Uniregular Sport School

Uniregular Sport School
Chapter 21: Perasaan Senang


__ADS_3

POV (Fisa Campbell)


Aku sangat khawatir dan hampir meneteskan air mata sekarang, itu karena Satomi tak kunjung datang. Sudah sangat lama aku menunggunya, tapi dia masih tidak memberikan kabar.


Aku terus memegang ponsel sambil berharap dan tidak lama kemudian ponselku bergetar, membuatku sedikit terkejut tapi aku sangat senang karena itu adalah pesan dari Satomi.


Fisa, maaf lama! Tapi bisa kau temui aku sekarang?


Setelahnya membaca pesannya, aku membalas pesan itu dengan penuh perasaan khawatir.


Astaga! Apa kau baik-baik saja? Bagaimana kondisimu sekarang? Aku sangat khawatir😭


Aku akan memberitahukannya saat kita bertemu nanti, jadi sekarang bisa temui aku di taman?


Dia memintaku untuk bertemu di taman, jadi kurasa aku akan mengikuti perkataannya dan pergi. Tapi sebelum pergi, aku harus mengirimi pesan terlebih dahulu untuk memastikan.


Ya, aku akan segera kesana!


Selesai mengirimi pesan terakhir, sambil ditengah jalan aku terus berharap agar dia baik-baik saja.


Pergi ke taman di area kelas satu hanya memerlukan waktu kurang dari lima menit. Aku sudah sampai disini sekarang dan segera duduk di bangku taman, tapi aku belum melihat Satomi.


Saat ini banyak siswa yang sedang bermain di taman, berbeda dengan mereka yang bersenang-senang, aku justru merasa takut dan ingin secepatnya bertemu dengan Satomi.


"Fisa.. kau baik-baik saja? Maaf aku terlalu lama!"


Lalu aku mendengar suara seseorang yang sangat familiar dan dengan cepat aku berbalik melihat ke sumber suara itu.


Ternyata benar, aku melihat Satomi di sana dengan keadaan yang agak buruk dan hal ini membuatku menjadi sangat khawatir.


Dia mendekat ke arahku lalu duduk di sampingku, dan entah apa yang terjadi aku malah menangis.


"Hiks... Ja..hat.. seka..li kau menginggalkan..ku!"


Aku ingin melampiaskan semua emosiku dan apa yang kurasakan padanya, namun dia malah tersenyum dengan kondisinya yang seperti itu.


Saat kulihat dari dekat, ternyata dia mendapati banyak luka di sekujur tubuhnya, dari bagian kepala, tangan, hingga kakinya. Aku jadi sangat khawatir karena ini, tapi aku juga agak kesal karena dia melewati semua ini tanpa aku.


"Maaf.. Fisa, untuk sekarang semuanya sudah baik-baik saja!"


"Apanya yang baik-baik saja!? Lihatlah kepalamu yang penuh dengan luka itu, lalu tanganmu.. dan juga kakimu! Kau kira kau bisa melakukannya sendiri-.. ehh?!!"


Ditengah aku sedang melampiaskan semua emosiku dan berbicara padanya, wajah Satomi mendadak mendekat ke wajahku dan dia menempelkan bibirnya padaku sambil memegang bagian belakang kepalaku dengan tangan kanannya.


Tentu saja hal ini membuatku sangat terkejut, jadi.. kami sedang berciuman sekarang! Aku juga tidak bisa menolaknya karena tindakannya yang mendadak dan kurasa aku juga tidak keberatan dengan tindakannya ini.


Bibir kami sudah bersentuhan selama beberapa detik, dan lidah kami pun sudah bertumpang tindih. Aku dapat merasakan sensasi yang agak kasar dari bibir Satomi, dan karena hal ini badanku menjadi sangat panas.


Semua emosi negatif yang kurasakan langsung berubah dengan cepat, aku yang sekarang merasa sangat bahagia. Aku sudah tahu penyebabnya, karena itulah aku menjadi sangat bahagia sekarang.


