
Selesai menghangatkan tubuhku, aku akan mendatangi gudang sekolah yang terletak di bagian belakang kelas 1-E. Aku tidak tahu pukul berapa sekarang, jadi aku langsung datang ke sana tanpa pikir panjang. Aku juga yakin kalau jumlah mereka akan sangat banyak disana.
"Sayang sekali bung, kepopuleran mu sudah ditutupi dengan baik!"
"Hmm.. siapa kau?"
"Apa!? Kau bahkan tidak ingat denganku!"
Ditengah perjalanan menuju gudang, seorang laki-laki mendatangi dan berbicara padaku, ternyata dia adalah sang pemimpin kawanan saat itu yang pingsan hanya dengan satu pukulan biasa.
"Aku sudah ingat sekarang.. kau adalah orang yang lemah, bahkan sangat lemah karena kau pingsan hanya karena pukulan biasa"
"Jangan meremehkan ku! Kau hanya beruntung karena itu adalah serangan mendadak!"
"Begitu ya.."
"Sial.. aku sangat kesal melihat ekspresi tenang mu itu!"
"Sekarang kau mau apa?"
"Ayo kita tanding ulang disini!"
"Disini? Dihadapan banyak orang?"
Lelaki ini tidak menerima kekalahannya dan meminta tanding ulang, tapi kurasa lebih baik untuk mengajaknya untuk bekerja sama. Aku akan memberinya imbalan poin sebagai bantuan yang akan diberikan, aku juga tahu kalau orang ini hanya mementingkan poin lebih dari apapun.
"Memangnya dimana lagi?!"
"Aku lupa siapa namamu.. hei, orang besar! Bisakah aku meminta tolong padamu?"
"Hah?!! Kenapa kau jadi sok akrab sekarang?!"
"Aku sedang dalam kesulitan, tolong bantu aku.. aku akan membayar beberapa poin padamu!"
"Mm.. kau bisa bayar berapa?"
"Sebutkan saja harganya!"
"Kalau begitu, 500 poin! Akan kulakukan apapun jika kau bayar 500 poin!"
Sudah kuduga dia akan menawarkan harga yang tidak masuk akal, jadi aku akan bernegosiasi dengannya walaupun aku yakin hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Tidak, itu terlalu mahal.. bagaimana kalau 200 poin?"
"Terlalu murah bung, 500 poin ya 500 poin!"
"Aku pergi.. terima kasih sudah mau mendengarkan ku!"
Aku memakai trik biasa yang banyak digunakan oleh pembeli untuk mempengaruhi penjual ataupun sebaliknya pada lelaki ini. Dia pasti akan terpengaruh dan menawarkan harga baru yang lebih rendah dari sebelumnya padaku.
"Tunggu! Kalau begitu 250 poin.. aku akan melakukan apapun jika kau membayarnya!"
"Sepakat!"
Seperti itulah, hanya perlu beberapa detik sebelum dia berubah pikiran dan menawarkan 250 poin, sekarang aku hanya perlu menyetujuinya.
"Jadi, aku akan melakukan apa?"
"Sebelum itu.. pukul berapa sekarang?"
"Mm.. pukul sebelas kurang lima menit, memangnya kenapa?"
Secara kebetulan rencana ku untuk beraksi lima menit sebelum kejadian malah menjadi kenyataan, mungkin ini benar-benar kebetulan dan yang terpenting aku harus menolong Fisa sekarang.
"Datanglah ke gudang sekolah yang berada di belakang kelas 1-E, disana akan ada banyak puluhan orang yang menghadang!"
"Maksudmu kau membayar ku untuk menghabisi mereka semua?"
"Tidak juga, kau akan sangat membantu jika bisa mengalihkan perhatian mereka"
Melawan puluhan orang sendirian memang bukan rencana yang bagus, jadi aku hanya meminta lelaki ini untuk mengalihkan perhatian banyak orang, sedangkan aku sendiri akan langsung masuk ke dalam gudang itu.
"Baiklah! Ayo kita lakukan!"
"Ya.. kita sekarang adalah sekutu, orang besar!"
"Panggil aku Owwen!"
"Salam kenal.. namaku Satomi!"
Awalnya aku berniat untuk serius menghadapi masalah yang terjadi pada Fisa, tapi setelah melihat Owwen yang sangat bersemangat, aku jadi ikut bersemangat.
Kami berdua terus berjalan ke gudang sekolah tanpa berbicara sepatah katapun diperjalanan, ini bukan situasi canggung, aku sangat yakin.
Tidak perlu waktu lama, sekarang aku dan Owwen telah berada di halaman depan gudang. Ternyata memang benar, gudang ini dipenuhi oleh banyak orang.
"Apa rencana mu?"
