
Suasana malam yang kental di tambah hawa dingin dari angin laut yang menerpa menambah kesenangan para lelaki yang kini ramai di ruang khusus yang telah di siapkan untuk bermain mahjong.
Tuan besar Zhang, Paman Leo, Arlecia dan para Asisten nya tengah melakukan permainan itu. Sebagian nya ada yang cuma menonton saja.
JJ menarik tangan Ken. " Ada penyusup" Ucap JJ.
"Siapa?" bisik Ken.
"Entahlah, dirinya tidak terdeteksi identitas" Jawab JJ.
Ken mengeyitkan alisnya dan menatap tajam wajah JJ. " apa alat mu tidak canggih lagi?"
"bukan begitu, bisa saja dia menggunakan topeng. Bagaimana pun alatku bisa mendeteksi identitas bila terlihat wajahnya walaupun hanya sebagian. Tapi alat ku masih bisa mengetahui ada penyusup ya kan?" Jelas JJ yang tidak mau alat yang sudah dia ciptakan di remehkan.
"Berarti..." Ucapan Ken mengantung kedua nya saling menatap dan tanpa aba-aba keduanya berlari menuju ke kamar Sora. Keduanya ingin memastikan bahwa penyusup itu tidak berada di kamar Sora.
Lian dan Ray yang melihat pergerakkan kedua temannya itu pun langsung ikut menyusul.
" Kenapa mereka berlarian?" Tanya Xiang Zhang yang tenang menatap deretan balok mahjong.
"Entahlah ayah" Jawab Arlecia yang kelihatan cuek lebih memilih fokus dengan permainannya.
"kau tidak ikut berlarian?" Tanya Xiang Zhang pada Jimi yang sedang mengamati permainan.
"tidak, palingan ada penyusup yang mentrobos masuk. Mereka berempat sudah dari cukup menanganinya" jawab Jimi dengan mengibaskan tangan nya agar jangan mengkhawatirkan keadaan.
"biarkan saja mereka, kita lanjutkan saja permainan kita" Arlecia terkekeh. " Kei kau akan kalah"
" Tidak akan tuan" sahut Kei.
Sedangkan Paman Leo hanya tersenyum-senyum melihat interkasi mereka yang selalu tenang dan mempercayakan kepada anak buah Sora untuk menangani tikus-tikus yang ingin masuk dalam kandang serigala.
Sungguh keluarga yang unik.
"Ada apa?" Tanya Lian yang sudah berhasil mengejar Ken dan JJ.
" ada penyusup" jawab JJ. Mereka kini sudah berada di depan kamar Sora.
Sedangkan di dalam kamar, mulut Sora masih di bungkam oleh Ansell. Keduanya saling mengarahkan pistol, Sora mengarahkan pistolnya di pinggang Ansell dan Ansell sendiri pun mengarahkan pistolnya tepat di pelipis Sora.
"Tenang honey, turunkan senjata mu" Ansell pun melepaskan bungkaman tangannya yang berada di mulut Sora.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Sora menurunkan pistolnya.
__ADS_1
Keduanya sama-sama menyimpan senjata mereka di balik pakaian yang sedang mereka kenakan. Tidak lama terdengar ketukkan dari arah luar pintu kamar.
Sora pun bergegas membuka pintu kamarnya karena tau pasti itu adalah para Asistennya.
"Ada..." Ucapan JJ mengantung karena di potong oleh Sora.
" Aku tau, penyusup itu adalah Ansell" Sora tidak suka berbasa basi.
Terlihat jelas wajah kaget para asistennya, mereka tidak menyangka bahwa penyusup itu adalah Ansell Qin.
"Aku akan mengatasinya sendiri, jangan sampai ayah dan lain nya tau bahwa Ansell berada di sini" Ucap Sora lalu menutup kembali pintu kamar nya.
Para Asistennya paham dan berlalu meninggalkan kamar Sora.
"ternyata dia benar-benar menyusul kesini setelah menerima kartu undangan" Ucap JJ.
"itulah yang di antisipasi oleh Sora agar memberikan kartu undangan sehari sebelum pesta, Ansell pasti akan menemukannya" Sahut Lian.
"ya sudah, aku ingin istirahat di kamar" ucap Ken.
"aku juga ingin pergi istirahat" sahut Lian.
Sedangkan JJ dan Rey kembali ke tempat Arlecia dan lainnya bermain mahjong.
Sora menatap tajam ke arah Ansell yang dengan luwesnya duduk di atas ranjang. Sedangkan Ansell menatap Sora dengan penuh damba dan kerinduan.
