Uniregular Sport School

Uniregular Sport School
Chapter 32


__ADS_3

POV (Fisa Campbell)


Kukira dia akan membawaku ke tempat yang romantis, tapi ternyata dia malah membawaku ke kantor guru, tentu saja ini membuatku sedikit kesal dan bingung.


"Kenapa kita ada disini?"


"Smith memanggilku untuk datang, jadi kurasa tidak ada salahnya jika mengajakmu juga"


"Apa kita akan membahas sesuatu yang serius?"


"Entahlah.."


"Hmphh!"


Aku menggembungkan pipiku dan hal ini membuat Satomi terlihat senang, sepertinya dia suka melihatku ketika sedang kesal.


"Satomi.. kau juga membawa pacarmu kesini ya?"


Kami berdua baru memasuki ruangan, tapi Smith langsung menegur Satomi dan mengatakan hal yang membuatku malu.


"Hmm.."


"Pokoknya kerja bagus atas penyelamatanmu di gudang tadi!"


"Jadi kau melihatnya?"


"Mari kita bicarakan ini di dalam ruangan ku, maaf karena memanggilmu tiba-tiba!"


"Tidak masalah selama Fisa tidak keberatan"


Aku hanya bisa menyimak pembicaraan mereka berdua sebelum akhirnya Smith mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam ruangannya. Ternyata setiap guru mempunyai ruangannya sendiri, inilah yang membuat kantor ini terlihat sangat besar.


"Silahkan duduk dimana saja!"


"Ya.."


Lalu kami berdua duduk di sofa bersama dengan Smith dan langsung menyeduhkan teh hangat pada kami.


"Sebenarnya aku ingin menyajikan kopi, tapi kau membencinya bukan?"


"Darimana kau tahu?"


"Sudah kubilang bukan, aku tahu semuanya"


"Terserahlah"


Lagi-lagi aku hanya bisa menyimak pembicaraan mereka berdua dan karena merasa diabaikan, aku langsung menempel pada Satomi dan berbicara padanya.


"Satomi.. bukankah kau bilang kita akan mendapatkan pengurangan 100 poin? Tapi poin kita tetap tidak berkurang dan masih sama seperti sebelumnya"


"Mesra sekali ya.. biar aku bantu jawab Campbell, itu semua karena aku.. aku berhasil menjadikan posisi kalian berdua sebagai korban dan pada akhirnya kalian hanya dianggap melawan sebagai bentuk pertahanan diri"


"Kalau begitu, terima kasih pak Smith!"


"Panggil Smith saja, lagipula aku tidak ingin dipanggil sebagai guru"


"Eh.. kenapa?"


Aku terkejut ketika Smith mengatakan kalau dia tidak ingin dipanggil sebagai guru.


"Itu karena aku hanyalah orang naif yang ingin balas dendam"


"Balas dendam?"


"Mau dengar ceritanya? Ini lumayan panjang dan maaf saja jika membosankan!"


"Sudah cerita saja!"


Belum sempat berbicara, Satomi langsung menyuruh guru.. Smith untuk segera bercerita.


"Satomi.. Mr.X yang kau maksud, dia memang dalang dibalik semuanya dan telah berkuasa selama kurang lebih dari 20 tahun!"


"Bukankah itu terlalu lama? 20 Tahun?!"

__ADS_1


Satomi hanya mendengar cerita Smith dengan ekspresi tenang seperti biasa, sedangkan aku sendiri mungkin terasa sangat heboh dan penasaran dengan ceritanya.


"Seperti itulah kenyataannya, pada akhirnya jika ada seseorang yang sedikit saja mengetahui tentang Mr.X ini, maka jangan harap kau bisa mendapatkan hidup tenang"


"Jadi karena itulah Satomi menjadi incaran Mr.X?"


"Tidak, bukan sesuatu sederhana seperti itu.. Mr.X mengincar mu, Fisa Campbell!"


"Tidak mungkin, jangan membuatku takut!"


Smith mengatakan kalau Mr.X mengincar ku, ini membuatku takut, bahkan sangat takut hingga aku mencengkram lengan Satomi dengan erat.


"Tenang saja Fisa.. aku akan melindungi dirimu apapun yang terjadi, kita akan terus bersama hingga lulus nanti!"


