
Sebelum aku keluar kamar dan hendak pergi ke taman menyusul Fisa, sebenarnya aku mendapati pesan misterius yang tidak aku ketahui siapa pengirimnya, pesan itu berisi hal yang membuatku jadi cukup kesal.
Satomi Adney, si bocah pembenci kopi. Jika kau terus mendekati sang putri, maka kau akan menerima akibatnya.
Dari pesannya saja aku sudah tahu kalau putri yang dimaksud adalah Fisa, tapi untuk sekarang aku masih tidak mengetahui siapa orang yang mengirim pesan ini. Hanya ada tulisan "Unknown" di bagian nama pengirim pesan ini. Seharusnya nama panjang semua siswa akan tertera disana, tapi ini sama sekali tidak ada.
Bahkan walaupun aku tidak menyimpan kontak mereka, seharusnya nama para siswa tetap ada ketika mengirimi pesannya. Karena semua ini adalah sistem yang sudah terpasang di ponsel ini.
Aku harus memikirkan hal ini nanti, mungkin jika membahasnya dengan Fisa akan menjadi lebih baik. Walaupun aku merasa dia akan kembali merasa takut dan khawatir, tapi semuanya kulakukan demi kebaikannya sendiri.
Sesampainya di taman, aku melihat Fisa yang duduk di bangku taman bagian tengah sambil mengayunkan kedua kakinya. Lalu setelah itu aku menegurnya dan duduk disebelahnya.
Baru terhitung beberapa detik, ekspresi Fisa langsung berubah menjadi sedih, aku belum pernah melihat ekspresinya yang seperti ini, jadi aku kembali merasa bersalah karenanya.
"Ja..hat.. seka..li kau menginggalkan..ku!"
Fisa mengatakan itu sambil menangis dan dia juga berbicara dengan terbata-bata.
Disaat aku sedang mencoba untuk menenangkannya, ekspresi sedih yang baru saja kulihat berubah menjadi ekspresi marah, ternyata dia hanya menghawatirkan luka yang kualami.
Mungkin sekarang saat yang tepat untuk membuatnya terkejut. Aku hanya ingin membalas perbuatannya yang selalu diluar perkiraan, jadi aku akan menciumnya secara tiba-tiba dan tindakan ini sudah pasti diluar perkiraannya.
Ini adalah ciuman pertamaku, kurasa tidak ada salahnya jika aku mencium orang yang sudah menyelamatkan kehidupan sekolahku.
Namun jika Fisa menjadi tambah marah dan merasa jijik, maka aku hanya akan bisa meminta maaf sebanyak mungkin seperti yang aku pikirkan sebelumnya.
Lalu dengan cepat aku memegang bagian belakang kepalanya dan mendekatkan bibirku kepadanya. Tapi tidak kusangka dia menerimanya, tidak ada reaksi penolakan, inilah yang membuatku sedikit terkejut.
Kebanyakan gadis pasti akan sangat marah jika aku melakukan tindakan berani ini, aku sangat yakin akan hal ini. Namun Fisa sangat berbeda dari kebanyakan, dia bahkan terlihat menerimanya dengan senang hati.
Lagi-lagi aku dibuat terkejut olehnya, walaupun itu bukan karena tindakannya, tapi tetap saja aku terkejut dengan sikapnya.
Ditengah aku sedang melakukan aksi berani, Niko mendadak datang dan menegur kami berdua, dia hanya mengatakan sesuatu yang tidak bermutu lalu pergi setelahnya.
Kini Fisa kembali menjadi khawatir karena melihat luka yang kualami, dia juga selalu bersikeras untuk mengobati lukaku.
Bahkan dia mengajakku ke kamarnya karena ruang kesehatan sedang dikunci. Aku tidak keberatan dengan usulannya, tapi jika rumor aneh menyebar karena hal ini, semuanya akan jauh lebih merepotkan.
Pada akhirnya aku tidak bisa melawan sikap keras kepalanya dan berakhir mengikuti perkatan Fisa. Jadi sekarang aku akan ke kamar seorang gadis, ini juga akan menjadi yang pertama kalinya bagiku melihat kamar perempuan.
Walaupun ini adalah sekolah asrama, tapi tetap saja kamar laki-laki dan kamar perempuan itu berbeda, salah satu perbedaan yang mencolok adalah suasananya.
Alasan kenapa Fisa mengajakku untuk kekamarnya tidak lain karena lokasi ruang kesehatan dengan asrama perempuan lumayan dekat.
Jadi sekarang aku hanya bisa mengikuti perkataannya dan terus berjalan mengikuti Fisa sampai ke tujuan.
