Uniregular Sport School

Uniregular Sport School
Chapter 34


__ADS_3

Catatan Author:


Chapter kali ini terdapat bagian erotis dan hal dewasa, jadi diharapkan kebijakannya dalam membaca. Dan bagi yang dibawah umur maka kalian bisa skip chapter ini.


_________________________________________


Sudah hampir satu Minggu aku bersekolah disini, bahkan aku yang sekarang sudah memiliki seorang pacar. Ini memang terlalu cepat untuk mempunyai pacar, tapi kurasa aku tidak bisa menolak isi hati dan perasaanku padanya.


Saat aku bangun, aku langsung mendapati pesan dari pacarku, dia mengajakku untuk bertemu dengannya. Tubuhku terasa agak berat dari biasanya tapi kurasa aku akan baik-baik saja, lalu aku pun mengajaknya untuk datang ke kamarku sendiri. Aku tidak peduli dengan resikonya, selama tidak ada orang yang curiga, maka itu tidak masalah.


Aku langsung mandi dan bersiap-siap setelahnya, namun setelah itu tubuhku ingin aku tetap berada di kasur, jadi aku mengikuti perkataannya lalu berbaring disana.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Fisa datang dan mengetuk pintu kamarku dan aku pun mempersilahkannya masuk karena kunci pintu kamar sudah kubuka sehabis mandi tadi.


Dia masuk dengan penuh senyuman di wajahnya walaupun itu hanya sesaat, Fisa terlihat khawatir ketika aku memberitahu kalau kepalaku sedikit pusing dan setelahnya, dia langsung memegang kepalaku tanpa permisi.


Ternyata dia lebih khawatir dari yang aku kira, setelah mengetahui kalau aku mengalami demam, dia langsung merawat dan memaksaku untuk tetap berada di kasur tanpa bergerak. Padahal aku masih bisa berlari dengan cepat walaupun kondisiku seperti ini.


Selesai merawat diriku yang kelihatan sakit ini, Fisa langsung menyuruhku untuk tidur setelah dia membasuh tubuhku. Ini masih pagi, jadi kurasa tidak ada salahnya jika aku tidur beberapa jam saja.


Namun saat aku bangun untuk kedua kalinya hari ini, aku mendapati diriku sendiri yang sedang memeluk seorang gadis.


Tunggu.. kenapa Fisa ada di kasurku?! Aku merasa kalau aku tidak pernah mengajaknya untuk tidur bersama, aku juga khawatir kalau demamnya akan tertular, ditambah lagi aku tidak pandai dalam merawat seseorang.


Aku cukup yakin dengan ingatanku, aku yakin kalau aku tidak melakukan hal aneh padanya. Untuk sekarang mungkin aku akan melepaskan pelukanku lalu bangkit dari kasurku.


"Ibu.. jangan pergi! Jangan!!"


Mengejutkan saja, aku mendengar Fisa mengigau sambil tertidur sangat pulas, ternyata dia cantik juga ketika sedang tidur. Sepertinya dia masih tidak bisa menghilangkan sifat manjanya, itu tergambar jelas ketika dia sedang mengigau.


Akulah orang yang akan merubah Fisa jadi lebih baik dan aku akan membuat orang tuanya mempercayaiku sebagai pasangannya.


Dia imut sekali dan terlihat cantik sekarang, aku jadi ingin memegang pipinya yang mulus itu. Tapi bagaimanapun aku harus bisa menahan diri dan pada akhirnya aku terpaksa membangunkannya karena ini sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


"Fisa.. bangunlah, aku ingin membersihkan kamarku!"


"Hehhh.. hoamm.. pukul berapa sekarang?"


"Hmm.. sekitar pukul 10"


Fisa perlahan membuka matanya lalu bertanya padaku, namun aku tidak menyangka tindakan selanjutnya yang dilakukan olehnya.


"Satomi, jangan tinggalkan aku!"


Dia langsung menarik ku ke dalam selimut dan karena aku tidak menduga kejadian ini, aku langsung terseret ke dalamnya.


"Fisa.. apa kau sadar?"


"Ya.. aku sangat sadar loh!"


"Kalau begitu menjauh lah dariku, aku tidak ingin menularkan demamku padamu!"


"Aku tidak peduli, sekarang tolong temani aku bersenang-senang!"


"Apa maksudmu?"


Antara sadar atau tidak sadar, sekarang kami berdua sedang berada dalam selimut dan kasur yang sama, Fisa juga mengatakan sesuatu yang tidak biasanya dia ucapkan.


"Aku ingin ciuman selamat pagi! Cium aku sekarang!"


"Hmm?"


