Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 12 Cemburu ?


__ADS_3

Raven yang masih berada di kawasan targetnya kini sedang duduk merenggangkan kembali ototnya. Dia melihat ke arah tangannya yang sempat terkena sayatan dari pisau salah satu dari dua orang pria itu.


Langit semakin mencerah, jam di tangannya sudah menunjukkan jam 6 pagi. Raven mengeluarkan ponsel biasanya lalu mencari kontak Rennia.


Raven awal pagi lagi sudah membuat panggilan ke nomor Rennia karena dia khawatir Azel akan kembali menganggu Rennia lagi. Apalagi saat ini dia berada di pinggir kota dan sedikit jauh dari kampus Rennia.


Sebelum membakar jasad yang tidak bernyawa itu, Raven sudah mengumpulkan kembali setempat senjata yang ingin mereka curi itu. Raven tidak mengambil satu pun dari senjata tersebut karena senjatanya lebih hebat lagi ketimbang senjata yang coba di curi ini.


Raven meninggalkan tempat itu lalu menuju untuk pulang ke rumahnya, dia juga sudah mengabari Holo bahwa misinya telah selesai dan memberikan alamat di mana senjata itu berada.


Sampai di rumahnya, Raven membersihkan tubuhnya karena ada percikan darah yang terkena pada tubuhnya dan dia juga mengobati tangannya sendiri dengan membalut menggunakan perban.


Sehari semalam Raven tidak tidur, dia melanjutkan pekerjaan biasanya dengan mendatangi kafe dan ladang anggurnya. Setelah selesai dengan sesi mengunjungi Raven langsung saja menuju ke kampus Rennia.


Raven memarkirkan mobilnya di parkiran kampus dan menunggu Rennia sambil berdiri bersandar dekat pintu mobilnya.


Hidung mancung bagai dipahat dengan sempurna di tambah lagi dengan garis wajahnya yang kelihatan tegas dengan rahang yang lebar, benar-benar membuat para siswi yang berlalu lalang melihat dengan tatapan ingin melahap dirinya.


Sehingga ada seorang siswi yang mendekatinya dengan mata yang berbinar-binar.


"Hai kamu yang tampan nan mempersonakan." Sapa siswa wanita itu dengan wajah yang memerah karena ditatap oleh Raven.


Raven tidak menjawab malah dia coba mengacuhkan siswi itu, matanya terus mengitari mencari sosok yang ia tunggu tetap siswi wanita itu masih saja berada di situ dan mengajaknya berbicara.


"Cari siapa bang? Nadia bisa bantu, mumpung sudah habis kelas." Lanjut siswi tadi yang bernama Nadia itu.


Raven ingin mengacuhkannya sekali lagi tapi mendengar ucapan dari siswi itu dia malah mendapat ide.


"Kalau begitu tunjukkan aku dimana kelas Rennia." Ucap Raven dengan wajah datar.


Siswi tadi mendengar ucapan bahwa Raven ingin mencari siswi yang bernama Rennia langsung saja wajahnya berubah kesal tapi dengan cepat dia menutupinya.


"Rennia? Marga apa ya? Banyak sih yang bernama Rennia di kampus ini." Jawabnya dengan nada di buat-buat.


Raven berdecih di dalam hati karena tidak pernah menanyakan marga Rennia, yang dia tau hanya namanya saja. Raven kembali membungkam karena sia-sia saja kalau dia meladeni siswi itu.


Siswi yang bernama Nadia tadi terus saja menatap Raven, dan tidak lagi mendengar suara Raven. Dia coba mendekati Raven lalu menarik lengan Raven dan mengenakan pada buah dadanya yang ia busungkan ke depan.

__ADS_1


Dengan wajah yang datar Raven sebenarnya kaget atas kejadian tersebut, dia ingin menolak siswi tadi tapi siswi tersebut memegang tangannya dengan erat sehingga satu tangan datang meraih lengan Raven dengan kasar agar bisa terlepas dari pengangan siswi tersebut.


"Eh, lo kenapa sih Ren." Bentak Nadia kepada Rennia.


Ya Rennia yang datang, dia melihat kejadian Nadia yang menarik paksa lengan Raven lalu meletakkan di antara buah dadanya yang ia busungkan.


"Menjijikan." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Rennia saat ini.


Memang saat ini Rennia sedang marah karena melihat kejadian ini, dia teringat kembali dengan kejadian Azel mengkhianatinya makanya dia coba melampiaskan sedikit rasa kesalnya.


