Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 35 Waktu berdua


__ADS_3

Tidak di duga, Gordhi menjadi penanam saham yang paling kecil karena jumlah sahamnya di kira masih berjumlah sedikit.


Gordhi merasa dia hanya datang untuk memalukan dirinya saja karena para pemegang saham yang lain menganggap remeh dengan kehadirannya.


"Sia* semua ini gara-gara Raven tidak memberitahuku siapa-siapa yang menjadi pemegang saham kafenya itu." Ucapnya dengan nada marah.


Sepanjang perjalanan pulang ke kantornya, Gordhi terus mengoceh karena rasa kesalnya sangat memuncak. Dia rencana untuk mengajak Raven untuk makan malam bersamanya sekali bertanya tentang pemegang saham itu.


"Kafe segitunya saja kenapa butuh saham yang besar sih melebihi perusahaan limbah kimia aja ck." Gerutunya setelah sampai di ruang kebesarannya.


"Kau, telepon Raven. Katakan padanya aku mengajaknya makan malam di hotel Andrika." Ucapnya pada asistennya.


...


Raven memperhatikan rapat saham di ruang kerja Ronald. Dia sengaja tidak menghadiri langsung karena dia akan menyaksikan lewat live yang di siarkan oleh karyawannya.


Ronald tersenyum sinis karena merasa puas Gordhi seperti menjadi lelucon di antara pengusaha sukses itu.


Raven duduk berdekatan dengan Rennia. Walaupun Rennia tidak mengerti dunia pengusaha tapi dia harus membelajarinya.


Tangan Raven tidak berhenti memainkan rambut Rennia yang sengaja digerai oleh Rennia agar Raven terus memainkan rambutnya.


Raven menatap Rennia yang serius menatap ke layar tv yang menyiarkan rapat itu. Terdapat gurat dendam pada tatapan Rennia dan Raven tahu hal itu.


Dia mengusap puncak kepala Rennia, dan membuat Rennia menoleh ke arahnya dan tersenyum.


"Sudah selesai, percaya padaku Gordhi sebentar lagi akan mengajakku makan malam." Ucap Raven yang bisa menebak raut wajah Gordhi biar pun lewat tv.


Ronald dan Rennia kompak melihat ke arah Raven yang penuh percaya diri itu.


Triinngggg..triiingggg.


Ponsel Raven berbunyi, Raven mengambilnya dan melihat ke layarnya. Dia tersenyum miring lalu menjawab panggilan itu.


Rennia yang sempat membaca nama di layar Raven langsung melihat ke arah Ronald dan berbicara tanpa suara.


"Asisten Gordhi." Ucap Rennia tanpa mengeluarkan sedikit suara pun.


Ronald hampir tidak percaya, tebakan Raven benar memang sungguh hebat menurutnya.


Setelah berbasa basi, Raven sengaja membesarkan suara ponselnya agar Rennia dan Ronald mendengar ucapan asisten Gordhi.


[Oh ya, Tuan Gordhi mengajak Tuan untuk makan malam hari ini untuk berterima kasih karena bisa mengikut serta dalam investor saham.] Ucap Asisten Gordhi.


[Ok baiklah, ehm kira-kira di mana?] tanya Raven yang terlihat tersenyum puas.


[Di restoran hotel Andrika, jam 8 malam.]


Setelah perbicaraan selesai Raven mematikan ponselnya lalu melihat Rennia dan Ronald yang menatap bingung kepadanya.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Ronald penasaran.


"Aku juga penasaran Rav." Ujar Rennia.


"Gordhi ingin sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, makanya aku bisa menebaknya." Sahut Raven.


Rennia dan Ronald kompak mengangguk padahal mereka tidak terpikira sampai ke sana.


"Berarti kau sebentar ini akan menemuinya?" tanya Rennia.


"Iya Ren, tapi sebelum itu" Raven mengalihkan pandangannya ke arah Ronald.


"Tuan Ronald aku ingin meminta izin untuk membawa Rennia menginap di rumahku," lanjut Raven lagi.


Rennia kaget mendengar permintaan Raven kepada Ronald, dia melihat ke arah Ronald dengan membuat wajah kasihan.


Ronald tersenyum dia sebenarnya ingin mengizinkan langsung tapi dia ingin membuat Rennia kesal dulu barulah dia izinkan.


"Rennia saya tidak izinkan maaf." Sahut Ronald lalu mengedipkan matanya ketika Raven juga kaget karena di tolak.


