Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 39 Cerita


__ADS_3

Setelah selesai makan, Rennia menghabiskan waktu bersama Erika di dalam kamar milik Erika dan Holo. Erika begitu merasa senang karena sejak menikah dengan Holo baru kali ini ada seorang wanita yang menginap di rumah mereka.


Apalagi dirumah mereka hanya ada Erika dan Holo. Tidak ada hiburan sama sekali kecuali di saat Holo ada perjalanan kerja di luar negeri pasti Erika akan mengikutinya. Hanya itu saja menjadi hiburan Erika.


Walaubagaimana pun Erika tidak pernah sama sekali mempermasalahkannya, karena dia sadar kondisinya fisik setelah mengalami kecelakaan untuk memberi Holo keturunan tipis harapannya.


Sudah beberapa kali dia mengizinkan Holo untuk menikah lagi agar garis keturunan Holo tidak habis begitu saja. Semua hal yang dia alami dia ceritakan kepada Rennia.


Rennia hari ini menjadi pendengar setia tanpa harus mengkomentari. Dia masih merasa hidupnya masih beruntung dan masih ada lagi orang yang berkekurangan seperti Erika tapi mampu menghadapinya dengan tabah dan kuat.


"Kak, aku yakin pasti kak Holo sangat mencintai Kakak." Ujar Rennia.


Erika tersenyum dia membelai puncak kepala Rennia.


"Tuhan memang adil Ren, tapi aku juga tidak bisa menaruh harapan tinggi, yang penting aku hanya berharap dan meminta kepada Tuhan."


Rennia merasakan kehangatan dari usapan Erika, dia memancarkan senyum yang begitu bahagia.


"Ehm aku senang bisa ketemu kak Erika, dalam keluarga hanya ada Daddy dan Kak Vit." Ucapnya.


"Nanti kamu boleh suruh Raven sering-sering bawa kamu main ke sini, jadi kamu tidak merasa sepi." Sahut Erika.


Erika dan Rennia sudah membayangkan bagaimana keadaannya kalau mereka sering bersama pasti Holo dan Raven akan bingung sendiri.


"Sudah pasti!" Seru Rennia setuju.


....


Sedangkan di ruang tamu rumah Holo. Raven yang baru saja menyelesaikan misinya langsung kembali ke rumah Holo.


Setelah sampai, tanpa bertanya kepada Holo yang terlihat duduk santai di ruang tengah, Raven langsung menuju ke dalam kamar yang ditempati oleh Rennia tadi.


Raven dengan wajah sumringgah membuka pintu kamar tamu itu, tapi senyumnya menghilang setelah Rennia tidak berada di atas ranjang.


"Rennia ke mana? Jangan-jangan dia sudah pulang tapi inikan sudah jam 11 malam." Raven bergegas keluar setelah mengitari seluruh penjuru kamar tamu itu dan hasilnya Rennia tidak berada di kamar tamu itu.


Raven berlari menuju ke arah Holo. Dari kejauhan Holo tersenyum miring dan Raven menangkap hal itu jelas di matanya.


"Rennia ke mana? Kok nggak ada di kamar?" tanya Raven kepada Holo dengan wajah menelisik.


"Sudah pulang, tadi ada yang menjemputnya." Jawab Holo berkelit.


"Huhh, kalau tau begitu lebih baik aku langsung ke rumahnya saja." Raven menghempaskan bokongnya di sofa panjang yang berhadapan dengan Holo.

__ADS_1


"Kenapa tidak ke sana saja?" tanya Holo.


"Sudah hampir tengah malam tidak enak dengan Tuan Ronald." Ucapnya sambil mulai membaringkan tubuhnya di sofa panjang itu.


Raven menutup matanya karena lelah seharian ini. Dia tidak sadar kedatangan Rennia yang mengendap-ngendap dari arah belakang. Apalagi Raven sedang menutup matanya.


Holo tersenyum melihat tingkah Rennia, dia jadi teringkat ketika Erika dulu sering usil kepadanya. Erika telah duduk cantik di sampingnya, Holo langsung saja mengucup dahinya.


"Tidur denganku malam ini, biarkan anak muda ini bersama." Bisik Holo pada Erika.


"Hmm tapi ini kesempatan datang hari ini saja." Sahut Erika dengan mengerucutkan bibirnya.


"Aku akan suruh Raven sering bawanya ke sini, biar sayang tidak kesepian." Bujuk Holo lagi.