"aku mencintaimu Sora" tiba-tiba Ansell mengucapkan kalimat yang seperti mantra yang bisa mengetarkan jiwa.
Sora sempat merasakan getaran ini, tapi dia bisa mengendalikan dirinya.
"tidak Ansell, kau tidak mencintaiku kau hanya terobsesi padaku" Sahut Sora.
"Kau, kau bilang aku hanya terobsesi pada dirimu. Apa kau tidak merasakan ketulusan ku?"
"Sejak awal bertemu dengan mu, aku sudah mempunyai perasaan yang berbeda pada mu"
"sudah ku katakan...Aemm" kali ini bibir Sora dibungkam oleh bibir Ansell.
Ansell mentautkan bibirnya mencium dengan lembut penuh perasaan. Tak kuasa dengan sensasi yang diberikan oleh sentuhan Ansell, Sora pun melakukan perlawanan dengan membalas ciuman pria itu. Merasakan adanya perlawanan Ansell memperdalam ciumannya.
Dengan berlahan Ansell merebahkan tubuh Sora di tempat tidur dengan bibir yang masih saling memunggut.
Ciuman yang lembut kini menjadi ciuman yang penuh dengan hasrat dan semakin liar.
__ADS_1
Kini pikiran Sora terpecah menjadi dua antar menolak atau pun menerima sentuhan lembut yang menghanyutkan dirinya. Bahkan tubuhnya kini merespon dengan baik meminta sentuhan yang lebih intim.
Bukan tanpa alasan Sora bisa menerima sentuhan dari Ansell, selama ini dia juga mempunyai perasaan yang sama pada Ansell yaitu satu-satu nya pria yang berhasil membuat jantung nya berdetak tidak normal. Tapi Sora tidak mau menerima Ansell terlalu cepat, tapi kenyataannya tubuhnya kini lebih jujur.
Karena tidak ada penolakkan dari Sora, tangan Ansell turun menyusuri dada Sora yang masih terhalang oleh piyama.
Tidak puas dengan hal itu dengan lihainya Ansell membuka satu persatu kancing piyama yang di kenakan Sora. Sehingga dengan leluasa Ansell mengeksplor di bukit kemar yang sintal itu.
"Hentikan Ansell" Ucap Sora dengan suara serak. Tapi Ansell tidak menghiarukan itu dia terus meremas, menjilati serta menggigit puncak gunung kembar Sora secara bergantian.
"Ansell,,,Akkhhh"
"Hentikan Akhhh..."
"Sora, jangan menyiksa ku"
Ansell menambah kegilaaan nya dengan mulai menyentuh inti dari tubuh Sora.
membelai dengan lembut di helaian kain yang masih menjadi penghalang. Tubuh Sora menggeliat menahan rasa sensasi yang begitu aneh yang baru dia rasakan.
Clek...
Pintu kamar pun terbuka.
"What the F**k, apa yang kalian lakukan?" Teriak kaget Arlecia saat masuk ke kamar Adiknya itu.
Secara otomatis Sora dan Ansell terdiam menoleh kearah Arlecia yang tengah berdiri depan pintu kamar.
"Kau tidak mengunci kamar?" tanya Ansell dengan cara berbisik. Sora hanya mengedikkan bahunya.
"Sora, apa-apaan ini?" Tanya Arlecia yang masih tidak percaya mendapati adiknya sedang melakukan adegan mesra bersama pria secara live. " Dan kau?" Arlecia tidak percaya melihat pria yang sekarang bersama adiknya itu.
Ansell bukannya menjawab Arlecia, dia malah melirik dada Sora yang masih terekspos lalu dengan cepat dia merapatkan piyama Sora untuk menutupi bukit kembar yang di klaimnya hanya untuk dirinya saja.
"Jangan seenaknya memperlihatkan dada indah mu ke pada orang lain" Ucap Ansell sedikit kesal karena Sora tidak peka untuk menutupi sendiri dadanya yang terlihat.
"Dia adalah kakak ku, tidak masalah" balas Sora dengan santainya.
"Tidak boleh, baik kakak mu, ayah mu, bahkan anak kecil seperti keponakan mu Akira pun tidak boleh melihat bagian intim tubuh mu. Itu semua milikku"
"Hei, sejak kapan tubuhku milikmu" Pekik Sora.
" Mulai detik ini, Tidak... mulai dari kita tidur bersama di Apartement"
__ADS_1
"Hallo...apa kalian menganggap ku patung di sini!, tidak ada yang mau menjelaskan kepada ku?" Tanya Arlecia kesal yang merasa di acuhkan karena dari tadi Sora dan pria itu tidak menanggapi pertanyaannya malah keduanya asik berdebat sendiri.