Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 31 Rencana untuk Gordhi


__ADS_3

2 jam yang lalu, kini Rennia dan Raven telah sampai di kantor ladang anggurnya.


Raven membawa Rennia memasuki ruang khususnya.


"Ren, kamu di sini dulu ya, aku ada rapat atau kamu mau ikut?" tanya Raven ketika mereka telah sampai di ruangannya.


"Di sini saja deh, mau tidur rebahan di sofa sedikit, kepala agak pusing." Jawab Rennia sambil memijit dahinya.


"Kamu sakit? kita ke rumah sakit ya, rapatnya biar tunda dulu." Raven mulai rasa khawatir.


"Tidak sakit sayang, mungkin perjalanan 2 jam tadi terlalu jauh" Sahut Rennia. "kamu teruskan saja rapatnya." Lanjut Rennia lagi.


"Kamu yakin? aku nggak mau loh kamu kenapa-kenapa." Raven menunjukkan rasa perhatiannya kepada Rennia.


Rennia menggangguk dan mengulaskan senyuman termanisnya.


"Kamu istirehat dikamarku saja tapi tempat tidurnya agak kecil." Ucap Raven lagi yang terlihat berat meninggalkan Rennia.


"Ok pak bos, pergilah biar rapatnya cepat selesai." Sahut Rennia.


Raven pun pamit untuk menuju ke ruang rapatnya. Walaupun hatinya terasa begitu tidak tega untuk meninggalkan Rennia sendiri di ruangannya.


Rennia memasuki kamar istirehat yang ada di dalam ruangan Raven. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang kecil Raven.


"Rav, aku mencintaimu." Gumam Rennia sebelum melelapkan matanya.


Terlalu besar cinta Rennia kepada Raven sehingga sebelum tidur pun dia selalu menyebut nama Raven.


Setelah selesai rapat Raven bergegas menuju ke ruangannya dan masuk ke kamar istirehatnya.


Dia melihat Rennia sedang tertidur pulas sambil menggantung kakinya.


"Mungkin dia kelelahan dengan perjalanan yang panjang tadi." Raven membetulkan posisi tidur Rennia lalu membiarkannya tertidur pulas dikamar.


Hari ini Gordhi akan kembali bertemu dengan Raven, dengan alasan ini menanyakan dokumen apa yang paling penting untuk bergabung di rapat saham nanti.


Raven sebenarnya tidak ingin bertemu dengannya tapi ide untuk menjahili Gordhi tiba-tiba terlintas dibenaknya. Raven menunggu di ruangannya dengan wajah yang tersenyum sungging..


....


"Aku harus mengambil hatinya biar dia senang." Ucap Gordhi yang sedang dalam perjalanan menuju ke kantor ladang anggur Raven.


Setelah sampai seperti biasa ada karyawan yang akan menunjukkan jalan untuknya.


Kini Gordhi berada dalam ruangan Raven dengan wajah sumringgah, dia benar-benar mengira Raven akan menerima kehadirannya tanpa mengetahui rencananya.


"Tuan Gordhi, anda ini minum apa biar OB yang akan belikan di kafe kantin." Raven berbasa basi menawari minuman kepada Gordhi.


"Tidak perlu Tuan Rav, jangan membuat diri anda sibuk." Gordhi pura-pura menolak padahal hatinya bersorak.

__ADS_1


"Tidak Tuan, ehm bagaimana dengan kopi cappucino?"


"Ok boleh."


Raven pun menelepon sang OB untuk menghantar minuman pesanan mereka. Raven berbasa basi sambil menunggu pesanan mereka sampai.


Sedang mereka asyik berbincang, Rennia terbangun dari tidurnya.


"Kayaknya Raven ada tamu." Ucapnya sambil mengucek matanya.


Rennia menuju ke kamar mandi di dalam kamar itu, dia membasuh mukanya agar terlihat lebih segar dan kembali memoles lipstik dibibirnya.


Sejak kejadian lipstik berpindah ke bibir Raven, Rennia tidak pernah menggunakannya lagi. Rennia juga memakai bedak padat setipisnya hanya untuk menambah pesonanya saja.


Baru saja Rennia membuka pintu kamar untuk melihat siapa diluar, Rennia menjadi kaku apabila melihat wajah pria yang hampir melecehkannya.


Rennia menutup pintu perlahan dengan tubuh yang gementar.


"Kenapa" Rennia terduduk di dekat pintu "kenapa pria itu berada di sini."


Air mata Rennia mulai mengalir membasahi pipinya, dia takut apa yang dipikirannya sekarang. Rennia menahan isakannya, lalu merogoh ponselnya di dalam tasnya.


