Uniregular Sport School

Uniregular Sport School
Chapter 28: Taman Sekolah


__ADS_3

Pertanyaan yang diberikan kini sudah dijawab, sekarang aku bisa bersantai dengan tenang, mungkin aku akan menikmati angin segar di taman sekolah.


Padahal baru saja aku berpikir seperti itu, namun ditengah perjalanan seseorang yang tidak kukenal mendekat padaku.


"Kenapa kau melindunginya? Dia itu pengkhianat!"


"Siapa yang kau maksud? Hmm.. Elaina?"


"Ya, dia orangnya! Orang yang menggunakan poin dengan sangat banyak tanpa izin dari pasangannya!"


"Jadi kau itu pasangan Elaina?"


"Itu benar.. dia sudah berjanji akan selalu bersamaku dan menggunakan poin saat penting saja, tapi dia yang sekarang malah mendekati banyak lelaki, bahkan dia juga menghabiskan poin tanpa sepengetahuan diriku!"


"Tenanglah.. mari bicara di tempat yang lebih santai, aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu!"


Aku menenangkan lelaki ini yang terlihat lumayan marah dan mengajaknya untuk berbicara ke tempat yang lumayan tenang.


"Tidak, aku tidak peduli dengan itu.. sekarang jawab pertanyaanku! Kenapa kau melindunginya?!"


"Kalau begitu.. aku juga tidak akan menjawabnya"


"Cih.. kau tidak akan mengerti, kau belum mengetahui sifat aslinya.. jadi jangan menyesal karena sudah mendekatinya!"


Dia langsung pergi setelah memperingatkan ku, sepertinya lelaki ini mempunyai rasa kebencian yang kuat terhadap gadis yang bernama Elaina, dia bahkan rela menyakitinya dengan melempar buku yang berukuran lumayan besar ke arahnya.


Seberapa jauh Mr.X terlibat dalam semua kejadian ini, aku jadi terpikir seperti ini setelah berbicara singkat dengan lelaki yang tidak kukenal ini.


Dari awal pembicaraan sudah cukup janggal, Elaina mengatakan kalau pasangannya yang menghabiskan banyak poin, sedangkan lelaki yang menjadi pasangan Elaina ini mengatakan jika semua poin hampir dihabiskan oleh Elaina.


Aku masih tidak tahu mana perkataan yang benar, tapi sebaiknya aku tidak terlalu ikut campur urusan mereka. Aku hanya ingin tahu apakah Mr.X benar-benar terlibat dengan kejadian mereka.


Sudah beberapa kali aku memikirkan ini, jadi biarkan aku memikirkannya lagi.. ternyata aku memang memerlukan informasi untuk mengungkap siapa Mr.X dan juga rencana terbesarnya.


Untuk sekarang semua masih abu-abu, bahkan aku tidak bisa meminta pertolongan Fisa untuk mencari informasi, itu karena dia yang sekarang pasti membenci diriku.


Bagaimanapun juga, aku harus menenangkan diriku dan kembali ke rencana awal yaitu bersantai di taman sekolah. Aku juga bisa sambil memikirkan beberapa hal untuk kedepannya jika sedang dalam keadaan tenang.


Sekarang aku sudah sampai di taman area kelas satu dan langsung membaringkan diriku pada rerumputan hijau yang terasa menenangkan.


Mr.X, Niko.. Beny.. Lina.. Ling, siapakah Mr.X sebenarnya diantara ke-empat orang ini?


Aku sudah mencurigai dan sangat yakin kalau Mr.X adalah salah satu diantara mereka.


Niko, dia yang paling mencurigakan diantara mereka berempat, tapi aku tidak punya cukup bukti dan bahkan ketika melihat sifatnya yang berubah menjadi semakin percaya diri, aku jadi ragu kalau dia adalah Mr.X. Ditambah lagi motif perbuatannya yang sangat tidak jelas dan tak terarah, itu membuatku semakin meragukannya.


Beny, cukup mencurigakan karena dia yang merencanakan pengeroyokan yang terjadi padaku sebelumnya, dia juga berkata kalau rencana yang dia susun sudah sempurna. Tapi dibalik itu semua aku sangat yakin kalau dia hanyalah bidak Mr.X dan akan dibuang ketika tidak berguna lagi.