Raven lega karena bukan ditolak benaran cuma Ronald ingin sedikit menggoda Rennia.


"Dad, i'm 25 years old please..." Rennia merenggek dengan memanyunkan bibirnya.


"Mau buat apa Rennia, lebih baik kamu duduk di rumah saja temanin Daddy."


"Ya, sekurang-kurangnya kamu ada di rumah Rennia."


"Daddy...please..." Rennia terus merenggek.


"No, Ren. Raven maaf tapi malam ni malam minggu Rennia harus berada di rumah lagian saya juga ada di rumah." Ucap Ronald lagi.


Raven terpaksa mengangguk dan membuat wajah sedih. Rennia yang melihat raut wajah Raven bertukar sedih langsung menoleh kembali ke arah Ronald.


"Daddy nggak adil." Ucap Rennia lalu keluar dari ruangan itu dan masuk ke kamarnya.


Ronald tertawa karena rencananya berhasil dan Raven hanya menggeleng saja melihat calon mertuanya ini.


"Rav, pergilah bawa Rennia tapi ingat kalian harus bincangkan tanggal pernikahan kalian." Ucap Ronald.


"Baiklah terima kasih Tuan Ronald, saya pamit bawa Rennia." Sahut Raven.


Raven keluar dan menuju ke arah kamar Rennia untuk membujuk Rennia yang sudah tentu sekarang sedang menangis.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Gordhi sengaja datang jam 7:40 agar dia bisa menyambut Raven di restoran itu. Gordhi menyiapkan segalanya dengan sempurna agar Raven makin tertarik dengannya.


Hampir 5 menit lagi tepat jam 8, Gordhi terlihat gugup sempat terlintas dipikirannya mungkin makan malam saja tidak cukup karena Raven seorang pemilik kafe mewah yang terkenal itu.


"Apa aku harus menyiapkan hadiah untuknya tapi waktu semakin kepepet umm bagaimana ya" Ucap Gordhi. "Atau hadiahnya menyusul besok atau lusa saja, ya begitu sudah," lanjut Gordhi lagi.


Akhirnya yang ditunggu pun datang, Raven dengan wajah segar bugarnya pun duduk berhadapan dengan Gordhi.


"Maaf Tuan Gordhi mungkin saya terlambat sedikit." Ucap Raven berbasa basi.


"Tidak tidak, saya saja baru sampai dan tidak apa kalau Tuan Raven telat sedikit karena saya mengerti dengan kesibukan anda." Sahut Gordhi.


Setelah berbasa basi pelayan pun membawa makanan yang telah dipesan oleh Gordhi dan mereka menikmatinya dengan ketenangan.


Selesai makan barulah Gordhi memulaikan perbicaraan yang sebenarnya.


Raven mendengar dengan rasa malas karena Gordhi memberi protesnya karena kehadirannya tidak di anggap sewaktu rapat berlangsung.


Raven hanya memberi saran saja kepada Gordhi agar Gordhi bisa tenang karena yang menabur saham di kafenya itu adalah pengusaha-pengusaha hebat dalam negara ini.


Raven melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir jam 10 malam.


"Maaf Tuan Gordhi, saya harus pergi karna ada hal lain harus saya urusi." Ucap Raven lalu berdiri untuk pamit.


"Baiklah terima kasih sekali lagi untuk malam ini Tuan Raven, hati-hati di jalan."


Raven hanya mengangguk dan langsung saja keluar dari restoran itu. Raven melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Setelah sampai ke rumah, Raven langsung memasuki rumahnya dan mencari Rennia.


Rennia sedang berdiri dekat meja ruang makan, dia telah menyiapkan makanan malam untuk mereka. Baru kali ini Raven akan makan di rumahnya sendiri setelah kepergian kedua orangtuanya.


"Sayang, maaf terlambat." Ucap Raven mendekati Rennia lalu melabuhkan kucupan pada kening Rennia.


"Tidak apa Rav, aku juga baru selesai." Sahut Rennia dengan wajah sumringgah karena dapat perhatian hangat dari Raven.


"Baiklah mari kita makan sebelum dingin." Raven menarik tangan Rennia untuk duduk di meja makan.


Mereka duduk bersebelahan karena meja makan Raven hanya 4 kursi dan Raven tidak ingin jauh dari Rennia.


Raven mencicipi semua makanan Rennia.


"Uhhmm enak sayang." Puji Raven tulus.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2