Aku tidak keberatan untuk menciumnya, tapi situasi seperti ini akan sangat gawat jika terus berlanjut, apalagi saat ini aku dan Fisa sedang berpelukan dalam selimut.


Aku ingin melepaskan pelukan ini, tapi ketika melihat Fisa yang sekarang, aku merasa kalau bersama dengannya seperti ini akan terus membuat diriku menjadi sangat senang.


"Baiklah, aku akan melakukannya!"


"Hehe.. aku sangat senang!"


Tidak memiliki pilihan lain, aku hanya bisa melakukan apa yang disuruhnya lalu pada akhirnya kami berdua terus menyatukan bibir kami dalam waktu yang sangat lama.


Posisi Fisa berada dibawah, sedangkan aku sendiri berada di atasnya, keberadaan kami berdua tertutupi dengan selimut dan, situasi ini.. aku tidak peduli lagi dengan dampak kedepannya, aku ingin terus melihatnya dari sekarang.


Setelah berciuman sangat lama, Fisa mendorong kepalaku dan terlihat ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Apa kau ingin tahu rahasia yang ku sembunyikan?"


"Tentu saja!"


Dia berkata kalau ingin memberitahukan rahasianya padaku, jadi aku tidak sabar untuk mengetahuinya.


"Tapi sebelum itu, bisakah kau membuka kancing bajuku?"


"Apa maksudmu?"


"Sudahlah buka saja!"


"Bagian mana yang harus kubuka?"


"Apa kau bodoh? Tentu saja semuanya!"


Aku benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang sedang, bahkan badanku memanas dengan sendirinya. Bagaimana tidak, Fisa memintaku untuk membuka semua kancing bajunya, rasanya suhu tubuhku jadi lebih tinggi sekarang.


Lalu seperti biasa, aku hanya bisa mengikuti perkataannya dan membuka kancing bajunya secara perlahan, dipertengahan aku melakukannya, aku melihat bagian dalam tubuhnya yang ditutupi dengan perban di bagian dadanya, kulitnya putih mulus dan bau badannya sangat manis.


"Sekarang apa?"


"Tarik perban di dadaku ini!"


"Tunggu.. aku tidak bisa, kau harus melakukannya sendiri!"


"Bodoh, cepat lakukan! Aku sedang menahan malu sekarang!"


"..."


Wajah kami sedang berhadapan sekarang, jadi aku dapat dengan jelas melihat wajahnya yang memerah, aku tahu kalau dia sedang merasa malu karena memperlihatkan tubuhnya.


Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, tapi bagaimanapun aku harus mengikuti perkataannya. Pada akhirnya aku pun menarik perban di dada kecilnya hingga terlepas dan disinilah aku agak terkejut.


"Inilah rahasia ku, tapi sebenarnya aku masih menyimpan satu hal lagi"


Aku merasa aneh sekarang karena telah melihat bagian penting dari seorang gadis, ternyata buah dada yang dimiliki oleh Fisa berukuran lumayan besar, aku bahkan melihat putingnya yang berwarna merah muda, itu terlihat sempurna dengan bentuk dadanya yang lumayan besar.


"Satomi.. kenapa kau keluar?"


Fisa lalu ikut bangkit dari kasur dan menanyakan alasanku yang tiba-tiba keluar dari selimut.


"Sudah jelas bukan? Aku tidak boleh melihatnya, yang terpenting terimakasih sudah memberitahukannya!"


Dia memberitahukan rahasianya dengan cara yang sangat absurd dan tidak terduga, jika aku tidak bisa menahan diri maka aku sudah pasti akan menyerangnya. Tapi beruntung, aku masih dapat menahan diri dengan sangat baik walaupun bagian tubuh bawahku tidak merasa demikian. Aku yakin semua lelaki akan merasakan hal yang sama tentang apa yang kualami.


"Aku tidak keberatan jika kau melakukan apapun padaku, jadi lakukan saja apa yang kau inginkan!"


"Maaf saja.. untuk kali ini aku akan menjawab tidak, sekarang kancing kembali bajumu itu!"


"Apa kau tidak ingin memegangnya? Bukankah kebanyakan lelaki suka dada yang seperti ini?"


"Aku tidak ingin, lagipula darimana kau tahu itu?"


"Aku tahu dari ibuku, dia berkata seperti itu dan karena merasa khawatir, dia menyuruhku untuk selalu mengenakan perban di dadaku untuk menghindari banyak lelaki"


"Begitu ya.. jadi, rahasia apa lagi yang kau sembunyikan selain ini?"


Fisa mengatakan kalau dia masih menyembunyikan satu hal lagi, jadi aku menanyakannya.


"Aku tidak akan menjawabnya sebelum kau menyentuh ini!"


"Kenapa seperti itu?"


"Jangan membalikkan badan ketika bicara, tatap lawan bicaramu!"


