
Kebencian itu datang kapan saja, bahkan orang yang pernah berteman baik pun bisa menjadi saling membenci setelah ada sesuatu yang terjadi.
Aku tahu itu akan terjadi dan sekarang aku hanya bisa menghadapinya.
Aku dibenci oleh Smith dan juga Fisa. Tidak, mungkin banyak orang sudah membenciku sekarang.
"Kau adalah seorang pembohong kelas kakap! Aku membencimu karena menutupi semuanya, aku juga tidak perlu melihat bagaimana caramu senyum karena aku membencimu!"
Kira-kira seperti itulah kata-kata yang dilontarkan oleh Fisa ketika aku berbicara dengannya.
Dia bahkan menarik kesepakatan sebelumnya yaitu saat dia mengulur waktu dengan baik maka aku akan berusaha untuk tersenyum, tapi sekarang aku tidak perlu melakukannya lagi karena kesepakatan itu sudah tidak ada.
Rasanya aku dijauhi oleh banyak orang di sekolah ini setelah kejadian Mr.X. Walaupun begitu, kurasa hal itu bukan masalah karena dari awal aku hanya ingin menyingkirkannya.
Dan sekarang aku sudah tidak memiliki tujuan lagi selain lulus dari sekolah khusus olahraga ini.
"Dia anaknya Leonhart? Si artis korup itu?"
"Ya, namanya Satomi Adney. Dia pasti masuk sekolah ini melalui jalur sogokan, apalagi dia juga hanya bisa masuk ke kelas E."
"Kuharap dia segera dikeluarkan!"
"Aku juga berpikir seperti itu, orang seperti dirinya tidak layak berada disini."
Kira-kira seperti itulah. Aku yang hanya sedang berbaring di rerumputan taman mendapat banyak perhatian dan tentu saja mereka sedang membicarakan ku.
Tidak masalah, aku masih bisa menangani mereka hanya dengan diam. Tapi jika mereka berani menggangguku lebih jauh, maka aku pasti akan memberi mereka sedikit pelajaran.
"Satomi."
Suara seorang gadis memanggil ku.
Aku pun menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah Lina yang mendekatiku bersama dengan Charles.
Aku tidak merespon ucapannya dan mengembalikan pandangan mataku ke atas.
"Satomi!! Jangan pura-pura tuli!"
Charles dengan nada yang agak tinggi membentak diriku, mungkin dia kesal karena aku mengabaikan Lina.
"Ada apa?"
Secara terpaksa aku harus merespon sedikit ucapannya.
"Kenapa kau tidak keluar saja!? Dari semua sampah di kelas E, kau adalah yang paling buruk. Aku yakin kau pasti masuk secara curang di sekolah ini."
Kali ini Lina juga ikut membentak diriku sambil memberikan beberapa kata yang jelas bukan sebuah pujian.
"Kau bisa memakannya! Bukankah sampah kertas ini mirip denganmu?"
__ADS_1
Sebuah sampah kertas melayang ke kepalaku, sudah pasti pelakunya adalah Charles.
Sebenarnya aku bisa menghindarinya, tapi aku terlalu malas untuk bergerak hingga akhirnya aku terpaksa menerimanya begitu saja.
"Makanlah sampai kau sadar akan dirimu sendiri!"
Setelah puas dengan perbuatannya, mereka berdua akhirnya pergi.
Karena penasaran, aku membuka kertas yang dilemparkan oleh Charles tadi.
Kupikir di kertas ini akan ada sebuah tulisan yang bermaksud untuk menghinaku, tapi ternyata kertasnya tidak berisi apapun, singkatnya ini hanya kertas putih kosong tanpa coretan apapun.
Sudah berapa lama aku berbaring disini? Dan juga, kenapa mereka semua betah untuk memperhatikanku selama mungkin?
Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku pun tidak tahu.
Untuk rencana jangka panjang, aku hanya berencana untuk lulus dari sekolah ini agar ayahku bisa merasa bangga.
Menghindari dropout itu masih terlalu mudah, tapi jika ada orang seperti Mr.X yang lain maka aku mungkin akan sedikit kesulitan menghadapinya.
Jadi seperti ini rasanya hidup dengan penuh kesendirian. Mulai sekarang, aku akan menghadapi apapun lagi tanpa ada seseorang yang menemaniku.
Terdengar menyedihkan, walaupun sebenarnya aku tidak peduli.
Jika ada 100 orang secara bersamaan yang berniat untuk melawanku, maka aku masih bisa melawan mereka tanpa harus serius.
Alasannya sederhana, itu karena mereka terlalu meremehkan ku yang hanya berjumlah satu orang. Tentu saja ini menguntungkan.
Mungkin sudah saatnya untuk ku kembali ke asrama dan beristirahat dengan tenang.
