
Raven berada di parkiran kampus setengah jam sebelum jam kelas Rennia berakhir. Seperti biasa Raven akan berdiri di samping mobilnya sambil bersandar memainkan ponselnya.
Seorang pria datang menegurnya dengan sindiran
"Hehh, apa mungkin yang Rennia beri kepadamu sampai kau mengaku sebagai calon suaminya." Sinis seseorang yang dikenal sebagai Azel itu.
Raven menatap Azel dengan wajah yang datar, dia mengacuhkan ucapan Azel lalu kembali memainkan ponselnya.
Azel yang tidak terima di acuhkan langsung saja melepaskan bogem mentah yang mengenai sudut bibir Raven.
"Ck berlagak kuat di saat ada Rennia, di saat sendiri nyalimu ciut cuihh." Sindir Azel dengan wajah tersenyum menang karena berhasil memukul Raven.
Raven bukan tidak mau membalas, tapi dia sadar ada banyak mata yang memperhatikan kalau ikutkan hatinya ingin sekali dia membunuh pria di depannya ini.
"Cuih." Raven membuang ludahnya yang terasa ngilu akibat rasa darah yang keluar lewat bibirnya yang pecah.
"Ternyata sampah selalu mengeluarkan baun busuknya." Lanjut Raven sambil memegang bibirnya yang terluka.
Azel ingin melayangkan tendangannya tapi dia dulu yang terdorang ke samping dan jatuh di atas aspal parkiran.
Dengah cepat Azel melihat ke arah orang yang telah mendorongnya, matanya seketika membulat.
"Ren, apa-apaan ini!" Pekiknya mencoba untuk bangun tapi kembali mendapat tendang daru Rennia.
Bughh...
"Akkhhh." Teriak Azel kesakitan.
"Sebenarnya aku tidak suka kekerasan tapi aku melihat kau dulu yang menyerang Raven jadi aku tidak ada pilihan lain untuk membalas perbuatanmu." Ucap Rennia dengan dingin.
Azel tahu Rennia mempunyai kelebihan dalam latihan bela diri karena dia juga berapa kali pernah menjemput Rennia di tempat perlatihannya. Azel tidak mampu berkata apa-apa.
Sehingga dia terpaksa mengatakan.
"Rennia aku masih mencintaimu! " Teriaknya apabila melihat Rennia mulai membelakanginya.
"Beri aku kesempatan, maafkan aku jika melakukan hal di luar dugaanmu, aku sadar aku salah. Tolong maafkan aku, aku sungguh masih mencintaimu." Lanjutnya lagi mendramatiskan keadaan.
Deg!!
Rennia mematung di tempat.
"Azel masih mencintaiku?" batinnya merasa sedikit kaget.
"Ren, sejak kau pergi aku tidak pernah lagi bertemu mana-mana wanita lain dan aku belum bisa move on darimu Ren, tolong beri aku kesempatan." Rayu Azel dengan wajah dibuat sendu.
Rennia menatap ke arah Raven, wajah Raven yang terlihat datar sungguh membuat hatinya gusar. Rennia membalikkan tubuhnya menghadap Azel.
"Tapi aku sudah tidak mencintaimu." Jawabnya dengan nada rendah.
"Apa kau mencintai pria itu?" tanya Azel dengan suara sedih.
Rennia diam berapa detik.
"Aku tidak tau, tapi aku tidak ingin kehilangannya dan aku tidak ingin meninggalkan, dia segalanya bagiku." Jawab Rennia dengan serius.
__ADS_1
Dug..dug..dug...
Ucapan Rennia membuat jantung Raven berdegup kencang, kini dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Raven menuju ke arah Rennia.
Dia menarik Rennia dan memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengannya. Dengan cepat Raven menempelkan bibirnya ke bibir Rennia dan melum** perlahan.
"Cieeeee"
"Aaaaaarrrgghhh"
"Mataku ternodai toloooongg."
"So sweet"
"Kipas mana kipas!"
Begitulah teriakan para siswa yang menyaksikan kejadian itu di depan mata mereka.
Raven melepaskan tautan bibirnya lalu tersenyum melihat wajah Rennia yang telah bersemu merah semerah tomat.
Raven mengalihkan tatapannya ke arah Azel.
"Dia milikku, dan tetap akan menjadi milikku." Ucapnya sambil mempereratkan pelukan di pinggang Rennia.
Azel menggenggamkan kedua tangannya.
"Si** dia sudah mencicipi bibir Rennia!" Gerutunya dalam hati karena merasa geram dan kesal dengan pemandangan tersebut apalagi ucapan Raven.
