
"A-anu.. apa tidak apa-apa membiarkannya?"
"Ya, itu bukanlah masalah sama sekali.. anggap saja seperti keributan kecil antar pasangan"
"Tapi aku tidak melihatnya seperti itu! Dan sepertinya kau juga sering membohonginya. Ahh.. maaf, aku tidak bermaksud menghinamu!"
"Jangan terus meminta maaf! Kau tidak mengatakan hal yang salah, karena semuanya adalah kenyataan"
"Ma..- ya!"
Elaina hampir mengatakan kata maaf lagi, tapi dia bisa berhenti ditengah jalan.
Aku juga tidak tersinggung dengan perkataannya, jadi kurasa dia tidak perlu banyak meminta maaf, aku jadi penasaran apakah ini adalah sifat bawaannya dari lahir.
"Elaina.. bagaimana kau akan menjawab pertanyaannya? Tapi semua pertanyaan yang diberikan setiap kelas itu sama bukan?"
"Umm.. aku tidak tahu, tapi biarkan aku melihat ponselmu untuk memastikan"
"Ya.. silahkan!"
Lalu aku menunjukkan pertanyaan yang ada pada ponselku dan memperlihatkannya pada Elaina.
"Mmm.. sama persis!"
"Begitu ya.."
Ternyata semua pertanyaan yang diberikan itu sama setiap kelas, jadi kurasa mencari jawabannya bersama dengan Elaina bukanlah masalah sama sekali.
Walaupun Fisa sedang sangat kecewa padaku, tapi aku tetap harus membiarkan perasaan bersalah ini untuk sementara.
Melibatkan perasaan dalam kegiatan penting, itu adalah hal yang salah dan seharusnya tidak boleh dilakukan.
"Satomi, kau serius sekali membacanya"
"Hmm.. ya, aku juga ingin mengincar peringkat pertama"
"Apakah itu keinginan gadis yang tadi?"
"Itu benar, aku tidak boleh mengecewakannya lagi"
Kali ini Elaina tidak merasa gugup lagi dan bisa berbicara secara lancar denganku.
"Maaf jika pertanyaanku aneh, tapi.. apa kau memiliki perasaan khusus terhadapnya?"
"Entahlah.."
"Kau harus menjawab dengan jelas!"
Elaina menanyakan hal yang jawabannya juga masih belum pasti, dia juga menyuruhku untuk menjawabnya secara jelas.
"Jika kau memaksa seperti itu, ya.. akan kujawab sesuai perkataanmu. Ketika dia tidak ada dalam pandanganku, rasanya seperti kosong dan ada yang kurang"
"Umm.. itu berarti kau mencintainya! Aku sangat yakin!"
"Bukankah terlalu cepat kalau kau mengatakan itu? Kami bahkan baru kenal selama lima hari ini"
"Jika kau bilang tidak peduli lagi dengannya, maka sudah jelas kalau kau akan benar-benar menjauhinya.. tapi sekarang kau hanya mengeluarkan kata itu dan tidak melakukannya sesuai perkataan mulutmu itu!"
__ADS_1
Perkataan Elaina memang ada benarnya juga, tapi aku memang masih peduli dengan Fisa, bahkan sangat peduli.
"Begini Elaina.. aku memang berniat menembaknya, tapi kurasa ini terlalu cepat.. aku ingin mengenalnya lebih dalam terlebih dahulu, barulah setelah itu aku akan melakukannya"
"Apa kau bodoh?!"
"Ya.. mungkin"
"Mau berapa lama kau membuatnya menunggu?! Kau benar-benar bodoh, kau seperti monster yang tidak mempunyai perasaan terhadap orang terdekatmu!"
Melihat Elaina yang seperti ini, rasanya dia agak berbeda dari sebelumnya. Pada awalnya dia bicara dengan malu-malu, tapi sekarang dia dapat berbicara dengan sangat lancar sambil memarahi diriku.
"Maaf.. aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang, aku juga sudah membuatnya sedih dan kecewa.."
"Semuanya belum terlambat, kau masih bisa membuatnya memaafkan kesalahanmu"
"Apa maksudmu?"
"Kau masih merasa bersalah ketika berbuat jahat padanya bukan? Manfaatkan hal itu dan buat dia senang!"
Aku masih tidak mengerti perkataan Elaina, namun dibalik itu aku yakin kalau dia sedang berusaha untuk membuat aku dan Fisa agar segera berbaikan.
"Bagaimana caranya?"
"Mungkin dia ada mengatakan hal yang tidak kau pahami sebelumnya, dan itu mungkin saja seperti sebuah petunjuk"
"Itu agak mustahil karena dia sudah banyak mengatakan hal-hal seperti itu"
"Kau lebih bodoh dari yang kukira.. tentu saja kau hanya perlu mengingat kata-katanya yang terakhir kali saja! Kata yang mungkin baru beberapa jam yang lalu diucapkannya dan kau tidak mengerti perkataannya itu"
Aku mengerti sekarang, Elaina menyuruhku untuk mengingat kata-kata Fisa terakhir kali yang membuat aku tidak mengerti maksud perkataannya.
Kalau tidak salah.. dia berkata kalau aku harus melakukannya dengan benar lain kali, dan setelah itu dia menghinaku dengan kata bodoh.
"Lakukan dengan benar lain kali.. dasar bodoh!"
"Aku tidak bodoh! Kau sendirilah yang sangat bodoh dan tidak peka terhadap perasaan perempuan!"
Elaina mendadak marah dan berbicara dengan nada yang sangat tinggi, namun beruntung hanya ada kami berdua di dalam perpustakaan ini.
