Uniregular Sport School

Uniregular Sport School
Chapter 45


__ADS_3

POV (Fisa Campbell)


"Biar aku yang bayar, selamat atas kemenangan mu!"


"Wijaya?"


Saat aku beristirahat dan membeli minuman kaleng, seorang laki-laki mendekat padaku dan dia berniat untuk membayar apa yang ku beli.


Aku mengenalnya, kalau tidak salah namanya adalah Gilang Darma Wijaya, panggilannya Wijaya, dia adalah teman sekelas ku.


"Fisa.. aku memenangkan banyak poin hari ini, jadi aku ingin berterimakasih padamu!"


"Kau bertaruh untukku?!"


"Ya, kurasa 500 poin tidak begitu buruk walaupun aku sempat merasa cemas.. hahaha!"


Ternyata dia adalah orang yang bertaruh 500 poin untuk ku, dilihat-lihat aku dapat merasakan kalau dia adalah orang yang baik, bahkan sangat baik karena dari ekspresinya aku melihat perasaan tulusnya.


Aku akan berterimakasih juga pada Wijaya karena dia telah memberiku sedikit dorongan untuk membuatku serius.


"Maafkan aku, tapi terimakasih sudah percaya dengan kemampuanku!"


"Jangan meminta maaf, aku hanya ingin melakukan apa yang aku inginkan"


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak perlu tahu, sekarang biarkan aku yang membayar minumannya.. gadis manis"


Apa-apaan itu? Dia memiliki ketertarikan padaku dan aku dapat dengan jelas mengetahuinya. Ini membuatku bingung harus bertindak seperti apa, mungkin sebagai awalan aku akan menerima tawarannya yang ingin mentraktirku minum.


"Nih, silahkan!"


"Ya.. terimakasih Wijaya!"


Wijaya langsung menggunakan ponselnya untuk membayar dan tak lama kemudian kaleng minuman yang kupilih terjatuh, aku sendiri memilih minuman berkafein yang mungkin Satomi benci. Dia langsung mengambil lalu menyerahkan kaleng minuman itu padaku dan aku menerimanya dengan senang hati.


"Fisa, apa kau sedang luang sekarang?"


"Aku sibuk dalam 20 menit lagi, karena aku akan kembali bertanding"


"Hahaha.. aku tahu itu, yang kumaksud apa kau mau menghabiskan waktu istirahat bersamaku?"


Dia selalu tertawa setiap aku menanggapi hal yang dianggapnya salah, sungguh ketulusan yang luar biasa, bahkan aku dapat merasakan kalau dia tidak menyembunyikan apapun, maksudku Wijaya tidak seperti Satomi yang selalu berbohong dan menyembunyikan sesuatu.


"Boleh kok, tapi apa yang akan kita berdua lakukan?"


"Mari kita membicarakan sesuatu di bangku sini!"


"Baiklah!"

__ADS_1


Dia hanya ingin menghabiskan waktu istirahatku dengan berbicara di bangku yang terletak didekat mesin minuman. Aku sendiri tidak keberatan dan langsung menerima ajakannya.


Kami berdua berjalan singkat mendekati bangku itu lalu duduk bersampingan setelahnya, sepertinya ini hanya bisa dimuat oleh dua orang.


"Jadi, kau ingin membicarakan apa?"


"Jangan dingin begitu Fisa, sebenarnya aku hanya ingin menyemangati mu, kupikir mentalmu sedang lemah karena tidak ada yang mendukung dirimu"


Dia membicarakan masalah mental dengan aku yang sudah paham banyak tentang psikologi, sungguh obrolan yang membosankan, tapi bagaimanapun aku harus menenangkan diriku. Lalu aku membuka kaleng minuman yang dibeli tadi dan membukanya sambil berbicara pada Wijaya.


"Wijaya, aku tidak selemah yang kau kira.. jadi jangan anggap aku seperti itu lagi!"


"Hahaha.. maaf, aku tidak akan melakukannya lagi! Tapi bagaimana perasaanmu ketika masih ada seseorang yang mendukungmu?"


"Biasa saja, tidak ada perasaan khusus.. walaupun begitu aku tetap berterimakasih padamu"


"Sayang sekali, padahal aku berusaha menghibur dirimu yang sedang kesulitan.. bukankah kau baru saja putus dengan Satomi? Ditambah lagi kau harus berduel dengan seseorang yang lumayan kuat, apa kau baik-baik saja?"


Aku ingin memperingatkannya untuk tidak membahas tentang Satomi, tapi aku merasakan kalau dia sedang serius dalam menanyakan kondisi ku, singkatnya dia terlihat khawatir padaku.


Tanpa sadar air mataku keluar dengan sendirinya, padahal aku tidak sedang dalam keadaan sedih. Namun baru sebentar aku berpikir seperti itu, tak lama kemudian perasaan sedih langsung menerjang.


"Hiks.. hiks!"


"Maaf Fisa! Aku tidak berniat untuk membuatmu sedih, aku hanya berusaha untuk menghiburmu!"


Aku berbicara pada Wijaya sambil menangis terisak-isak.


Perasaan sedih yang kupendam akhirnya keluar ketika melihat orang yang benar-benar tulus padaku, aku sangat sedih dan terpukul hanya karena putus dengan Satomi. Aku memang gadis yang menyedihkan, aku kalah menarik dari Elaina, itulah yang terus mengganjal di pikiranku.


