
Ansell Qin yang melihat Sora dan teman-teman nya di kejar oleh segeromobolan Pria yang membawa senjata api, Entah kenapa kakinya dengan refleks ingin mengejar Sora memastikan wanita itu Aman.
Sora berusaha membrontak di dalam pelukkan Ansell Qin. Mereka lagi bersembunyi di samping mobil dari para pria yang mengejar Sora.
"Lepaskan" Sora berusaha mendorong tubuh Ansell.
"Kenapa, sekelompok pria itu mengejarmu?" Tanya Ansell dengan tatapan tajam nya menatap wajah Sora.
" apa urusan nya dengan mu? Lepaskan aku"
" tidak akan, sebelum kau menjawab pertanyaan ku?"
"aku hanya menendang kaki salah satu teman mereka karena telah mengoda ku" alasan Sora.
Ansell Qin menatap Sora dengan tajam. " tidak mungkin sesederhana itu kan, hanya karena menendang kaki. puluhan pria bersenjata mengejarmu dan teman-teman mu" Ansell masih menatap dengan curiga pada Sora.
"Terserah kalau kau tidak percaya" Sora mengijak dengan keras kaki Ansell, membuat Ansell melepaskan Sora dari dekapannya.
Ansell melihat kepergian Sora dengan penuh pertanyaan di kepalanya. Sungguh dia begitu penasaran terhadap Sora.
Sora meninggalkan Ansell Qin dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah dari tadi menunggunya.
"Kenapa begitu lama, dari mana?" Tanya Ken.
"ke toilet" Sora menjawab dengan asal saja.
"Yakin???" Selidik JJ
"Cih,,,akan ku lepas alat pelacak di tangan ku ini biar nanti kalian akan susah mencari ku" Ancam Sora dengan kesal.
"tadi Ansell Qin mencegat ku" Ucap nya lagi. sepertinya dia tidak bisa berbohong kepada ke lima Asisten nya.
"Kenapa dia mencari mu lagi?" Tanya Ken
"Entah lah mungkin dia jatuh cinta ke pada ku" Jawab sembarang Sora.
"kalau dia jatuh cinta pada mu, sebentar lagi dia akan patah hati dan menyerah" Sambung Jimi dia memberikan sebotol air mineral kepada Sora.
Setelah Jimi bilang begitu, semua nya tertawa dengan renyah di dalam mobil. membayangkan wajah kekecewaan seorang Ansell Qin.
__ADS_1
Mereka kembali ke mansion moonlight dan berkumpul di ruang pribadi Sora yang meraka namai dengan ruang terlarang hanya Sora dan kelima Asisten yang boleh masuk ke ruangan terlarang itu.
Mereka duduk di kursi masing-masing di tengah mereka terdapat meja bundar, di ruang terlarang lah biasanya mereka membahas atau merencanakan sesuatu. Bukan hanya itu di ruang terlarang terdapat berbagai macam senjata, alat-alat cangih dan beberapa layar komputer yang biasa di gunakan ke lima Asisten nya untuk mengerjakan sesuatu.
"Apa yang akan kita lakukan pada Anggota Black Rose" tanya Lian yang membuka suara terlebih dahulu.
"Laporkan dulu situasinya kepada Arlecia, dia yang akan putuskan kita yang akan bergerak atau Anggotanya yang maju" Jawab Sora.
" Jimi ambilkan wine?" perintah Sora.
Jimi langsung bangkit dari duduk untuk mengambil wine yang tersimpan rapi di salah satu lemari yang ada di dalam ruangan itu.
"yang pasti nya, Black Rose dalam waktu dekat ini tidak akan bertindak setelah informasinya bocor pada kita. Tapi Ken kenapa kau begitu setengah-setengah?" Sora menatap tajam ke arah Ken.
Ken sendiri tidak sadar pekerjaan apa yang di kerjakan nya setengah-setengah.
Ken melirik ke teman-teman nya, semuanya mengangkat kedua bahu mereka.
"Maksud Nona?" Tanya Ken.
Sora menarik nafas nya dalam-dalam. " Kenapa kau hanya menembak kaki mereka saja, seharusnya kau menembak kepala mereka" Ucap Sora menaikkan nada suaranya, sambil meneguk wine yang baru saja di tuangkan oleh Jimi.