Aku bangkit dari rerumputan taman dan mengabaikan mereka yang terus memperhatikanku, lalu berjalan dengan santai menuju asrama.
Ah, kupikir hari ini akan berakhir. Tapi sayangnya aku harus menghadapi satu masalah lagi.
Harlow Elaina. Setelah aku menarik paksa tangannya untuk keluar dari kantor guru, kini dia kembali terlibat dengan Smith.
Aku dapat melihat kalau Elaina sedang merasa ketakutan, ditambah lagi rambut pirangnya itu sangat berantakan untuk dilihat.
"Kenapa kau menyebarkan rumor seperti itu? Satomi sudah jujur padamu dan banyak membantumu. Inikah balasanmu padanya sekarang?!"
Walaupun sedang merasa ketakutan, Elaina masih bisa melawan dan mengeluarkan beberapa kata-kata.
"Tidak peduli dia rekan atau musuh, yang pasti aku akan membalas dendam atas semua yang sudah kualami. Aku akan membalas dendam sampai ke akar-akarnya. Apakah ada yang salah dengan itu? Jika kau ingin menjadi target balas dendam ku, maka dekati lah Satomi!"
"Gu-guru macam apa yang melakukan balas dendam seperti anak kecil?! Kau tidak tahu apapun jadi jangan anggap seolah-olah hanya kau yang menjadi korban! Pikirkan perasaan Satomi juga, dia sudah berusaha payah menyusun rencana untuk menangkap ibunya sendiri!"
Sepertinya Elaina mengeluarkan semua kata-kata yang dipendam olehnya untuk melindungiku.
"Padahal hanya kelas C, tapi kau besar kepala juga. Kupikir aku harus memberimu sedikit pelajaran!!"
__ADS_1
"Aa..!!"
Dengan nada bicara yang agak tinggi, Smith mulai melayangkan tangannya dan tidak ada perkiraan lain selain akan memukul Elaina.
Sedangkan Elaina, dia hanya bisa menutup matanya dan menunjukkan ketakutannya. Aku yakin dia sudah mencapai batasnya.
Kupikir sudah cukup untuk mengamati mereka, sekarang saatnya untuk melindunginya karena hanya dia lah orang pertama yang membela diriku setelah kasus Mr.X usai.
Aku yang sedari tadi bersembunyi dibalik mesin minuman langsung bergegas menahan tangan Smith yang hendak mencelakai Elaina.
"Huh?!"
Smith terkejut karena tangannya tertahan secara tiba-tiba dan juga kecepatan ku mungkin juga tidak bisa dilihatnya.
"Satomi?!!"
Begitu juga dengan Elaina, dia terkejut karena aku yang tiba-tiba berada di depannya dan melindunginya.
"Kenapa kau bisa ada disini?! Satomi Adney!"
"Tidak ada, aku hanya kebetulan lewat disini saja."
"Pembohong sepertimu! Harus dibasmi!"
Karena putus asa tangan kanannya yang tidak bisa dilepas karena ditahan olehku, Smith berusaha menyerangku dengan tangan kirinya.
Serangan tangan kirinya sangat lambat hingga aku hanya perlu sedikit menggeser kepalaku agar terhindar dari serangannya.
"Apa?! Bagaimana bisa?"
"Satomi?! Kau baik-baik saja?"
Sepertinya Elaina masih merasa ketakutan dan kini tubuhnya hanya terdiam setelah melihat pertarunganku dengan Smith.
"Apa boleh buat, mungkin sampai sini saja."
"Ehh?!!"
Aku melepaskan tangan kanan Smith dan sedikit mendorongnya agar posisi Smith sedikit menjauh dari ku. Lalu aku beralih menggendong Elaina seperti seorang pangeran yang sedang menggendong seorang tuan putri.
"Eh, Satomi?! Kenapa tiba-tiba melakukan ini?"
Tentu saja Elaina terkejut, tapi itu kulakukan agar dia merasa tenang dan juga aku merasa kemungkinan kalau Smith mengincar Elaina sangat tinggi, jadi posisi seperti ini sangat mudah untuk ku bertarung dengannya. Itupun kalau Smith masih mau melanjutkannya.
"Sial! Bagaimana bisa kau bergerak secepat itu?!"
"Entahlah. Sekarang, apa kau masih ingin melanjutkannya?"
"Kita sudahi disini, tapi lihat saja! Aku pasti akan membalas dendam secara penuh padamu nanti. Akan kubuat kau menyesal karena sudah menentangku!"
__ADS_1
"Begitu ya? Selamat berjuang!"
Karena masalah sudah selesai, aku pergi meninggalkan Smith dengan kondisi Elaina yang masih berada di pelukanku.