Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 43 Rasa bersalah Rennia


__ADS_3

Rennia merasa sesuatu aneh di dalam hatinya dan dia coba mengelak untuk berkomunikasi dengan Raven karena ada rasa takut dan tidak nyaman.


Raven hanya menatap Rennia dari arah sedikit jauh, dia tahu Rennia tidak suka dengan kekerasan tapi dia tidak ada pilihan lain, baginya dia sudah terbiasa untuk membunuh seseorang.


Holo mendekati Raven setelah mengarahkan anak buahnya untuk membersihkan mayat2 tadi dan tidak meninggalkan sedikit jejak pun.


"Bagaimana dengan pria yang kau tangkap kemarin?" tanya Holo memecahkan lamunan Raven.


"Dia berada dalam hutan lebat, entah hidup atau mati tergantung nasibnya," sahut Raven yang masih betah menatap Rennia yang membersihkan wajah Ronald.


Holo mengerti ke mana pandangan mata Raven, dia menepuk perlahan pundak Raven.


"Dia mungkin cuma sedikit syok," ucap Holo.


"Hmm terserah dia, aku tidak memaksa dirinya untuk menerima diriku," jawab Raven dengan wajah sendu.


Holo mengajak Raven untuk pulang bersamanya, tetapi Raven menolak dia tidak ingin membuat Rennia merasa semakin tidak nyaman dengan kehadirannya.


Holo berganjak menuju ke arah mobilnya, Rennia sempat menatap Raven tapi Raven telah memasuki mobil anak buah Holo, dia minta untuk langsung dihantar ke rumahnya.


Raven tahu malam ini pasti, Rennia dan Ronald bermalam di rumah Holo. Raven tidak ingin membuat suasana menjadi sangat canggung antaranya dan Rennia.


"Kak, Raven tidak ikut kita pulang?" tanya Rennia setelah masuk ke dalam mobil dan melihat mobil yang ditumpangi Raven telah meninggalkan tempat itu.


"Tidak, dia langsung ke rumahnya," sahut Holo dengan wajah serius khas dirinya.


Rennia mengangguk, dia menatap ke arah mobil yang ditumpangi Raven, sudah tidak kelihatan bayang-banyangnya. Hatinya menjadi serba salah dalam waktu yang sama dia merasa lega.


"Jangan salahkan Raven, dia harus membunuh mereka karena mereka akan mencelakan kita ke depannya jika mereka terlepas," ucap Ronald yang sedari tadi memperhatikan gelagat Rennia.


"Raven tadi terluka, pria itu sempat menusuk paha kirinya huhh mujur saja Daddy tidak apa-apa. Tapi Raven pasti merasa sakit apalagi harus membersihkan lukanya sendiri," lanjut Ronald sengaja untuk memancing ke khawatiran Raven.


"Hahh?" Rennia kaget mendengar ucapan Ronald, dia tidak sadar jika Raven terluka. Mungkin karena fokusnya tadi cuma mengarah sepenuhnya kepada Ronald.


Raut wajah Rennia mulai berubah khawatir dan panik. Entah kenapa rasa bersalahnya semakin besar. Sepanjang perjalanan Rennia meremas hujung bajunya.


"Dad..." panggil Rennia dengan lirih.


"Besok saja, makanya jangan jual mahal," jawab Ronald dengan nada menyindir.


Ronald tahu hal apa yang ingin dibicarakan oleh Rennia. Tapi dia sengaja menolaknya agar Rennia bisa mengintropeksi dirinya untuk tidak menyalahkan Raven hanya karena Raven telah membunuh.


"Ih Daddy," sahut Rennia sambil memukul perlahan lengan Ronald.


Holo hanya tersenyum, dia coba membuat mengirim pesan kepada Raven untuk datang ke rumahnya karena Ronald telah membuat Rennia harus merasakan khawatir.

__ADS_1


'ting!' bunyi notifikasi Holo.


[Aku sudah hampir sampai di rumahku, huhh sudahlah tunggu saja aku akan sampai ke sana setelah membersihkan diriku.] -Raven


Holo tidak membalas pesan Raven, dia malah tersenyum tipis.


"Dendamnya sudah terlunasi pasti setelah ini dia akan berhenti jadi pembunuh bayaran huhh, berarti aku harus mencari seseorang untuk menggantikan posisinya," gumam Holo dalam hatinya.


Walaupun rasa berat untuk melepaskan Raven karena Raven merupakan salah satu anak buahnya yang sangat profesional dan Holo telah menganggapnya seperti keluarga. Tetapi dia tidak bisa memaksa Raven untuk terus bersamanya.


Holo menatap ke jalanan di luar, dia masih mengingat bagaimana dia bertemu dengan Raven saat itu, wajah yang terlihat lebam karena dipukuli pihak berwajib, mata yang bengkak karena menangisi mendiang orangtuanya.


