
Jantung Rennia tiba-tiba saja berdegup dengan kencang setelah Raven menempel kain yang berisi es itu di pipi kanannya. Dia meremas gaun yang di kenakannya dengan kuat agar kegugupannya tidak dapat di lihat oleh Raven.
Kali pertama menyentuh pipi Rennia yang putih lembut dan halus, hanya saja harus ia kompres menggunakan es yang berbaluti kain.
Raven meniup perlahan pipi Rennia yang kelihatan sangat memerah karena tamparan dari Azel tadi. Sebenarnya sungguh Raven ingin memukul habis-habis tadi tapi Rennia menghentikannya.
Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Raven, begitu juga dengan Rennia. Sehingga mata mereka beradu pada jarak yang dekat.
Tatapan mata sayup yang penuh ketulusan dan terdapat sedikit gurat amarah sangat kelihatan sewaktu Rennia bertatapan mata dengan Raven.
Tapi tatapan itu tidak bertahan lama, Raven mengalihkan pandangannya dan kembali mengompres pipi Rennia.
Rennia memecahkan keheningan dan rasa canggung yang ia rasakan.
"Rav, biar aku yang kompres sendiri ya." Ucap Rennia yang coba meraih kain yang dipegang Raven.
Raven menatapnya sekilas lalu berkata. "Diam aja. Biar aku yang kompreskan." Suara Raven yang kedengaran sangat datar itu tapi menunjukkan sikap keprihatinan.
Para pelayan membawa makanan dan minuman yang telah di pesan oleh Raven tadi dan menata di atas meja. Para pelayan kafe itu menjadi terusik dengan Bos pemilik kafe mereka ini karena belum pernah Bosnya membawa wanita masuk ke dalam ruang khususnya apalagi di depan matanya kini Bosnya sangat telaten mengompres pipi wanita tersebut.
"Beruntung sekali." Gumam salah satu pelayan yang menata makanan di atas meja.
Setelah semua makanan sudah siap ditata, Kepala pelayan tersebut maju dan berkata.
"Semuanya sudah siap Tuan, apa ada tambahan lagi?"
Raven memberhentikan tangannya dari mengompres pipi Rennia. Dia melihat ke arah makanan yang di atas meja lalu mengalihkan pandangannya kepada Rennia dan bertanya.
"Apa ada yang kau inginkan?"
Rennia saja dari tadi sudah menelan salivanya melihat makanan mewah yang begini banyak padahal mereka hanya berdua. Dan sekarang Raven menanyakan padanya apa ada yang ia inginkan, Rennia jadi melamun menatap wajah Raven. Sehingga Raven memanggil Rennia beberapa kali, lamunannya kini membuyar.
"Ah, maaf. Tidak ada, semuanya sudah ada di sini." Tukas Rennia sambil menunjuk ke arah makanan yang berada di depannya.
"Yakin? Mungkin kau mau tambah sesuatu atau ini bukan kesukaanmu." Ujar Raven lagi.
__ADS_1
"Rav, aku bukan pemilih makanan. Dan ini aja sudah banyak masa mau tambah lagi. Jangan membazir." Timpal Rennia.
Raven mengangguk lalu memberitahu pada Ketua pelayan itu, dia akan kembali memanggilnya jika benar-benar ada di butuhkan. Para pelayan keluar dengan tersenyum tipis di wajah mereka karena ini kali pertamanya mendengar Bos mereka berbicara sedikit panjang dan bukan dengan nada yang tegang.
Setelah kepergian para pelayan itu, Raven menyuruh Rennia untuk makan dan dia menerus mengompres pipi Rennia.
"Ini makan dulu Rav, kalau tidak makan siapa yang mau menghabiskan makanan sebanyak ini?" Ucap Rennia sambil memegang pergelangan tangan Ravem agar tidak meneruskan perkara kompres pipinya.
"Tapi ini tanda merah ini akan lama baru hilang kalau tidak di kompres Rennia, sudahlah kamu makan aja biar aku yang buat." Sanggahnya lalu melepaskan tangannya dari genggaman Rennia.
Baru saja hendak mengompres kembali es yang berbalut kain itu di pipi Rennia, Rennia kini mengeser jauh sedikit dirinya dari Raven.
Raven menatap Rennia dengan wajah kebingungan lalu berkata.
"Jangan beginilah Ren, tanda itu harus hilang."
Rennia menggelengkan kepalanya lalu menunjuk makanan di atas meja itu.
"Kau peduli tentang bekas tamparan ini?" Tanya Rennia pada Raven yang wajahnya mulai kelihatan sendu.
