Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 30 Mobil baru


__ADS_3

"Azel Lyton yah, ck dia sudah mulai perang." Ucap Raven sambil menyetir mobilnya.


Raven membawa mobilnya ke bengkel langganannya, lalu kembali menelepon toko langganan tempat biasanya dia beli mobil. Kali ini dia membeli mobil Lamborghini keluar terbaru.


Raven mentransfer uangnya dan mobil baru akan dihantar sampai ke rumahnya sebentar.


Saat ini Raven terpaksa menaiki taksi untuk sampai ke rumahnya yang tidak terlalu jauh. Sebenarnya bisa saja di berjalan kaki seperti biasa tapi belakang terasa sakit akibat terkena hentaman kayu tadi.


Setelah sampai di rumah, Raven membersihkan dirinya lalu segera mengambil senjatanya dan di masukkan ke dalam mobil khas untuk dia menjalankan misi.


....


Azel membuat beberapa panggilan ke nomor salah satu anak buahnya, tapi tidak diangkat, hampir puluhan kali tetap saja sama hasilnya.


"Ke mana lagi mereka pergi, cih!" Gerutu Azel.


"Sayang, aku sudah inginkan lagi." Ucap wanita yang berdiri di pintu kamar apartmennya.


Azel menatapnya sambil tersenyum miring, dia mematikan rokoknya lalu berjalan mendekati wanita itu.


"Aku akan buat kau tidak bisa berdiri besok." Ucap Azel dan menarik wanita itu kembali masuk ke kamar.


Bunyi deritan ranjangnya terdengan dan diselingi dengan bunyi desa**n dari kedua manusia yang sedang menikmati hangatnya malam ini.


Azel melupakan dulu tentang anak buahnya karena masih ada yang lebih penting dari hal itu.


...


Keesokan harinya, Raven menjemput Rennia menggunakan mobil barunya membuat Rennia melonggo karena mobil yang dikenderai oleh Raven adalah keluaran baru.

__ADS_1


"Rav, kenapa pakai mobil yang mewah sih?" tanya Rennia kebingungan dan cemas.


"Kau tidak suka ini mobil?" Raven kembali bertanya sambil menatap Rennia.


"Kita ke toko mobil dulu untuk ganti mobil ya kalau kau tidak suka mobil ini." Lanjut Raven lagi sambil mengusap puncak kepala Rennia.


"Bukan seperti itu, tapi kau akan memancing siswi di kampus, Rav kau akan jadi perhatian mereka." Ucap Rennia jujur.


"Kau cemburu?" Raven sengaja ingin menggoda Rennia.


"Ia jelaslah cemburu ihh kamu pasti suka, apalagi ukuran mereka kayak semangka." Ketus Rennia dengan mengerucutkan bibirnya.


Raven menjadi gemas, dia mencubit pipi Rennia lalu menciu*nya. Hingga membuat rona merah naik ke pipi Rennia.


"Nanti punyamu aku buat kayak semangka mau?" Raven mencubit buah apel Rennia, hingga membuat Rennia menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi apelnya.


"Biar aku buatnya jadi segede semangka biar kamunya tidak cemburu lagi." Kata Raven.


"Lagian kamu sudah katakan kepada mereka, aku ini tunanganmu. Mereka tidak akan berani sayang. Kalau pun mereka berani, tetap kamu yang di hatiku sayang." Lanjut Raven lagi.


Rennia tersenyum malu, dia menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, kita jalan yuk. Hari ini cuma satu kali kelas saja dan hanya sejam setengah."


"Ok, aku akan menunggumu di kafe seberang kampus." Jawab Raven sambil fokus menyetir mobil.


"Kalau kamu sibuk ya aku akan pulang naik taksi."


"Jangan, aku tidak mau bajin*an itu menganggumu lagi." Ujar Raven dengan wajah serius. "Nanti pulang aku bawa kamu ke ladang anggurku."

__ADS_1


"Kamu ada ladang anggur?"


"Ada, nanti itu jadi hadiah perkahwinan untukmu."


Rennia tersipu malu mendengar ucapan Raven yang telah memikirkan hadiah perkahwinan mereka.


Sampai di parkiran kampus, benar sekali tebakan Rennia. Para siswi datang berkerumunan ingin mendekati mobil Raven tapi langkah mereka terhenti apabila Rennia keluar dari mobil itu memasang wajah dingin.


Raven ikut keluar, lalu menuju ke arah Rennia. Dia menci*m sekilar bibir Rennia agar rasa cemburunya bisa mereda. Dan benar saja Rennia kembali tersenyum melihatnya.


"Aku tunggu di sana." Bisik Raven ke telinga Rennia.


"Ok jangan nakal. Kalau nakal tidak ada jatah lagi." Balas Rennia dengan kembali berbisik.


"Baik bu bos." Sahut Raven membuat hormat pada Rennia.


Rennia tertawa lalu dia berpamitan dengan Raven untuk memasuki kelasnya yang sebentar lagi akan di mulai.


Dari tempat parkiran yang tidak jauh dari Raven, Azel telah mengenggam kedua tangannya.


Raven menoleh ke arah Azel, dia bisa merasakan aura benci yang dikeluarkan oleh Azel. Raven tersenyum miring dengan tatapan yang aneh.


Azel dibuat merinding dengan tatapan Raven yang seperti seorang psikopat, dia segera mengalihkan pandangannya dan menuju ke arah bangunan jurusannya.


"Cih, tunggu saatmu akan tiba." Gumam Raven lalu memasuki mobilnya dan keluar dari kawasan kampus Rennia.


Raven menunggu Rennia, dia cafe seberang kampus, sambil mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus dia tandatangani.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2