
POV (Fisa Campbell)
Seperti kata Satomi, semuanya menjadi sedikit lebih tenang sekarang, tapi kami berdua masih tidak tahu kapan Mr.X akan bergerak lagi. Beny juga berakhir di dropout dan ancaman benar-benar berkurang sekarang.
Hari kelima sudah berlalu, sekarang adalah hari Sabtu yang dimana semua siswa akan diliburkan, itu karena para siswa hanya bersekolah selama lima hari dari Senin sampai Jumat.
Aku bosan dan ingin bertemu dengan pacarku sekarang, siapa lagi kalau bukan Satomi Adney. Jadi kurasa aku akan bersiap-siap dan pergi keluar untuk menemuinya.
Sekarang masih pukul lima subuh, tapi aku terlalu bersemangat dan bersiap-siap lebih awal, lalu aku mandi dan mulai berpakaian setelah itu.
Aku memang tidak memiliki janji khusus dengannya, pembicaraan kami di ponsel pun hanya berisi hal-hal aneh yang tidak berhubungan sama sekali, kami sesekali membahas tentang manusia, tumbuhan, dan juga tentang Mr.X. Dia sama sekali tidak membahas hal romantis padaku, tapi walaupun begitu, aku tetap senang bisa berkomunikasi dengannya.
Kini aku sudah sangat siap untuk bertemu dengannya di waktu sepagi ini, aku juga sudah berpakaian dan sedikit memakaikan parfum pada baju yang ku kenakan.
Semuanya sudah siap, dari mental, tubuh, jiwa dan ragaku hanya untuk melihat orang yang sangat kucintai.
Sayang, apa kau sudah bangun? Aku ingin menemui mu sekarang, tolong bersiaplah!
Aku mengambil ponsel yang terletak di kasur lalu mengirimi pesan pada Satomi. Ini membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk dia membalas pesanku.
^^^Maaf.. aku baru saja bangun, mungkin untuk sekarang kita tidak bisa bertemu, maaf!^^^
Eh, kenapa? Padahal aku sudah sangat siap!
Tentu saja aku bingung dengan balasannya, dia seperti ingin aku menjaga jarak darinya.
^^^Maaf.. tapi ada sesuatu yang harus kulakukan sekarang!^^^
Sesuatu? Apa itu sangat penting hingga melupakan pacarmu sendiri?! Jangan-jangan.. kau sedang ingin menemui seorang gadis?!!
^^^Jangan salah paham.. aku hanya bercanda, bukankah aku harus mandi terlebih dahulu? Apa kau ingin menemui ku sekarang dan mencium bau tubuhku yang bisa membuat seorang lalat pingsan?^^^
Astaga, aku hampir mencurigainya sedang berselingkuh dengan orang lain, tapi ternyata dia hanya bercanda dan mengatakan ingin mandi terlebih dahulu.
Apa-apaan itu? Baiklah, aku akan menunggumu!
^^^Tunggulah 10 menit, jika sudah lebih dari itu maka lebih baik langsung datang ke kamarku!^^^
Ya, aku mengerti!
Sebenarnya aku kurang mengerti kenapa dia memintaku untuk langsung mendatangi kamarnya, mungkin itu karena dia terbiasa menentukan tempat pertemuan dan memutuskan untuk bertemu di kamarnya sendiri.
Seorang gadis yang datang ke kamar laki-laki memang terlihat mencurigakan, tapi jika aku memiliki alasan yang tepat dan tidak berlama-lama untuk berada disana, maka aku tidak akan dianggap mencurigakan.
Sekarang aku hanya perlu menunggu beberapa menit sesuai perkataan Satomi lalu pergi ke kamarnya.
Lima menit sudah berlalu, aku memutuskan untuk langsung datang ke kamarnya karena aku ingin mengejutkannya, mungkin aku juga akan bisa melihat tubuh Satomi yang penuh otot kecil itu.
Aku bukan orang mesum atau apapun itu, sebenarnya aku hanya ingin menyentuh luka di perutnya itu, dia pasti sudah menjalani kehidupan dan masa lalu yang lebih sulit dariku.
Saat aku sedang mengobati lukanya, aku dapat melihat tubuh bagian atasnya yang terdapat otot-otot kecil, namun aku yakin kekuatannya melebihi banyak siswa lainnya, bahkan bisa dibilang kalau Satomi adalah murid terkuat di kelas satu.
Aku tidak mengerti kenapa orang sepertinya bisa memasuki kelas E, tapi aku juga bersyukur karena bisa berpacaran dengannya, sepertinya dia yang berada di kelas E tidak buruk juga, hal ini membuat pertemuan yang tidak terduga, rasanya seperti takdir saja.
Lupakan hal itu, sekarang aku sudah sampai di depan kamar Satomi lalu mengetuk pintu kamarnya.
"Satomi, apa kau ada di dalam?"
