Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 27 Aku mencintaimu


__ADS_3

Raven berterima kasih dengan siswa itu dan dia terburu-buru menuju ke restoran hotel yang dimaksudkan siswa tadi.


"Ren, maafkan aku. Aku yang salah karna begitu mudah percaya dengan wanita semangka itu." Ucapnya sambil terus membuat panggilan ke nomor Rennia.


"Angkat Ren, akkhh! Tolong jangan makan atau minum Ren!" Gumamnya lagi.


Raven baru teringat hotel yang dimaksudkan itu adalah hotel milik Holo.


Dia coba menelepon Holo untuk meminta bantuan memperhatikan rekaman cctv.


Andrika adalah nama gabungan Holo dan Erika. Holo hanya nama panggilan sewaktu misi saja dan nama asli Holo adalah Andrew.


....


Rennia sebenarnya tidak mau mengikuti kemahuan Azel, dia mencemaskan Raven apalagi ponselnya ketinggalan dirumah.


Kini mereka berada di sebuah restoran hotel yang mewahnya hampir setara dengan Kafe milik Raven.


"Ren, minumlah dan baru kita membahas tentang kita." Ucap Azel dengan lembut.


"Sambil bahas aja, aku tidak mau berlama-lama di tempat ini." Jawab Rennia dengan ketus.


"Baiklah. Ren aku mengaku, aku masih sangat mencintaimu dan kau tau kenapa aku melakukan hal itu waktu itu karena aku tidak bisa menahannya, kau tidak ingin memberikannya padaku." Terang Azel dengan wajah dibuat-buat sedih.


"Aku khilaf waktu itu, aku emosi dan aku terpaksa lepaskan kepada wanita lain." Lanjut Azel lagi.


Rennia meminum jus apel yang dia pesan tadi.


"Dengarkan aku, aku tidak peduli. Sekarang aku sudah bahagia dan menemukan tempat ternyaman."


Azel tersenyum tipis saat melihat Rennia meminum jus apelnya, tapi dia kembali berdrama.


"Ren, beri aku satu saja kesempatan. Aku tidak akan mengecewakanmu."


"Termasuk memuaskanmu di atas ranjang sebentar lagi." Batin Azel tertawa puas.


Azel sengaja memperpanjangkan dramanya karena obat perangsang akan aktif sekitar setengah jam setelah meminum minuman itu.


Setengah jam kemudian Rennia merasa tubuhnya semakin panas dan matanya memberat. Dia tidak bisa berpikir waras.


Seorang wanita membawanya.


"Mari mbak, kita istirehat di kamar saja."

__ADS_1


Rennia yang tidak mampu berpikir secara waras langsung saja mengikuti langkah wanita yang memapahnya saat ini.


Rennia merasa tubuhnya semangat panas, hingga dia mengeluarkan keringat dingin. Dahinya dipenuh keringat itu dilap dengan lembut oleh wanita itu.


Azel melihat kepergian Rennia bersama wanita itu dengan tersenyum kemenangan. Sebelum menyusuli mereka Azel menghabiskan sisa makanannya.


Setelah habis makan, Azel berjalan dengan santai dan tanpa dia sadar Raven telah memasuki hotel itu. Raven melihat punggung Azel dengan wajah yang teramat marah.


Azel memasuki lift dan menekan nomor lantai 6. Dia begitu gembira karena hari ini dia akan bersenang-senang menikmati tubuh Rennia yang menjadi incarannya selama hampir 3 tahun.


"Akhirnya kau jatuh ditanganku." Gumamnya.


Raven memasuki lift khusus untuk Holo, dan menekan nomor lantai 4. Setelah lift itu berhenti tepat dilantai 4, Raven bergegas keluar dan menuju ke kamar nomor 0108.


Seorang wanita telah menunggunya diluar kamar.


"Silakan Tuan." dia menunduk hormat setelah Raven berhadapan dengannya.


Raven dengan perlahan membuka pintu kamar hotel itu, dia menuju ke ruang kamar. Raven begitu sedih melihat keadaan Rennia yang begitu tidak nyaman.


"Si**an bajingan itu dia benar-benar memasukkan obat perangsang dalam minuman Rennia." Gerutu Raven dengan emosinya.


