dong.. ding.. dong... Itu akan membuatmu merasa lebih baik!"
Aku agak bingung dengan perkataannya karena Smith yang aku kenal dia tidak akan bisa bercanda seperti ini, bahkan saat hari pertama ekspresi kemarahannya dapat kurasakan dengan jelas dan kurasa dia tidak mungkin bisa diajak bercanda.
Rasanya ini lebih buruk dari mimpiku tadi, bagaimana tidak, guru yang terlihat sangat tegas dan sangat mematuhi aturan mendadak mengajakku untuk bercanda. Ini membuatku bingung harus menanggapinya seperti apa.
Mungkin kali ini aku hanya akan bersikap biasa saja dan jangan sampai menyinggung tentang kesalahan maupun perubahan sikapnya karena itu akan sangat berdampak kedepannya.
"Lelucon yang bagus, Smith! Tapi kalau aku sendiri hanya akan membayangkan sesuatu yang tenang ketika sedang mengalami hal buruk.. haha.."
Aku tertawa kecil sambil menjawab leluconnya.
"Hahaha! Kau memang sangat tenang ketika aku memarahimu di hari pertama.. bahkan aku merasa kalau kau tidak merasa bersalah pada saat itu!"
Kali ini Smith yang tertawa puas sambil mengatakan kalau aku sama sekali tidak merasa bersalah saat ketiduran di kelas.
Aku hanya diam saja menanggapi perkataannya dan tidak terasa semua baju sudah memasuki kardus besar.
"Ini sudah semuanya, jadi kurasa aku akan pergi.."
"Ya.. terima kasih banyak, Satomi! Kau sangat membantu!"
__ADS_1
"Tidak masalah.."
Setelahnya aku meninggalkan Smith yang sedang mengangkat kardus besar berisi seragam bela diri itu dan lanjut jalan ke kelas, kuharap dia lebih berhati-hati dari sebelumnya.
Aku merasa seperti melupakan sesuatu saat berjalan, tapi aku juga tidak tahu apa itu. Memutuskan untuk menghiraukannya, aku terus berjalan hingga akhirnya sampai di kelas.
Sepertinya aku hanya sendirian disini, ternyata suasana kelas juga bisa terasa menyeramkan saat matahari belum terbit sepenuhnya. Bulu kudukku berdiri dengan sendirinya, mungkin itu karena suhu yang masih dingin di pagi hari.
Baru beberapa menit aku merasakan suasana sepi dari kelas ini, Lina datang sambil sibuk memainkan ponselnya.
Ah.. itu dia, ternyata aku lupa membawa ponselku, aku baru mengingatnya setelah melihat Lina asyik memainkan ponsel miliknya. Tapi kurasa sebentar lagi bel akan berbunyi, jadi aku sudah terlalu malas untuk berlari dan kembali ke kamarku untuk mengambil ponsel.
Namun karena terlalu lama melihatnya, tatapan mata kami kemudian saling bertemu dan entah kenapa dia malah mendatangiku setelahnya.
"Kau.. tidak akan kumaafkan!"
"Apa maksudmu?"
Lina mendadak marah padaku dan mengatakan kalau aku tidak akan dimaafkan olehnya. Aku sendiri masih belum mengerti maksudnya, tapi kurasa aku harus waspada karena dia akan melakukan tindakan yang tak terduga.
"Padahal aku berniat untuk menjadikanmu mainan ku, tapi.. kenapa jadi seperti ini! Kau memang tak termaafkan!"
Kali ini Lina membentak ku dan mengatakan hal yang masih sulit untuk dipahami.
"Aku akan membuatmu menyesal karena sudah merusak rencanaku!"
Lina lalu mendekat ke arahku setelah menggumam dengan suara yang sangat kecil, tapi dia tidak tahu kalau aku memiliki pendengaran yang sangat baik hingga bisa mendengar jelas perkataannya.
Walaupun aku masih tidak mengerti situasi ini, tapi sepertinya Lina marah karena rencananya sudah hancur dan dia menyalahkan ku atas itu.
Setelah memahami kejadiannya, aku dapat menyimpulkan kalau seseorang membenci salah satu dari mereka bertiga, bisa jadi Charles, Beny, maupun Lina. Sepertinya orang ini bekerja di balik layar dan melakukannya secara diam-diam.
Aku masih belum tahu orang yang menggagalkan rencana Lina karena kurangnya petunjuk.
Kali ini Lina mendekat ke arahku dan tangan kanannya bergerak memegang tanganku, lalu dengan cepat aku menarik paksa tanganku kembali.
"Ahh..!"