Aku ingin memanggilnya sayang, tapi rasanya terlalu memalukan jika aku mengucapkannya langsung, aku hanya bisa melakukannya melalui ponsel.
"Masuklah.. pintunya tidak dikunci!"
"Oke"
Aku membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam lalu menutupnya dengan cepat, namun saat didalam aku tidak mendapati Satomi yang sedang bersiap-siap, dia malah sedang berbaring dengan santai di kasurnya bersama dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Anu.. kenapa kau malah bersantai!?"
"Tenang saja, aku sudah mandi dan ingin beristirahat lagi!"
"Beristirahat? Apa kau tidak tidur nyenyak tadi malam?"
"Bisa dibilang tidak, ah.. lupakan saja!"
Kami berbicara singkat dan setelahnya Satomi langsung bangkit dari kasurnya, ternyata dia sudah siap dengan pakaian lelaki yang sederhana.
"Satomi, kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Ya.. tentu! Aku hanya sedikit pusing karena terlalu banyak bersantai"
Saat Satomi hendak berdiri, tubuhnya mendadak sempoyongan dan tentu saja hal ini membuatku khawatir. Lagipula dia berbohong tentang sedikit pusing, aku yakin dia sedang sakit sekarang.
"Hmph.. kau selalu berbohong! Apa yang sedang kau sembunyikan?!!"
Aku kesal karena selalu dibohongi olehnya, walaupun aku berpikir kalau itu semua dia lakukan untuk kebaikan ku sendiri.
"Tidak.. tidak ada, tenang saja! Sekarang ayo kita jalan-jalan!"
"Bodoh sekali, sekarang biarkan aku memegang kepalamu itu!"
"Ada apa dengan kepalaku? Aku baik-baik sa-.."
Satomi terus keras kepala dan mengatakan kalau dia baik-baik saja, tapi aku yang sudah kesal langsung mendekatinya dan menyentuh bagian kepalanya tanpa permisi.
Aku terkejut ketika merasakan panas tubuhnya, dia sangat panas, sekarang aku yakin kalau dia sedang mengalami demam tinggi.
"Apanya yang baik-baik saja dengan suhu tubuh sepanas ini! Kau bahkan mengeluarkan banyak keringat dari tubuhmu!"
"Maaf.. sayang, aku sudah berbohong!"
"Eh?!"
Dia menundukkan kepalanya dan membuatku malu karena dia memanggilku lagi dengan sebutan itu.
"Hmphh.. sekarang biarkan aku merawat mu! Jalan-jalannya nanti saja setelah kau sembuh total!"
"Begitu ya.."
Sekarang aku harus merawat orang yang sangat kucintai ini hingga benar-benar sembuh, aku akan merasa sangat bersalah jika sakitnya semakin parah setelah aku merawatnya.
"Apa kau punya termometer?"
"Kalau tidak salah, aku ada melihatnya di dalam lemari"
"Tunggu, aku akan mengambilnya!"
Lalu aku mencari termometer di lemari yang terpajang di bagian ujung kamar dan mendapatkannya di dekat seragam beladiri.
"Sekarang, bisakah kau melepaskan bajumu? Atau jika kau malu kau bisa-.. eh?!"
"Nih.. gunakan ini di ketiak mu!"
"Ya.."
Satomi langsung mengambil termometer yang kubawa lalu meletakkan di ketiaknya, hingga beberapa detik berlalu sebelum termometer itu berbunyi.
"Berapa hasilnya?"
"Oh.. 36 derajat"
"Jangan bercanda!"
"Maaf, lebih baik kau lihat sendiri.. aku tidak tahu apakah ini suhu tubuh normal atau tidak!"
Saat aku bertanya hasilnya, dia dengan santainya berbohong dan menjawab 36 derajat, lalu dia menyuruhku untuk mengeceknya sendiri dan aku sangat terkejut saat melihat hasilnya.
"Apa-apaan?! 41 Derajat.. tinggi sekali! Satomi, apa kau baik-baik saja!?"
Tentu saja hal ini membuatku sangat-sangat khawatir padanya, jika suhu 37 derajat saja sudah dianggap demam ringan, bagaimana dengan 41 derajat, sudah pasti kalau itu demam yang tergolong sangat tinggi.
"Ya.. aku baik-baik saja, lagipula aku masih bisa bergerak bebas seperti biasa, walaupun itu agak sedikit berbeda"
"Jangan bergerak! Tetaplah berbaring di kasur mu!"
Sekarang aku harus bersikap tegas padanya, dia memang tidak berbohong tentang masih bisa bergerak bebas, tapi tetap saja suhu 41 derajat itu terlalu tinggi untuk orang normal.
"Ya.. maafkan aku!"
"Sudahlah, apa kau ingin makan sesuatu?"
"Belikan aku ramen!"
"Ditolak, kau harus makan bubur untuk sekarang!"