Diperjalanan kami tidak berbicara apapun, menurutku ini bukan karena suasana canggung, tapi kami berdua menyimpan topik pembicaraan itu dan akan membicarakannya saat sudah sampai nanti.
Kali ini ponselku bergetar lagi, aku sudah mengubah notifikasi apapun menjadi getaran saja, karena akan sangat menganganggu jika notif itu berupa suara.
Fisa mungkin tidak menyadarinya, karena getaran yang dihasilkan sangat kecil dan hanya aku dengan pendengaran yang bagus bisa mendengarnya.
Lalu aku menarik ponsel dari kantong celanaku dan membukanya.
Lebih baik menyerah saja! Karena sang putri akan dijodohkan oleh orang tuanya ketika lulus nanti!
Kau juga sudah berani melawan aku, jadi kurasa tidak masalah jika aku menganggapmu musuh!
Lagi-lagi aku mendapati pesan misterius dari seseorang yang tidak kukenal, untuk pengirimnya masih sama dengan tulisan "Unknown".
Sepertinya ini akan menjadi masalah yang cukup serius, kuharap orang ini bisa memberikan perlawanan yang menarik.
"Satomi? Ada apa?"
Aku terlalu lama memegang ponsel dan tanpa sadar langkahku terhenti, ini juga membuat jarak aku dengan Fisa menjadi agak jauh.
__ADS_1
"Ah.. tidak ada masalah apapun, aku hanya melihat waktu di ponsel ini"
"Cepatlah! Sebentar lagi sampai!"
"Ya.."
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami berdua sampai di kamar Fisa. Ternyata dia sendiri berada di lantai terbawah, jadi letaknya hampir sama denganku, kami berdua juga tidak membutuhkan lift sama sekali untuk sampai ke kamar.
Sepertinya tidak ada orang sama sekali disini, semuanya terasa sepi, tapi kurasa ini bagus karena tidak ada yang melihatnya lalu curiga dengan kami.
Lalu Fisa mengambil kunci dari kantong celana dan membuka pintu kamarnya sendiri.
"Klik!"
Kunci berputar dan pintu kamarpun terbuka.
"Langsung masuk saja!"
"Ya.."
Dia mempersilahkanku untuk masuk kedalam. Aku menunggu Fisa masuk terlebih dahulu dan disusul olehku setelahnya.
"Permisi.."
Dengan segera Fisa langsung menutup pintunya, dari yang kulihat dia masih takut karena jika orang lain mengetahuinya, maka itu akan menjadi masalah.
"Duduklah dimana pun kau mau!"
"Ya.."
Jadi seperti ini penampakan kamar seorang gadis, baunya sangat manis dan harum, dan tentu saja semua barang tertata dengan rapi.
Aku sendiri memilih untuk duduk di dekat kasur karena tempat yang bisa kunikmati untuk bersantai hanya disini.
"Umm.. tolong air putih saja!"
Dia menawarkan kopi padaku dan sudah pasti aku akan menolaknya, tapi sebagai gantinya aku meminta air putih biasa pada Fisa.
"Kau aneh sekali ya, baik.. akan kuambilkan sekaligus dengan kotak pertolongan pertama! Tolong jangan banyak bergerak!"
"Ya.."
Dari dulu aku memang seperti ini, jadi tidak ada yang salah jika dia menyebutku aneh. Aku belum pernah meminum minuman yang berbahan kafein selama hidupku, kurasa aku sudah hidup selama 16 tahun.
Tidak perlu menunggu lama, akhirnya Fisa datang dengan air putih dan kotak pertolongan pertama yang sudah dibawanya.
"Sekarang.. lepaskan pakaianmu!"
"Tunggu, kenapa tiba-tiba? Aku hanya mengalami luka luar saja.. lagipula aku hanya mengenakan celana pendek sebagai dalaman"
Sebenarnya tidak ada masalah jika aku membuka semua pakaianku dan hanya mengenakan celana pendek, tapi aku masih khawatir tentang luka yang kualami dan reaksi apa yang diberikan Fisa saat dia mengetahuinya.
"Aku memang malu melihatmu yang seperti itu, tapi aku tahu kau terluka parah dan sedang menyembunyikannya.. jadi aku harus memaksamu melakukannya!"
"Begitu ya.."
"Jangan hanya jawab begitu ya! Lepas pakaianmu sekarang!"
Sepertinya aku juga tidak memiliki pilihan lain, karena jika aku selalu melarikan diri maka jalan keluar tidak akan pernah kutemukan.
