Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 25 Pertemuan Revan dan Gordhi


__ADS_3

Pagi ini Gordhi bersiap untuk bertemu dengan Raven, dia mengenakan jas yang disediakan oleh asistennya.


Senyuman diwajahnya tidak pernah pudar, dia hanya memikirkan kemenangannya.


"Pastikan hari ini kita bisa menjalani kontrak kerjasama bersama pria itu." Ucapannya pada asistennya itu.


"Baik Tuan, semua dokumen sudah tersediakan." Sahut sang Asisten.


Mereka pun berangkat setelah Gordhi selesai dengan sarapan paginya. Perjalanan menuju ke ladang anggur milik Raven cukup jauh dan membutuhkan lebih kurang 2 jam barulah sampai di tempat.


Gordhi melihat keluasan ladangnya yang sangat besar, dia bisa membayangkan uang yang memilimpah ruah masuk ke kantongnya jika dia berhasil merebut ladang ini dari Raven.


Rencana ingin menjebak Ronald sekalian Raven sekaligus karena uang yang dihasilkan oleh Raven bukan sedikit apalagi dia tidak memiliki kerjasama dengan mana-mana pihak.


Setelah 2 jam perjalanan akhirnya Gordhi bersama asistennya sampai di depan kantor Raven. Kedatangannya di sambut dengan ramah oleh seorang pria yang berpakaian jas dan dilehernya tergantung IDnya.


"Silakan Pak, Tuan Raven telah menunggu di atas." Ucapnya sambil mengarahkan jalan yang harus mereka lalui untuk sampai ke ruangan Raven.


Kantor Raven terlihat besar dan mewah tapi hanya memilik 2 lantai saja, karena Raven tidak suka dengan bangunan yang bertingkat-tingkat.


Akhirnya mereka sampai di depan ruangan Raven.


Tok...tok...tok...


"Permisi Tuan, tamunya sudah sampai." Ucap pria itu memberitahu Raven.


"Masuk." Sahutnya dari dalam ruangannya.


Raven masih asyik memeriksa dokumen tentang penjualan mereka. Dia tidak sadar Gordhi dan asistennya telah masuk.


"Selamat pagi Tuan Raven." Ucap Gordhi.


Raven memberhentikan pekerjaannya lalu berdiri, dia menoleh ke arah suara yang menyapanya tadi.


Deg!!


"Dia...dia pria brengsek itu!" Batin Raven.


Raven kembali mengingat kejadian yang membuat menjadi seorang pembunuh bayaran adalah di sebab oleh pria yang berada di depannya ini.


Dia coba mengontrol emosinya, karena tidak bisa ceroboh. Dia ingin membuat pria di depannya ini mati mengenaskan.


"Selamat datang Tuan Gordhi, silakan duduk." Ucap Raven yang mencoba untuk ramah kepada Gordhi.


"Mungkin kedatangan saya sedikit menganggu Tuan Raven." Ujar Gordhi berbasa basi.


"Hmm panggil Raven saja cukup." Sahut Raven. "Kedatangan Tuan tidak menganggu malah saya senang tapi kalau boleh saya tahu sebab kedatangan Tuan?" Lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Haha ya Raven, anda juga panggil saja saya dengan Gordhi." Imbuhnya. "Baiklah saya langsung to the point, saya ingin mengajukan kerjasama dengan usaha ladang anggur anda." Lanjutnya lagi.


"Umm maaf untuk mengatakan hal ini, tapi saya tidak menerima mana-mana kerjasama untuk usaha ladang anggur ini, tapi anda bisa bergabung dalam saham kafe yang saya bangun." Jawab Raven.


"Sungguh disayangkan, karena saya begitu tertarik dengan usaha ladang anggur anda Raven, hum tapi kalau untuk cafenya kira-kira cafe anda terletak di mana?"


"Throns Cafe and Bar, pasti anda pernah dengar dan itulah kafe saya."


Gordhi melonggo apabila mendengar ucapan yang disampaikan oleh Raven, dia sangat mengetahui kafe yang dimaksudkan oleh Raven tadi. Kafe termewah yang ada di Negara itu.


"I....tu punyamu?" Gordhi menjadi gelagapan sendiri.


"Yups benar." Jawab Raven santai.


"Aku harus mendapatkannya." batin Gordhi.