Rennia menggeliat karena kepanasan, tubuhnya mulai gementar, dia mencapai tangan Raven yang berada di sisinya itu.


"Tolong aku tidak tahan, bagian bawahku seperti ingin meledak." Ucap Rennia dengan suara menggoda.


Dia melepaskan perlahan tangan Rennia lalu dikucupnya, dia mengangkat Rennia ala bride style ke dalam kamar mandi. Dia meletakkan Rennia di dalam bak mandi.


"Maaf, ini saja caranya agar kepala dan tubuhmu terasa dingin." " Ucap Raven lalu menghidupkan keran air dingin.


Raven menghidupkan keran air dingin untuk memenuhi bak dan menyiram kepala Rennia menggunaka shower agar Rennia bisa berpikir waras.


Lebih kurang 30menit, Rennia mulai menggigil dan bibirnya memucat, kesadarannya sudah pulih tapi masih tersisa rasa ngilu dibagian bawahnya.


"Ra...v su...dah... aku dingin..." Ucapnya dengan bibir yang gementar.


Raven rasa kasihan dia menutup shower itu lalu meletakkan kembalinke tempatnya. Raven mengangkat Rennia keluar dari bak mandi itu, Raven terpaksa membantu Rennia membuka pakaiannya yang basah.


Walaupun hasrat semakin tinggi, Raven tetap terus berpikir ke arah yang normal. Dia memakaikan Rennia handuk kimono yang telah di sediakan oleh pihak hotel itu lalu mengangkat Rennia keluar dari kamar mandi itu.


"Maafkan aku." Ucap Raven lirih lalu meletakkan Rennia di atas ranjang hotel itu.


Rennia menatap Raven dengan rasa sedih.

__ADS_1


"Rav, jangan minta maaf. Aku yang salah kalau aku tidak setuju menemuinya tadi pasti aku tidak mengalami hal ini."


Raven mendekat wajahnya ke hadapan wajah Rennia.


"Aku yang salah, kalau aku tidak mendengarkan siswi itu pasti aku tidak mendiamimu. Maafkan aku sayang." Ucapnya dengan nada perlahan.


Rennia memperhatikan bibir Raven yang berbicara, membuatnya menelan saliva karena bibir Raven sudah menjadi candunya.


Raven menatap ke dalam anak mata Rennia. Lalu menempelkan bibirnya dibibir Rennia.


Rennia menyambutnya dengan penuh cinta, dia melingkarkan kedua lengannya dileher Raven.


Tautan bibir nampak begitu romantis. Rennia melepaskan bibirnya dari Raven lalu berbisik.


"Aku ingin menyerahkannya padamu." Lirihnya ditelinga Raven.


Raven mengulas senyumannya.


"Kau yakin hum?" Sahut Raven sambil mengusap pipi Rennia.


"Aku tidak ingin kehilanganmu, aku sadar aku mencintaimu dan aku tidak mau kau mendiamiku lagi seperti kemarin." Jelas Rennia dengan wajah yang serius.


"Aku mencintaimu Rennia, tolong jadi pertama dan terakhir bagiku." Jawab Raven.


Raven menarik tali handuk kimono Rennia lalu tercetak jelas lengkuk tubuh Rennia di depan mata Raven.


"Rav, jangan menatapku seperti itu." Rennia berasa malu karena Raven menatap dirinya yang tidak mengenakan sehelai kain pun.


"Kau wanita sempurna sayang." Sahut Raven yang mulai menyentuh apel Rennia.


Kegiatan hangat pun terjadi di antara mereka berdua yang saling berbagi rasa cinta.


...


Azel mengamuk karena dalam kamar yang dia telah sewa itu kosong, bayang-bayang Rennia tidak terlihat di dalam kamar hotel itu.


Azel pergi mencari wanita yang telah dia bayar tadi untuk menjebak Rennia tapi tidak ada siapa pun yang melihat wanita itu.


Puas dia mencari wanita itu tapi dia tidak menemukannya.


"Si** di mana dia bawa Rennia bersembunyi." Gerutunya.


Azel terus mengoceh tidak jelas karena dia gagal mendapatkan Rennia. Dia terpaksa keluar dari kawasan itu untuk menenangkan pikiran.

__ADS_1


"Kemana agaknya mereka pergi hahh."


Bersambung...


__ADS_2