"Kalau aku datang sedikit lebih awal tadi pasti kau hal ini tidak akan terjadi. Maaf Rennia aku merasa marah pada diriku, jadi biarkan aku mengompres pipimu ya."
Ucapan Raven begitu dalam artinya dan lagi-lagi membuat Rennia tertegun dengan dirinya. Tapi cepat ia hapuskan rasa yang mulai mengusik hatinya itu.
"Setidaknya makan dulu Rav, aku tidak mampu menghabiskan semuanya." Sahut Rennia. "Dan kau tidak usah marah pada dirimu bukan salahmu, tapi aku berterima kasih padamu Rav, kau telah menyelamatkanku dari kejadian tadi." Lanjut Rennia lagi.
Raven menggelengkan kepalanya lalu mengambil tangan kanan Rennia dan menggenggamnya.
"Aku pacarmu jadi tidak usah berterima kasih. Sudahlah, aku sudah dapat solusinya. Kita lanjut makan saja." Terang Raven.
Rennia merasa hangat di hatinya mendengarkan ucapan Raven, padahal perjanjian mereka hanya akan berpacaran selama 3 bulan saja tapi entah kenapa Raven memperlakukannya seperti perjanjian 3 bulan itu tidak ada sama sekali.
Rennia menjadi sedikit bingung ditambah lagi dengan perlakuan Raven kepada dirinya. Tapi dia memilih untuk diam saja, suatu saat dia akan bertanya kalau hatinya sudah tidak mampu menyimpan perasaan bingung ini.
Bunyi sendok berdentingan menandakan mereka sedang menikmati makanan yang sudah di sajikan. Tetapi Rennia tidak merasa enak kepada Raven, karena tangan kiri Raven terus saja mengompres pipinya dan tangan kanannya menyuapi mulutnya untuk makan.
__ADS_1
Mau dia hentikan Raven tetap bersikeras, entahlah apa dalam pikiran Raven sampai begitu memperlakukannya dengan baik.
Setelah selesai makan baru Rennia teringat akan mobilnya yang berada di parkiran kampusnya.
"Rav, sebentar hantar aja aku ke kampus ya." Pinta Rennia kepada Raven.
Tapi wajah Raven yang tadinya kelihatan biasa saja langsung berubah setelah mendengar ucapannya. Rahang Raven kelihatan mengeras dan tatapan mata menjadi tajam. Nyali Rennia menciut karena takut terjadi sesuatu.
Raven yang sadar dengan tatapan pada netra mata Rennia yang menunjukkan ketakutan, segera dia menghembuskan nafas panjang agar dia bisa tenang dan mendengarkan penjelasan Rennia.
"Ada kelas sore atau apa?" Ujar Raven lalu menatap ke arah pipi Rennia yang merahnya sudah mulai menghilang, Raven berasa lega. Tidak sia-sia usahanya.
"Tidak ada, cuman aku baru teringat tadi pagi aku membawa mobil ke kampus." Jelas Rennia dengan masih merasa sedikit takut akan Raven.
Raven menatap Rennia yang mulai menundukkan wajahnya. Di angkatnya dagu Rennia lalu menghadapkan wajah Rennia kepadanya.
"Maaf, aku pikir kau masih mau berjumpa dengan pria tadi." Ucap Raven lirih.
Raven menatap netra mata Rennia yang mulai menunjukkan tatapan sendu. Dan kembali berkata.
"Siapa dia sebenarnya. Apa dia pacarmu yang sesungguhnya?"
Rennia menjawab dengan nada sesal.
"Dia pria brengsek aku menyesal telah berpacaran dengannya dan ternyata benar desas desus di kampus dia itu playboy. Aku membencinya." Lalu Rennia melanjutkan lagi. "Dia hanya mantan, sudahlah kenapa harus bahas dia. Sekarangkan kamu adalah pacarku jadi lupakan tentangnya."
Ucapan Rennia yang terakhir membuat jantung Raven merasa berdebar dan menghangat. Dia merasa bersalah dengan Rennia karena sudah berfikir bukan-bukan terhadap Rennia.
Walaupun tadi Rennia yang berkata untuk berhenti membicarakan Azel, tapi kini dia
masih saja terus melanjutkan cerita tentang Azel karena dia tidak mau menyimpan kesedihannya sendiri lagi, dia ingin melepaskan semuanya agar dia merasa tidak terbebankan pikirannya.
Raven hanya menjadi pendengar saja dan tidak menyela sedikitpun, dia merasa senang karena Rennia mau berbagi dengannya.
Bersambung...
__ADS_1
Sudah mulai bertumbuh perasaannya RenRav yoo..