Lina sedikit terpental karena aku mendorongnya untuk menjauh.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
Aku bertanya maksud tindakannya pada Lina walaupun aku sudah mengetahuinya. Ternyata seperti inilah sifat asli dari seorang gadis bernama Lina, dia hampir mengarahkan tanganku ke dadanya, namun beruntung aku menyadarinya sebelum tanganku sampai ke dadanya.
"Itu kekerasan! Aku akan melaporkanmu.."
"Coba saja.."
"Cih!"
Lina kini mengancam akan melaporkan ku karena sudah melakukan kekerasan padanya. Namun aku tidak peduli dan bersikap santai karena buktinya sangat lemah, seperti tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya.
Dia melimpahkan kesalahannya padaku, padahal dia sendirilah yang memulainya duluan. Dari awal Lina berencana membuatku menjadi pelaku karena sudah melecehkannya, namun rencananya berakhir dengan kegagalan. Dia juga keras kepala dan terus mencoba untuk membuatku menjadi seperti pelaku kejahatan.
Dia yang sekarang terlihat jauh berbeda, tapi aku sama sekali tidak mewaspadai dan menganggapnya menyeramkan karena dia masih kalah jauh dari Fisa, terutama cara berpikirnya yang masih dangkal. Hanya wajahnya saja yang cantik, tapi mengetahui sifat aslinya semakin membuatku yakin kalau dia orang yang harus kujauhi.
"Sudah cukup, seseorang sedang merekam kejadian ini sekarang.. jadi kuharap kau harus lebih teliti lagi dalam memilih lawan!"
__ADS_1
Walaupun sangat tipis, aku merasakan hawa keberadaan Fisa yang sedang bersembunyi dan menguping kejadian ini, kini aku mendapatkan ide yang bagus dan balik mengancamnya. Sebenarnya aku sudah menyadarinya saat Lina hendak mendekat ke arahku.
"Dimana dia?! Keluarlah..!!"
"Aku disini loh.. waa...!"
"Apa..!?"
Ternyata memang benar kalau Fisa sedang bersembunyi, dia lalu keluar dari persembunyiannya ketika Lina menyuruhnya untuk segera keluar.
Ekspresi Lina terlihat sangat terkejut karena hal ini, dia juga sedikit merasa takut karena sudah salah bertindak.
Kerja bagus Fisa, kau terlihat seperti sedang merekam kejadiannya dengan posisi tanganmu yang seperti itu sambil memegang ponsel.
"Sial..! Aku akan membalas kejadian ini! Camkan itu.. Satomi!"
Lina langsung pergi keluar kelas setelah mengancam akan membalas perbuatan kami. Suasana kelas sekarang menjadi lebih sepi karena Lina keluar kelas, jadi hanya ada aku dan Fisa disini.
Aku sendiri mungkin tidak ada masalah dengan ancamannya, tapi berbeda dengan Fisa, dia mungkin saja merasa takut karena hal ini.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Harusnya aku yang tanya begitu!"
Aku menanyakan kondisi Fisa dan dia menanggapinya secara terbalik.
"Semuanya baik-baik saja.. untuk sekarang.."
"Apa maksudmu?"
"Maaf Fisa.. aku sudah melibatkanmu!"
Karena merasa bersalah, aku meminta maaf kepada Fisa karena sudah melibatkannya dalam kejadian ini, bahkan aku sangat yakin kalau Lina akan mengincar Fisa terlebih dahulu.
"Tidak apa.. kita adalah pasangan, kita akan selalu bersama disaat senang maupun susah bukan?"
"Begitu ya.. kalau begitu mulai sekarang kau harus selalu bersamaku untuk jaga-jaga, karena mereka bertiga akan mengincarmu terlebih dahulu"
"Aku sangat senang dengan perkataanmu, tapi.. kenapa mereka mengincarku?"
"Untuk sekarang aku masih tidak tahu jawabannya, tapi kurasa kau akan tahu dengan sendirinya"
"Tidak.. aku terlalu bodoh untuk menganalisis kejadian ini"
"Begitu ya.."
"Jangan hanya jawab begitu ya..! Jelaskan juga agar aku bisa memahaminya!""
"Nanti saja.."
"Hmph..!"
Pilihan terbaik untuk sekarang adalah membawa Fisa selalu bersamaku dan menjaganya dari dekat.
Jadi ini maksud dari firasat buruk yang kupikirkan dari kemarin, Fisa sudah menjadi incaran semua orang di kelas karena memiliki poin tertinggi. Aku terlambat menyadarinya, namun kurasa aku masih bisa mencegahnya sebelum itu menjadi sangat terlambat.
Dan mulai sekarang, semuanya akan menjadi sangat menarik.
__ADS_1