"Kalau hendak bergabung saham bagaimana? Dan sistemnya bagaimana?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Gordhi yang wajahnya terlihat sangat berbinar.


"Minggu depan ada rapat saham, kalau anda berminat datanglah tepat waktu, jam 9 pagi bertempat di lantai 5, lantai yang paling atas."


Raven merasa jijik melihat wajah berbinar tapi dia harus menahan semuanya dan dia harus punya rencana yang mantap untuk menjebak Gordhi.


"Baiklah saya akan hadiri." Jawabnya penuh semangat.


Kini Gordhi sengaja berbasa basi menanyakan tentang perusahaan ladang anggurnya kenapa dia tidak ingin menerima kerjasama.


Setelah Gordhi pamit Raven menatap tajam ke arah pintu ruangannya.


Prangg...


Prangg...


Bunyi pecah kedengaran, Raven membanting gelas kaca ke arah pintu masuk tadi, emosinya mulai memuncak tidak dia sangka Gordhi sendiri yang akan mencarinya.


"Cih, kau masuk ke kandang singa tempat yang tepat untuk membalas semua kejahatanmu!" Ucap Raven dengan wajah yang terlihat penuh dendam dan amarah.


....


Di kampus Rennia.


Sejak kejadian Azel menamparnya Rennia tidak lagi pernah berjalan-jalan di dalam kampusnya, dia membawa makanan dari rumahnya dan akan makan di meja yang paling belakang.


Karena tidak ingin bertemu dengan Azel, sehingga hari ini Azel membuat keributan di depan kelasnya.


Salah satu siswa berlari menuju ke arah Rennia.


"Ren, Azel ada di luar kelas dengan spanduk."

__ADS_1


Rennia cepat-cepat menelan makanan yang ada dalam mulutnya.


"Sepanduk apa?"


"Sepanduk yang bertulis 'Berikan aku kesempatan Rennia Louter' begitulah dan ada kata-kata lainnya." Ucap siswa itu.


"Huft, biarkan saja aku malas meladeninya." Sahut Rennia sambil mengemasi kotak makannya.


"Tapi orang-orang pada heboh diluar, kamu keluar aja selesaikan daripada kamu dipanggil ke ruang disiplin."


Rennia kembali terdiam. Dia coba mengirim pesan kepada Raven untuk meminta pendapat Raven tapi sekitar 5 menit Raven belum juga membalas pesannya dan mau tidak mau dia terpaksa bertemu dengan Azel di koridor depan kelasnya.


Rennia keluar dari kelas dengan wajah malas.


"Apa-apaan ini?" Ketusnya menegur Azel.


"Ren, akhirnya kau keluar. Guys ini Rennia Louter, tolong dukung aku agar dia mau memberiku kesempatan." Ucapnya pada siswa yang mengikutinya berdemo.


"Terima.."


"Terima.."


"Rennia beri Azel kesempatan.."


"Azel sudah mengaku salahnya.."


"Beri kesempatan harus beri kesempatan.."


Begitulah teriakan para siswa itu, membuat telinga Rennia memanas.


"Ok guys, beri ruang Rennia untuk mengucapkan sesuatu." Ucap Azel berdrama.


"Ren, kau maukan." Azel mengulurkan tangannya dan berharap Rennia menerimanya.


"Dengarkan aku baik-baik. Lusa aku akan bertunangan dan kalian jangan berharap lebih termasuk kau Azel, silakan bubar." Ucapan Rennia membuat semua orang menjadi bingung.


"Ren..." Azel menarik tangan Rennia tapi dengan kasar Rennia melepaskannya.


"Jangan sentuh aku!" Ucap Rennia dengan tegas lalu masuk ke dalam kelasnya.


Dosen telah datang dan membubarkan semua siswa itu, Azel pergi dengan hati yang sangat marah dan kesal.


"Kau tunggu pembalasanku, aku akan membuat kekasihmu itu kehilangan nyawanya." Gumamnya sambil menatap sinis ke arah pintu kelas Rennia.


Azel meninggalkan kampus dengan hati yang mendidih, dia melepaskan amarahnya dengan memukul-mukul stir mobilnya.


"Aku akan buat kau jadi milikku sia***." Ucap Azel sambil memikirkan rencana yang tepat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2