Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 44 Akhir yang bahagia


__ADS_3

"Tidurlah jangan menatapku begitu," ucap Raven.


"Rav, aku minta maaf soal tadi. Aku cuma..." ucapan Renni terhenti apabila Raven langsung saja menyambar bibirnya dan dilum**nya perlahan.


Rennia menutup matanya untuk merasakan sensasi yang dia rindukan dari Raven. Setelah Raven melepaskan tautan bibir mereka barulah Raven mengulaskan senyuman yang indah untuk Rennia.


"Maafkan aku jika mau harus melihat sisi jahatku, maafkan aku walaupun aku tahu kamu tidak suka dengan kekerasan tapi setelah ini aku akan kurang-kurangkan kalau Holo mengizinkanku untuk berhenti aku akan berhenti," ucap Raven panjang lebar.


"Aku mengerti," sahut Rennia lalu memeluk tubuh Raven dengan sangat erat.


"Sekarang kita tidur dulu, besok jam 10 aku akan menghantar kamu dan Tuan Ronald kembali ke rumah," ucap Raven lagi.


"Tapi bagaimana dengan Kak Vitra?" tany Rennia karena dia belum mendapat kabar tentang Vitra.


"Kak Vit, sedang mengikuti kursus kedokteran di Negara NY, kamu tidak usah khawatir kemarin tadi aku sudah katakan padanya, dia akan kembali dalam seminggu lagi," jawab Raven.


Rennia menganggukkan kepalanya, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Raven.


Raven mengusap perlahan punggung Rennia hingga Rennia tertidur dengan pulasnya, begitu juga dengan Raven. Dia memilih untuk melelapkan matanya sebelum kembali kepada aktifitasnya besok.


....


"Tolong! Selamatkan aku!" teriak Azel dalam hatinya karena mulutnya masih tertutup oleh lakban.


Saat ini air mata Azel bercucuran karena di depannya ada ular hitam yang berukuran besar sedang mendekatinya, Azel coba untuk tidak bergerak tapi makin lama, ular tersebut tetap mendekatinya.


Sehingga mulai melilit tubuh Azel dan Azel mulai kehabisan oksigennya karena lilitan ular itu begitu kuat.


"Ini pengakhiran hidupku," batin Azel.


Azel mulai kehilangan kesadarannya dan matanya tertutup, ular itu menelan Azel dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Miris sungguh miris tapi begitulah akhir hidup dari Azel si lelaki buaya darat.


Semuanya telah berakhir, kini tinggal kisah kehidupan dan cinta seorang wanita pembunuh bayaran.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Seperti rencana yang Raven telah atur seminggu yang lalu, kini harinya telah tiba. Raven mengirim pesan kepada Rennia untuk mengajaknya keluar makan malam bersama.


Rennia dengan antusias memilih beberapa gaun yang baru saja sampai. Raven tidak lupa mengirimkannya gaun untuk malam hari ini dengan tiga gaun dengan warna yang berbeda-beda.


Rennia meminta bantuan Bibik pelayan untuk memilih gaun mana yang sesuai, dan dari ketiga warna itu Rennia memilih gaun berwarna biru tua yang dihiasi oleh manik-manik yang berkilau.


Gaun biru tua sepanjang kakinya yang jenjang itu dan tanpa lengan dengan sedikit bagian dada yang terbuka membuat Rennia tampak lebih elegan. Ditambah dengan rambut yang sengaja digerai dan ditata baik di bagian pundak kirinya.


Deruan bunyi mesin mobil Raven terdengar di telinga Rennia. Hal itu membuat Rennia cepat-cepat memoles makeup yang sedikit tipis dan gincu bersama merah merona.


Raven dengan gagahnya berdiri dekat tangga menunggu Rennia untuk turun. Dengan gaya yang anggun, Rennia melangkah perlahan keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga dengan wajah yanh sumringgah.


Tanpa sadar, kini Rennia berhadapan dengan Raven dan Raven masih saja terlihat menatap wajah Rennia dengan tatapan terpesona dengan penampilannya malam ini.


"Uhh Rav?" sapa Rennia membuat tatapan terpesonanya membuyar.


"Ehemm, kamu terlihat sangat cantik Sayang." Raven mengambil tangan Rennia lalu dikecupnya perlahan.


"Kamu juga sangat tampan," sahut Rennia malu-malu


"Kita pergi sekarang," ajar Raven.


Rennia mengangguk perlahan dengan senyuman di wajahnya yang sangat terlihat bahagia.


Raven menggandeng lengan Rennia lalu membawanya keluar untuk memasuki mobilnya. Hingga sepanjang perjalanan Raven dan Rennia tidak berhenti tersenyum.


....

__ADS_1


Mereka memasuki sebuah restoran mewah di Kota itu, Raven dengan Gentlenya membukakan pintu untuk Rennia.


Kini mereka masuk beriringan dan menuju ke ruang VIP yang telah Raven pesan.


Setelah memasuki ruangan itu, suasananya terlihat indah sehingga membuat Rennia terkagum-kagum.


"Sepertinya ini bukan makan malam biasa," ucap Rennia melihat ke arah sekitar ruangan itu.


Ruangan yang dihiasi dengan candle light, kelopak-kelopak bunga mawar yang bertaburan, beberapa pemain violin yang berdiri tersenyum melihat ke arahnya dan lampu yang sedikit maram.


Raven berlutut.


"Benar ini bukan acara makan malam biasa." Ucap Raven lalu mengeluarkan kotak segi empat kecil dan membukanya di depan Rennia.


"Ren, will you marry me?" lanjut Raven dengan senyuman di wajahnya.


Rennia menutup mulutnya, dia tidak menyangka hari ini Raven akan melamarnya dan saat ini yang sering dia tunggu-tunggu.


Rennia mengangguk lalu berkata,


"Yes."


Raven langsung memasukkan cincin tadi ke dalam jari manis Rennia dengan ukuran yang pas, Raven merasa puas. Raven berdiri lalu menarik Rennia masuk ke dalam pelukkannya.


"Maaf, aku akan berusaha menjadi suami yang baik ke depannya," ucap Raven tepat di daun telinga Rennia.


Tidak ada kata-kata yang bisa Rennia katakan, air matanya mengalir menandakan dibenar-benar bahagia saat ini.


Sudah lama dia menunggu momen yang bahagia ini, dia sempat berharap tidak akan ada lamaran romantis seperti ini karena Raven terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya tapi ternyata pikirannya salah.


Raven menceritakan bagaimana dia menyiapkan hal ini, banyak yang harus dia pelajari dan semua ini diajarkan oleh Erika karena Erika sering menerima perlakuan romantis dari Holo.


Akhir sebuah hubungan pacaran yang romantis, walaupun Raven sudah mengambil mahkota Rennia lebih dulu tapi tidak dapat dipungkiri, mereka tetap merasakan kehangatannya.


TAMAT!!

__ADS_1


__ADS_2