UPSCALE LOVE

UPSCALE LOVE
PEKERJAAN SORA


__ADS_3

Mentari pagi kini menyapa dua insan yang masih terlelap dalam tidurnya, sepertinya Sora enggan menyadarkan diri dari mimpi indahnya.


Ansell yang kini sedikit terganggu dengan cara tidur Sora yang lumayan berantakkan terbanding terbalik kala wanita itu dalam terjaga yang selalu tampil anggun walaupun jelas terasa sifat arogannya.


Ansell duduk dengan wajah yang masih setengah ngantuk, bagaimana tidak Ansell tadi malam begitu lupa diri. Entah berapa kali ia melakukan penyatuan dengan Sora dan sialnya kekasihnya itu enggan menolak.


Ansell menatap wanitanya hanya bisa menggelengkan kepalanya karena saat ini posisi Sora menyilang dari arah tidur yang seharusnya. Bahkan bantal sudah terjatuh kelantai, pantas saja Ansell merasa berat diarea perut dan kakinya karena tertindih oleh kedua kaki Sora.


"ia mimpi apa sih, tidur sampai segininya" Ansell pun menyingkirkan kaki putih Sora dari tubuhnya. Setelah itu Ansell beranjak ke kamar mandi.


tak lama kemudian Sora pun mengerjapkan matanya, entah mengapa tubuhnya merasa letih sekali. Mungkin ini efek dari olahraga di atas ranjang rasa lelahnya melebihi berolahraga sebenarnya, pikir Sora.


Sora mengambil kimono tidurnya untuk menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan ****** ***** saja.


Ceklekk...


Pintu kamar mandi terbuka terlihat Ansell telah segar karena baru saja ia selesai mandi. Pria itu tersenyum melihat Sora yang tengah duduk di sofa dengan menengadahkan kepalanya melihat ke langit-langit kamar.


"morning honey" Sapa Ansell dengan mendaratkan sebuah kecupuan di kening Sora.


"mandilah, kita telah melewatkan waktu sarapan"


"aku mau makan dulu" pinta Sora. "aku ingin pasta" tambahnya lagi.


Ansell pun langsung meraih telpon hotel untuk meminta apa yang mau oleh Sora agar cepat diantar ke kamar mereka.


sambil menunggu makanan datang Ansell meraih Sora agar duduk di pangkuannya dan menghirup dalam-dalam wangi parfum yang masih melekat di tubuh wanitanya.

__ADS_1


"apa kau tau, bahwa tidurmu sangat berantakkan?" goda Ansell, ternyata wanitanya gak sesempurna yang ia pikirkan.


"Emm, tidurku selalu jadi bullyan kelima asisten ku. Ray dan Jimi bila menemani ku tidur selalu mengabadikan nya 'ini bisa jadi ancaman katanya' mereka pikir aku takut acaman seperti itu" Sora tanpa sadar menyandarkan kepalanya di dada bidang Ansell dengan nyamannya.


"aku ingin menangis rasanya" Ucap Ansell tiba-tiba.


Sora reflek langsung menoleh kewajah Ansell. "menangis?" tanya Sora tidak mengerti.


"begitu senangnya mengetahui aku adalah pria pertama untuk mu, padahal selama ini aku berusaha menepis pikiran bahwa kau sudah tidur dengan para asisten mu atau dengan pria lain. Aku menerima dan memaklumi karena aku mencintaimu tidak peduli dengan masa lalu mu" jelas Ansell panjang lebar.


Ia benar-benar tulus mencintai dan ingin memiliki Sora seorang. Ia tidak pernah sampai segininya dengan banyak wanita. Walaupun Sora bukan lah wanita pertama untuknya tapi tidak ada yang bisa membuat Ansell begitu mendamba seorang wanita seperti ia mendambakan Sora.


"emm,,,mereka hanya menemani ku tidur"


"mulai sekarang jangan biarkan mereka naik keranjang mu lagi, selain diri ku. aku sangat cemburu Sora" jujur lelaki itu sambil menciumi bahu Sora yang setengah kimononya sudah diturunkannya sehingga tangan Ansell dengan leluasa membelai tubuh Sora.


"Akira,,,terkecuali dia. Akira masih kecil jadi ia di perbolehkan"


"apa kau menyukai anak kecil"


"wow tentu saja aku suka. Apa kau bersedia melahirkan anak ku secepatnya"


"tidak..." tolak Sora dengan tegas. "untuk sekarang aku tidak memikirkan hal itu, jadi dirimu jangan berpikir lebih"


"ya, kita masih memiliki waktu untuk memikirkan hal itu. Karena selamanya kau milik ku Honey" Ansell tidak kesal mendengar penolakkan Sora, ia seperti biasa aja. Ansell hanya menciumi pipi Sora dengan gemesnya.


