UPSCALE LOVE

UPSCALE LOVE
KEDATANGAN ARLECIA


__ADS_3

Di dalam mobil terlihat jelas kekesalan di wajah tampan Ansell. Sungguh hari ini sangat menguras emosinya menarik turun kadar adrenalin dalam tubuhnya.


Sedangkan wanita di sampingnya sangat terlihat biasa saja dengan wajah datarnya. Di dalam mobil hening tiada yang memulai pembicaraan setelah keluar dari restoran tradisional China. Dimana saat keduanya meniknati makan siang ada lagi kumbang yang menjijikan menurut Ansell datang menghampiri meja makan mereka.


Hari ini Ansell mencatat bahwa hari ini adalah hari yang kurang bagus untuk datang ke sebuah restoran tradisisonal China apa lagi mendapati kumbang ini memanfaatkan keadaan yang menguntungkan kerjasama antar perusahaan untuk mengobrol lebih dekat pada wanitanya, sungguh Ansell geram dan ingin sekali menyembunyikan bunganya itu dari kumbang-kumbang yang menjijikan. Kumbang yang di maksud adalah Martin Hou yang memang secara kebetulan akan menjalankan kerjasama dalam sebuah proyek.


Ketidak sukaan Ansell terhadap keadaan yang membuat hatinya membara sangat di ketahui oleh Sora dengan jelas.


Apa kah Sora peka? pikir Ansell, tentu saja Sora sangat peka dengan keadaan sekarang ini hanya saja ia adalah wanita yang malas untuk memulai tindakan yang penuh basa basi baginya. Ia lebih suka bertindak sepontan.


"tepikan mobilnya" pinta Sora.


Walaupun tidak ada sahutan dari Ansell tapi pria tampan itu tetap menepikan mobilnya di pinggir jalan yang memang tidak jauh dari sebuah taman kota.


Ansell tetap tidak melirik ke sampingnya tatapnya tetap ke depan. Sebenarnya Sora merasa lucu terhadap tingkah Ansell saat ini. Kekesalan yang timbul karena kecemburuan yang mendalam. Mengemaskan sekali.


Sora dengan terpaksa menolehkan wajah Ansell dengan sentuhan lembut tangannya.


"Cium aku" Ucap Sora yang lebih pada memerintah dari pada meminta.


Ansell menaikkan alis kanannya merasa heran dengan ucapan Sora. Seriously.


"Cium aku" Ulang Sora lagi.


"aku tidak mau mencium mu, aku mau memasukimu" Sahut Ansell yang mencoba keberuntungan nya siapa tau Sora mengabulkan keinginan terpendamnya.


"boleh saja, tapi ada syaratnya"


" apa itu?"


"aku mau Qin Grup jadi milik ku" Jawab Sora santai.


Seketika saja Ansell terbahak, "Akan ku berikan" Ansell mengerlingkan matanya.


Sora sangat tidak menduga reaksi Ansell, malah pria itu terlihat sungguh-sungguh ingin memberikan perusahaan nya bila sudah bisa mendapatkan jiwa raga seorang Sora.


"Semudah itu?"


"ya semudah itu"


Ansell lalu meraih tengkuk Sora agar mendekat pada nya.

__ADS_1


"jangan menciumku, aku sudah tidak berminat. Lebih baik kita cepat-cepat kembali ke perusahaan" Ketus Sora.


"Oh my God, bisa kah kau menyenangkan hati ku sedikit!"


Sora tidak membalas ucapan Ansell, ia lebih memilih melihat pemandangan taman kota dari kaca mobil. Tapi bukan Ansell namanya kalau hanya menyerah begitu saja, tidak mendapatkan bibir pipi pun jadi. Ansell tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil mencium pipi Sora lalu ia mulai melajukan kembali mobilnya. Sora yang di cium pipinya hanya menggelengkan kepalanya karena Ansell selalu memiliki cara untuk menyentuhnya.


Keesokkan harinya Sora terkejut dari bangun tidurnya. Bagaimana tidak disisi ranjang sudah ada sosok tampan dengan tubuh tegap sedang duduk sambil menyasap kopinya.


"Astaga, sedang apa kau di kamar ku?" tanya Sora dengan wajah terkejut apa lagi penampilannya berantakkan sebagun dari tidurnya.


"Menunggu mu bangun"


"tidak ada kerjaan, kapan kau datang ke sini? mana Ken?"


" hai putri mahkota, kau tidak mau memeluk kakak mu ini. Malah mencari Ken?" Protes Arlecia yang jam 2 dini hari datang ke apartement Sora.


Sora pun bangkit dari baringnya langsung menghambur kedalam pelukkan sang kakak. Bagi Arlecia, Sora tetap adik imutnya walaupun sekarang Sora sudah menjelma menjadi wanita dewasa.