"Alihkan perhatian mereka yang diluar, aku akan menyusup masuk ke dalam.. dan juga, kau harus menghindari perkelahian sebisa mungkin!"
"Baiklah.. kau berhutang banyak padaku kali ini, aku tidak tahu masalahmu dan ada apa di dalam gudang ini.. aku hanya ingin poin saja, kau harus ingat itu!"
"Ya.. tentu saja!"
Aku berjalan memutar meninggalkan Owwen lalu berusaha menyusup masuk ke dalam gudang ini. Mendengar perkataan Smith tadi, aku sangat yakin kalau Fisa berada di dalam.
"Yo.. kalian banyak sekali disini, ada apa?"
"Siapa kau? Sebaiknya menjauh saja sebelum terjadi sesuatu kepadamu!"
"Hah!! Kau meremehkan ku.. Apa kau ingin berkelahi?!"
Kacau total, aku menyuruh Owwen untuk menahan diri dan menghindari perkelahian, tapi dia dengan mudahnya terprovokasi hanya karena diremehkan.
Dia dalam masalah, menghadapi puluhan orang bukanlah hal yang mudah, aku tidak bisa membantunya karena posisiku sudah hampir dekat dengan pintu masuk.
__ADS_1
"Maju kalian semua! Aku tidak takut!"
"Badanmu yang besar memang menakutkan, tapi kau tidak bisa apa-apa jika menghadapi banyak orang!"
"Sial.. jangan meremehkan ku!"
Owwen langsung melayangkan tangannya pada orang yang meremehkannya, lalu setelah serangan itu mengenainya, beberapa orang langsung berlari dan bersiap menyerang Owwen.
"Ughh!"
"Ahh!"
"Uwoh!!"
Sudah kuduga dia akan babak belur, tapi kurasa aku akan meninggalkannya dan masuk ke dalam gudang ini. Mungkin aku akan berterimakasih padanya karena telah mengalihkan perhatian mereka semua dengan sangat baik.
Kali ini aku sudah berada di dalam, namun aku tidak melihat Fisa disini, aku hanya melihat empat orang yaitu Beny, Charles, Lina dan juga Niko.
Ternyata Niko juga terlibat dalam kejadian ini, astaga.. dia berubah menjadi sangat buruk sekarang.
"Sa-Satomi?! Bagaimana bisa? Padahal aku belum menjalankan rencana ku.."
Beny terlihat sangat terkejut ketika mengetahui keberadaan ku.
"Yo.. Satomi, kita bertemu lagi!"
"Niko, kenapa kau mengkhianati ku? Kau seharusnya sudah tahu kalau itu akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan dariku lagi!"
"Aku sudah tidak peduli, aku hanya ingin mengalahkan mu.. tentu saja dengan berbagai cara!"
Sepertinya aku memang harus menghukum mereka dengan serius untuk memberinya pelajaran. Mereka telah melibatkan Fisa, orang yang kucintai dan ingin kulindungi sepanjang waktu.
Sekarang aku mengerti kenapa rasanya menjadi kosong ketika tidak bersama Fisa, itu karena aku mencintainya, ini adalah perasaan yang sudah sangat jelas untuk diketahui. Hanya saja, aku terlambat menyadarinya.
"Hmm.. dimana Fisa?"
"Campbell, keluarlah!"
Beny lalu menyuruh Fisa untuk keluar setelah aku menanyakan keberadaannya. Setelahnya Fisa keluar dengan keadaan yang cukup buruk, wajahnya sangat merah, dia juga terlihat putus asa dan memasrahkan dirinya pada mereka berempat.
"Dengar Satomi, dia adalah sandera disini! Ikuti perkataan ku jika ingin dia selamat!"
"Lari lah.. mere..ka ber..bahaya!"
Samar-samar aku mendengar suara Fisa yang sangat kecil, walaupun begitu aku tetap mendengar perkataannya, dia menyuruhku untuk lari.
"Memangnya kau siapa?"
"Sial.. ikuti saja! Apa kau ingin di dropout?"
"Ah benar juga.. ponselku ada di tangan kalian"
Untuk merebut pasangan diperlukan dua ponsel, dan kedua ponsel itu harus sama-sama menekan tombol setuju untuk memutuskan hubungan.
"Aku akan merebut paksa ponsel yang ada di kantongnya dan dengan begitu kalian tidak terdaftar lagi dalam pasangan!"
"Hah?!"
"Apa hanya itu rencana mu?!!"
Aku langsung berlari kearah Beny dan memukul bagian ulu hatinya hingga terkapar, hanya perlu beberapa detik sebelum dia pingsan.
Semua yang ada di dalam terdiam membeku, bahkan Fisa sekalipun hanya menatap kosong ke arah depan. Sepertinya dia telah banyak dipermainkan oleh mereka saat aku tidak ada.