"Aku takut!"


"Tenang.. cup.. cup!"


"Hehe.."


Satomi menenangkan diriku yang ketakutan sambil mengelus-elus rambutku, sekarang dia mengganggap ku seperti anak kecil, tapi aku tetap senang karena perbuatannya ini.


"Bisa hentikan? Aku ingin bercerita lebih lanjut!"


"Ya.. silahkan saja!"


Kami terlalu asyik bermesraan dan mengabaikan Smith yang terlihat ingin sekali melanjutkan ceritanya.


"Sampai mana tadi? Huh.. bahkan aku jadi lupa sendiri karena kalian berdua!"


"Smith Afton.. kau itu masih muda, tapi kau sudah pelupa!"


"Itu manusiawi, apa kau sendiri tidak pernah lupa?!"


"Aku memang pernah mengalaminya, tapi kurasa tidak seburuk dirimu!"


"Satomi Adney, jangan berbangga diri dulu hanya karena ingatanmu yang kuat! Hadapi saja Mr.X yang sudah kau pikirkan dengan keras ini!"


"Kalian berdua!! Hentikan!!!"


"Maaf Campbell, aku terbawa suasana!"


"Ya.. maafkan aku, sayang!"


"Eh..? Sayang?!!!"


Mereka berdua meminta maaf padaku, tapi setelahnya aku terkejut ketika Satomi meminta maaf sambil memanggilku sayang, tentu saja hal ini membuat aku menjadi sangat malu.


Kami berdua memang pacaran, tapi baru beberapa jam telah berlalu setelah kami berciuman, jadi aku masih tetap malu ketika mendengarnya memanggilku seperti itu.


"Ada apa? Apa kau tidak menginginkannya? Maaf, aku akan memanggilmu seperti biasa!"


"Tidak.. tidak apa, aku.. tidak keberatan!"


"Begitu ya.."


Pada akhirnya aku hanya bisa menerima panggilannya itu karena perasaanku sendiri yang ikut senang ketika mendengarnya.


"Mesra sekali ya.. kalian mengabaikan diriku lagi!"


"Lagipula kalau mau cerita, langsung cerita saja.. aku akan langsung mendengarkan!"


Smith terlihat sedikit kesal ketika melihat aku dan Satomi saling berbicara hingga mengabaikannya, lalu dia menegur kami dan lanjut bercerita setelahnya.


"Apa kau tidak takut lagi?"


"Ya, aku sudah tenang sekarang!"


"Baiklah akan ku lanjutkan!"


Smith lalu bercerita tentang hal yang sulit untuk kupahami dan kurasa hanya Satomi yang bisa memahaminya, jadi mungkin aku akan bertanya pada Satomi nanti setelah keluar dari kantor ini.


Ditengah bercerita, Satomi mendadak memotong ceritanya dan bertanya tentang hubungan antara Smith dengan Laurent.

__ADS_1


"Tunggu Smith.. apa hubunganmu dengan Laurent?"


"Oh, hubungan kami adalah pasutri.. kenapa? Apa kau terkejut?"


"Aku sangat terkejut!"


Aku yang sedari tadi menyimak karena tidak mengerti langsung bersemangat menjawab pertanyaan Smith.


"Jangan terlalu terkejut, kami berdua sudah menjalani hidup yang sangat sulit di sekolah ini.. bahkan dia rela menjadi guru disini hanya untuk bisa bertemu denganku setiap hari!"


Lalu Smith lanjut bercerita panjang lebar tentang dirinya dan Laurent saat bersekolah disini, aku dan Satomi hanya bisa menyimak ceritanya kali ini, sepertinya Smith telah menjalani masa sulit hanya karena tidak sengaja melihat beberapa orang yang melakukan penggelapan uang.


Aku sendiri masih tidak mengerti dan mungkin akan menanyakannya pada Satomi tentang maksud cerita Smith.


"Seperti itulah ceritanya, kalian berdua harus berhati-hati mulai sekarang!"


"Terima kasih atas perhatiannya.. tapi aku akan baik-baik saja!"