"Fisa, jangan menangis! Aku tidak tahu apakah Satomi lelaki yang buruk atau tidak, tapi biarkan aku melakukan ini.. permisi!"


"!!?"


Aku sangat terkejut dengan tindakan Wijaya selanjutnya, dia memeluk dan membenamkan wajahku di bagian dadanya.


"Kau bisa mengeluarkan semua emosimu sekarang! Aku bisa memahami dirimu jauh lebih baik daripada Satomi, jadi tolong terus percaya denganku!"


"Hiks....!!!"


Perasaan sedih yang mendalam tidak dapat lagi ku tahan, lalu aku mengeluarkan perasaan itu sesuai perkataan Wijaya. Aku menangis sejadi-jadinya, walaupun begitu, suara tangisanku tidak terlalu terdengar nyaring jika orang luar mendengarnya. Aku sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar dan terus menangis selama beberapa menit.


"Bagaimana? Apa kau sudah sedikit tenang?"


"Hiks.. ya, terimakasih sudah memahami ku, sekarang aku mengerti kenapa kau bertaruh untukku"


"Tidak perlu mengatakannya, sekarang kau harus fokus pada pertandingan terakhir.. tidak perlu memenangkannya jika kau memang tidak percaya diri, aku akan menghargai usahamu untuk menang karena itu lebih penting"


"Ya, aku mengerti!"

__ADS_1


Aku sudah lebih tenang karena Wijaya sekarang, dia juga menarik bahuku untuk menjauh darinya.


"Panggilan untuk Linq Zhao dari kelas 1-B dan Fisa Campbell dari kelas 1-E, dimohon untuk segera datang ke lapangan olahraga utama! Terima kasih!"


Pemberitahuan terdengar dan memanggilku untuk datang ke lapangan olahraga utama yang letaknya lumayan jauh dari tempat aku berada sekarang.


"Aku akan berjalan bersamamu kesana, sekarang mari kita berusaha untuk yang terbaik!"


"Ya!"


Kami berdua beranjak dari bangku dan berjalan santai bersama menuju lapangan olahraga utama. Kami membicarakan sedikit hal tentang Satomi, aku juga menahan diri agar tidak menceritakan tentang Mr.X.


Setelah ratusan langkah, aku dan Wijaya telah sampai di tempat tujuan. Disini aku melihat Ling yang sudah bersiap di tempat sprint yang akan dilakukan.


"Semoga beruntung, Fisa! Aku selalu mendukungmu!"


"Terima kasih!"


Aku meninggalkan Wijaya lalu berjalan mendekati Ling.


"Sekarang adalah waktunya penentuan, apakah Ling akan memenangkan balapan 100 meter ini? Ataukah Fisa akan memberikan kejutan dan mengalahkan Ling? Kita akan melihatnya bersama-sama di babak penentuan ini!"


Suara pemandu acara kembali terdengar, sebelumnya dia juga memandu pertandingan ku saat dalam gedung olahraga.


Karena ini adalah lapangan utama, orang yang melihat lebih banyak dan seperti yang sudah diduga, hampir semua penonton mendukung dan bertaruh untuk Ling.


"Kalian berdua, segera bersiap di posisi, tidak ada peraturan khusus.. semuanya sama seperti balapan sprint biasa, apa kalian sudah siap?"


"Ya.."


"Tentu!"


Banyak penonton menyoraki balapan yang akan berlangsung, tapi aku sudah tidak memperdulikannya dan fokus pada pertandingan terakhir ku.


"3.. 2.. 1.. DORR!!"


Suara pistol yang berisi peluru karet ditembakkan dan kami berdua langsung berlari setelah berbunyi.


Aku terus berlari sekuat tenaga, tapi tetap saja aku masih kalah langkah dari Ling. Aku sudah serius kali ini dan terus berusaha untuk meningkatkan kecepatan lariku, walaupun aku sempat berhasil mendekati Ling, tapi pada akhirnya aku tetap kalah dan Ling memenangkan pertandingan sekaligus duel yang dilakukan.


"Kita sudah mendapatkan pemenangnya, yaitu Linq Zhao! Dengan begini skor menjadi 2-1, kerja bagus kalian berdua! Sekarang nilai Ling akan sedikit menurun karena kekalahan di pertandingan kedua dan nilai Fisa akan sedikit naik karena kemenangannya, Fisa juga memerlukan 5 kemenangan agar bisa menaikkan dirinya sendiri ke kelas D. Sekian pertandingan hari ini, kuharap kalian menikmatinya! Sampai jumpa!"


Semuanya sudah berakhir, aku kalah atas Ling dan kurasa aku memang terlalu lemah. Aku tidak sedih karena kekalahan yang kualami, karena diputusi oleh Satomi lebih menyakitkan bagiku.


Aku langsung meninggalkan lapangan olahraga ini tanpa memperdulikan para penonton.


Tidak ada kecurangan disini, aku yakin semuanya murni atas kekuatan Ling itu sendiri, sepertinya Mr.X juga tidak perlu campur tangan karena balapan ini.


Benar juga, aku penasaran bagaimana kondisinya sekarang, apakah Satomi berhasil menjalankan rencananya, itu membuatku penasaran.

__ADS_1


__ADS_2