Ini pertama kalinya aku berciuman dengan seorang lelaki, jadi Satomi sudah mengambil ciuman pertamaku, aku juga tidak keberatan kalau ciuman pertamaku diambil oleh orang yang kucintai. Aku mencintainya saat pertama kali melihat sikap tenangnya, dan kurasa dia juga mencintaiku walaupun aku tidak mengetahui kapan dia merasa seperti itu.

__ADS_1


Tapi aku tidak perlu menanyainya lebih lanjut, karena melihatnya bertindak seperti ini saja sudah membuatku sangat bahagia.


Badanku terasa panas dan jantungku juga berdetak dengan sangat kencang, ini lebih kencang dari biasanya dan hampir membuatku sesak nafas.


Kami berdua terus menempelkan bibir tanpa memperdulikan keadaan sekitar taman. Aku tidak peduli lagi jika pengurangan poin terjadi karena kami berciuman, itu karena aku merasa kalau bersama dengan Satomi semuanya akan baik-baik saja.


"Nice kiss... My friend! Kalian selalu saja menjadi pusat perhatian orang-orang.. aku jadi iri.."


Kami berdua dikejutkan oleh Niko, dan karena inilah Satomi melepaskan sentuhan bibirnya dan sedikit menjauhkan wajahnya dariku.


"Yo.. Niko! Kenapa kau ada disini?"


Lalu dengan santainya Satomi menegur Niko dan menanyakan maksud keberadaannya, dari yang kulihat, dia terlihat sedikit kesal karena Niko yang tiba-tiba menegur.


Walaupun Satomi menegur sambil tersenyum, tapi aku sangat yakin kalau dia sedang merasa kesal karena diganggu.


"Seperti biasa, kalian menghebohkan beberapa orang dan menjadi pusat perhatian.. aku hanya datang untuk menyapa kalian berdua lalu pergi setelahnya"


"Pergilah.. Kau sudah mengganggu kami!"


"Hahahaha.. maaf maaf.. baiklah aku akan pergi sekarang, ngomong-ngomong.. jangan lupa pakai pengaman untuk tahap selanjutnya, Satomi!"


"Berisik.. cepatlah pergi!"


Aku hanya menyimak pembicaraan mereka berdua dan sebelum pergi, Niko mengatakan sesuatu yang sulit untuk kupahami. Apakah ada hubungannya jika memakai pengaman dengan tahap selanjutnya, hal itu masih belum aku mengerti.


Mungkin lebih baik untuk mengabaikannya saja, karena dia mengatakan itu dengan sangat ringan dan tanpa beban sekalipun.


Sekarang aku hanya bisa menatap Satomi yang terlihat sangat buruk.. nah itu dia! Aku hampir melupakan kondisi tubuhnya karena tindakannya tadi.


"Maaf, tapi aku harus melakukannya untuk menenangkan diriku sendiri.."


"Hmph.. aku sangat malu sekarang, kau tahu itu? Aku akan menjadi bahan pembicaraan banyak orang!"


Tapi jika diingat-ingat, kejadian barusan memang membuatku menjadi sangat malu karena ternyata kami berciuman dihadapan banyak orang.


"Aku tidak peduli bahkan jika terjadi pengurangan poin.. maaf saja jika aku menjadi egois, tapi aku akan menjelaskannya sekarang!"


Namun itu berbanding terbalik dengan Satomi, dia yang sekarang kembali menjadi tenang dan hampir tidak menunjukkan emosi apapun, itu terjadi sebelum dia kesal dengan Niko, sepertinya dia sama sekali tidak merasa malu ketika menciumku dihadapan banyak orang.


Dia juga berkata kalau akan menjelaskan maksud dari semua tindakannya dan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tapi sebelum itu, bagaimana kalau aku merawat lukamu dulu?"


Sebelum kami berbicara, aku mengusulkan pada Satomi untuk membersihkan dan merawat lukanya tersebut.


"Tidak apa-apa.. ini bukanlah masalah, sekarang aku akan menjelaskannya.."


Entah dia yang bodoh atau sedang meremehkan luka yang dialaminya, tapi sebenarnya aku tidak peduli dengan kedua hal itu. Aku hanya ingin merawat lukanya dan melihatnya benar-benar dalam kondisi baik.


