
Jadi lelaki yang bersama dengan Fisa di cafe saat itu adalah Wijaya dan sekarang aku baru saja bertemu dan berbicara padanya, dia berkata kalau ingin berpacaran dengan Fisa dan kurasa tidak yang salah dengan itu.
Mereka berdua terlihat cocok dan Wijaya lebih baik dariku jika dibandingkan dari segi kepribadian, aku selalu saja berbohong dan Wijaya adalah orang ramah senyum yang selalu jujur di setiap keadaan. Jika terdapat perseteruan antara dua kubu, aku sangat yakin dia akan berada di kubu netral.
"Satomi.. aku merasa gugup, bagaimana ini?"
"Cobalah untuk tertawa, bukankah itu kebiasaan mu?"
"Agak sulit melakukannya ketika aku sedang gugup, aku juga tidak ingin dianggap aneh oleh Fisa"
Saat ini aku dan Wijaya saling mengamati Fisa yang sedang termenung di depan kelas. Aku dapat memahami perasaan gugupnya tapi bagaimanapun dia harus bisa menghibur Fisa sekarang.
"Ehh..?!"
"Tidak ada waktu lagi, sekarang hiraukan aku dan hibur dia!"
Aku langsung mendorong Wijaya dari tempat pengamatan dan tentu saja hal ini membuat Fisa menatap ke arah Wijaya. Lalu dengan canggung dia langsung mendekati Fisa sambil tersenyum tipis dan Fisa juga membalas senyumannya itu.
Ah benar juga, aku berjanji akan tersenyum pada Fisa kalau dia berhasil mengulur waktu dengan baik, dan sekarang aku harus menepati janjiku karena duel yang dilakukannya benar-benar berjalan lebih lama dari yang kuduga. Mungkin aku akan menepatinya nanti setelah beberapa urusanku selesai.
Satu urusan sudah selesai, sekarang aku hanya perlu menemui Smith untuk membicarakan sesuatu. Aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua dan beralih ke ponselku untuk menghubungi Smith.
Sebenarnya aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi kepada Fisa dan Wijaya, tapi yang terpenting aku sudah membuat mereka berdua lebih dekat dan Fisa mungkin akan segera beralih dari aku ke Wijaya.
Aku langsung berjalan ke ruangan Smith setelah mengatakan kalau dia berada di ruangannya menunggu hasil dari kepolisian.
Namun bukannya segera sampai disana, aku malah berpapasan dengan Elaina dan begitu dia menyadari ku, Elaina langsung menarik tanganku.
"Tunggu!"
"Oh, Elaina.. ada apa?"
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau sudah memberitahu mereka berdua?"
"Elaina.. apa kau sedang luang sekarang?"
"Emm.. ya, mungkin.. aku juga tidak tahu karena aku merasa lelah"
"Kalau begitu kau istirahat saja, sampai nanti!"
Kukira pembicaraan sudah berakhir, tapi baru beberapa langkah aku berjalan meninggalkannya, Elaina melakukan tindakan tak terduga dan bahkan instingku tidak aktif karena aku tidak menganggapnya sebagai ancaman.
"Kau kenapa? Elaina?!"
"Maaf Satomi.. aku selalu menjadi beban untukmu, aku tidak bisa membantu apapun!"
Dia memelukku dari belakang dan tentu saja aku terkejut, tindakannya hampir sama dengan Fisa tapi hal yang membedakan adalah Elaina bisa menentukan momen yang tepat untuk memeluk diriku.
Suaranya terdengar murung dan sangat disayangkan aku tidak bisa melihat wajahnya.
__ADS_1
"Elaina.. aku tidak mengatakan apapun untuk sekarang karena aku tidak yakin kalau aku bisa menepati perkataanku ini"
Dengan tenang aku berbalik badan dan membuat pelukan Elaina terlepas, lalu aku memegang bahunya dengan kedua tanganku.
Apa yang kukatakan pada Elaina adalah kebenaran yang tidak bisa ku bantah, aku sudah beberapa kali mengatakan janji manis kepada Fisa dan semuanya malah berakhir menjadi tak terarah. Jadi aku tidak ingin mengulangi hal yang sama terhadap Elaina.
"Tapi..-"
"Kita akan bertemu lagi, Elaina.. tolong jangan mengikutiku!"
Aku harus melakukannya, itulah yang kupikirkan sekarang. Aku memang manusia tak berperasaan yang selalu berusaha untuk memiliki perasaan layaknya manusia lain, tapi sayangnya aku tidak bisa.
Seberapa jauh aku mencoba untuk marah, menangis dan juga kecewa, jika akhirnya hanya perasaan kosong yang didapat, maka semuanya hanya perasaan palsu dan tidak berarti. Singkatnya aku memerlukan seseorang untuk mengisi kekosongan ini dan setelahnya mungkin aku mulai bisa jauh lebih berekspresi.
Sudah cukup, sekarang aku harus jujur pada Smith dan langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Permisi!"
"Satomi, kenapa lama sekali?"
