
Rennia kembali duduk ke sofa ruang tamu lalu mengajak Vitra duduk di sebelahnya. Awalnya Rennia merasa sedikit ragu untuk bercerita tapi Vitra terus memancingnya dan akhirnya di mulai menceritakan tentang kekasihnya.
Rennia bercerita mulai dari Azel dan siapa Azel, Rennia tau Vitra merasa marah karena wajahnya yang putih itu berubah menjadi merah.
"Kak, aku sudah putus dengan pria bajingan itu." Ucap Rennia ingin menenangkan sang Kakak yang terlihat murka.
"Jadi siapa yang kamu maksudkan dengan dia tadi kalau bukan pria badjingan itu?" tukasnya dengan raut wajah dingin.
"Ahh dia itu, ehmm dia itu yang kemarin selamatkan aku..." Ucap Rennia malu-malu.
"Hah?" Vitra kaget.
Entah apa dalam pikiran Rennia, padahal Raven itu baru saja dia kenali dan itu juga tanpa sengaja lalu sekarang sudah menjadi kekasihnya, mungkin otak Rennia mengalami masalah setelah putus dengan pria brengsek itu. Begitulah pikiran Vitra.
Dan yang paling parah lagi, kemarin Vitra baru tahu bahwa pembunuh bayaran yang di sewa oleh Daddynya adalah Raven, Vitra kembali bingung dengan pikiran Rennia.
Rennia mengangguk antusias, dia tidak mengharapkan kakaknya untuk.merestui hubungannya karena dia juga belum pasti kedepannya bagaimana, mungkinkah Raven akan berubah pikiran seperti Azel ataupun mungkinkah Raven akan bosan padanya.
"Kamu tidak bercandakan?" tanya Vitra. "Kamu kalau tahu dia siapa mungkin kamu akan menjauhi dia." Lanjutnya lagi kini dengan wajah yang serius.
"Aku tidak bercanda kak, aku tahu dia siapa." Jawabnya lirih dan tersenyum.
"Dia siapa emang?" Vitra coba memancing Rennia, karena dia pikir Rennia tidak mengetahui sosok Raven.
"Dia, pembunuh bayaran yang Daddy sewa." Jawaban tepat, padat di berikan kepada Vitra.
__ADS_1
Vitra menelan salivanya dia tidak menyangka Rennia bakal tahu sedetail itu, apa mungkin Raven yang memberitahunya tapi tidak mungkin. Vitra memijit dahinya karena dirinya mulai merasa pusing. Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di dalam pikirannya.
Rennia memegang tangan Vitra lalu tersenyum.
"Aku mendengar ketika kalian sedang merencanakan sesuatu, dari situ aku tahu Kak." Ujar Rennia seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Vitra.
Vitra menatap adik kesayangannya itu, dia tidak bisa melarang Rennia untuk berpacaran karena memang Rennia butuh sandaran dan perhatian yang lebih apalagi sejak usia 5 tahun Rennia tidak memiliki kasih sayang yang lengkap.
Oleh itu, untuk melarangnya tidak mungkin apalagi dengan seseorang yang dia percaya bisa menjaga dirinya.
Rennia meneruskan ceritanya dan kekesalan terhadap Raven yang tiba-tiba menghilang dan ponselnya dalam keadaan mati.
Vitra banyak memberi saran dan solusi saja agar Rennia tidak merasa kesal mau pun rasa terluka, menurutnya Rennia masih saja tidak tahu dengan kesibukan orang dewasa.
Di tempat Raven berada.
Raven berada di ladang anggurnya, dia mengelilingi sambil berbalas pesan dengan Rennia tapi tanpa sengaja dia melanggar salah satu pekerjanya dan ponselnya jatuh masuk ke dalam ember yang berisi air.
Pekerjanya itu meminta maaf berulang kali walaupun bukan kesalahannya karena wajah Raven kelihatan kesal dan panik.
Tapi Raven sama sekali tidak menyalahkan pekerjanya itu, malah di kembali meminta maaf karena telah menganggu pekerjaan pekerjanya itu.
Raven ingin segera pergi dari tempat itu dan mencari toko ponsel tapi hari ini dia harus menghadiri rapat di kantor ladangnya untuk mendengar presentasi dan semua masukan yang perlu di pertimbangkan.
Waktu terus berjalan, setelah 3 jam selesailah rapatnya. Raven pamit dan menyuruh mereka untuk melanjutkan acara jamuannya tanpa dirinya karena dia harus mengurus sesuatu yang penting.
__ADS_1
Tidak lain tidak bukan mencari ponsel baru agar bisa menghubungi Rennia, ponsel lamanya tidak bisa hidup lagi karena air di dalam ember tadi bukan hanya air biasa tapi sudah di campur dengan obat pupuk tanaman.
Raven tidak mengeluh dia hanya perlu membeli yang baru dan membujuk Rennia begitulah pikirannya.
Sewaktu berjalan menelusuri kota, Raven melihat sebuah toko pakaian yang mempamerkan dress yang sangat cantik dan elegan.
Raven memasuki toko tersebut dan menanyakan tentang dress yang membuat hatinya terpaut tadi. Tanpa banyak basa basi, dia membeli dress tersebut untuk memberikan kepada Rennia sebagai hadiah membujuk Rennia.
Raven tersenyum kecil mengingat wajah polos Rennia yang sedang merajuk. Ponsel baru kini berada di tangannya, dia sudah memasukkan kartu simnya ke ponsel barunya.
Baru saja hendak membuat panggilan ke nomor Rennia, Rennia sudah dulu meneleponnya. Raven mengangkat panggilan teleponnya.
"Helo Ren, maaf ceritanya panjang tapi bersiaplah aku akan menjemputmu." Raven langsung ke intinya karena tidak mau memperpanjangkan kesal Rennia di saat mereka masih berjauhan.
"Ehm, baiklah." Jawab Rennia singkat lalu mematikan ponselnya.
Raut yang tadinya cemberut mulai sumringgah.Vitra hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah adik kesayangannya itu.
Rennia berlari memasuki kamarnya sambil bersenandung.
"Aku harus bertemu dengan Raven, harap dia sampai sebelum Rennia siap." Gumamnya.
Vitra bisa menebak bahwa Raven akan menjemput Rennia karena raut wajah Rennia yang tiba-tiba berubah drastis tadi.
Bersambung...
__ADS_1