"Bodoh sekali kau! Sekarang ikut aku!"

__ADS_1


"..."


Aku dengan cepat berdiri dari bangku taman lalu menarik tangan Satomi untuk bangun dan pergi setelahnya. Dia hanya diam saja sambil mengikuti perkataanku, sebenarnya aku juga bisa menjadi egois, bukan hanya kau saja.


Aku lalu membawa Satomi ke ruang kesehatan untuk dirawat dan mungkin aku juga akan melaporkan kejadian ini ke pihak sekolah.


Kami tidak berbicara apapun di perjalanan, bahkan dia tidak menanyakan kemana aku akan membawanya. Suasananya menjadi canggung, tapi kurasa akan ada saat kami berdua akan berbicara dengan santai.


Akhirnya setelah cukup lama berjalan, kami berdua sampai di ruang kesehatan.


"Sekarang apa?"


"Kenapa kau mendadak jadi dingin? Jawabannya sudah jelas bukan.. aku ingin merawat lukamu itu!"


"Tapi para guru sedang rapat sekarang, jadi tidak ada seseorang disini.. bahkan ruangannya pun terkunci"


"Sayang sekali ya.."


"Begitulah.. sekarang apa?"


Aku mencoba membuka pintunya namun ternyata tidak bisa karena terkunci sesuai perkataan Satomi. Dia bahkan tahu alasannya, para guru sedang mengadakan rapat penting sekarang.


"Sekarang.. Satomi! Aku akan membawamu ke kamarku, ikut aku sekarang!"


"Tu-tunggu.. bagaimana jika seseorang tahu kalau kau membawa seorang laki-laki ke kamarmu? Bukankah itu gawat?"


Saat aku mengajaknya untuk pergi ke kamarku, ternyata Satomi mendadak jadi panik dan ini agak mengejutkan bagiku. Ternyata orang sepertinya juga bisa merasakan panik.


"Kita akan melakukannya diam-diam.. aku tidak peduli dengan resikonya dan yang terpenting aku mempunyai kotak pertolongan pertama, itu cukup membantu dengan lukamu yang seperti itu!"


"Aku tidak keberatan dengan usulan itu, tapi kenapa kau ingin sekali merawat lukaku? Kurasa ini akan baik-baik saja.."


Aku menjadi kesal karena dia terus keras kepala dan mengatakan kalau dia akan baik-baik saja, tapi aku sangat yakin luka itu bisa menjadi infeksi jika tidak dirawat dengan baik.


"Berisik! Ikuti saja perkataanku.. aku juga bisa menjadi sangat egois, bahkan itu melebihi keegoisanmu!"


Dengan nada tinggi dan penuh khawatir aku memarahi dan memaksanya untuk datang ke kamarku.


Sebenarnya pilihan ini tidak terlalu tepat, karena sesuai perkataan Satomi jika orang melihat kami memasuki kamar yang sama, maka itu akan menimbulkan kecurigaan aneh.


Tapi karena para guru sedang rapat dan ruang kesehatan juga sedang dikunci, jadi aku memang harus melakukan pilihan itu.


"Baiklah kalau itu keinginanmu.."


"Hehe.. terima kasih sudah mengikuti keegoisanku!"


"Tidak apa.. kita juga bisa sambil membicarakan sesuatu disana"


"Ya.. aku sangat menantikannya!"


Aku akan membawa seorang laki-laki ke kamarku, ini juga pertama kalinya aku mengajak laki-laki ke dalam kamarku sendiri. Namun karena dia adalah Satomi, kurasa aku akan baik-baik saja dan aku juga yakin dia tidak akan berbuat hal aneh padaku.

__ADS_1


Badanku menjadi sangat panas karena hal ini, jantungku berdetak sangat kencang bahkan aku sangat gugup untuk melihat wajahnya.


Orang yang kucintai akan masuk ke dalam kamarku, ini membuat diriku menjadi sangat senang, walaupun ada sedikit perasaan gugup.


__ADS_2