Uniregular Sport School

Uniregular Sport School
Chapter 26: Salah Paham


__ADS_3

Pada akhirnya aku hanya berkeliling sekolah dengan penuh perasaan bersalah, meninggalkan orang yang mungkin akan ku anggap sangat berharga. Aku juga tidak menyadari kalau aku hanya berjalan-jalan di tempat yang sama dan terus berputar.


Perasaan bersalah ya, benar juga.. baru kali ini aku merasakan penyesalan yang begitu dalam setelah sekian lama, perasaan ini muncul kembali ketika memikirkan Fisa.


Terakhir kali aku mengalaminya, itu pada saat aku tidak menghentikan ayahku yang sedang begadang dan terus meminum kopi untuk bertahan, aku benar-benar menyesal karena mengira dia akan baik-baik saja.


Saat pagi hari ketika aku terbangun, banyak orang yang berkumpul di sekitar halaman rumahku, ternyata mereka sedang melihat kematian ayahku dan penasaran karena hal ini. Pada saat itulah penyesalan terus menghantuiku, kalau saja aku menghentikannya pasti tidak akan seperti ini.


Tapi kembali lagi, semuanya sudah terjadi dan aku hanya dapat mengikhlaskan kepergian orang yang ku sayangi. Sifat ku juga masih sangat naif hingga sekarang, aku terus menyalahkan minuman yang berbahan kafein ini karena telah membuat ayahku terjaga lalu mengalami serangan jantung.


Saat memikirkan kopi, aku jadi teringat pesan misterius yang terkirim padaku. Sepertinya orang ini mengetahui kalau aku membenci kopi, tapi darimana dia mendapatkan informasi ini, itulah yang membuatku sedikit bingung.


Aku hanya memberitahukan pada satu orang kalau aku membenci kopi, dia adalah Niko. Teman SMP yang aku percayai dulu, aku juga cerita banyak hal tentang diriku padanya.


Niko adalah Mr.X? Aku tidak terlalu yakin karena dia adalah orang yang suka bersaing secara sehat. Ketika aku mengingat perkataan Niko sebelumnya, dia memang mengatakan kalau dia iri padaku, tapi kurasa dia tidak akan bisa merencanakan sesuatu sejauh ini.


Jika Niko adalah Mr.X, seharusnya aku sudah merasakan keberadaannya saat dia mengawasi ku dari kejauhan, alasannya sederhana saja, itu karena aku mengenalnya. Jika kau mengenal seseorang, maka saat ada banyak kerumunan pun kau tetap bisa menemukannya.


Otak kita sudah menganggap karakteristik orang itu terasa familiar, jadi seharusnya aku memang sudah mengetahuinya. Setelah melihat dan mengamati beberapa kejadian yang kualami, aku dapat menyimpulkan kalau ada empat orang kandidat yang ku curigai sebagai Mr.X, yaitu Beny, Lina, Niko, dan juga Ling.


Rencana besar yang akan dilakukannya masih tidak diketahui untuk sekarang, banyak hal yang masih abu-abu. Aku memerlukan beberapa informasi untuk mengetahuinya karena pada saat di taman tadi aku mengabaikan para siswa yang mengobrol dan memilih untuk membuat Fisa sedih.


Lupakan hal ini sementara, aku hanya perlu menjawab pertanyaan yang diberikan sekarang.


Kurasa aku juga perlu memberitahu Fisa kalau dia tidak perlu melakukan apa-apa, jadi biar aku sendiri yang menjawab pertanyaan ini. Aku lalu mengambil ponselku dari kantong dan memainkannya sambil berjalan.


Fisa Campbell, biarkan aku yang menangani pertanyaannya. Kau hanya perlu diam dan jangan mengganggu, jika kau melakukannya maka jangan harap untuk bisa menemui ku lagi!


Selesai mengiriminya pesan, aku kembali memasukkan ponselku ke dalam kantong. Aku dengan kejam mengancam Fisa yang sedang merasa sedih, tapi semuanya kulakukan untuk memastikan satu hal, yaitu perasaanku padanya.


Rasanya memang kosong ketika dia tidak ada di hadapanku, ini dapat kurasakan dengan jelas. Tapi aku harus bisa melakukannya dan berusaha untuk tidak melibatkan perasaanku dalam memastikan hal ini.


Mungkin pergi ke perpustakaan sekarang adalah pilihan yang tepat, karena sudah pasti disana banyak buku yang berisi tentang sekolah ini, dan mungkin aku juga dapat mengetahui beberapa informasi mengenai Mr.X ketika membacanya.


Jalan ke perpustakaan sekolah ini hanya berjarak puluhan meter dari tempatku berada sekarang, jadi aku langsung mendatangi tempat itu sambil mengeceknya melalui ponsel yang ku pegang.


Padahal sekolah ini sangat besar dan luas, tapi untuk ukuran perpustakaan, ini masih terlalu kecil. Aku hanya bisa berpikir kalau perpustakaan tidak terlalu berguna disini dan hanya ada sedikit siswa yang suka membaca buku, oleh karena itulah perpustakaan sekolah dibuat menjadi kecil.