Butuh sebulan untuk Holo merawat Raven sehingga Raven bisa kembali ke dirinya sendiri dan mencipta misi untuk dirinya. Sumpah dan janjinya kepada kedua orangtuanya telah dipenuhi.


Holo juga berharap setelah ini Raven menjadi seorang pria yang baik untuk istri dan anak-anaknya kelak. Jarang ada anak buahnya yang dia rasa seakrab ini dengan dirinya cuma Raven saja.


....


Ronald diberikan kamar tamu yang lain untuk dia beristirehat. Sebelum itu Erika mengajak mereka untuk makan bersama karena pasti lelah mereka membuat mereka kembali lapar apalagi Ronald yang sedari siang belum mengisi perutnya.


"Loh, Raven tidak ikut pulang ke sini?" tanya Erika pada Holo.


"Katanya nanti dia sampai," jawab Holo berbisik di telinga Erika.


"Kita makan baru istirehat ok," seru Erika.


Mereka semua mengikuti langkah Erika dan Holo menuju ke ruang makan. Rennia merasa tidak bersemangat, dia menyesali telah mengabaikan Raven tadi.


Setelah duduk di meja makan, Erika sengaja meletakkan piring kosong di sebelah Rennia dan tersenyum tipis.


Erika coba menggoda Rennia.


"Ren, bukankah Raven belum makan sedari siang tadi?" tanya Erika.


Rennia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia bingung harus menjawab apa.


"Ehmm, iya kak cuma tadi dia langsung pulang," jawab Rennia.


"Oh begitu ya, kasian dia pasti akan menahan lapar lagi sampai besok pagi huhh masih ada 3 jam lagi jam 6 pagi loh," ucap Erika.


"Ehm tidak apa-apalah lagian dia sudah dewasa kok, bisa cari makan sendiri biarpun terluka. Yuk kita makan," lanjut Erika lagi.


Rasa lapar Rennia menghilang, mengingat keadaan Raven yang terluka dan tadi dia coba mengelak untuk berinteraksi dengan Raven.


"Huuuhhh," Rennia menghela nafas panjang.

__ADS_1


Ritual makan sudah dimulaikan hampir 10 menit yang lalu. Tiba-tiba kursi di sebelah Rennia ditarik lalu suara familiar memenuhi ruang makan itu.


"Maaf terlambat," ucap Raven lalu duduk di sebelah Rennia.


Mereka yang lain mengangguk dan tersenyum tipis kecuali Rennia yang menoleh menatap Raven dengan tatapan sedikit kaget.


Raven awalnya mengacuhkan Rennia yang menatapnya, dia memasukkan nasi dan lauk ke dalam piringnya.


"Makanlah, wajahku tidak mengenyangkan," ucap Raven memulai menyuapi nasi ke mulut Rennia.


Rennia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Raven seperti terhipnotis dengan wajah tampan Raven.


"Ren, kunyah biar cepat habis makanannya." Ujar Raven lagi memecahkan lamunan Rennia.


Rennia mengangguk lalu mengunyah makanan dalam mulutnya dan menghabisi makanan dipiringnya hingga tandas tidak tersisa.


Raven menghulurkan segelas air putih untuk Rennia dan diterima Rennia dengan senyuman di wajahnya.


Setelah selesai makan, Rennia membantu Erika membersihkan piring-piring yang telah digunakan.


Para pria berganjak menuju ke ruang tengah rumah.


"Aku baru tahu kau terluka, sudah kau obat?" tanya Holo pada Raven yang tampak duduk menyandar pada sofa empuk di ruang tengah itu.


"Sudah makanya tadi sedikit terlambat," jawab Raven.


"Rav, terima kasih ya kalau bukan karenamu pasti sesuatu terjadi dengan Rennia." Ucap Ronald.


"Aku sudah berjanji untuk menjaganya Tuan Ronald," sahut Raven dengan tersenyum.


"Kami menunggu tanggal pernikahan kalian," ucap Ronald lagi.


Raven menangguk dan tersenyum karena dia akan melamar Rennia minggu depan, dia sudah menyiapkan segalanya dari awal tanpa sepengetahuan Rennia.


Holo berpamitan untuk kembali istirehat karena memang jam sudah menunjukkan hampir pukul 5 pagi. Matanya juga sudah terasa berat begitu juga dengan Ronald.


Kini di ruang tengah tinggallah Raven sendirian menunggu Rennia. Dia membuka tabnya dan memeriksa pekerjaannya untuk menghilangkan rasa kantuk.


Sedang asyik fokus, tiba-tiba Rennia datang dan mengambil tab yang Raven pegang.


"Kita tidur yuk," ajak Rennia.


Raven mengangguk dan mengikuti langkah Rennia masuk ke kamar yang di sediakan untuk mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2