Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 10 Misi baru


__ADS_3

Raven bersandar di sofanya sambil melihat ke arah tangannya. Dia nampak tersenyum tapi di kembali menggenggamkan tangannya karena teringat kejadian di balik pohon gerbang kampus Rennia.


"Marga Lyton ya, ehm berarti dia anak dari Aaron si gangster Kota sebelah yang sok berkuasa." Gumamnya.


Raven sudah menebak mungkin kedepannya dia akan berurusan dengan sekelompok gangster dengan yang diketuai marga Lyton itu. Tapi sedikit pun dia tidak gentar malah dia menunggu hingga saat itu tiba, dia akan pastikan untuk membalas perbuatan Azel terhadap Rennia.


Tatapan mata Raven menajam, dia sudah memikirkan berbagai rencana untuk menumpaskan gangster Kota sebelah itu. Raven juga akan mengawasi Rennia dengan lebih ketat lagi agar kejadian seperti tadi siang itu tidak berulang lagi.


Ponsel misi Raven berdering.


[Ya?] Jawab Raven menjawab panggilan telepon dari Holo.


[Kau dimana?] Sahut Holo dari seberang sana.


[Rumah.] Jawab Raven singkat.


[Ok. Aku baru terima misi tapi mungkin sedikit berbahaya karena ini berkaitan dengan beberapa pengkhianat dalam penyeludupan senjata seorang pengusaha besar.] Terang Holo dengan nada yang cukup serius.


[Baiklah, kapan aku mulai?] Ucap Raven dengan santai seperti tidak ada rasa takut sedikit pun. Yah begitulah seorang pembunuh bayaran tidak bolehbada rasa takut.


[Secepatnya. Aku akan mengirim data kepadamu.] Lanjut Holo lagi.


Kini panggilan telepon sudah berakhir, Raven membaca data tentang sekumpulan pengusaha besar disertai dengan pemimpinnya.


"Sepertinya aku pernah melihat wajah ini tapi di mana? Ehmm Ronald Louter." Ucap Raven dengan dirinya sendiri.


Tapi Raven tidak mengambil pusing dengan hal itu, dia fokus dengan data para pengkhianat itu. Kenapa mereka di bilang sedikit berbahaya ternyata para pengkhianat itu merupakan mantan intel di sebuah perusahaan swasta.


Raven tampak berpikir-pikir tentang rencananya agar dia tidak mudah tertangkap karena mata-mata intel ini ada di mana saja.


Sedang asyik berpikir tentang strateginya tiba-tiba ponsel biasanya berbunyi.


Ting!


Raven langsung saja mengambil ponselnya itu lalu melihat ke layar ponselnya. Senyuman di bibir Raven mulai terbit, ternyata pesan dari Rennia yang masuk.


[Rav, lagi sibuk?] -Rennia.


[Tidak, ehmm belum tidur?] -Raven.

__ADS_1


[Nggak bisa tidur, kamu temanin kayak kemarin bisa?] -Rennia


Senyum Raven mengembang tidak menyangka bahwa Rennia akan memintanya untuk menemaninya tidur lagi seperti semalam.


"Apa dengan si brengsek tu dia juga begini." Gumam Raven sambil menekan tombol panggilan keluar ke nomor Rennia.


Rennia dengan cepat mengangkat panggilan telepon dari Raven.


[Helo cantik, belum tidur ya?] -Ucap Raven dengan nada ingin menggoda Rennia.


[Haha, belum sih. Nggak bisa tidur.] -Sahut Rennia dari seberang sana.


[Ehm apa yang kamu pikirkan sekarang?] -Tanya Raven.


[Entahlah, perasaan nggak pikirkan apa-apa sih.] -Kelit Rennia.


Sebenarnya Rennia sedang memikirkan Raven, dia teringat perlakuan manis Raven sewaktu berada di dalam kafe tadi.


[Bohong ya? Lagi pikir apa?] -Ujar Raven.


[Haha, kok tahu? Ehm aku lagi pikirkan kamu Rav.] -Jawab Rennia jujur.


[Ehmm, ya ya.] -Jawab Rennia singkat.


[Ya sudah, tadi katanya minta temanin tidur, sekarang tidur ya. Selamat malam cantik.] -Ucap Raven.


Kini tidak ada lagi suara yang kedengaran, sekitar 15 menit sebelum Raven mematikan panggilan telepon, Raven mengucapkan sesuatu kepada Rennia.


