Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 34 Aaron mencari tahu


__ADS_3

Azel kembali ke kampusnya tapi dia tidak mengikuti kelasnya, dia menunggu Rennia setelah selesai kelas pertamanya.


"Aku harus menjauhkan Rennia dari pria berbahaya seperti dia." Gumam Azel yang duduk di kursi panjang di luar koridor kelas Rennia.


Azel melihat jam yang melingkar ditangannya, masih tersisa 10 menit sebelum kelas Rennia berakhir. Azel dengan sabar tetap menunggu di koridor itu sambil mengirim pesan kepada sang Ayah.


Karena kali ini Azel butuh bantuan dari Aaron langsung agar Raven tidak berani mendekatinya nanti.


Ding..Dong...


Kelas Rennia tamat, dosen keluar dari kelas Rennia diikuti dengan beberapa siswa siswi yang ingin menuju ke kantin kampus.


Azel menunggu giliran untuk memasuki kelas Rennia sehingga tidak ada siswa lagi yang ingin keluar barulah Azel masuk.


Ini kali pertamanya Azel memasuki kelas Rennia walaupun pernah berpacaran dengan Rennia tapi dia sama sekali belum pernah menjejakkan kakinya sehingga hari ini dia telah berada di dekat pintu dan mengitari seluruh tempat duduk untuk mencari Rennia sedang berada di mana.


"Itu dia." Ucapnya setelah menemui Rennia yang duduk di barisan ke lima.


Azel mendekati Rennia dengan langkah yang cepat, ketika berada di samping Rennia, Azel langsung menduduki tempat kosong di sebelah Rennia.


"A..." Rennia kaget dengan kedatangan Azel yang langsung saja duduk di sebelahnya.


"Kita perlu bicara Ren." Tegas Azel dengan wajah yang serius.


"Bicara apa lagi! Aku hampir masuk ke dalam jebakkanmu kemarin!" Ketus Rennia yang mulai berdiri ingin menjauhi Azel.


"Ini tentang tunanganmu Ren."


"Kenapa? Apa yang kau lakukan padanya?!"


"Aku tidak lakukan apa-apa tapi dia! Dia telah membunuh anak buahku di depan mataku" Serunya. " Dia pembunuh dan berbahaya Ren, tinggalkan saja dia karna nyawamu bisa terancam, " lanjut Azel lagi.


"Jangan berbuat cerita yang tidak-tidak Azel, atau kau akan menyesal." Rennia tidak terlalu kaget karena dia memang tahu profesi lain Raven.


"Aku tidak menipumu Ren, aku berkata jujur." Sahut Azel yang bersikeras


Rennia tidak menjawab, dia berjalan meninggalkan Azel tapi dia tidak menyangka bahwa Azel mengejarnya dan menarik tangannya.


Rennia melepaskan tendangan mautnya tepat di kehidupan Azel dan membuatnya meringgis ke sakitan.


"Aku pernah bilang, jangan menyentuhku!" Ucap Rennia dengan nada ketus.


Rennia meninggalkan Azel terjongkok dikelasnya, dia menuju ke laman belakang yang terlihat kurang orang. Rennia membuat panggilan keluar ke nomor Raven.


Tapi setelah 5 kali cobaan tetap tidak dijawab. Rennia mulai merasa khawatir dengan sang kekasih. Rennia mengirim pesan dan berharap Raven akan membacanya nanti.


[Rav, kau di mana?]

__ADS_1


[Azel, tidak melukaimukan?]


Rennia kembali ke kelasnya dan Azel sudah tidak berada di sana. Rennia menghela nafas lega karena tidak perlu berurusan dengan Azel.


.


.


.


.


.


Raven belum membalas pesan Rennia membuat Rennia makin cemas. Tapi setelah keluar dari pintu utama Rennia melihat Raven telah berdiri dekat mobilnya yang terparkir di depan gerbang kampus.


Rennia berlari-lari agar bisa cepat bertemu dengan Raven yang tampak menegakkan tubuhnya menatap ke arah Rennia.


"Ren, kenapa berlari begitu." Tanya Raven setelah Rennia berada di depannya.


Rennia tidak menjawab dia malah langsung menghamburkan pelukkan kepada Raven. Tubuhnya terasa gementar, dia bersyukur karena tidak terjadi apa-apa pada Raven.


Walaupun tadi pikiran sempat berpikir sesuatu yang buruk terjadi kepada Raven.


Rennia mengeratkan pelukkannya.


