Uniregular Sport School

Uniregular Sport School
Chapter 24: Seragam Baru


__ADS_3

POV (Fisa Campbell)


Mr.X, dia orang yang menyebalkan. Dia telah membuat orang yang kucintai menjadi terluka, memang tak dapat dimaafkan.


Tapi aku tidak bisa berbuat banyak, karena seperti kata Satomi dia bergerak dari belakang untuk menutupi identitasnya, dia juga mengendalikan beberapa orang dan menggunakannya sebagai bidak.


"Aku akan memilih seragam taekwondo, bagaimana denganmu?"


Karena suasana menjadi hening, aku memulai topik obrolan lagi.


"Jadi kau sudah menentukannya.. kalau begitu aku juga akan memilih taekwondo"


"Ayo kita pilih seragam itu lalu pergi ke ruang guru, aku yakin kau merasa bosan dengan suasana ruangan ini"


"Aku sudah memilihnya, sekarang giliran mu!"


"Ya!"


Lalu aku mengambil ponsel dan memilih seragam taekwondo setelah Satomi menyuruhku.


Sekarang kami berdua tinggal pergi ke kantor guru untuk mengambil seragamnya, Satomi juga terlihat sedang memakai seragamnya yang kotor dan bersiap pergi.


Mungkin para guru akan menatapnya dengan curiga karena penampilannya yang seperti itu, tapi dia adalah orang yang pandai berbohong, jadi kurasa tidak ada masalah dengan ini.


"Ayo pergi!"


Satomi merasa bosan disini, itu adalah fakta yang tidak dapat disangkalnya, aku juga sudah mengetahuinya dengan jelas.


Aku membuka kunci kamarku dan membuka pintunya, kini kami berdua akan pergi ke kantor guru untuk mengambil seragam beladiri.


Diperjalanan aku sangat khawatir karena aku malah melibatkannya dalam masalah ini. Sebenarnya aku menyimpan satu rahasia padanya, rahasia yang jika dia tahu maka sudah pasti dia akan menjauhi bahkan membenciku.


Aku hanya takut akan hal ini dan terus menyembunyikannya, tapi kurasa dia juga menyembunyikan sesuatu dariku, jadi seharusnya sekarang kita impas.


Satomi, kau selalu saja berbohong.. aku hanya ingin kau selalu jujur dan bisa terbuka padaku, kau juga belum mempercayaiku sepenuhnya. Tapi walaupun begitu, aku tetap mencintaimu!


Setidaknya itulah yang ingin ku sampaikan pada orang yang kucintai.


Semuanya menjadi sangat kacau sekarang, seperti kata pepatah yang mengatakan "Maju kena, Mundur pun juga kena!".


Hal ini benar-benar kualami sekarang, aku ingin kabur dari masalah ini dengan cara di dropout, tapi aku masih mengingat kedua orang tuaku dan kurasa ini bukan cara yang baik.


Aku tidak bisa berpikir lagi sekarang, jalan keluar yang bisa kulihat adalah dengan memanfaatkan Satomi. Tapi aku tidak boleh melakukannya karena dia juga pasti memiliki batasan dan kelemahan, aku tidak ingin dia menjadi semakin terpuruk.


Dia yang sekarang tetap berjalan dengan gagah di depanku walaupun tubuhnya banyak dengan perban, saat melihatnya dari belakang seperti ini, rasanya jantungku berdebar dengan sangat cepat, suhu tubuhku juga naik.


Dari semua hal yang terjadi padaku, aku dapat menyimpulkan kalau aku memang benar-benar mencintainya, semuanya sudah sangat jelas sekarang.


Aku masih dapat menahan perasaan ini untuk sekarang, tapi pasti ada saatnya ketika aku sudah tidak dapat menahannya lagi. Hal itu akan menjadi masalah karena aku akan bertindak sangat agresif jika sudah seperti itu, kuharap Satomi tidak keberatan dengan tindakanku nanti.


Tapi apakah aku layak untuk memilikinya? Aku juga tidak tahu, aku hanya bisa menebak jawabannya akan menjadi 50 berbanding 50.


Aku sudah berbohong satu hal padanya, sebenarnya aku berbohong kalau aku tidak bisa berbelanja dan menyerahkan semua urusan poin pada Satomi.


Untuk orang yang memahami psikologi, meyakinkan orang akan menjadi sangat mudah ketika kita berbicara menatap matanya sambil tersenyum, bisa secara tipis maupun secara lebar. Tapi para ahli menyarankan untuk tersenyum secara tipis karena itu dapat membuat lawan bicara akan langsung menerima perkataan kita.

__ADS_1


Saat sistem poin keluar, aku ingin memakai semua poin itu untuk kebutuhanku sendiri tanpa memperdulikannya. Aku memang mencintainya, tapi jika urusan uang maka aku akan langsung tergiur degan cepat.


Antara cinta atau uang, aku harus bisa memilih salah satu diantara keduanya. Untuk mencapai tujuan, terkadang kita memang harus melakukan pengorbanan, itulah kata yang sering aku dengar dari beberapa orang.


Aku tidak bisa jujur padanya sekarang, karena dia juga masih belum mempercayaiku sepenuhnya. Mungkin untuk sekarang aku hanya perlu mendapatkan kepercayaannya dengan cara apapun.


Jika Satomi sudah mempercayaiku, memilih kedua hal itu akan menjadi hal yang mudah.