Lagian memang Holo tidak bisa bayangkan kalau harus tidur berpisahan dengan Erika. Apalagi kebiasaannya sebelum tidur pasti sulit untuk tertidur apabila Erika jauh darinya.


Raven membuka matanya setelah merasa ada yang memperhatikannya dari jarak yang cukup dekat. Matanya membulat sempurna.


"Rennia?" Ucap Raven.


Rennia tertawa kecil lalu kembali duduk di samping Raven setelah Raven bangun dan mengambil posisi duduk.


"Tadi kata Holo...Huhh kau menipuku? Mujur aja aku tidak menyusul ke rumah Rennia." Raven mendengus kesal melihat ke arah Holo yang menyungging.


"Ck."


"Oh ya Rav, bagaimana keadaan Azel?" Rennia penasaran apa yang terjadi kepada Azel jika Raven berhasil lolos dari mereka.


Raven menatap Rennia dengan dahi mengerut.


"Kenapa tanya? Khawatir kalau dia kenapa-kenapa?" Raven mulai terlihat cemburu.


Rennia tersenyum lalu menangkup kedua pipi Raven.


"Aku cuma penasaran bukan khawatir, kok kamu cemburu."


Raven melepaskan tangan Rennia yang menangkup pipinya lalu mengalih pandangannya ke tempat lain.


"Sayang kita tidur yuk, daripada kita jadi nyamuk di sini." Holo menarik tangan Erika dan membawanya ke kamar mereka.


"Maaf Ren, lain kali kita tidur sama ya." Ucap Erika yang semakin jauh.


Rennia menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya pada Erika. Kini Rennia harus membujuk Raven yang terlihat kesal karena dia menanyakan tentang Azel.

__ADS_1


"Rav, kamu marah?" tanya Rennia sambil coba mengusap tangan Raven.


"Tidak, cuma kesal." Sahut Raven yang masih menatap lurus ke depan.


"Maaf, aku tadi cuma penasaran kok tidak lebih lagian dia memang keterlaluan sih." Jelas Rennia.


"Tapi sama saja kau tetap cari tahu tentangnya humm." Raven mulai memanyunkan bibirnya.


Rennia yang merasa gemas langsung mengucup pipi Raven. Raut wajah kesal Raven langsung berubah menjadi berbinar.


"Kau sudah tahu cara menggodaku Ren." Ucap Raven sambil mengemas pipi Rennia.


Raven membawa Rennia kembali ke kamar tamu, karena dia juga harus membersihkan dirinya barulah akan berlabuh ke alam mimpi.


Rennia hanya mengikuti langkah Raven saja, tapi untuk malam ini dia sudah pastikan tidak akan terjadi berbagi keringat karena mengingat mereka bukan berada di kawasan mereka.


Walaupun Raven yang sebenarnya masih ingin tapi dia juga tidak mau menjadi bahan ejekan Holo apalagi Erika tidak mempunyai ART untuk membersihkan kamar yang mereka tempati malam ini.


Dia yakin Holo juga bakal kepo sewaktu Erika membersihkan kamar ini nanti. Jadi lebih baik dia menahannya daripada jadi bahan ejekan.


"Mari kita tidur." Ajak Raven setelah selesai membersihkan dirinya dan telah mengenakan kaos biasa dan celana olahraga panjang.


Rennia langsung saja masuk ke dalam dekapan Raven, lalu menghirup aroma dada Raven yang wangi sabun lavender.


Tidak sampai 5 menit, Rennia telah hanyut ke alam mimpinya begitu juga dengan Raven.


...


Azel membuka matanya, seluruh tubuhnya terasa ngilu. Dia melihat ke seluruh ruangan yang terlihat samar-samar karena lampunya tidak terlalu terang.


Baru saja hendak menggerakkan tubuhnya, Azel merasa kaki dan tangannya diikat dan mulutnya dilakban.


Azel baru teringat tadi Raven yang menghajarnya sehingga dia kehilangan kesadaran dirinya.


"Sia* dia menangkapku." Gumamnya dalam hati.


"Bagaimana aku bisa mengabari Ayah kalau begini, bisa-bisanya aku mati sebelum waktunya ck," lanjutnya lagi dalam hati.


Azel coba memperhatikan sekelilingnya tapi tetap saja dia tidak tau tempat apa ini. Dia juga coba menangkap aroma-aroma sekitarnya tapi hanya tercium aroma seperti tanah basah.


"Ck, dimana ini." Azel mulai kesal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2