"Ren sayang, kamu kenapa?" tanya Raven lagi kali ini dengan suara yang terdengar halus.


"Kita masuk ke mobil ya, tidak enak dilihat orang soalnya," lanjut Raven lagi sambil melepaskan perlahan pelukan Rennia.


Raven mengusap air mata Rennia yang terlihat menangis dan menggandengnya untuk masuk ke dalam mobil.


Dengan cepat Raven keluar dari kawasan kampus, agar dia bisa berbicara pada Rennia. Raven memberhentikan mobilnya di pinggir jalan yang terlihat sibuk itu.


"Ren, kamu kenapa? apa ada yang menyakitimu? atau ada berbuat jahat padamu?" Ucap Raven yang terlihat khawatir melihat air mata Rennia yang tidak kunjung berhenti.


"Azel menemuiku tadi, dia katakan kau membunuh jadi aku kira kau yang terbunuh Rav." Jawab Rennia.


Raven mengusap air mata Rennia, dia menatap Rennia dengan intens.


"Sayang aku tidak akan mati begitu saja, kau adalah tanggungjawabku jadi jangan berpikir aku akan terbunuh oleh hama kecil kayak Azel itu."


Rennia mengganguk dia memegang tangan Raven yang ada dipipinya lalu tersenyum.


"Terima kasih Rav."


...

__ADS_1


Azel telah kembali ke rumah Aaron dengan wajah kalut. Aaron memanggilnya pulang untuk mendengar cerita lebih jelas lagi yang awalnya Azel sampaikan lewat pesan.


Azel duduk berhadapan dengan Aaron.


"Aku bukan lawannya Ayah." Ucap Azel.


Aaron menatap Azel dengan serius, tidak dia sangka anak tunggalnya ini bisa menyerah begitu saja.


"Kau yang terlalu berbaik hati Zel." Suara tegas Aaron bergema di dalam ruangan itu.


"Aku tidak Yah, aku sendiri melihat bagaimana dia menghabis anak buah khususmu itu tidak lebih dari 3 menit mereka telah tumbang." Jelas Azel kepada Aaron yang terlihat tidak percaya padanya.


"Mustahil Zel, mafia saja butuh berapa menit dia cuma orang biasa, mungkin kau saja yang takut kepadanya." Sindir Aaron yang masih kurang percaya dengan penjelasan Azel.


Azel berteriak kesal, dia berdiri dan pergi meninggalkan Aaron yang berada dalam ruangan itu.


"Sepertinya dia terlihat serius tapi mana mungkin kecuali dia bukan orang biasa." Gumam Aaron yang masih melihat ke arah pintu yang masih terbuka itu.


Aaron berpikir-pikir sehingga dia teringat kasus anak buahnya kecelakaan barulah dia mulai percaya ucapan Azel.


"Dia bukan orang biasa, aku harus cari tahu tentangnya."


Aaron langsung menghubungi asistennya untuk mencari tahu siapa Raven yang sebenarnya lewat dunia gelap mereka.


Sebelum dia ingin membalas dendam untuk anak buahnya dia harus mencari tahu siapa lawannya kali ini agar tidak terjadi suatu hal diluar dugaannya.


Aaron kembali mengirim pesan kepada Azel. Dan dia akan mengirim beberapa orang lagi untuk melindungi Azel dari Raven.


....


Hari rapat saham telah tiba.


Gordhi telah bersiap untuk menuju ke kafe di mana tempat mereka akan melakukan rapat saham.


Dengan penuh percaya diri dia mendatangi tempat itu. Gordhi telah diberikan kursi kursus di bagian belakang, walaupun dia sempat berpikir aneh karena kenapa harus bagian belakang tapi dia matikan perasaan anehnya itu.


Semua pemegang saham tampak telah memasuki ruang rapat dan saling bersalaman.


Keadaan menjadi canggung bagi Gordhi karena tidak ada satu pun yang ingin bersalaman padanya karena mereka mengira Gordhi adalah seorang pencatat.


Rapat telah dimulai oleh seseorang yang tidak dikenali oleh Gordhi, dengan suara lantangnya dia menperkenalkan Gordhi kepada mereka yang berada di dalam ruangan itu.


"Tuan sekalian, saya ingin mengenalkan investor saham yang baru bergabung di sini. Tuan Gordhi silakan berdiri dan kenalkan diri anda."


Gordhi dengan gaya penuh wibawa dan percaya diri akhirnya mengenalkan dirinya dan berapa jumlah saham yang akan di tanam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2