Sekarang aku sudah berada di dalam perpustakaan sekolah yang kecil ini, lalu dengan santai aku mencari buku yang berhubungan dengan sekolah. Ternyata memang hanya ada sedikit siswa yang berada disini, aku dapat menghitung jumlahnya sekitar 3-4 orang termasuk aku sendiri.


"Uhh.. hiyat.. uh..!"


Disaat sedang mencari buku, aku melihat seorang gadis yang sedang bersusah payah mendapatkan buku bagian paling atas. Biasanya aku yang dulu pasti akan membiarkannya, tapi sekarang aku berpikiran kalau aku harus menolongnya.


Lalu aku berjalan mendekatinya dan mengambilkan buku yang dia ingin ambil. Saat kulihat ternyata buku ini adalah buku tentang sejarah sekolah ini, yaitu berjudul "Back Story Sport School".


"Nih.. jadi kau juga berniat untuk mencari jawaban disini ya?"


"Ya.. terima kasih banyak, kau sangat menolongku!"


"Tidak masalah.."


Aku lalu menyerahkan buku itu padanya dan dia menerimanya dengan perasaan senang, sekarang aku harus pergi meninggalkannya dan mencari buku lain yang lebih baik.


Tapi disaat aku membelakanginya, aku melihat sebuah buku sedang melayang ke arahku. Jika aku menghindarinya, maka sudah pasti buku ini akan mengenai gadis yang ada dibelakang ku. Tidak memiliki pilihan lain, aku memang harus melindunginya dari buku yang melayang di hadapanku ini.


Bukunya melayang dengan kecepatan tinggi, aku juga tidak akan bisa menangkapnya, jadi yang harus kulakukan adalah membiarkan buku ini mengenai badanku dan menghentikan pergerakannya.


"BUUKKK!!"

__ADS_1


Suara buku mengenai tubuh seseorang, sudah jelas kalau bukunya mengenai tubuhku. Rasanya sedikit sakit karena buku ini mengenai luka yang baru saja kualami kemarin.


Sepertinya seseorang telah sengaja melempar bukunya ke arahku, aku masih tidak tahu alasannya tapi yang pasti, dia sedang mengincar gadis dibelakang ku ini. Tapi sangat disayangkan dia tidak tahu kalau aku berada di dekatnya dan melempar buku ini dengan kencang secara asal-asalan.


Aku memang sedikit menunduk karena rasa sakit ini, tapi kurasa tidak ada cedera yang fatal.


"Ka-kauu.. apa kau baik-baik saja?!"


"Tenang saja.. ini bukanlah masalah bagiku"


"Ta-tapi..-"


Gadis ini menatapku dengan penuh khawatir sambil memegang buku yang mengenai ku tadi, sekarang dia dalam keadaan memegang dua buku.


"Aku baik-baik saja, kalau begitu jaga dirimu!"


Awalnya aku berniat untuk keluar dari ruangan ini setelah menyelamatkannya, itu karena aku merasa lapar dan ingin makan sesuatu, sudah jelas bukan kalau tidak ada penjual makanan di dalam perpustakaan.


Namun disaat aku hendak pergi, baru beberapa langkah gadis ini malah memegang tanganku, tentu saja ini membuatku terkejut.


"Tunggu!"


Dia sedikit mirip dengan Fisa, tapi kalau itu adalah Fisa dia pasti akan langsung memeluk diriku. Huh, mengingat dirinya lagi membuat aku menjadi orang yang penuh rasa bersalah.


"Ada apa?"


"Ma-mau mem.. bacanya bersama? Buku ini ha-hanya.. ada satu disini"


Gadis ini mengajakku untuk membaca buku yang kuambil kan tadi bersama-sama, dia juga mengatakan kalau buku ini hanya ada satu di perpustakaan sekolah.


Cara bicaranya juga tergagap dan terdengar malu-malu, bahkan mukanya juga memerah. Aku tidak tahu penyebabnya tapi kurasa aku akan menyetujui ajakannya dan membaca isi buku itu lalu pergi mencari makanan.


"Ya.. aku senang!"


"Apa yang membuatmu senang?"


Aku mendengarnya menggumam sesuatu yang hampir tidak bisa kudengar, gadis ini mengatakan kalau dia merasa senang. Karena penasaran, aku pun menanyai hal itu dan aku tidak menduga reaksinya yang begitu kaget.


"Eh.. tidak ada! Tidak jadi.. lupakan saja!"


"Hmm.. ya"


Sekarang kami berdua duduk bersampingan di meja yang berada di ujung perpustakaan, aku memang selalu suka duduk di bagian ujung agar tidak terlalu mencolok. Mejanya hanya khusus untuk dua orang, jadi kami memang harus duduk bersampingan.