Rennia hendak mengirim pesan kepada Raven tapi dia baru ingat, ponsel Raven ada bersamanya, Rennia mendengus dia membuang begitu saja ponselnya.


Terdengar tawaan dari Gordhi pria yang sangat dia benci, Rennia duduk di pojokan kamar sambil menutup kedua telinganya menggunakan tangannya.


Diluar, Raven pamit sebentar dengan alasan mau buang air kecil padahal dia mau memeriksa keadaan Rennia di dalam kamar. Karena sudah lama Rennia tertidur.


Setelah Raven, masuk ke kamar dia tidak mendapati Rennia berada di atas ranjang. Raven menutup perlahan pintu di mendengar suara isakan, di lantas menoleh ke arah suara itu.


"Ren!"


Raven mendekati Rennia dengan wajah panik, dia menarik Rennia masuk ke dalam dekapannya.


"Kamu kenapa menangis sayang?" Raven mengusap punggung Rennia agar dia bisa kembali tenang.


Rennia mengangkat wajahnya, terlihat wajahnya basah oleh air matanya dan hidungnya memerah.


"Rav, hisk hiskk kenapa orang itu ada dalam ruanganmu?" Rennia kembali bertanya kepada Raven dengan terisak-isak.


"Gordhi?" Raven sempat bingung tapi yang dia ingat cuma ada Gordhi di ruangannya.


Rennia mengangguk dan bertanya kenapa kepada Raven. Wajah Rennia terlihat takut dan tubuhnya gementar.


Raven menciu* dahi Rennia yang basah, ditatapnya Rennia dengan sendu.


"Dia ingin menjadi investor saham di kafe." Raven menjawab jujur.


Rennia kaget dia langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Jangan terima Rav, dia...dia kemarin yang menculik dan menciu* paksa bibirku. Jangan Rav, dia jahat!" Rennia berbisik dengan suara tegas.


Raven terdiam, rahangnya mulai mengeras dan tatapan matanya berubah dingin. Raven tidak menyangka orang dimaksudkan oleh Ronald ada Gordhi.


"Rav..." Rennia mengusap rahang Raven.


"Mari naik ke tempat tidur kamu jangan duduk di sini" Raven mengendong Rennia dan diletakkannya di atas ranjang.


"Kamu tunggu sini saja, aku akan cerita sesuatu yang penting nanti," Lanjut Raven lagi.


Rennia mengangguk faham dan membiarkan saja Raven keluar dari kamar itu.


Raven melepaskan jasnya yang basah lalu diletakkannya di atas sofa. Dia kembali duduk dengan wajah yang datar.


"Tuan Gordhi masih ada yang ingin ditanyakan? karena saya terburu-buru ingin menjemput tunangan saya.


Gordhi tersenyum licik setelah mendengar ucapan Raven dan Raven menangkap senyumannya itu.


"Ck, berarti dia ingin menggunakanmu untuk menjebak keluar Rennia dan Ronald, hebat sekali." Batin Raven dalam hatinya.


"Kalau begitu saya pamit, Tuan Raven dan sampai jumpa di rapat saham minggu depan." Gordhi keluar dari ruangannya.


Raven menelepon petugas keamanan yang berjaga di depan pintu kantor dan gerbang untuk memperhatikan gerak Gordhi.


Setelah itu barulah dia kembali masuk ke kamar dan mendapatkan Rennia yang masih tertunduk terisak-isak.


Raven memanggil Rennia lalu memeluk tubuhnya.


"Ren, jangan menangis lagi. Kalau kau terus menangis kau membuatku semakin ingin cepat membunuhnya."


Rennia menggusap punggung Rennia hingga Rennia kembali tenang.


"Dia memperkosa mendiang Mommy Rav, dan Mommy bunuh diri karenanya."


Raven menatap wajah Rennia yang sendu, dia telah larut dalam kesedihannya.


"Sayang aku juga punya dendam dengannya. Dialah penyebab kedua orangtuaku meninggal."


Rennia kaget, rupanya cerita Raven lebih menyedihkan hingga harus kehilangan kedua orangtuanya.


Raven menceritakan kepada Rennia agar Rennia tidak berburuk sangka padanya, tentang semua rencananya ingin menjebak Gordhi juga dia beritahu kepada Rennia.


"Jangan risau aku akan melindungimu dan keluargamu." Ucap Raven sambil mengusap wajah Rennia yang basah menggunakan tisu.


"Terima kasih Rav." Jawab Rennia.


Raven kini membawa Rennia pergi dari kantornya dan membawanya makan di kafe miliknya seperti biasa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2