
Raven hampir terlambat menjemput Rennia, gara-gara dia larut dalam emosinya, mujur saja Holo meneleponnya dan memberitahu tentang informasi Gordhi.
Raven menggenggam erat stir mobilnya, ucapan Holo terngiang-ngiang di pikirannya.
"Dia yang menculik kekasihmu waktu itu, hati-hati mungkin dia sedang mengincar Rennia karena tau kau adalah kekasihnya."
Raven dengan cepat memparkir mobilnya di bagian parkiran kampus. Dia melihat ke arah jam yang melingkar ditangannya. Dia menghela nafas lega, karena kurang 10 menit jam 2 sore.
Sementara menunggu Rennia, Raven memeriksa notifikasi ponselnya dan terdapat pesan dari nomor Rennia. Dia membuka pesan Rennia dengan wajah yang berubah dingin.
Hingga tanpa dia sadar seorang siswi mendekatinya.
"Hai kakak ganteng, kita bertemu lagi. Hah apakah ini jodoh."
Raven menoleh ke arah suara tersebut, dia menatap malas karena gara-gara siswi tersebut Rennia mengatakannya penggemar semangka. Raven mengacuhkannya dan kembali menatap layar ponselnya.
Siswi yang dikenal Nadia itu pun mulai rencana memprovokasi Raven.
"Ehem, apa kakak tau tadi Azel kembali melamar Rennia, karena dia tau Rennia masih mencintainya. Hahh iri lihat orang yang saling mencintai bersatu kembali."
Nadia menambah-nambah cerita itu agar Raven termakan provokasinya.
"Yang paling parah tadi, setelah Rennia kembali menerima Azel mereka berciu**n dan Azel katakan 'Aku akan membersihkan bibirmu dari pria itu' begitulah kira-kira." Lanjut Nadia lagi.
Awalnya Raven tidak termakan omongan Nadia tapi setelah mendengar Rennia berciu**n, dia kembali teringat kata-kata Rennia kemarin.
"Aku tidak tahu apa itu cinta."
Raven menoleh ke arah siswi itu lalu memicingkan matanya.
"Kau berbohongkan."
Nadia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa aku harus membohongimu kak apa untungnya aku? Hem lagian memang Rennia dan Azel saling mencintai dan seluruh anak-anak di kampus ini tahu."
Raven mengeraskan rahangnya, dia mau tidak percaya tapi Rennia tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintainya.
"Mungkinkah aku tempat pelampiasannya." Gumam Raven yang masih bisa didengar oleh Nadia.
Nadia baru saja hendak menambah cerita tapi dia melihat Rennia menuju ke arah mereka dan wajahnya begitu sinis.
"Nadia pergi ya kak, sampai jumpa."
Raven tertunduk menatap aspal parkiran itu. Dia termakan omongan siswi yang bernama Nadia itu dan hatinya kali ini merasa terkhianati dan teramat sakit.
"Rav...?" tegur Rennia dengan wajah yang binggung.
Raven menoleh ke arah Rennia yang berada tepat di sisinya.
"Masuklah." Raven membuka pintu mobil untuk Rennia dengan wajah yang datar.
__ADS_1
Rennia merasa bingung, entah apa yang berlaku kepada Raven dia juga tidak tahu.
"Rav, kau kenapa mendiamiku?" Rennia sudah mulai hilang sabar.
Tidak ada jawaban dari Raven, dia malah fokus menyetir. Raven sebenarnya sedang menahan perih dihatinya, dia mungkin bisa menangis jika mengetahui Rennia masih mencintai Azel makanya Rennia tidak bisa mencintai dirinya.
Rennia menarik tangan kiri Raven, ingin digenggamnya tapi Raven melepaskan dengan kasar.
"Rav, kau..."
Rennia merasa kaget dengan perlakuan Raven terhadapnya. Matanya mulai berkaca-kaca tapi ditahannya, dia menyandarkan tubuhnya dikursi mobil lalu menghadap ke jendela.
Rasa kesal dan kecewa terhadap Raven mulai menggoyahkan pertahanannya. Rennia tersendu-sendu tapi tetap saja Raven tidak memperdulikan dirinya.
"Seandainya kau katakan kau mencintaiku Ren dan telah melupakan Azel, aku tidak akan berlaku kasar padamu." Gumam Raven dalam hatinya.
Raven menghantar Rennia pulang ke rumahnya, baru hari ini Raven bersifat seperti ini padahal biasanya sebelum menghantar Rennia pulang, Raven akan mengajaknya makan dulu.
Tanpa pamit dari Rennia, dia langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya, Raven juga begitu tanpa mengatakan apa-apa dia melajukan mobilnya meninggalkan kawasan rumah Rennia.
Rennia menghempaskan dirinya di atas ranjangnya dan menangis sepuasnya.
"Apa mungkin Raven bosan padaku, apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan hubungan ini." lirihnya.
Rennia mengurungkan dirinya di dalam kamar lalu dan berharap Raven akan menelepon dirinya. Sehingga malam Raven tidak juga menelepon dirinya.