"Apa lo bilang hah?!" Nadia kini coba mendorong Rennia tapi di halang oleh Raven yang wajahnya sudah berubah menjadi dingin.


Gulk!!


Nadia menelan air liurnya dengan sedikit kesusahan setelah melihat wajah dingin yang ditunjukkan oleh Raven.


Raven menggenggam tangan Rennia lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya. Lalu dia juga menyusul memasuki mobilnya, sebelum masuk mobilnya dia sempat bertatapan dengan Azel yang sudah mengenggam tangannya. Raven hanya tersenyum sungging lalu masuk ke dalam mobilnya.


Raven langsung saja melajukan mobilnya keluar dari perkarangan kampus.


"S**t rupanya Rennia kekasih Azel. Eh tapi kenapa Rennia tidak pergi bersama Azel." Gerutu Nadia sambil berpikir-pikir.


Dalam mobil Raven.


Rennia mendiami Raven karena masih merasa kesal. Kenapa saja Raven tidak mendorong siswi tadi dengan kuat agar dia bisa melepaskan lengannya dari siswi genit seperti Nadia , begitulah yang dipikirannya sekarang.


Raven coba memecahkan keheningan di antara mereka


"Ren." Panggil Raven dengan lembut.


Rennia melihat ke arah Raven lalu menatapnya sekilas dan memutar bola matanya dengan jelingan mautnya.


"Ren, kamu marah aku ya? Aku minta maaf." Ucap Raven lagi yang masih fokus menyetir dan memandang Rennia sekilas.


"Nggak, nggak marah kok. Lagi senang." Ketus Rennia. "Lagi senang lihat kamu suka dengan buah dadanya yang membusung di lenganmu tadi ck." Lanjutnya lagi dengan kesal.


"Aku nggak suka wanita bar-bar kek gitu." Ucap Raven sambil tertawa kecil karena ucapan Rennia.

__ADS_1


"Bilang aja suka, semua laki-laki sama sukanya yang besar kayak semangka." Celetuk Rennia yang masih saja kesal dengan Raven.


"Itu wajar dong tapi aku nggak tertarik." Jawab Raven yang masih coba memancing emosi Rennia.


"Nggak tertarik apanya? atau tadi merasa hangat gitu lenganya makanya nggak tertarik."


Raven tersenyum geli mendengar ocehan Rennia, dia tidak menjawab lagi tapi dia sudah menyiapkan strategi agar Rennia tidak kesal lagi.


Mereka masih berada dalam mobil Raven karena jalan agak macet dan ini kesempatan Raven untuk melancarkan strateginya karena Rennia terus saja menyebut buah semangka dan buah apel.


Cup!!


Raven mencium pipi Rennia dengan secepat kilat tapi mampu membuat Rennia diam seribu bahasa, wajahnya yang kesal kini berubah menjadi malu dan mulai memerah seperti tomat.


"Sudah kesalnya? Bisa izin aku bicara?" Ucap Raven sambil tersenyum melihat wajah polos Rennia.


Rennia mengangguk saja tanda ia memberi izin kepada Raven untuk berbicara.


"Maaf jika aku tadi tidak mendorong dengan kuat wanita itu, aku takut mereka sekeliling menanggapiku sebagai pria brengsek, tapi jujur aku katakan aku sama sekali tidak tertarik dengan semangkanya ." Terang Raven. "Ukuran semangka begitu mungkin sudah banyak korbannya. Aku bukan salah satu penggemar untuk menjadi korbannya." Lanjutnya lagi.


"Aku hanya menginginkan dirimu Ren." Sahutnya dalam hati.


Rennia terkesiap mendengar penjelasan Raven, dia memilih untuk meminta maaf dan mendengar Raven. Untuk kali ini dia percaya dengan Raven, Rennia berharap dia tidak akan melihat kejadian seperti ini lagi.


Rennia mulai tersenyum lalu menguncapkan permintaan maafnya.


"Jadi, jujur saja padaku." Ucap Raven kepada Rennia.


Rennia dibuat bingung dengan ucapan Raven.


"Jujur apa?"


Raven tersenyum menang.


"Kau tadi cemburu kan?" Ucap Raven dengan telak.


Wajah Rennia kembali memerah karena ucapan Raven, dia saja baru sadar kenapa dia harus merasa kesal karena kejadian tadi. Rennia tidak menjawab pertanyaan Raven dia memalingkan wajahnya dan menatap ke luar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2