Sora pun tidak menanggapi hanya menerawang kedepan dengan pikiran yang berkecambuk dalam otaknya. Tak lama kemudian makan yang mereka pesan pun tiba.

__ADS_1


Walaupun hari sudah samgat siang, kedua pasangan kekasih ini tetap memilih untuk pergi ke kantor masing-masing karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.


terutama Sora, banyak yang harus ia tandatangai dan pekerjaan yang harus ia selesaikan sendiri sebagai CEO One S tanpa bisa di wakili siapa pun. Apa lagi saat ini kakak nya sedang bekantor di kantornya tentu saja menambah bebannya saja. Ingin sekali Sora memendang bokong kakak nya itu bila mengingat Arlecia sudah menambah pekerjaan nya saja.


Untuk kasus permasalahan kakaknya itu, ia harus menunggu hasil penyelidikan para Asistennya. Ansell sang kekasihnya itu tetap memjadi daftar yang harus di curigai saat ini. Mengingat pria itu punya kekuasaan dalam bisnis walau tidak ada catatan bahwa seorang Ansell terlibat dalam organisasi hitam.


menurut Sora tidak mungkin Ansell sebersih itu, dalam mempertahankan atau mengembangkan bisnis di Negara kelahiran Ayahnya ini pasti ada keterlibatan dengan organisasi-organisasi hitam atau sejenisnya. Bagaimana pun juga Ansell tanpa sadar sudah membuka rasa curiga Sora ketika Ansell mengenal Martin Hou bukan hanya sebagai pembisnis tapi juga sebagai ketua Black Rose.


Karena yang Sora tau tidak semua pengusaha begitu mudah mengenal ketua black rose bila tidak ada hubungan kerja.


"Jj mana ponsel baru ku?" tanya Sora yang baru saja mendudukkan bokong seksinya di kursi kebesarnnya.


"ini..." JJ menyerahkan ponsel keluaran terbaru yang sudah ia lengkapi dengan perangkat-perangkat yang canggih salah satunya ponsel itu tidak bisa di sadap dan bila ada yang berusaha mencoba mengotak-atik ponsel tersebut maka dengan cepat JJ akan mengetahuinya. Itu semua ia lakukan demi keamanan serta melindungi Nona nya.


"kenapa warnanya Pink" protes Sora karen ia lebih menyukai ponsel berwarna hitam.


JJ pun meringis, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"itu, ide dari Jimi" elak JJ padahal Jimi hanya mengatakan Pink juga bagus selain hitam, tapi bukan bearti Jimi langsung memilih Pink. Sekarang Jimi yang di kambing hitamkan, kalau saja ada Jimi saat ini mungkin sudah di suntik obat bius JJ saat ini. Sayangnya Jimi ikut Ken untuk menyelidiki virus itu.


"ah...sudah lah. Lian mana dokumen yang harus ku tangani" perintah Sora. JJ langsung bernafas lega perihal Sora tidak memperpanjang warna ponsel barunya kalau tidak bonusnya terancam dipotong.


tanpa banyak biaca Lian memberikan tumpukan dokumen keatas meja kerja Sora.


terdengar helaan nafas Sora melihat betapa banyaknya yang harus ia kerjakan.


"Lian, kau ingin seperti Paman Leo mengantikan aku duduk sebagai CEO" Sora menatap Lian berdoa semoga saja asistennya itu bersedia. sebenarnya Sora lebih suka posisinya saat ia belum menjabat sepenuhnya menjadi CEO tapi semua keputusan tetap di tangannya. Ia lebih banyak waktu bersantai di rumah.

__ADS_1


"oh terima kasih Nona, saya cukup menjadi Asisten saja" Tolak Lian dengan senyum sinisnya. Ia cukup tau pekerjaan CEO tidak hanya main perintah saja dan bukan hanya satu kantor saja yang di perhatikan. Apa lagi One S adalah perusahaan bisnis yang hampir segala bidang sudah dirambah. Walaupun banyak Direktur dan Manager yang sudah menangani semuanya tetap saja CEO utama yang mengendalikan semuanya. Seorang yang menjadi CEO memang sudah tertulis takdirnya karena ia mampu. Lian berpikir otaknya belumlah semampu otak Sora untuk mengemban itu semua.


__ADS_2