Lina, ini seperti tuduhan yang sangat lemah dan tidak berdasar, dari semua kandidat, hanya Lina yang sudah pasti melenceng dari tujuan dan rencana Mr.X. Mengingat dia hanya seorang gadis yang memerlukan perlindungan dan bermain-main dengan ekspresinya, jadi kurasa dia bukan orangnya.


Dan yang terakhir, Ling. Pasangan dari orang yang ku percayai dulu yaitu Niko, aku tidak tahu apa-apa tentangnya, walaupun begitu aku cukup yakin kalau dia memiliki pengaruh yang kuat.


"Loh.. Satomi?!"


"Kalau tidak salah, kau Ollie bukan?"


"Ya.. kukira kau akan melupakan teman sekelas mu sendiri"


"Itu tidak mungkin selama aku mengingat wajah dan caramu berbicara"

__ADS_1


Saat sedang bersantai dan menikmati rerumputan taman yang tenang sambil berpikir, teman sekelas ku Ollie mendadak menegur diriku lalu ikut membaringkan dirinya di sebelahku.


"Apa kau tidak ingin diganggu? Maaf.. kalau begitu aku akan pergi!"


"Tidak juga, aku hanya sedang banyak pikiran sekarang"


"Umm, apa yang kau pikirkan?"


"Entahlah.. rasanya aku mengkhawatirkan semua hal yang kupikirkan"


Ollie yang hendak bangun dari rerumputan langsung kembali berbaring di sampingku setelah mendengarkan perkataan ku. Sepertinya dia cukup tertarik dan ingin mendengarkan apa yang sedang kupikirkan sekarang, jadi kurasa aku akan cerita sedikit hal tentangnya.


"Cerita saja padaku, aku akan menjadi pendengar yang baik!"


"Terima kasih.. tapi sebelum itu, dimana pasanganmu?"


"Maksudmu Danna? Dia sedang berlari santai dengan teman-temannya"


"Begitu ya.."


"Ya, jadi masalah apa yang sedang kau alami?"


Pilihanku hanyalah menceritakan tentang Fisa padanya, itu karena tidak ada gunanya jika aku menceritakan tentang Mr.X, hal ini akan melibatkan lebih banyak orang.


"Aku sudah membuatnya kecewa, marah dan juga sedih.. aku terus merasa bersalah karena hal ini, aku bingung harus berbuat seperti apa.."


"Memangnya apa yang sudah kau lakukan?"


"Itu.. aku mengabaikannya dan mengatakan kalau aku sudah tak peduli lagi dengannya"


"Apa dia melakukan kesalahan?"


"PLAK!!"


Suara tamparan berbunyi dengan keras, Ollie mendadak bangun lalu menampar pipiku lumayan keras. Rasanya hanya sakit sesaat, dan beberapa detik kemudian rasa sakit ini langsung menghilang.


Aku memang pantas menerima tamparan seperti itu, bahkan aku ingin Fisa sendiri yang melakukannya tapi dengan pukulan yang lebih keras.


"Kau sangat bodoh!!! Dia pasti akan merasa sedih karena perbuatan mu itu!! Sekarang minta maaflah padanya!"


Ollie berteriak dengan sangat keras sambil memarahiku dan hal ini membuat beberapa siswa melihat ke arah kami, lagi-lagi aku menjadi pusat perhatian di taman.


Melihat Ollie yang seperti ini, rasanya memang sangat berbeda dari pertama kali pertemuan, saat itu dia terlihat malu-malu, tapi dia yang sekarang tidak segan-segan menamparku karena kesalahan yang ku perbuat.


"Tenangkan dirimu Ollie! Aku memang bersalah dan aku akan segera meminta maaf padanya.."


"Huh.. aku sudah sangat marah karena kau sangat meremehkan perasaan seorang perempuan, kau juga sangat tidak peka terhadapnya!"


"Maafkan aku!"


"Jangan minta maaf ke aku! Minta maaflah ke Fisa dengan benar!"


Aku cukup yakin karena keributan yang diperbuat oleh Ollie membuat Fisa melihatku dari kejauhan, jadi aku mengucapkan kata maaf dengan agak keras sambil berharap kalau dia mendengar perkataan ku ini.


"Ya.. kau ada benarnya juga"


"Satomi.. boleh aku bertanya satu hal?"