"Aku akan melakukannya jika kau sudah menutupi dadamu itu!"


Aku masih membalikkan badanku untuk mengalihkan pandangan dan anehnya Fisa malah marah dengan tindakan normal ini.


"Kalau begitu aku yang mendekatimu, tentu saja dengan keadaan yang sama!"


"Tunggu! Jangan lakukan, biarkan aku yang berbalik arah!"

__ADS_1


Kali ini aku terpaksa mengikuti perkataannya lagi karena akan sangat gawat jika seorang gadis bertelanjang dada berjalan dengan santainya, bahkan aku juga hanya mengenakan celana pendek sekarang. Jadi intinya, kami berdua sama-sama bertelanjang dada sekarang.


"Jawab aku dengan jujur Satomi.. apa kau menyukaiku?"


"Tentu saja!"


"Aku tidak merasa seperti itu!"


"Apa maksudmu?"


"Kau bahkan tidak terangsang saat melihatku seperti ini! Apa kau benar-benar menyukaiku?!"


"Yah.. bagaimanapun juga, aku tidak memandang seorang gadis melalui buah dadanya, lagipula aku sengaja menahan diri agar tidak menyerang mu!"


Kami berbicara hal yang lumayan sensitif, apalagi aku agak canggung melihatnya telanjang, jadi aku memutuskan untuk terus menatap matanya dan tidak terfokus ke dadanya.


"Hmphh! Aku bingung apakah kau mempunyai hasrat seksual, bahkan kau masih terlihat tenang sekarang!"


"Begitu ya.."


Fisa menggembungkan pipinya dan terlihat kesal setelah mengatakan itu.


"Seperti yang sudah kubilang, aku hanya menahan diri dan aku merasa masih terlalu awal untuk menyentuh bagian penting seorang gadis!"


"Jadi, apa kau menyukaiku?"


"Ya.. tentu, aku akan sangat menyukaimu jika kau dapat menahan diri!"


"Maaf, tapi aku tidak bisa menahan diri jika sudah seperti ini!"


Fisa mendadak melompat ke arahku dan tentu saja aku tidak bisa menghindarinya, karena jika aku menghindar, maka tubuhnya akan menabrak lantai. Apalagi dia sengaja melompat dengan lumayan tinggi, jadi secara terpaksa aku harus melindunginya.


"BUKKK!!"


Suara tubrukan terdengar dan sekarang tubuh kami saling bertumpang tindih, tapi ini berkebalikan saat di dalam selimut tadi.


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin.. berhubungan badan.. denganmu!"


"Aku menolak, sekarang pakai bajumu! Aku serius!"


Aku tidak tahu apakah dia sedang bercanda atau tidak, tapi kurasa dia serius mengatakannya. Masih terlalu awal untuk berhubungan badan, apalagi aku yang sekarang masih berumur 16 tahun, jadi aku harus menolaknya dengan tegas.


"Setidaknya pegang lah dadaku ini!"


"Tidak, jangan lakukan hal erotis seperti ini lagi! Sekarang keluar saja dari kamarku!"


"Apa kau mengusirku?!"


"Ya.. pakai bajumu dan keluar sekarang!"


"Baik..."


Ekspresi sedih Fisa terlihat sangat jelas, tapi apa boleh buat, dia sangat terbawa suasana dan aku harus menghentikannya.


Sesaat setelah perdebatan, Fisa langsung bangkit dari tubuhku dan dia mengambil perban serta bajunya yang ada di kasur lalu memakainya.


"Maaf Satomi, aku terbawa suasana dan terlalu nafsu untuk menggoda mu!"


"Tidak masalah, karena aku masih bisa menahan diri"


"Kalau begitu, aku akan pergi! Sekali lagi.. maafkan aku, Satomi!"


"Ya.."


Akhirnya dia keluar dari kamarku.


Ini akan menjadi kejadian yang tidak akan dilupakan olehku dan oleh Fisa, aku juga tidak boleh menceritakan kejadian ini pada siapa pun, bahkan jika Smith mengetahui hal ini, aku akan langsung menganggapnya musuh.


Ternyata mengajaknya ke kamarku adalah pilihan yang sangat fatal, aku hampir saja tergoda olehnya namun beruntung, aku masih bisa menahan diri.


Awalnya aku mengira Fisa menyembunyikan sesuatu yang akan membuatku tidak mempercayainya lagi, tapi ternyata dia hanya menyembunyikan dadanya yang lumayan besar itu. Namun aku masih tidak tahu satu rahasia yang ingin dia sebutkan tadi, aku jadi penasaran karenanya.


Mungkin untuk beberapa hari kedepan suasana canggung akan menyelimuti kami, tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2