[Selamat tidur sayang, aku harap kita bisa begini selamanya, aku harap perjanjian 3 bulan itu tidak berlaku. Maaf kalau aku terlalu banyak berharap padamu. Tapi aku ingin mengatakan bahwa aku telah mencintaimu sejak pertama kali bertemu denganmu sehingga saat ini. Selamat malam semoga mimpi indah ya sayang.] -Ucap Raven kepada Rennia karena dia menebak Rennia sudah tertidur dengan pulas, lalu mematikan panggilan telepon mereka.


Di tempat Rennia.


Rennia yang belum tidur karena masih memikirkan Raven kini menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya setelah mendengar ucapan yang terakhir dari Raven sebelum Raven mengakhiri panggilan telepon mereka.


"Raven mencintaiku?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


Dalam lubuk hati Rennia sudah mulai bergetar hebat tetapi apabila ia teringat tentang Azel dia langsung saja menjadi lemas. Dia takut jika dia memulai hubungan baru lagi, Raven akan berkhianat padanya.


Semua kata-kata manis Raven terdengar seperti kata-kata manis yang pernah di ungkapkan Azel. Rasa percaya Rennia terhadap Raven mulai menyusut.

__ADS_1


"Kau mungkin sama dengan pria brengsek itu. Pintar merayu dan menggoda cihh." Gerutu Rennia sambil membuang ponselnya ke arah sofa.


Rennia memeluk gulingnya lalu kembali mulai membandingkan Azel dan Raven tapi hasilnya malah sifat dan perlakuan mereka sungguh jauh beda. Rennia merasa geram sendiri akhirnya memilih untuk keluar dari kamar dan menuju ke ruang bawah untuk mengambil minuman dingin.


Rennia melewati ruang kerja Daddynya dan langkah terhenti apabila mendengar Daddynya sedang berbicara serius.


"Kapan baru dia mulai? Jangan terlalu lama bisa habis semua barangku mereka bawa lari, cari semua orang yang terlibat dan hapuskan saja."


Rennia kaget mendengar perkataan yang terakhir di ucapkan oleh Daddynya, lalu dia memilih menolak pintu ruang kerja Daddynya dan memasuki ruang itu untuk bertanya langsung.


"Daddy?" Tegur Rennia kepada Daddynya yang masih asyik dengan ponselnya.


"Eh, Ren kamu belum tidur?" Daddynya langsung segera mematikan ponselnya dan diletakkannya di atas meja kerjanya.


"Belum. Uhmm apa ada masalah dalam perusahaan Daddy?" Tanya Rennia khawatir dengan Daddy.


"Ehm cuman ada masalah kecil Ren. Tidak usah khawatir."


"Baiklah Dad, Kalau gitu Ren ke bawah dulu."


"Ok, jangan tidur terlalu lambat Ren." Pesan Daddynya.


Rennia mengacung jempolnya lalu keluar dari ruang kerja Daddynya dan menuju ke ruang dapur.


....


Di tempat Raven.


Kini Raven berada dalam ruangan khusus dimana banyak senjata untuk dia gunakan. Raven juga harus mempermatangkan strateginya untuk misi kali ini yang melibatkan lebih dari 6 orang.


Raven mengeluarkan cairan arsenik dengan berhati-hati lalu meletakkannya di atas meja lalu memilih beberapa pisau kecil.


Raven mulai mengoles cairan arsenik itu di sisi tajam pisau yang ia ambil tadi, lalu meletakkannya dengan berhati-hati di atas kain yang berada di atas meja tersebut.


Setelah selesai, Raven membuka lemari khusus di mana terletak banyak senjata apinya. Dia mengambil senjata favoritnya lalu mengisi kembali dengan pelurunya. Tidak lupa dengan suppressor yang selalu menjadi hal utama dalam setiap dia melakukan misinya.


Raven keluar menggunakan motor andalannya. Dia menuju ke kawasan pelabuhan kapal barang karena menurut informasi dari orang yang menyewa jasa mereka malam ini ada penurunan barang di pelabuhan.


Raven menetapkan posisinya di balik kontainer barang setelah sampai di pelabuhan. Setelah ada kapal barang berhasil menurunkan beberapa kontainer, ada beberapa orang yang mendekati kontainer tersebut lalu membuka pintunya.

__ADS_1


Dia menanda wajah yang ia lihat dalam informasi yang diberikan oleh Holo tadi, Raven tersenyum miring. Dia mungkin tidak akan menyerang di tempat ini tapi dia akan membuntuti orang-orang yang menjadi targetnya.


__ADS_2