"Kita pergi sekarang ya sayang." Ucap Raven sengaja tambah mempanas-panasi Azel.
Azel kembali berteriak.
"Aku akan tetap menunggumu Ren!" Dia berharap Rennia menoleh ke arahnya tapi hal itu tidak terjadi sama sekali malah Raven yang menoleh ke arahnya sambil tersenyum sungging lalu berkata tanpa suara.
"You're loser." Raven memasuki mobilnya dengan wajah tersenyum kemenangan.
Setelah kepergian mereka Azel memaki menyumpah mereka dengan berbagai macam kata yang dia lontarkan.
Dia merasa harga dirinya dipijak oleh Raven dan Rennia. Kali ini dia akan membalas dendamnya menggunakan kekuasaan statusnya.
"Tunggu pembalasanku!" Ucapnya dengan mata menyala-nyala. "Ren, aku akan membuatmu mendes** dan berteriak nanti setelah kekasihmu itu hancur." Lanjutnya dengan tertawa jahat.
Di dalam mobil Raven.
"Rav, bibirmu terluka." Rennia menyentuh perlahan hujung bibir Raven.
"Sakit Ren, jangan di sentuh." Ucap Raven sambil fokus menyetir mobilnya.
"Kamu marah?" tanya Rennia yang merasa Raven sedikit berbeda.
"Kau tidak mencintaiku." Sahut Raven terdengar sendu.
Rennia tersenyum lalu mengusap pipi Raven.
"Bisa berhentikan mobilnya sedikit." Ucap Rennia.
__ADS_1
Raven yang masih memasang raut wajah serius, tetap mengikuti permintaan Rennia. Setelah memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan, Raven menatap ke arah Rennia.
Rennia mengukirkan senyumannya.
"Rav, aku tidak tau apa arti cinta yang sebenarnya makanya aku tidak mengatakannya." Ucap Rennia sambil mengusap tangan Raven.
"Tapi kalau perasaanku untukmu, apa yang aku ucapkan tadi tu benar dari lubuk hatiku." Lanjutnya lagi.
Raven diam dan mengamati wajah Rennia yang terlihat begitu bersungguh-sungguh.
"Kalau aku beritahumu profesiku yang lain selain pengusaha apa kau akan berkata seperti tadi itu?" tanya Raven dengan raut serius.
Sebenarnya Raven rasa takut jika Rennia mengetahui profesi sebenarnya, tapi dia coba tutupi semua itu.
Rennia menghela nafas panjang.
"Kamu pembunuh bayarankan? Daddy telah menyewamu dua kalikan?"
Deg!!
Raven kaget mendengar ucapan Rennia yang telah mengetahui profesinya sebagai pembunuh bayaran. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Rav..." Rennia memanggil Raven yang terlihat melamun.
"Ya?" Jawab Raven dengan salah tingkah.
"Jangan khawatir, aku menerima semua tentangmu. Aku yakin kau melakukan itu karena ada alasannya." Ungkap Rennia sambil tersenyum.
"Kau tidak takut padaku?"
"Kenapa harus takut dengan pacar sendiri, ih." Jawab Rennia tertawa geli.
Raven kembali tenang saat ini setelah mengetahui Rennia bisa menerimanya, tapi dia masih tidak tahu ke depannya nanti adakah masih sama seperti hari ini. Itulah ketakutan di dalam lubuk hatinya.
"Ren, kita langsung pulang saja ya. Aku ingin bertemu Tuan Ronald, Daddymu." Ucapnya tiba-tiba.
"Untuk apa?" Rennia menjadi gelapan.
"Meminta restu dan ada hal penting yang harus aku bincangkan padanya."Jawab Raven dengan jujur.
Rennia tertegun, baru kali ini dia merasa sangat dicintai dengan tulus, Raven ingin segera bertemu Daddynya membuatnya begitu bahagia dalam waktu yang sama mulai gugup dan berdebar-debar.
"Ya Tuhan, semoga saja Daddy merestui hubungan kami." Batinnya.
"Bisa nggak?" tanya Raven lagi dengan wajah menggoda.
Rennia mengangguk antusias, dia malah sering membayangkan momen bahagia seperti ini datang dalam hidupnya.
"Tapi sebelum tu, kita singgah di toko jam dulu boleh?" tanya Rennia dengan membuat wajah merayunya.
"Baiklah, tapi kenapa toko jam?"
"Mau sogok Daddy hahaha." Tawa Rennia pecah saat ini.
Raven hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli melihat tingkah Rennia.
__ADS_1
Bersambung....