"apa kau sekarang sudah ada rasa kasian pada musuh mu? ternyata kau masih manusia?"
"ku pikir selama ini kau adalah malaikat maut tapi setelah melihat kau berbaik hati hari ini ternyata kau juga manusia"
Ken hanya terdiam dan menundukkan kepalanya, dia juga memaki dirinya sendiri kenapa bisa dia hanya menembak kaki musuhnya saja. Ken menjadi tau maksud dari sindiran Nonanya itu. Kalau Ken tidak membunuh mereka, mereka bisa saja mengincar Sora karena mekera sudah mengetahui wajah Sora dan dirinya.
" Maaf Nona, itu tidak akan terjadi lagi" Ucap Ken yang merasa bersalah.
" Sudah lah, anggap saja umur mu sudah menua jadi kau ingin berbuat baik" Sindir Sora lagi.
Ke empat rekan nya sudah tidak bisa menahan ketawa mereka, akhirnya terdengar suara ketawa mereka yang terbahak-bahak karena sadari tadi sudah menahan tawa.
Ken menatap tajam ke arah rekan nya karena kesal tapi ke empat rekan nya tidak mempedulikan tatapan Kelvin. Kapan lagi mentertawakan Kelvin yang hampir tidak pernah membuat kesalahan.
" Kau Jimi dan JJ, kalian juga lambat seperti Kura-kura" Ucap Sora di tengah tawa-tawa mereka.
Seketika tawa mereka terhenti dan di sambung dengan ketawa Ken seorang sendiri. Setidaknya bukan hanya dirinya yang kena marah Sora.
__ADS_1
Sora bangkit dari duduk nya ingin keluar dari ruangan terlarang.
"malam ini cukup sampai di sini, beristirahat lah" Ucap Sora.
" Lian malam ini temani aku tidur!"
" Baik " sahut Lian.
...
Keesokkan harinya rasanya Sora bangun pagi sekali. Terlihat di sampingnya masih ada Lian yang masih tertidur.
Sora beranjak dari ranjang nya menuju ke kamar mandi dia ingin menganti pakaian nya dengan pakaian olahraga.
Setelah menggunakan baju olahraga, Sora membangunkan Lian agar menemani nya berolahraga.
"Apa Nona mau berlatih?" Tanya Lian.
" Tidak, aku hanya ingin lari pagi. cepat ikut aku" Ucap Sora.
" apa aku perlu membangunkan yang lainnya?"
"tidak perlu, cukup dirimu saja"
Sora memanggil Lian agar mendekar kepada nya dan menujuk kearah pantai yang terlihat dari balkon kamarnya.
"kita lari sampai ke pantai itu" Tunjuk Soda.
Lian dengan susah menelan saliva nya. Yang benar saja dari Mansion Moonlight ke pantai lumayan juga jarak nya bila hanya berlari atau pun joging.
" Nona, pantai itu terlihat dekat tapi jarak nya lumayan jauh dari Mansion" Lian berharap Nona mengerti maksudnya. Sama saja cari mati lari sampai ke pantai.
" Kau tidak kuat, kalau kita bisa sampai ke pantai ku akan memberi mu cuti 2 minggu terserah kau mau liburan di negara mana. Bagaimana?" tantang Sora.
" Oke, Deal" Lian menerima tantangan dari Sora.
" Deal " balas Sora.
Kedua memulai berlari setelah keluar dari pintu gerbang Mansion Moonlight.
__ADS_1
Sial, moga saja bisa bertahan sampai pantai. Gumam dalam hati Lian.
Lian tidak habis pikir bagaimana tubuh seorang wanita bisa sekuat pria malah lebih kuat dari pria biasa. Bukan hanya fisiknya yang juat tapi kesebatan nya dalam bertarung tidak bisa di remehkan. Tetapi Lian tau bagaimana Nona nya di latih selama ini oleh Xiang Zhang ayahnya Sora. Ayahnya melatih nya 3 kali lipat lebih keras di banding pelatihan yang di dapat dalam pelatihan tentara Negara.