"Satomi.. apakah ada kemungkinan jika Mr.X akan bergerak sekarang?"


Aku lalu bertanya pada Satomi untuk mencairkan suasana.


"Kemungkinan di setiap kejadian itu tak terbatas, jadi kurasa bisa saja dia bergerak sekarang"


"Kenapa kita tidak menjalankan rencananya sekarang saja?"


"Firasat ku mengatakan kalau dia akan bergerak di hari kelima, untuk sekarang dia masih mengawasi dan melihat-lihat situasi"


"Huh.. kau terlihat sangat meremehkan hal ini dan mungkin, kau merasa senang karena kejadian ini bukan?"


Aku dapat melihat dengan jelas kalau Satomi sedang dalam suasana hati yang sangat baik, aku masih tidak tahu penyebabnya, tapi dia yang sekarang terlihat sangat senang.


"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.. tapi aku hanya senang karena kau mau bersusah payah dalam merawat ku"


"Eh..!?"


Secara mendadak aku tersipu malu karena perkataannya, dan ini juga membuatku kembali mengingat kejadian di taman tadi. Dia mencium ku secara mendadak dan tentu saja aku tidak akan melupakan kejadian ini.


"Maaf Fisa.. atas tindakanku di taman tadi, jika kau merasa terganggu.. kau boleh menjauhiku"


"Tidak akan ku maafkan!"


"Begitu ya.."


Aku menjahilinya sedikit dan semakin membuatnya murung, aku memang kejam.


"Ya.. tapi aku bisa memaafkan mu dengan satu hal"


"Satu hal?"


"Benar.. satu hal!"


"Apa itu?"


Kini kami berdua telah sampai di depan halaman kantor guru dan bersiap mengambil seragam, hanya tinggal beberapa langkah lagi sebelum memasukinya.


"Lakukan dengan benar lain kali, dasar bodoh!"


Selesai mengatakan itu, aku langsung berjalan lebih cepat dan masuk ke dalam kantor guru meninggalkan Satomi.


"Apa maksudnya?!"


Aku mendengar Satomi berbicara, tapi jaraknya sudah terlalu jauh jadi aku tidak bisa mendengarnya.


Di dalam ruangan aku mencari wali kelasku, yaitu Smith.

__ADS_1


"Yo.. Tuan putri, kita bertemu lagi disini ya!"


"Berisik.. jangan panggil aku seperti itu!"


"Fisa Campbell.. apa kau yang sekarang sudah merasa bahagia?"


Saat sedang mencari, seseorang menegurku, saat kulihat ternyata dia adalah Beny, dia juga menanyakan hal yang membuatku kesal.


"Kau tidak perlu tahu!"


"Pemarah sekali kau.. tapi kebahagiaanmu itu akan hancur dalam beberapa hari!"


"..."


Dia kembali mengatakan hal yang sama saat di kelas.


"Lucu sekali Beny.. kau bahkan membuat orang yang ingin ku lindungi menjadi ketakutan!"


Satomi mendadak bicara dan mendekat pada kami berdua sambil menyela perkataan Beny. Aku kembali malu ketika dia mengatakannya, dia berkata ingin melindungi ku, tapi aku sangat senang akan hal ini.


"Yo.. Satomi Adney, lihatlah dirimu yang sekarang.. ternyata kau tidak sehebat yang aku kira, kau bahkan babak belur hanya dengan melawan puluhan keroco!"


"..."


"Apanya yang melindungi, kau terlalu lemah untuk melindunginya.. jadi biarkan aku yang menggantikan peranmu!"


"Apa kau tahu kapan saatnya diam? Ini di dalam kantor guru, dan semua perkataanmu akan terdengar oleh mereka"


Satomi menanggapi ejekan Beny dengan santai dan sedikit mengancamnya, walaupun itu tidak akan berpengaruh.


"Dengar, Satomi! Rencana yang ku susun sudah sangat sempurna, aku juga sudah bersiap untuk beberapa hal. Hanya tinggal menunggu kalian berdua untuk dihancurkan dan menjadi sampah masyarakat.. hahaha!"


Beny tertawa dengan sangat keras dan tentu saja ini mengganggu para guru yang ada disini, lalu setelahnya Smith datang dan memukul bagian atas kepala Beny.


"Bukk!!"


"Aduh.. sial!"


Dia pantas mendapatkannya.


"Jangan berisik di dalam ruangan!"


"..."


Beny hanya diam saja setelah diperingatkan oleh Smith.


Smith mendatangi kami bertiga dengan dua seragam taekwondo ditangannya, sepertinya itu untuk kami berdua.


"Ini.. kalian berdua boleh keluar sekarang! Tapi Beny.. tetaplah disini! Jangan kira kau bisa berbuat seenaknya karena akan di dropout!"


Lalu dia menyerahkan kedua seragam itu pada aku dan Satomi, lalu kami menerimanya dengan tangan kanan.


"Ya.. terima kasih!"


Satomi berterimakasih pada Smith, lalu kami keluar ruangan setelahnya sambil membawa seragam beladiri taekwondo.

__ADS_1


Aku sangat takut sekarang, tapi jika bersama Satomi aku yakin kalau semuanya akan baik-baik saja. Sudah beberapa kali aku menenangkan diriku sendiri dengan cara seperti ini.


__ADS_2