"jangan tanya kenapa aku tidur di Apartement, kau pasti tau jawaban nya" Ucap Sora ketika melihat mimik wajah Arlecia ingin menanyakan sesuatu.


Arlecia terkekeh geli, kali ini adiknya sudah terperangkap dalam lingkaran cinta.


Sora hanya mengherdikkan bahunya.


"Belajarlah mencintainya seperti seorang wanita yang semestinya dan bertemanlah seperti seorang pria dalam pertemanannya. Jangan membuat dia merasa hubungan percintaan kalian terasa ambigu" Nasehat Arlecia pada adiknya bagaimana pun juga ia tidak mau pada usia adiknya ini melewatkan memont berharga bisa merasakan perasaan dicintai dan mencintai.


"aku mengerti" Sahut Sora tanpa sanggahan atas nasehat dari kakaknya itu.


"segera lah mandi, Ken dan semuanya sudah menunggu kita untuk sarapan"


Brakkk...tiba-tiba saja terdengar hantaman pintu kamar Sora yang di buka kasar oleh seseorang.


"apa yang kau lakukan?" Tanya Ansell yang sudah emosi bahkan ia siap untuk melayangkan tinjunya pada Arlecia. Untung saja kesadarannya kembali saat melihat ada seorang pria berada dalam kamar kekasihnya.


Ansell memang sengaja pagi ini menemui Sora karena ia ingin secara pribadi membangunkan kekasihnya tapi kebiasaan ia menyelong masuk begitu saja hingga ia mendengar suara lelaki dikamar Sora padahal ia menjumpai kelima Asisten Sora sedang berada di ruang makan dan di ruang tengah menjadikan pikirannya memikirkan yang tidak-tidak terhadap Sora.


"Ansell..." pekik Sora.


"Sorry..." Ansell seolah terpaku begitu saja melihat yang berada di dalam kamar wanitanya adalah calon kakak iparnya.


Arlecia tersenyum tipis melihat kekesalan Ansell, dia tidak menyangka pria yang terkenal sebagai pengusaha yang dingin dan arogan ini bisa begitu posesifnya pada sang adik.

__ADS_1


Berapa detik semuanya bergeming seolah mencerna keadaan masing-masing muncul anak manusia yang suci yang masih memakai piyama tidur berlari seperti mengejar sesuatu.


"Daddy..." teriak Akira yang mengetahui keberadaan Daddynya setelah di beri tahu oleh Jimi saat ingin membangunkan nya.


"Daddy, i miss you" ucap Akira bagaimana pun ia masih bocah yang sangat dekat dengan ayahnya.


Arlecia langsung menyamakan tingginya dengan Akira dengan berdiri bertumpu lututnya seraya memeluk tumbuh mungil itu yang wajahnya merupakan versi mininya dia.


"i miss you to, mommy mu juga sangat merindukan mu. Mommy menitipkan ciuman rindu pada mu" Arlecia melayangkan begitu banyak ciuman di wajah putranya.


Biasanya Akira selalu protes bila ada yang menciumnya melebihi satu kali kecupan di pipi tapi kali ini ia membiarkan karena bocah itu tau Daddynya sangat merindukannya.


"pagi mom..." Sapa Akira yang baru menyadari bahwa Sora memperhatikan keduanya dengan seulas senyuman.


"Pagi sayang" Balas Sora.


"oh ternyata ada Daddy Ansell juga di sini" Akira baru menyadari kehadiran Ansell karena sejak tadi bocah itu fokus pada Daddynya.


" hi boy..." Sapa Ansell merasa senang karena Akira menyapanya dengan sebutan Daddy.


"wah, sejak kapan Daddy mu bertambah" protes Arlecia ia merasa ada saingan saat ini.


"Semenjak Mom Sora pacaran dengan Dad Ansell" jawab polos Akira.


"kau mengajarinya?" tanya Ansell beralih melirik Sora. Sora hanya mengelengkan kepala.


Tok...tok...tok...


Bunyi ketukkan pintu walaupun pintu itu sudah terbuka lebar saat Ansell masuk.


"mengingatkan saja, saatnya sarapan" JJ menginterupsi keadaan.


"kalian keluar dulu, aku ingin membersihkan diri dulu"


"jangan lama" Arlecia memperingati lalu membawa Akira kembali ke kamarnya karena putranya itu juga harus mandi terlebih dahulu.


Selepas Arlecia, Akira dan JJ meninggalkan kamar Sora, Ansell masih berada didalam kamar Sora.


"apa yang kau lakukan pergi sana" Usir Sora.


"Morning Honey..." Ansell tidak peduli dengan penolakkan Sora, Ansell memeluk dan mengecup kening wanita yang begitu di cintainya. Selepas itu ia juga meninggalkan kamar Sora memberi keluasaan wanitanya untuk membersihkan diri.

__ADS_1


__ADS_2