Aku lalu melepas seragamku dan disusul dengan celana yang kukenakan, kini aku hanya bertelanjang dada sambil mengenakan celana pendek. Disini luka yang ada di perutku dapat dilihat dengan jelas olehnya, kuharap dia tidak memberikan reaksi aneh.
Aku meletakkan seragam dan celanaku diatas kasurnya karena tidak ada tempat untuk menggantung baju di dekat sini, aku juga sudah terlalu malas untuk berdiri.
"Satomi.. apa yang sebenarnya terjadi? Aku masih tidak tahu apapun tentangmu, tapi luka yang kau alami ini pasti menyakitkan bukan?"
__ADS_1
Aku cukup lega karena Fisa hanya khawatir sambil melihat luka yang kualami. Tapi setelah menanyakan itu tangan kanannya mendekat ke perutku, sepertinya dia berniat menyentuhnya, aku sendiri tidak keberatan dan membiarkannya menyentuh ini.
"Entahlah.. aku bahkan tidak mengingat kenapa bisa ada luka di perutku ini, dan juga masa laluku sangat abu-abu.. jika aku berusaha mengingatnya, maka kepalaku menjadi sangat sakit"
"Jangan paksakan dirimu! Sekarang tahanlah sebentar.. mungkin ini akan terasa sakit!"
Fisa lalu membuka kotak perawatan yang dibawanya dan mengambil beberapa peralatan seperti perban, tisu, kapas, dan juga alkohol. Setelah itu dia merawat luka yang kualami dengan penuh perhatian.
"Fisa, apa kau pernah merawat orang sebelumnya?"
"Eh.. ya, aku pernah merawat kakakku yang sedang terluka.. tapi itu hanya luka ringan, ini berbeda denganmu yang mengalami luka berat!"
"Aku baik-baik saja.. kau hanya terlalu khawatir"
"Apanya yang baik dengan luka seperti ini!? Astaga.. kau memang harus memperhatikan kondisimu sendiri, kalau tidak maka kau bisa saja mati!"
"Baik.. maafkan aku!"
Dia sangat khawatir padaku, ini membuat perasaan bersalahku padanya semakin menjadi-jadi.
"Begini Fisa.. aku tadi dihadang oleh puluhan orang dan aku terpaksa harus berdiam diri tanpa melawan mereka"
"Kenapa diam saja? Kalau begitu aku akan melaporkan kejadian ini ke pihak sekolah, kita juga punya cukup bukti!"
"Menurutku itu ide yang buruk, sekarang bisa kau tolong ambilkan ponsel di dalam celanaku?"
Aku menolak usulan Fisa yang ingin melaporkan kejadian ini dan aku juga meminta Fisa untuk mengambil ponselku setelahnya dengan tujuan untuk mengalihkan topik.
"Ya.. baiklah, nih!"
Dia lalu menyerahkan sebuah ponsel padaku.
"Lihat ini dan baca pesan ini sampai habis!"
Aku menerima ponselku sendiri dan setelahnya aku membuka pesan misterius lalu menunjukkannya pada Fisa, aku juga menyuruh Fisa untuk membaca pesan itu.
"Siapa pengirimnya?"
"Tidak diketahui, ini tidak pernah terjadi sebelumnya kan?"
"Benar juga.. jadi karena itulah kau mengatakan kalau melaporkan kejadian ini adalah ide yang buruk"
Kemampuan berpikirnya ternyata memang sangat baik melebihi dari apa yang kuperkirakan, dia dengan cepat memahami perkataanku sebelumnya.
"Begitulah.. sangat beresiko jika kita melaporkannya"
"Jadi orang dalam sekolah memang benar-benar ada"
"Apa maksudmu?"
Dia mengatakan sesuatu yang tidak kupahami, mungkin sesuatu telah terjadi ketika aku tidak bersamanya.
"Orang yang kita temui di gedung olahraga.. orang itu sama sekali tidak atletis, dan kurasa semuanya berhubungan dengan Beny"
"Dia menggunakan kekuasaan untuk melakukannya.. kurasa dia memang seperti anak emas sekolah ini"
"Ya.. bisa dibilang seperti itu"
"Aww.. kau menekan lukanya terlalu dalam!"
"Eh.. maafkan aku! Aku tidak sengaja!"
Disaat sedang membicarakan hal yang cukup serius, Fisa menekan lukaku sangat dalam dan itu membuatku cukup kesakitan, penyebabnya karena dia melakukannya bersama dengan kapas berisi cairan alkohol di dalamnya.
Topik pembicaraan terhenti sementara, situasi canggung terjadi diantara kami. Kurasa ini salahku, jika aku bisa menahannya sedikit maka ini semua tidak akan terjadi.
__ADS_1