"Satomi Adney, seberapa jauh kau meremehkan Mr.X? Bahkan kau terlihat sangat tenang sekarang, apa kau benar-benar mengerti tentang ceritaku?"


"Ya.. ya.. aku sudah mengerti, sekarang aku ingin bermesraan dengan Fisa.. jadi terima kasih sudah memberikan informasi yang sangat penting!"


Satomi memang terlihat tenang dan Smith juga bisa merasakan sikap tenangnya itu. Bahkan aku dapat melihat tatapan dan ekspresi Smith yang mengharapkan hingga mempercayakan sesuatu padanya.


Saat ini aku masih tidak mengerti karena otakku sendiri sudah terlalu dangkal dan malas untuk berpikir.


Lalu aku dan Satomi keluar dari kantor guru dan saling berpegangan tangan tanpa memperdulikan para guru yang sedang melihat ke arah kami.


"Sa-sa.. saa- sa..yang!"


"Ada apa? Jangan dipaksakan jika kau merasa malu, lagipula aku tidak keberatan dengan panggilan apa saja"


Aku terlalu gugup dan malu untuk memanggilnya sayang, padahal aku juga ingin sekali memanggilnya seperti itu.


"Sudah hampir sore sekarang, apa kau ingin melihat para siswa yang di dropout secara langsung?"


"Boleh saja.. ayo!"


Satomi mengajakku untuk datang ke depan pintu gerbang sekolah untuk melihat beberapa siswa yang akan di dropout sore ini, walaupun sebenarnya aku agak takut, tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja.


Kami berdua terus bergandengan tangan berjalan ke sana dan tidak memerlukan waktu lama, kami sudah sampai dan mendapati banyak kerumunan disana.


"Satomi.. apa kau baik-baik saja?"


Aku melihat Satomi memegangi telinganya setelah sampai, jadi aku menanyakan kondisinya karena khawatir.


"Tidak masalah, semuanya baik-baik saja"


Dia berbohong, aku sangat yakin, tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk membiarkannya dan berpura-pura percaya padanya.


"Itu mereka!"


Banyak sekali orang yang menyoraki mereka berlima, bahkan aku dapat merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang di dropout. Namanya dibunuh dalam masyarakat dunia dan itu sudah jelas membuat mereka akan mengalami emosi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


"Sampah.. sampah.. sampah!"


"Bersiaplah menjadi sampah masyarakat kawan! Hahahaha!"


"Hahaha...!!!"


Aku melihat lima orang yang disoraki dan dihina hingga ditertawakan oleh mereka, aku tidak mengenal empat orang itu dan hanya mengenal Beny seorang.


Namun tak diduga Beny berjalan ke arah kami berdua dan dia menatap Satomi dengan tatapan yang tajam sebelum dia mengatakan sesuatu.


"Satomi.. maafkan aku! Kau memang sangat pintar dan kuat, biarkan aku memberitahukan hal ini padamu.. aku terpaksa melakukan perintah dari pesan yang tidak kukenali karena dalam keadaan terpuruk, "Dropout Satomi Adney!" Begitulah katanya"


"Begitu ya.. kalau begitu aku akan membantumu ketika sudah lulus nanti, kuharap kau bisa bertahan hidup dalam keadaan terburuk"


"Ya, tentu saja.. terima kasih sudah mau membantuku, tapi kurasa itu tidak perlu.. karena aku pantas menerima hal seperti ini! Sampai jumpa, Satomi Adney.. Fisa Campbell! Teruslah bertahan hidup hingga kalian menikah nanti!"


"Ehh!!?"


Beny masih sempat mengucapkan salam perpisahan yang membuat diriku jadi sangat malu. Dan ditengah kerumunan orang yang berisik ini, Beny lalu keluar dari gerbang sekolah dan melambaikan tangannya pada kami berdua.

__ADS_1


Ternyata Beny hanya dimanfaatkan oleh Mr.X dan langsung dibuang ketika sudah tidak berguna lagi, padahal aku yakin jika dia punya kuasa yang besar, maka Mr.X pasti akan menahan Beny untuk tetap berada disini.


Sungguh, aku masih tidak mengerti tentang semua ini, tentang apa yang sebenarnya terjadi, aku masih tidak paham sepenuhnya.


__ADS_2