"Aku tidak menghinamu, itu adalah perkataan Fisa terakhir kali yang membuatku bingung"
"Huh.. sepertinya kau juga pandai memainkan perasaan seseorang"
"Hmm?"
"Tidak.. lupakan saja!"
"..."
Kali ini dia yang mengatakan sesuatu yang tidak ku hapami, tapi aku memutuskan untuk membiarkannya saja.
"Kalau tidak salah.. apa kalian berdua adalah orang yang berciuman di taman kemarin? Dan orang yang berpelukan di gedung olahraga hingga membuat heboh seisi ruangannya! Apakah kalian orang yang sama?!"
"Ya, itu memang benar"
Jadi banyak siswa sudah mengetahui rumor tentang aku dan Fisa sekarang, tapi aku merasa ada yang aneh. Rumor tentang aku yang menangkap pukulan dari seorang Ace seperti hilang begitu saja, rasanya kejadian itu sudah ditutupi oleh seseorang.
__ADS_1
Sebaiknya lupakan saja, aku juga sudah tidak peduli dengan itu. Bahkan aku merasa ini adalah hal yang baik karena aku akan tetap bebas bergerak di sekolah.
"Gadis itu menyuruhmu untuk melakukannya dengan benar lain kali, jangan-jangan.. apa kalian sudah berhubungan se-"
"Tenanglah.. itu tidak benar, aku juga masih tidak mengerti kenapa dia mengatakan hal seperti itu!"
Tentu saja aku menyangkal dugaan yang terlalu dilebih-lebihkan oleh Elaina.
"Huh.. kukira kalian sudah melakukannya, aku jadi pusing sendiri.. sekarang kau coba saja pikirkan sendiri! Aku sudah tidak bisa membantumu.."
"Ya.. terima kasih atas bantuannya, kau sudah sangat membantu"
"Kau berhutang padaku! Sekarang bantu aku mendapati peringkat pertama.. lagipula kita juga berbeda kelas, jadi tidak ada masalah bukan?"
Sekarang Elaina sudah menyerah, dia tetap mengatakan kalau aku berhutang padanya walaupun bantuan yang diberikan tidak terlalu berpengaruh padaku.
Sebenarnya ada pengaruh, tapi itu tidak banyak dan dia mengatakan hal yang setengah-setengah atau bahkan belum memasuki setengah.
"Boleh saja.. biarkan aku berpikir terlebih dahulu!"
Menjawab pertanyaan ini memang terlihat mudah, tapi masalahnya setiap kata akan dinilai untuk menentukan peringkatnya, dan hanya peringkat tiga besar yang mendapatkan banyak poin, sedangkan peringkat empat dan seterusnya hanya dapat poin sama rata.
"Lama sekali kau berpikir, apa kau juga bodoh dalam hal ini dan hanya berotak otot?"
"Hmm.. aku lapar"
"Kau memang bodoh! Bodoh dan bodoh!"
"Aku bercanda, sekarang aku akan mengetiknya di ponsel. Tunggulah kurang dari lima menit!"
"Huh.."
Aku memang bercanda pada Elaina kalau aku merasa lapar, walaupun sebenarnya aku benar-benar merasakan hal itu. Aku ingin keluar dan makan sesuatu sebelumnya, tapi gadis ini menahanku dan pada akhirnya aku hanya bisa mengikuti perkataannya.
Lima menit berlalu, aku lalu menunjukkan ponselku pada Elaina.
"Bagaimana menurutmu?"
"Umm.. 132 kata, tidak buruk juga"
"Boleh aku pergi sekarang? Aku benar-benar merasa lapar sekarang!"
"Silahkan saja, urusan kita juga sudah selesai.. aku akan mengembalikan buku ini sekarang, kau boleh isi perutmu agar otak ototmu bisa bekerja dengan baik!"
"Ya.. kusarankan jangan melemparnya, karena buku itu hanya ada satu di sekolah ini!"
Setelah saling mengejek, aku dan Elaina beranjak dari kursi dan sama-sama berniat untuk keluar dari perpustakaan sekarang.
Akhirnya aku bisa keluar dan menghilangkan rasa lapar ku, mungkin aku hanya akan pergi ke toko makanan dan mengisi perutku disana.
Aku juga harus mengirim jawabannya sekarang, kurasa Elaina tidak mempercayai jawabanku dan hanya melihat ada berapa kata yang bisa ku tulis.
Uniregular Sport School adalah sekolah khusus olahraga yang sangat diimpikan oleh para remaja yang ingin menjadi atlet. Dari informasi yang didapatkan, banyak siswa yang lulus dari sekolah ini telah menjuarai berbagai pertandingan nasional maupun internasional.
Pada awalnya kami mengira seperti itulah cara sekolah ini berjalan, namun semua pemikiran yang telah tertanam tidak sesuai dengan perkiraan para murid baru. Mereka semua dipaksa mematuhi peraturan sekolah yang sangat berbeda dari sekolah biasa.
Salah satu peraturan yang berbeda adalah sistem sekolah ini, singkatnya, para murid baru diperkenalkan sistem sekolah dan mereka semua harus bisa mengikuti sistem itu.
__ADS_1
Dari yang sudah disimpulkan, sekolah menggunakan sistem yang bernama poin. Poin ini dapat dikumpulkan dari berbagai macam cara, tapi jika ada siswa yang kehabisan poin, maka sudah pasti siswa itu akan di dropout dan namanya dibunuh dalam masyarakat.
Seperti itulah aku menjawab pertanyaan yang diberikan, sekarang aku hanya perlu menunggunya saja dan membiarkan hari kelima berakhir dengan penuh perasaan bersalah.