Rennia memberanikan diri membuat panggilan ke nomor Raven, panggilannya masuk dan berdering tapi tidak dijawab oleh Raven. Hampir 10 kali Rennia coba tapi hasilnya tetap sama.
"Apa sebenarnya salahku Rav?"
....
Di tempat Raven.
Raven sedang menjalani misinya, emosinya membuatnya semakin ingin membunuh target.
Targetnya memasuki kamar wc di sebuah klub malam itu dan Raven menyusulinya dan mengunci pintu kamar wc
Targetnya keluar dari salah satu kamar kecil itu, tapi Raven kembali mendorongnya masuk. Belum sempat targetnya itu bertanya dia langsung mengerat lehernya.
Raven belum merasa puas, dia kembali menikam bagian jantung targetnya itu berkali-kali hingga darah dari targetnya itu bercipratan mengena baju Raven dan wajahnya.
Setelah merasa puas dan emosinya agak membaik dia langsung saja keluar lewat jendela kamar wc itu. Dia kembali ke mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
Raven membersihkan dirinya, walaupun emosinya sudah membaik tapi sakit hati terhadap Rennia masih saja membuncah dalam hatinya.
Raven memeriksa ponsel biasanya, dia melihat panggilan tak terjawab ada 10 dari nomor Rennia dan ada satu pesan dari Rennia.
[Rav, apa salahku sehingga kau mendiamiku? Kalau kau tidak bicara bagaimana aku tahu, aku bukan wanita sempurna Rav.]
Pesan Rennia membuat hati Raven makin sesak, dia tidak tau hendak berkata apa karna hatinya sudah terlanjur sakit.
__ADS_1
Raven menyimpan kembali ponselnya di atas nakas, dia merebahkan dirinya dan merenung nasib hubungan yang baru saja dia dirinya.
"Mungkin hanya aku yang bertepuk sebelah tangan." Gumam Raven.
...
Keesokan harinya, walaupun Raven masih merasa sakit hati seperti dialah korban perasaan ini, dia tetap datang menjemput Rennia untuk pergi ke kampus.
Rennia dengan wajah yang pucat dan sembab memasuki mobil Raven. Dia memakai seatbelt dan menatap ke luar.
"Mata bengkak dan wajahnya terlihat pucat apa Rennia sakit atau dia lanjut menangis semalaman." Batin Raven dalam hati sambil memperhatikan Rennia.
Raven ingin menegurnya tapi dia matikan niatnya, dia menunggu Rennia yang akan menjelaskan semua padanya. Akhirnya, Raven langsung saja melajukan mobilnya tanpa berbicara sepatah kata pun kepada Rennia.
Sesampai dikampus Rennia keluar dari mobil Raven tanpa pamit seperti biasa, Rennia benar-benar berubah, yang biasanya dia selalu bergelayut dilengan Raven sebelum keluar kini tidak lagi.
Raven merasa bingung, dia memikirkan kembali ucapan siswi itu dan mengingat wajah siswi itu tapi yang dia dapat hanyalah siswi itu tidak menipunya karena raut wajahnya kemarin tidak terdapat gurat kebohongan.
"Mungkin aku yang salah atau bagaimana? Huft sebentar pulang aku akan coba berbicara pada Rennia." Ucap Raven sambil menatap bayangan Rennia hilang dibalik pintu kampus.
Raven memilih untuk membuat lawatan ke kafenya dan tiba-tiba dia teringat Gordhi. Dia menelepon pemegang saham terbesar di kafenya untuk membicarakan masalah Gordhi.
Raven akan menggunakan cara licik agar Gordhi kehilangan segalanya termasuk nyawanya.
Setelah selesai pertemuaannya bersama pemegang saham itu, Raven buru-buru menuju ke kampus Rennia dan dia terlambat 15 menit.
Raven berharap Rennia masih menunggunya tapi sudah hampir setengah jam dan Raven sudah mencoba menghubungi Rennia tapi dia tidak mengangkatnya dan tidak muncul.
Raven mulai cemas, dia menahan seorang siswa dan bertanya.
"Jurusan bisnis sudah pulang?"
"Sudah kak, sudah hampir sejam yang lalu." Jawab siswa itu.
Raven tercengang tangannya melemas. Lalu siswa tersebut mengatakan sesuatu lagi.
"Kakak tunangannya Rennia Louter ya kan? Kemarin aku sempat lihat Kakak menci*m Rennia haha tapi apa kakak tahu tadi Azel memaksa Rennia harus menyelesaikan masalah mereka." Ucap siswa itu lagi.
Raven mengernyitkan dahinya.
"Maksudnya?"
"Begini loh kak, kemarin Azel membuat kayak demo begitu sampai ke depan kelas Rennia terus dia minta ke sempatan tapi Rennia menolak katanya dia akan bertunang lusa dengan pria yang menci*mnya itu." Terang siswa itu.
"Terus tadi Azel memaksanya ikut ke sebuah restoran di hotel Andrika loh tapi Rennia lebih memilih menaiki taksi karena Azel terus memaksanya menyelesaikan masalah mereka." Lanjut siswa itu lagi.
Deg!!
Raven kaget.
Bersambung...
__ADS_1