"Maaf.. aku perlu berbicara dengan Fisa tadi"
Smith tidak menyajikan apapun di mejanya karena dia tahu kalau ini adalah obrolan serius dan aku juga tidak akan menyentuh apa yang disajikan.
"Entah kenapa, aku belum puas hanya dengan memenjarakan orang yang telah membuatku menderita selama beberapa tahun.. menurutmu apa yang harus kulakukan?"
"Melihat tulisan? Apa kau pernah membaca sebuah novel tentang balas dendam?"
"Bukan begitu, aku hanya meniru dan mengatakannya setelah aku banyak mendengar perkataan itu"
"Padahal aku ingin kau merekomendasikan sebuah novel balas dendam sebagai referensi, sayang sekali ya.."
"Lupakan dulu tentang balas dendam, sekarang bagaimana keadaannya?"
Aku langsung mengalihkan topik untuk sementara karena aku menunggu momen yang tepat untuk jujur pada Smith, dari tindakan mengejutkan Elaina aku langsung belajar kalau kita harus bisa mengejutkan seseorang dengan langkah tak terduga.
"Sekarang kepolisian masih mengumpulkan berbagai bukti dan berbicara kepada pelaku, jujur saja.. aku agak terkejut ketika tahu kalau dalangnya adalah Leonhart seorang artis bertopeng terkenal"
"Begitu ya?"
Ternyata mengalihkan topik terlalu sulit untuk dilakukan, mungkin dalam beberapa saat lagi aku akan membuat ledakan besar.
Dari yang kuamati sekarang, Smith masih tidak puas dan ingin terus balas dendam, dengan kata lain dia akan terus membuat orang yang berhubungan dengan sang dalang menderita.
Jika aku memberitahu kalau Leonhart adalah ibuku, maka ledakan besar akan benar-benar terjadi karena adanya perasaan labil yang muncul. Aku penasaran apakah Smith bisa memahami kondisi ku ataukah dia akan marah hingga membenciku walaupun sekarang dia menganggap aku sekutu.
Aku yang sekarang dapat menyimpulkan kalau Smith akan sangat marah ketika mengetahui hal itu, kemungkinannya adalah 70%, lebih tinggi 20% dari setengah.
"Smith, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu"
__ADS_1
"Apa itu? Apakah masalah cintamu?"
Saat ini Smith masih bisa bercanda walaupun hanya sesaat.
"Bukan itu, tapi sesuatu yang lebih serius.."
"Katakan saja dan mungkin aku bisa memberikan solusi padamu!"
Barulah sekarang dia terlihat serius.
"Sebenarnya.. dalang yang ditangkap tadi, memang benar kalau dia adalah orang yang menguasai dan melakukan kejahatan di sekolah ini. Tapi dia adalah ibuku"
"Hah!!?"
Ditengah emosi Smith yang masih labil, aku terus berkata dan berusaha menjelaskan tentang apa yang sebenarnya kualami. Namun bukannya memahami kondisi ku, Smith malah menjadi sangat marah dan murka denganku.
"Kau memang pembohong, Satomi!! Aku menyesal karena telah menganggapmu sekutu, sekarang kita adalah musuh!"
"BUKK!!"
Suara pukulan berbunyi degan keras, itu karena Smith memukul meja dengan genggaman tangannya.
"Musuh ya? Apa kau yakin?"
"Ya! Aku sangat yakin, semuanya masuk akal sekarang.. kau berbohong padaku dan juga Fisa lalu berpura-pura menolong kami!"
Nada bicaranya semakin naik karena kemarahannya dan baru sebentar aku berpikir, sesuatu mengejutkan terjadi.
"Tidak, bukan begitu! Satomi memang sering berbohong.. tapi dia yang sekarang sedang berusaha untuk jujur!"
Aku agak terkejut ketika melihat Elaina tiba-tiba membuka pintu ruangan Smith. Lagi-lagi aku tidak menyadari Elaina kalau dia sudah mengikutiku karena aku tidak menganggapnya sebagai ancaman, sekarang dia dalam bahaya karena Smith dalam keadaan marah.
Sepertinya Elaina menguping pembicaraan ku dengan Smith dan karena itulah dia langsung menerobos masuk ketika aku dimarahi oleh Smith.
"Hah?! Siapa kau gadis kecil?"
Sekarang adalah saat yang tepat untuk membawa Elaina pergi karena jika situasi ini terus berlanjut, maka akan menjadi masalah yang sangat serius.
Lagipula rasa penasaranku sudah terjawab, Smith jelas-jelas membenci diriku ketika mengetahui kalau sang dalang yang membuatnya menderita adalah ibuku sendiri.
"Ayo pergi!"
"Ehh!?"
Aku langsung bangkit dari sofa dan menarik tangan Elaina untuk membawanya pergi.
"Smith Afton, tidak masalah jika kau menganggapku musuh.. karena aku juga tidak peduli, sekarang lakukan sesukamu!"
Sebelum aku pergi, aku menyempatkan diri untuk memberitahu Smith kalau aku tidak peduli lagi dengannya. Aku sudah tahu batas kemampuan Smith, jadi aku akan dengan mudah meladeninya jika dia berbuat sesuatu padaku.
__ADS_1