Lalu gadis ini menaruh buku yang dipegangnya dan membuka halamannya. Dia langsung membuka halaman ke lima, walaupun terlalu cepat untuk melompat ke halaman lima, tapi aku tidak mempermasalahkan hal ini dan tetap membacanya.


Dari sini aku tahu kalau gadis ini tidak terbiasa membaca buku, semuanya dapat kulihat dengan jelas dari caranya memegang dan membuka buku ini.


Suasana canggung menyelimuti kami untuk sesaat, tapi gadis ini memulai topik pembicaraan.


"Kau juga kelas satu kan? Sepertinya kau berada di kelas A"


"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"


"Aku merasa kalau kau itu kuat, bahkan sangat kuat.. hampir melebihi seorang monster, eh.. maaf.. aku bukan bermaksud mengejek mu atau apapun itu! Aku hanya merasa kalau kau itu sangat kuat.. ya.. itu.. tolong maafkan aku!"


Dia malah panik sendiri setelah mengatakan kalau aku melebihi monster, padahal aku sama sekali tidak masalah jika dipanggil seperti itu.


"Tidak masalah.. tenang saja! Tapi asal kau tahu, aku sendiri berada di kelas 1-E.."

__ADS_1


"Hhh... Hah?! 1-E.. monster sepertimu ada di kelas 1-E!? Eh.. maaf.. aku tidak bermaksud apapun! Maafkan aku!"


"Sudah.. tenanglah! Jangan berisik di perpustakaan!"


"Baik.. maafkan aku!"


"Asal kau sudah tenang, itu tidak masalah"


Entah apa yang membuatnya jadi seperti ini, dia terlihat sangat gugup ketika berbicara padaku dan terus meminta maaf padahal dia tidak melakukan kesalahan.


"A-anu.. aku, ingin tahu namamu"


"Oh.. namaku ya? Satomi Adney.. itu namaku, panggil saja Satomi, salam kenal!"


"Y-Ya..! Salam kenal, namaku Elaina.. Harlow Elaina!"


Jadi namanya Elaina, gadis pendek yang kesusahan mengambil buku pada bagian rak atas. Aku tidak tahu dia mahir dalam hal apa, tapi kurasa dia juga cukup hebat bisa masuk ke sekolah ini.


"Hmm.. kau ada di kelas berapa?"


"Aku berada di kelas C, tapi.. aku meragukan kemampuanku sendiri. Aku bahkan tidak bisa keluar dari sekolah ini sekarang.. padahal aku tidak terlalu mahir dalam apapun!"


"Jangan pesimis seperti itu! Lagipula waktu akan terus berjalan dan aku yakin kalau kau nanti akan berkembang pesat"


Gadis yang bernama Elaina ini hampir menangis ketika dia meragukan dirinya sendiri, lalu dengan terpaksa aku menyemangatinya.


"Ka-kau, punya pasangan bukan?"


"Tentu saja.. kau juga memilikinya kan?"


"Aku memang mempunyai pasangan, tapi dia tidak akan membantuku.. dia sangat egois dalam segala hal, dia juga menghabiskan 400 poin dalam sehari. Sekarang poin kami tersisa 300 poin, jadi karena itulah aku ingin menjadi peringkat satu dan mendapatkan tambahan 500 poin"


Egois, itu adalah kata-kata yang langsung menusuk ke dalam diriku.


"Ehh.. jadi kau meninggalkanku karena ingin bersama seorang gadis! Aku mengerti sekarang.. alasan kenapa kau memintaku untuk menjauhi dirimu!"


Aku tidak menyadari keberadaan Fisa dan menjadi sangat terkejut ketika dia datang dengan nada bicara yang agak tinggi. Situasinya menjadi gawat sekarang, dia pasti akan salah paham dengan kejadian ini.


"Si-siapa dia?"


Elaina bertanya padaku dan menatap Fisa dengan agak ketakutan.


"Dia pasanganku, Fisa Campbell"


"Kau.. jangan mengambil Satomi dariku! Dan Satomi.. kenapa kau selalu berbohong padaku!"


Fisa menjadi marah, kurasa ini akan menjadi hal yang agak merepotkan jika kejadian ini terus berlangsung.


Tapi aku berpikir ini adalah hal yang bagus untuk menguji perasaanku, aku akan membuat Fisa kesal dengan cara mendekati Elaina. Jika dia membenciku karena hal ini, maka aku memang pantas mendapatkannya.


"Fisa.. sudah kubilang kan kalau aku tidak peduli lagi denganmu, sekarang urus saja dirimu sendiri!"


"Kenapa kau mendadak seperti ini sekarang, apa aku membuat kesalahan?! Katakan saja kesalahanku!"


"Entahlah, tapi untuk sekarang bisakah kau menjaga jarak diriku?"


"Kalau itu mau mu.. baiklah! Kita akan menjaga jarak dari sekarang! Jangan hubungi aku lagi! Hmph.."


Dia lalu pergi keluar perpustakaan setelah selesai marah padaku.

__ADS_1


Maaf, Fisa! Aku harus melakukannya.


__ADS_2