Aku harus menolong Fisa, kurasa aku tidak tahan melihatnya menderita seperti ini. Yang ingin kulakukan adalah melindunginya dengan segenap kekuatanku, tapi kenyataannya malah seperti ini.
Perasaan bersalah terus menghantuiku, jadi dia orangnya. Dia bisa membuat aku yang biasanya santai menjadi sedikit serius, dan keseriusan itu terus berlanjut hingga menjadi benar-benar serius.
"Kalian semua! Jangan mendekatinya lagi kalau tidak ingin terluka!"
Aku memperingatkan mereka bertiga untuk segera berhenti, walaupun aku yakin ini akan menjadi hal yang percuma. Mereka akan tetap menyerang sebelum tubuh mereka tumbang, jadi kurasa aku akan membuat mereka semua pingsan, hanya ini pilihan terbaik untuk sekarang.
"Hoi.. hoi.. Satomi! Kau bilang sudah tidak peduli lagi dengannya- argh..!"
Charles masih belum selesai bicara, tapi aku yang sudah serius langsung memukul bagian wajahnya dengan sangat keras.
"Sial! Kau selalu saja mengganggu!!"
"Diam lah!"
"BUKK!!"
Setelah Charles tak berdaya, Niko langsung marah padaku dan dengan cepat aku menendang kaki kanannya, ini membuatnya langsung terjatuh sambil memegangi bagian kakinya yang kesakitan. Lalu saat dia lengah aku kembali menendang bagian wajahnya hingga membuatnya tidak berdaya.
Tiga orang telah tumbang, sekarang tinggal satu orang yaitu Lina.
"Tu-tunggu! Aku tidak tahu apapun.. aku hanya melakukan apa yang diperintahkan olehnya, jadi.. jadi tolong jangan pukul aku!"
Lina ketakutan karena melihatku yang sedang serius, tapi aku tidak peduli walaupun mendengar permohonan seorang gadis sekalipun dan aku pun tetap memukul bagian dahinya dengan keras hingga tersungkur.
Aku sedikit menahan diri melakukannya karena dia adalah seorang perempuan. Cara yang tepat membuat seorang gadis melemah adalah dengan memukul bagian dahi atau keningnya, itu sangat bagus karena tidak akan ada cedera yang serius jika aku memukulnya di bagian itu.
Semua yang di dalam sudah tidak bisa bergerak, tapi mereka semua yang ada di luar masih menjadi ancaman untuk Fisa.
"Fisa, kau baik-baik saja?"
"Tidak.. tentu saja tidak!"
Dia menunduk dan bersandar pada dinding sambil menyilangkan lengannya ke bagian kepalanya, itu menandakan kalau dia benar-benar ketakutan.
Saat aku sedang menenangkan Fisa, beberapa dari mereka yang berada di luar lalu masuk ke dalam gudang ini, kurasa mereka hanya ingin memeriksa keadaan.
"Mereka sangat lemah.. aku bahkan belum serius!"
Lalu aku meninggalkan Fisa yang sedang ketakutan dan berlari ke arah mereka yang baru saja masuk ke dalam.
__ADS_1
Aku akan mengurus Fisa nanti, karena ancaman yang nyata seperti ini memang harus disingkirkan terlebih dahulu.
"Uhh!!"
"Argh!"
Rasanya sangat menyenangkan, akhirnya aku bisa serius dalam hidupku untuk pertama kalinya, aku menghadapi beberapa orang dan memukuli mereka satu persatu hingga tak berdaya lagi. Setelah menghabisi mereka aku langsung keluar gudang dan memastikan keadaan Owwen.
"Mereka terlalu kuat bung.. maaf karena aku tidak mendengarkan perintah mu!"
Aku melihat Owwen yang babak belur karena dihajar dan dikeroyok oleh beberapa orang disini, dia sedang berbaring kesakitan di tanah sekarang.
"Tidak masalah, serahkan mereka semua padaku.. kau sudah melakukannya dengan baik!"
Tidak perlu banyak bicara, aku langsung maju melawan mereka semua yang ku hitung berjumlah 18 orang ini. Mereka bodoh sekali, semuanya maju secara bersamaan dan hal ini jelas menguntungkan diriku.
"Ahh!!"
"Wuahh!"
"Argh!"
"Egh!"
"Uhh!"
Memang menyenangkan sekali, sensasi ini belum pernah kurasakan sebelumnya, maju menghadapi banyak orang dan memukul hingga menendang mereka satu persatu, rasanya memang sangat menyenangkan.
Hanya perlu waktu kurang dari tiga menit, mereka semua sudah pingsan, itu artinya aku sudah mengalahkan mereka semua dan menghancurkan rencana Beny seutuhnya, ternyata mereka tidak sekuat apa yang aku kira.