"Boleh saja, apa itu?"

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu terhadapnya?"


Perasaanku terhadapnya? Itu adalah pertanyaan dengan jawaban yang masih agak meragukan ketika ku jawab.


"Hmm.. beginilah, saat dia tidak ada dalam pandanganku.. rasanya seperti ada yang kosong, namun setelah melihatnya, aku merasa sangat lega dan ingin terus bersamanya"


"Kau sulit dipahami.. Satomi! Tapi biar ku beritahu satu hal, kau itu mencintainya.. semuanya sudah jelas, tapi aku masih tidak mengerti kenapa kau tega mengabaikan dan membuatnya sedih setelah mengambil ciuman pertamanya"


Ollie mengatakan hal yang sama seperti Elaina, mereka sama-sama mengatakan kalau aku mencintai Fisa. Walaupun mereka berkata seperti itu, aku masih tidak yakin dan memerlukan sedikit waktu untuk memastikan perasaanku ini.


"Kenapa kau tahu kalau itu ciuman pertamanya? Apa kau berteman baik dengan Fisa?"


"Begini Satomi.. bolehkan aku memukulmu sekali lagi? Aku sangat kesal dengan dirimu yang sekarang!"


"..."


Aku memang pantas mendapatkan pukulan yang lebih keras darinya, tapi kurasa lebih baik jika tidak membuat Fisa khawatir lagi. Aku yakin dia yang sekarang sedang mengawasi dan melihat aku dan Ollie yang sedang duduk di atas rerumputan.


"Semuanya salahku.. jadi silahkan saja!"


"Huh.. kau beruntung karena kali ini aku dapat menahan emosiku, kalau begitu aku akan jawab pertanyaan mu.. aku tahu karena dia sering menggumam tentang dirimu setelah kau menciumnya disini!"


"Menggumam?"


"Benar.. menggumam, seperti "Ini pertama kalinya aku berciuman dengan seorang lelaki, aku sangat senang!" Yang jelas dia menggumamkan hal seperti itu!"


"Begitu ya?"


"Kau tenang sekali.. aku jadi meragukan perasaan bersalah mu yang barusan kau ucapkan tadi"


"..."


Sepertinya Fisa merasa sangat senang karena aku telah mengambil ciuman pertamanya, jadi kurasa aku akan mencoba untuk memahaminya dan menjaganya dari kejauhan karena hubungan kami saat ini yang agak buruk.


"Ah gawat.. kenapa hujan turun disaat kita sedang berbicara hal serius!"


Aku merasakan ada air yang turun dan mengenai bagian kulitku, sudah jelas kalau ini adalah hujan atau biasa disebut air yang turun dari langit.


"Ollie, kau harus berteduh sekarang!"


"Tentu saja.. bagaimana denganmu?"


"Biarkan aku menghukum diriku sendiri dengan membasahi diriku sendiri!"


"Bodoh! Kau harus ikut berteduh juga, lagipula berada dibawah pohon saat hujan deras itu berbahaya!"


Sudah lebih dari dua minggu tidak terjadi hujan, dan sekarang adalah saatnya hujan yang sangat deras.


"Ahhh!! Terserah kau saja.. sampai nanti, Satomi!"


"Ya.. sampai nanti!"


Hujan yang baru terjadi beberapa detik ini sudah terasa sangat deras dan bahkan membuat Ollie menyerah untuk memaksaku berteduh, dia pada akhirnya memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Sama seperti Ollie, kebanyakan siswa yang berada di taman langsung berlari mencari tempat berteduh.


Namun itu berbeda denganku, aku sedang menikmati hujan deras yang terjadi dan menghukum diriku sendiri dengan cara membiarkan air yang turun dari langit ini membasahi tubuhku.


Hujan ini juga dapat menenangkan diriku sendiri yang sedang banyak pikiran, itu karena suara rintikan hujan yang keras terdengar berbeda dengan suara keras pada umumnya. Perbedaan yang jelas diantara mereka berdua adalah suara rintik hujan yang lebih teratur dibandingkan dengan suara keras lainnya.

__ADS_1


Aku sendiri cukup yakin dengan daya tahan tubuhku, jadi kurasa aku akan baik-baik saja jika menghukum diriku selama kurang dari sepuluh menit.


__ADS_2