"Begitu ya.."
__ADS_1
Awalnya aku berniat untuk membelikannya bubur, tapi setelah melihat beberapa bahan di dapur, aku jadi ingin membuatnya sendiri.
"Ini memang akan memakan waktu, tapi kau tunggu saja.. aku akan membuatkan bubur untukmu!"
"Bagaimana kau akan membuatnya?"
"Bahan-bahan yang ada di dapurmu cukup lengkap, jadi aku akan memasaknya sekarang"
"Begitu ya.."
Kali ini aku memasak beras, merebus air, dan terus menunggu hingga beras mulai pecah, lalu aku juga sedikit menambahkan garam. Aku terus menunggu sekitar 30 menit sambil mengaduk beras berubah menjadi bubur yang agak kental. Setelah matang, aku mematikan api kompor dan memasukkan bubur ke dalam mangkok lalu menghidangkannya pada Satomi.
"Terima kasih sayang, aku akan memakannya sekarang!"
"Tunggu.. biarkan aku yang menyuapi mu!"
"Tidak masalah, aku bisa sendiri"
"Apa itu.. tidak boleh dilakukan?"
"Hmm.. baiklah, silahkan saja!"
"Hehe.."
Satomi ingin memakan bubur itu sendiri, jadi aku langsung menawarkan diri untuk menyuapinya, bahkan aku juga memaksanya.
"Buka mulutmu! Aaaa..!"
"Aaa.. mm"
Aku merasa sangat senang karena bisa memanjakan Satomi yang sedang sakit sekarang, aku terus menyuapinya hingga bubur dalam mangkok habis tak bersisa.
"Sudah habis ya.. mungkin aku akan membasuh tubuh mu sekarang!"
"Ya.. silahkan saja!"
Satomi menjadi sangat penurut sekarang, bahkan dia langsung menyetujui perkataan ku kali ini untuk membasuh tubuhnya, lalu dengan cepat aku mengambil baskom dan handuk agar tidak membuatnya menunggu.
"Apa kau yakin ingin membasuh semua bagian tubuhku?"
"Tentu saja, aku sangat yakin! Kalau kau yang melakukannya sudah pasti tidak akan benar!"
Memang agak memalukan jika aku menyentuh banyak bagian tubuhnya, tapi aku harus melakukannya untuk kebaikannya sendiri. Aku akan mengelap keringatnya dari bagian kepala, leher, dada, perut lalu disusul dengan bagian kakinya.
"Sa.. sa-sayang, apa ini terasa geli?"
"Tidak.. lanjutkan saja, aku tidak keberatan kalau kau yang menyentuhnya"
"Ehh..!?"
Kami membicarakan banyak sesuatu saat aku sedang mengelap bagian tubuhnya dan tanpa terasa, aku sudah mengelap semuanya.
"Sekarang apa?"
"Tidurlah! Kau tidak tidur nyenyak malam tadi bukan? Tolong jangan berbohong lagi!"
"Ya.. aku akan tidur sekarang!"
"Tunggu.. kau tidur tanpa mengenakan baju? Bukankah itu buruk?"
"Aku tidak peduli dan sudah mengantuk sekarang, ngomong-ngomong makanan yang kau buat tadi sangat enak, aku jadi ingin memakan semua masakan yang kau buat selanjutnya!"
Selesai mengatakan itu, Satomi langsung menyembunyikan dirinya dalam selimut.
"Selamat tidur, sayang!"
"Ya.. tolong jaga kamarku untuk seharian ini!"
Akhirnya aku memanggil pacarku dengan benar dan setelah itu dia memintaku untuk menjaga kamarnya, kurasa aku akan berada disini seharian. Lagipula tidak ada kegiatan hari ini, jadi aku tidak keberatan dengan permintaannya.
Padahal belum sampai satu menit kami saling berbicara, tapi Satomi terlihat sudah tidur dengan pulas, bahkan aku dapat melihat wajahnya yang lemah ini dengan jelas.
Tindakanku sangat buruk sekarang, aku tidak dapat lagi menahan perasaan ku lalu ikut tidur bersamanya, aku ingin melakukannya sejak awal masuk ke kamarnya tadi.
Lalu aku menyelinap masuk ke dalam selimut dan berbaring disebelahnya, kasur ini bisa memuat dua orang jika dipaksakan. Jadi sekarang aku bisa merasakan nafasnya dan aku yang sekarang ingin sekali menciumnya secara diam-diam, tapi beruntung aku masih bisa menahan diri.
"Satomi, aku sangat mencintaimu!"
__ADS_1
Selesai mengucapkan kata-kata itu dengan pelan, aku memejamkan mataku lalu benar-benar ikut tidur di sebelahnya. Aku bahkan lupa untuk merapikan beberapa peralatan yang telah kupakai seperti peralatan makan, baskom dan juga handuk.