Bahkan aku merasa sia-sia saja karena telah serius melawan orang yang salah, tapi aku melakukannya karena ingin melindungi Fisa, jadi kurasa ini tidak buruk juga.
"Owwen.. kau bisa berdiri?"
"Ya, tentu bung! Kau sangat kuat bisa mengalahkan mereka dalam sekejap!"
"Haha.. tidak juga, aku hanya beruntung karena kau telah mengurangi kekuatannya"
Aku tertawa kecil setelah mendengar Owwen memuji diriku.
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang, kau juga tidak perlu membayar ku karena aku tidak mengikuti perintah mu"
"Begitu ya?"
"Ya, kita akan bertemu lagi.. Satomi!"
"..."
Aku tidak menduga hal ini, ternyata orang sepertinya bisa sadar diri dan mengakui kesalahannya.
Sekarang aku harus menemui Fisa di dalam dan kembali menenangkan dirinya, aku juga akan meminta maaf tentang perbuatan ku padanya.
Berjalan melewati kerumunan orang yang sedang pingsan rasanya memang aneh, aku bahkan menginjak mereka semua yang berada dalam lintasan ku berjalan.
"Satomi.. bagaimana keadaanmu? Aku.. sangat khawatir! Hiks..!"
Fisa berlari ke arahku lalu memeluk diriku setelahnya sambil menangis.
"Maafkan aku! Aku sudah berbuat jahat padamu, padahal sebenarnya aku ingin selalu melihatmu!"
"Aku tidak akan memaafkan mu- emm..!??"
Kali ini aku menciumnya lagi secara mendadak, tapi bedanya aku melakukannya dengan serius.
Tidak salah lagi, aku memang mencintainya sejak dia menyelamatkan kehidupan sekolahku, bahkan dia bersusah payah untuk membuatku mempercayainya.
Aku harus mengatakannya, perasaan yang sudah ku simpan selama beberapa hari ini pada Fisa. Mau tidak mau aku harus melepaskan ciuman yang sudah kulakukan dan mengatakan perasaanku ini dengan jelas.
Aku menjauhkan bibirku darinya dan memegang kedua bahunya dengan kedua tanganku, lalu aku menundukkan badanku sejajar dengan bagian bahunya.
"Fisa.. aku mencintaimu, aku ingin melindungi mu sepanjang waktu! Jadi.. maafkan aku atas perbuatan egois ku sebelumnya, sebenarnya aku ingin berpacaran denganmu!"
Akhirnya aku mengatakannya, perasaan yang beberapa hari ini telah ku simpan dan ku tahan, pada akhirnya aku tidak bisa menahannya lagi dan mengatakan perasaan ini dengan jelas kepada Fisa.
"Hmphh.. kenapa baru mengatakannya sekarang?!"
"Maaf.. Fisa! Aku sudah menyembunyikan banyak hal darimu!"
"Sekali lagi! Aku akan menerima perasaanmu jika kau melakukannya lagi, sebenarnya aku juga mencintaimu! Ngomong-ngomong, kau belum melakukannya dengan benar tadi!"
Aku mengerti sekarang, perkataannya saat di halaman kantor guru, dia memintaku untuk menciumnya dengan benar.
Aku hanya perlu menciumnya sekali lagi dan dia akan menerima perasaanku, aku juga tidak keberatan dengan permintaannya, jadi aku akan melakukannya.
"Boleh saja.. tapi bisakah kau lebih mendekat padaku? Kita akan mudah melakukannya jika seperti itu!"
"Ya, aku tidak sabar melakukannya denganmu!"
Kami saling mendekatkan diri satu sama lain lalu menggenggam kedua tangan kami setelahnya.
"Satomi.. aku sangat mencintaimu!"
"Ya.. aku juga mencintaimu!"
Setelah mengucapkan kata-kata yang intinya sama, kami berdua akhirnya saling menempelkan bibir dan berciuman seperti pasangan yang sedang menikah.
Masih terlalu awal untuk memikirkan pernikahan, tapi hanya saja tindakan kami sekarang sangat mirip dengan mereka saat sedang melakukan sesi pernikahan.
Aku dan Fisa terus berciuman mengabaikan semua orang yang tidak sadarkan diri. Dunia serasa milik berdua, itulah yang kupikirkan sekarang saat bersama dengan Fisa.
Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku, karena banyak kejadian yang sangat bagus untuk dinikmati. Aku juga berharap andai saja kejadian ini bisa berlangsung selama mungkin.
_________________________________________
Catatan Author:
__ADS_1
Untuk Chapter 31 kedepan tidak akan ada judul lagi di setiap chapter nya, jadi besok hanya ada tulisan Chapter 31 dan seterusnya hingga cerita ini berakhir.